Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

FGD Perumusan Strategi Mitigasi dan Peningkatan Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Bencana

E-mail Print PDF

Pada tanggal 20 April 2021 di Ruang Rapat Lt. 4 Gd.2 BRSDM-KP Ancol Timur telah dilakukan FGD perumusan strategi mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana di pesisir Selat Sunda. FGD dilakukan secara daring dan luring serta dihadiri oleh peneliti bidang mitigasi-adaptasi kebencanaan Pusriskel, sub-koordinator kerjasama Pusriskel, Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATSI), Bappeda Kabupaten Pandeglang, BPBD Provinsi Banten, dan Wk. Dekan serta dosen Fakultas Teknik Untirta.

Poin-poin penting hasil diskusi dalam FGD diantaranya:

1. Gunung Anak Krakatau (GAK) memiliki siklus letusan 130 tahun, sehingga diperlukan kira-kira 100 tahunan untuk terjadi letusan dengan level destruktif seperti tahun 2018. Pengetahuan terkait siklus ini sangat penting untuk antisipasi upaya mitigasinya dan memprediksi bagaimana impact tsunaminya.
2. Pekerjaan rumah terbesar kita adalah potensi gempa pada zona "megathrust" dengan worst case skala magnitude 9. Sehingga diperlukan pengetahuan mendalam mengenai karakteristik dari megathrust ini terhadap kemungkinan bencana tsunami yang akan terjadi. Sehingga diharapkan dapat dilakukan pemodelan tsunami yang lebih detail beserta upaya mitigasinya.

3. Penataan ruang yang dilakukan harus dapat mengantisipasi kejadian “megathrust” terkait dampak dari getaran dan re-scoping kembali bangunan tahan gempa dan tsunami.
4. Dari aspek mitigasi, potensi destruktif dari gempa dan tsunami "megathrust" sangat besar, sehingga perlu dibedakan antara tata ruang untuk  bencana dari Krakatau dan megathrust serta dilihat komprominya seperti apa.
5. Perlu disiapkan early warning system (EWS) yang tepat dan dapat diandalkan, salahsatunya yaitu dengan Pemanfaatan IDSL/PUMMA. Untuk gempa besar dengan skala magnitude 8, maka daratan pun akan ikut naik (terdeformasi), hal ini akan terekam dalam IDSL dalam bentuk perubahan posisi sensor. Jadi, IDSL selain berfungsi untuk mengukur muka laut, juga dapat bertindak seperti GPS.
6.    Perlu juga memperhatikan aspek bahaya ikutannya (secondary hazard) karena di Selat Sunda terdapat kawasan industry. Contohnya industri pet-chem (petrokimia) di Cilegon, bila industri pet-chem ini collapse, maka indonesia juga akan kehilangan distribusi bahan kimia terbesarnya mengingat industri Petrokimia terbesar hanya ada di Cilegon dan Surabaya.
7. Penting juga untuk terus-menerus melakukan riset karakeristik SOURCE bencana  (megathrust, fault, Krakatau, sunda gap) dan IMPACTnya. Seperti uplifted coral di Binuangen terangkat sekitar thn 1600-an (Jadi sudah sekitar 400 thn).
8. Vegetasi pantai seperti mangrove, cemara pantai, ketapang pada level tertentu dapat mereduksi energi dan kecepatan gelombang tsunami. Namun yang harus diwaspadai dari tsunami adalah panjang gelombangnya, untuk letusan GAK jaraknya sekitar 5 km dr garis pantai, sehingga jangkauan inundasinya sekitar 500 m hingga maksimal 1 km, sedangkan untuk megathrust dengan dimensi 600 km x 250 km, maka jangkauan inundasinya bs sampe 10 km ke daratan
9. Kondisi eksisting pemanfaatan ruang di Pandeglang, saat ini banyak dimanfaatkan untuk hotel, kondominium, dll. Hingga saat ini belum ada revisi tata ruang (Perda 2020) yang memasukan kewajiban penempatan sempadan pantai.
10. Pandeglang merupakan salahsatu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dengan sektor unggulan adalah wisata pantai. Diharapkan upaya mitigasi yang dilakukan dapat menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan mitigasi bencana.
11. Pemasangan IDSL sangat dibutuhkan di Pantai Pandeglang sebagaisistem  peringatan dini kepada masyarakat dan menciptakan rasa aman kepada wisatawan. Masalah dengan masih adanya vandalism direkomendasikan agar dalam pengelolaannya mengedepankan community-based participatory.

Tindak lanjut dari FGD tersebut akan dilakukan analisis oleh tim peneliti dari Pusriskel sehingga rekomendasi yang dikeluarkan akan lebih tajam serta akan dilakukan sinergi lebih lanjut yang melibatkan stakeholder yang lebih luas diantaranya unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha, LSM, akademisi, dan masyarakat luas. (Oleh : Tubagus Solihuddin, Ph. D)




Last Updated on Thursday, 22 April 2021 12:17
 

Peneliti Pusriskel dalam Knowladge Sharring : Kiat dalam Penulisan ilmiah

E-mail Print PDF




Last Updated on Thursday, 22 April 2021 07:52
 

Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Laut dan Pesisir

E-mail Print PDF

Jakarta (20/04/2021) Kepala Pusat Riset Kelautan memimpin Pertemuan terkait "Pemaparan Kemajuan Kegiatan Riset di Kelompok Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Laut dan Pesisir (PSDWLP) yang telah berjalan selama triwulan ke-1". Pertemuan dilakukan secara Luring di RR.Lantai 4 Gedung BRSDMKP II dan Daring melalui aplikasi Zoom Meeting ini  dihadiri oleh PJO dan PJP Kegiatan terkait beserta dengan anggota kegiatan.

Paparan Kegiatan yang disampaikan merupakan progres kegiatan riset rekomendasi yang berjudul :
1. Pemanfaatan Anjungan Migas Lepas Pantai (AMLP) Paska Produksi untuk Kelautan dan Perikanan di Wilayah Perairan DKI Jakarta oleh Anwar Rizal, ST.M.Env.Sc
2. Kajian Pemanfaatan Air Reject Desalinasi Reverse Osmosis untuk Sumberdaya Garam Alternatif oleh Hari Prihatno, ST, M.Sc
3. Rekomendasi Taman Arkeologi Bawah Laut untuk Pengembangan Wisata Selam di Kawasan Desa Wisata Bahari untuk Wisata Arkeo Bahari oleh Dr. Ira Dilenia, S.S, M.Hum
4. Kajian Terumbu Buatan (Artificial Reef) untuk Ekoeduwisata Bahari Berkelanjutan di Perairan Pulau Bali oleh Yulius, S.Si, M.Si

“Paparan Kegiatan Triwulan I ini diharapkan telah memantapkan FGD dan Diskusi langsung dengan para ahli di bidang terkait kegiatan, menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya, serta telah diperolehnya literatur review, perspektif pakar yang dapat dikumpulkan untuk menjadi bahan rekomendasi masing-masing kegiatan sehingga tujuan kegiatan riset rekomendasi ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan dan dapat dimanfaatkan oleh stakeholder terkait”, Ujar Kepala Pusat Riset Kelautan. (Oleh Dr. Dini Purbani)



Last Updated on Friday, 23 April 2021 21:09
 

Tingkatkan Pengelolaan Jurnal Ilmiah KP dengan Rencana Jurnal Talk BRSDM

E-mail Print PDF

Selasa, 20 April 2021 - Tim Datin Pusat Riset Kelautan M Hikmat Jayawiguna dan Dani Saepuloh menghadiri rapat koordinasi Tim pengelolaan Jurnal Ilmiah KP yang diadakan oleh sekretariat BRSDMKP. Rapat berlangsung secara offline di kantor KKP pusat GMB 3 Lt.6 dan online via zoom. Rapat dipimpin oleh Koordinator Data Set.BRSDM Asep Sutiana, M.Si. dan dihadiri seluruh pengelola jurnal ilmiah KP dari masing-masing Satker.

Rapat membahas tentang Persiapan agenda Jurnal Talk BRSDM, perkembangan pengelolaan jurnal, kebutuhan-kebutuhan dan kendala yg dihadapi masing-masing pengelola jurnal. Perwakilan Jurnal Segara dan JKN Hikmat Jayawiguna dari Pusriskel mnyampaikan bahwa tahun ini Jurnal SEGARA akan bersiap menuju Jurnal Internasional. Selain itu Hikmat juga memberikan masukan terkait agenda Jurnal Talk antara lain: Agar dipadukan unsur promosi jurnal, Sharing session dan pengkayaan skill teknis para pengelola jurnal terkait aplikasi-aplikasi desain dan layout agar semua tampilan mmpunyai minimum standar yg sama.

Rencananya agenda Jurnal Talk BRSDM akan berlangsung pada semester kedua 2021 selepas bulan ramadhan.

Maju terus tim Jurnal Ilmiah KP

Last Updated on Wednesday, 21 April 2021 08:24
 

Widodo Pranowo Berikan Alasan Ilmiah Warna Hijau Terlarang Di Parangtritis

E-mail Print PDF

JAKARTA — Dilarangnya menggunakan baju atau kain berwarna hijau, seperti sudah menjadi kartu mati di sepanjang pantai Selatan Jawa. Tapi apakah benar ini karena sosok penguasa Pantai Laut Selatan Kanjeng Ratu Kidul menyukai warna hijau?

Cerita rakyat yang sudah disampaikan turun-temurun tentang Kanjeng Ratu Kidul ini adalah diawali oleh Panembahan Senopati yang merupakan pendiri kerajaan Mataram, bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul saat bersemedi dan melakukan perjanjian. Setiap kali bertemu, diceritakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul selalu mengenakan pakaian berwarna hijau, hingga akhirnya Panembahan Senopati membuat pengumuman kepada rakyat Mataram untuk tidak memakai baju hijau saat berada di pantai selatan, seperti Parangtritis, Pelabuhan Ratu, Parangkusumo, dan lainnya. Hal ini masih terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan dinyatakan, jika menggunakan baju atau kain berwarna hijau di seputar area tersebut akan diambil oleh Kanjeng Ratu Kidul, karena dianggap tidak menghormati.

Ahli Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) Widodo Setiyo Pranowo menyebutkan, warna hijau itu merupakan spektrum warna laut. “Secara ilmiah, kalau menggunakan baju berwarna hijau dan terseret oleh ombak ke tengah laut, maka akan lebih susah terlihat oleh tim penolong,” kata Widodo saat dihubungi, Minggu (18/4/2021).

Secara teori, spektrum gelombang cahaya matahari ada yang diserap dan ada yang dipantulkan oleh laut. Sementara di laut juga ada faktor lain yang mempengaruhi penyerapan dan pemantulan spektrum cahaya tersebut, seperti substrat dasar laut, dan kandungan substan di kolom laut. “Warna biru adalah termasuk spektrum gelombang panjang sehingga bisa mencapai kedalaman lebih dari 200 hingga lebih dari 500 meter. Warna hijau adalah spektrun gelombang medium sehingga bisa mencapai kedalaman sekitar 100 atau 200 meter. Warna hijau juga bisa disebabkan oleh warna khlorofil dari nano fitoplankton di kedalaman kurang dari 100 meter,” paparnya.

Selain itu, warna hijau di kedalaman kurang dari 50 meter juga bisa disebabkan karena pantulan substrat dasar laut yang berupa pasir putih atau pecahan koral dan cangkang-cangkang kerang berwarna putih. “Jadi kalau ke pantai, pakai baju yang berwarna terang seperti oranye. Karena secara umum, tak ada warna oranye terang di laut. Mangkanya, warna pelampung oranye. Supaya gampang terlihat di tengah laut. Baik laut yang berwarna hijau, biru maupun coklat,” urainya.

Terkait kondisi Pantai Parangtritis, dimana pelarangan ini sudah menjadi kepercayaan publik bertahun-tahun, Widodo menyebutkan, adanya faktor rip current juga menjelaskan mengapa sering terjadi korban di area tersebut. “Ketika ada perairan pantai yang airnya terlihat tenang, namun diapit di kanan kirinya oleh gelombang pecah, maka sebaiknya hindari perairan yang tenang tersebut, karena perairan tenang tersebut justru berpotensi mengandung arus Rip,” urainya seraya menunjukkan citra gelombang yang ada di sepanjang Pantai Parangtritis.

Widodo menyampaikan bahwa potensi terjadinya arus Rip yang frekuensinya lebih sering adalah di selatan Jawa hingga selatan Sumbawa, antara Juni hingga November. “Pada periode tersebut, angin bergerak dari arah tenggara dan selatan menuju ke arah pantai selatan Jawa hingga selatan Sumbawa,” ungkapnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Monday, 19 April 2021 09:23
 

Widodo Pranowo (KKP) dan Siswanto (BMKG) Ingatkan Agar Waspadai Rip Current Saat Berlibur ke Pantai

E-mail Print PDF

JAKARTA — Objek wisata pantai merupakan salah satu objek wisata yang tak pernah lekang dimakan waktu. Apalagi pasir putih dan air laut yang biru, selalu mengundang wisatawan untuk bermain air. Tapi sebelum berenang, sebaiknya cek dulu kondisi pantai. Aman atau tidak untuk berenang.

Ahli Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) Widodo S. Pranowo menyatakan ancaman yang muncul di pantai adalah Rip Current atau arus yang tegak lurus menjauhi pantai dengan kecepatan sekitar 10-25 meter per detik, bergerak di kedalaman 0,3 – 0,5 m.

“Lokasi perairan pantai yang berpotensi memiliki arus Rip adalah yang menghadap ke laut lepas atau samudera laut dalam, seperti hal nya di sepanjang pantai selatan Jawa hingga selatan Sumbawa,” kata Widodo saat dihubungi, Minggu (18/4/2021).

Sedangkan di sisi pantai, arus Rip biasanya muncul di lokasi perairan pantai pasir yang sedikit dalam yang diapit oleh dangkalan terumbu karang yang menyebabkan gelombang pecah.“Di pantai selatan Jawa, pasirnya hitam, sehingga dari pengamatan angkasa, baik menggunakan foto udara atau drone atau satelit, tidak mudah terlihat alur arus Rip ini, namun masih bisa dideteksi dari penampakan perairan tenang yang diapit oleh area bergelombang pecah,” ucapnya.

Berbeda di pantai yang berpasir putih, seperti di selatan Sumbawa, alur arus Rip ini dengan mudah bisa terdeteksi dari pengamatan angkasa.“Alur arus Rip bisa terlihat dari jejak warna pasir putih di dalam air yang tergerus lalu dibawa menjauhi pantai. Jejak warna pasir putih yang membentuk seperti garis lurus tersebut, diapit oleh area bergelombang pecah,” ucapnya lebih lanjut.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto menyatakan rip current ini dikenal dengan nama boleran di daerah Jawa.“Arus boleran terbentuk jika gelombang datang dan mengempas garis pantai yang berbentuk cekungan. Kemudian, pantulan gelombang yang mengenai pantai memunculkan sejumlah arus susur pantai atau aliran air yang berjalan menyusuri pantai,” ucapnya saat dihubungi terpisah.

Arus susur yang saling bertemu ini, lanjutnya, jika bergabung akan menimbulkan arus balik menuju tengah laut yang mengumpul pada suatu jalur arus, hingga melewati zona gelombang pecah.“Kemunculan rip current tidak bisa diterka, oleh karena itu disebut juga pembunuh yang sunyi. Tapi wisatawan bisa mengetes dengan cara melemparkan benda ke air laut,” ujarnya.

Jika benda itu terseret sampai menuju ke lepas pantai pada jalur air yang tenang, maka bisa dipastikan di area tersebut ada rip current. Cara lainnya adalah adalah melihat pada permukaan laut yang cenderung lebih tenang daripada sekitarnya. “Perhatikan buih ombak yang datang, bila ada celah di antara buih-buih gelombang itu, maka kemungkinan di sekitar area itu sedang terjadi rip current atau arus pecah,” ujarnya lebih lanjut.

Tanda lainnya yang bisa diamati oleh wisatawan adalah warna air laut yang cenderung lebih keruh daripada sekitarnya akibat arus rip current yang sangat kuat. “Untuk mengamatinya lebih mudah dilakukan dari tempat yang tinggi. Selain itu, perhatikan juga pantai yang lebih cekung dibandingkan sekitarnya. Karena potensi rip current lebih besar di area tersebut,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Monday, 19 April 2021 09:14