Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Sharing Session : Analisis Kinerja IDSL/PUMA utk Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

E-mail Print PDF

Saksikan Live Streaming Sharing Session BRSDM
Rabu, 10 Maret 2021, Pukul 10.00 WIB

Narasumber :
Dian Novianto, S.St.Pi, M.Si
Peneliti Muda, Pusat Riset Kelautan - BRSDM

Tema :
Analisis Kinerja IDSL/ PUMA untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

Link live streaming
https://www.youtube.com/c/BRSDMTV

#SobatBahari dapat menyampaikan pertanyaan terkait materi pada kolom komentar di Youtube "BRSDM TV"


Last Updated on Wednesday, 10 March 2021 08:52
 

Pentingnya Informasi Peringatan Dini Arus Laut bagi Para Penyelam

E-mail Print PDF

Secara geografis Pulau Bali diapit dua selat, yaitu selat Bali yang menghubungkan Pulau Bali dan Pulau Jawa di sisi barat dan Selat Lombok yang menghubungkan Pulau bali dan Pulau Lombok di sisi timur. Sebagai pulau destinasi wisata, Bali memiliki objek wisata bahari yang menghadap kedua selat tersebut, secara khusus wisata selam.

Jika melihat dari hukum Bernoulli, selat merupakan area pemampatan volume air sehingga besar kemungkinan terjadinya arus horisontal kencang akibat pemampatan energi akibat tekanan air yang besar. Arus kencang merupakan hal yang berbahaya dan perlu di waspadai bagi para penyelam.

Peristiwa musibah hilangnya salah satu staf DKP Provinsi, Bali yang sedang melakukan aktifitas selam di sekitar perairan Gili Tepekong, Objek Wisata Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali (Sabtu, 12 Desember 2020), tentu dapat ditarik sebagai pengalaman pembelajaran yang penting.

Dari kejadian hilangnya penyelam yang berada di selat Lombok dapat dibuat hipotesa sebab terjadinya kecelakaan. Hal ini diakibatkan adanya arus yang membawa penyelam tersebut menjauh dari titik selam. Secara umum, arus dominan yang terjadi di selat ialah arus yang bergerak secara horisontal.

Arus di laut secara alami merupakan gabungan gerakan partikel air dalam tiga dimensi. Gerakan partikel air dapat berupa arus horisontal (barotropik) pasang surut, arus geostrophik, arus vertikal turbulensi vertikal maupun gerakan vertikal akibat umbalan (upwelling) dari gelombang internal laut.

Lebih lanjut, wilayah timur Indonesia merupakan daerah perlintasan arus baroklinik (perbedaan densitas) yang berasal dari Samudera Pasifik keluar ke Samudera Hindia yang salah satunya melalui Selat Lombok. Arus baroklinik tersebut dikenal dengan nama Arus Lintas Indonesia (ITF-Indonesian Through Flow) atau Arlindo (Arus Lintas Indonesia).

Fenomena Arlindo sendiri diungkap pertama kali oleh peneliti dari Lamont Doherty Earth Observation (LDEO) Prof. Arnold Gordon (USA) bersama peneliti P2O LIPI Dr Ilahude.

Arlindo merupakan aliran massa air yang melintasi Samudera (Atlantik, Pasifik dan Hindia) serta wilayah perairan laut Indonesia (selat) dalam satu sistem Sabuk Penghantar Samudera Raya (The Great Conveyor Belt). Adapun perairan laut Indonesia dilintasi oleh massa air Samudera Pasifik yang bergerak dari bagian barat samudera menuju perairan Samudera Hindia.

Arlindo yang melintas ini disebabkan perbedaan muka laut bagian barat Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia bagian Timur sehingga terjadi gradien tekanan. Gradien tekanan inilah yang mengakibatkan massa air mengalir dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia.

Secara oseanografis, perairan Indonesia memiliki dua fenomena menarik dalam kaitannya dengan keselamatan kegiatan penyelaman yaitu adanya Arlindo dan gelombang internal. Berbagai ekspedisi oseanografi dan observasi dari satelit telah banyak memberikan informasi mengenai  kedua fenomena tersebut yang ada di Selat Lombok.

Dua fenomena oseanografi di selat lombok yaitu Arlindo dan gelombang internal  sangat mempengaruhi pola arus di Indonesia. Usulan kegiatan mitigasi keselamatan penyelaman di Selat Lombok dan beberapa tempat di Indonesia yang dipengaruhi Arlindo dan gelombang internal sudah selayaknya di lakukan.

Arus Lintas Indonesia di Selat Lombok

Sebagai bagian dari arus samudra, Arlindo memiliki arti penting bagi iklim global karena memungkinkan massa air hangat bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia di garis lintang rendah. Ia berperan dalam sabuk pengangkut panas global, dengan rute lintasan barat dari Selat Makassar lalu keluar melalui Selat Lombok dan mengarah ke timur yaitu ke Laut Banda.

Sedangkan pergerakkan massa air Pasifik Selatan yang lebih asin dan padat melewati Selat Lifamatola menuju Laut Banda. Aliran  massa air tersebut (yang melintasi Laut Banda) akan keluar melalui Laut Timor, Selat Ombai, dan Selat Lombok.

Selain sebagai lintasan, perairan Indonesia merupakan area percampuran (mixing)  massa air dengan massa samudera dikarenakan efek pasang surut, spiral Ekman, dan percampuran massa air hangat di permukaan samudra.

Proses percampuran (mixing) massa air itu adalah satu proses fisis dari kehadiran Arlindo, selain fenomena lainnya seperti upwelling dan downwelling. Proses fisis itu sendiri membawa pengaruh luas, tidak saja bagi bidang oseanografi, tetapi juga bagi bidang lain seperti perikanan, cuaca/iklim serta lingkungan laut dan pantai.

Terjadinya downcurrent (downwelling) atau arus yang bergerak dari permukaan menuju ke dasar perairan dapat sangat membahayakan, khususnya bagi penyelam yang melakukan aktititas penyelaman baik fun dive maupun penyelaman ilmiah.

Keselamatan Penyelaman

Pada pertengahan 2009 E.Elvan Ampou, -penulis artikel ini, sempat mengalami pengalaman tak terlupakan saat melakukan penyelaman di Suana (pesisir timur Pulau Nusa Penida), yang masuk dalam kawasan Selat Lombok.

Saat berada di kedalaman 10m menjelang safety/deco stop, tiba-tiba muncul downcurrent yang terjadi kurang lebih 5 menit. Arus itu membawa apapun ke bawah/dasar perairan. Penulis bisa lolos dari cengkeraman downcurrent setelah bertahan pada dinding karang sambil melawan arus menuju ke permukaan meski fin (kaki katak) sempat lepas.

Kejadian kedua yaitu tahun 2011 saat kegiatan Marine Rapid Assessment Program (MRAP), di lokasi  Gili Tepekong, Candidasa, Banjar Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem. Ketika menuju ke permukaan penulis mengeluarkan sosis selam (diving sausage) di kedalaman 8m, tiba-tiba muncul downcurrent. Yang terjadi berikutnya, -alih-alih ke atas, sosis selam malah langsung meluncur ke bawah.

Dalam hitungan detik, penulis langsung naik ke permukaan (emergency ascent) tanpa melakukan safety/deco stop, dengan cara mengembungkan BCD (Buoyance Compensator Device) dalam kondisi tali sosis yang melilit sekujur tubuh. Dive computer pun saat itu error, 2×24 jam tidak melakukan aktifitas selam.

Penulis lain artikel ini, Rahmadi Prasetyo, pun punya pengalaman serupa. Di lokasi yang sama, -Gili Tepekong yang dijuluki “toilet current” oleh para penyelam mancanegara, saat berada di kedalaman 4m bubble (gelembung udara) yang seharusnya naik ke permukaan malah menuju ke bawah. Dalam hitungan detik Rahmadi langsung berada di kedalaman 12m.

Sambil mengejar buddy selam untuk menghindar arus, Rahmadi mendekat ke dinding karang pulau dan perlahan naik dari kedalaman puluhan meter menuju ke permukaan.

Memperhatikan fenomena yang terjadi di atas, maka sangat penting para penyelam untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Bagi para pemangku kepentingan sudah seyogyanya dilakukan langkah-langkah pencegahan sebagai berikut:

[1] Perlu adanya datin (data & informasi) awal/sistem peringatan dini terkait pergerakan Arlindo, secara khusus di daerah yang dilewatinya (contoh: adanya portal/web yang dapat diakses dengan mudah) dalam hal ini Early Warning for Divers (EWDis).

[2] Sosialisasi para pemangku kepentingan seperti Universitas/lembaga riset dan pelaku usaha di bidang pariwisata penyelaman sebagai langkah antisipasi untuk tidak melakukan aktifitas penyelaman khususnya di lokasi-lokasi tertentu yang dilewati fenomena ARLINDO kuat.


Referensi:

Ilahude, A.G., and A.L. Gordon (1996) Thermocline Stratification Within the Indonesian Seas, J. Geophys. Res., 101(C5): 12401-12409.

Gordon, A.L., and R. Fine (1996) Pathways of water between the Pacific and Indian oceans in the Indonesian seas. Nature, 379(6561): 146-149.

Gordon, A.L.,(2005)  Oceanography of the Indonesian Seas and Their Throughflow. Oceanography 18(4): December 14-27

*Dr. Eghbert Elvan Ampou, **Dr. Dwiyoga Nugroho, ***Dr. Rahmadi Prasetyo. * Peneliti Balai Riset dan Observasi Laut, BRSDMKP, KKP. ** Peneliti Pusat Riset Kelautan, BRSDMKP, KKP *** Dosen Universitas Dhyana Pura, Bali

Sumber Berita : mongabay



Last Updated on Monday, 08 March 2021 09:59
 

Rapat lanjutan persiapan pegelaran Science, Innovation and Business Matching (SIBM)

E-mail Print PDF

Setelah tertunda pelaksanaannya di tahun 2020 maka Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KP kembali mematangkan rencana kegiatan ini dengan pertemuan lanjutan secara luring pada rabu 3 Maret 2021 di Ruang Rapat Bawal lantai 1 Gedung BRSDM I Ancol. Pertemuan dipimpin langsung bapak Andi Soesmono untuk menyampaikan progres persiapan kegiatan dan diikuti diskusi bersama perwakilan dari Pusriskel, Pusriskan, Pusdik dan Puslatluh. Kegiatan SIBM tahun 2021 mengangkat tema Peningkatan Industrialisasi KP dengan memanfaatkan SD Manusia, Infrastruktur dan Inovasi Teknologi KP, adalah sebuah ajang pegelaran hasil-hasil inovasi dari para peneliti, perekayasa dan para taruna-taruni di sekolah-sekolah SUPM, AUP dan Politeknik KP. Dalam ajang tersebut puluhan inovasi ditampilkan baik secara daring maupung luring karena dibatasinya jumlah peserta yang rencananya akan diselenggarakan pada minggu pertama bulan April 2021 di Ball Room GMB III Gambir.

Kegiatan SIBM tahun 2021 dihadiri MenKP dan juga mengundang Menristeksikti/Kepala BRIN untuk memberikan apresiasi kepada hasil-hasil inovasi para taruna-taruni dan rencananya akan berinteraksi langsung dengan mereka secara daring untuk memberikan semangat berinovasi untuk berkarya di bidang Kelautan dan Perikanan sejak dari masa muda. Juga hadir para stakeholder KP sebagai mitra penting untuk memanfaatkan inovasi tersebut ke depan.

Di undangan yang hadir secara luring ditetapkan berjumlah 100 orang akan menampilkan pameran alat sebanyak 15 produk, penandatanganan PKS, penandatanganan lisensi Wakatobi, peluncuran aplikasi Laut Nusantara, pemutaran sekilas video berbagai inovasi, WakatobiAIS, IDSL/PUMMA, PENTAGAR, pemberian kenang-kenangan, dan peninjauan stand-stand dan interaksi serta foto bersama.



Last Updated on Thursday, 04 March 2021 09:52
 

Rapat Persiapan Penyelenggaraan Monev Manajerial dan Rencana Penyelenggaraan SAKIP lingkup BRSDM Tahun 2021

E-mail Print PDF


Jakarta, 01 Maret 2021. Pada hari Kamis, tanggal 25 Februari 2021 Tim Data, Informasi, Monitoring dan Pelaporan (Datinev dan Mopal) Pusriskel secara daring menghadiri rapat pembahasan Persiapan Penyelenggaraan Monev Manajerial dan Rencana Penyelenggaraan SAKIP lingkup BRSDM Tahun 2021 bersama-sama dengan para Koordinator, Sub Koordinator dan Staf Bagian Monev lingkup BRSDM. Acara ini dibuka oleh Sekretaris BRSDM KP Dr. Kusdiantoro, didampingi oleh Koordinator Kelompok Monev Sekretariat BRSDM Ibu Dewi Rukmasari.

Dalam pembukaannya, Bapak Kusdiantoro menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk penyiapan penilaian baik kegiatan manajerial maupun kegiatan SAKIP. Tahun 2021 ini diharapkan bisa mempertahankan capaian tahun sebelumnya atau bahkan bisa meningkat lebih baik. Beliau juga berpesan bahwa dalam pelaksanaan SAKIP jangan hanya mengejar nilainya, namun harus melihat bagaimana implementasinya.

Bu Dewi Rukmasari, dalam pemaparannya mengulas mengenai Monev Manajerial dan SAKIP. Dikarenakan penilaian final SAKIP jatuh pada bulan Juli oleh Inspektorat Jenderal, akan dilakukan penilaian awal di bulan Mei, diharapkan sebelum Mei dokumen-dokumen dimulai dari perencanaan seperti RENSTRA, RENJA, PK, SK IKU, Rencana AKSI, Manual IKU sudah disiapkan. Beberapa hal lain yang disampaikan mengenai kegiatan Monev manajerial antara lain konsep pelaksanaan Monev Manajerial, komponen penilaian implementasi SAKIP, hasil evaluasi SAKIP BRSDM, pendampingan SAKIP, serta persiapan uji petik untuk satker-satker BRSDM.


Last Updated on Monday, 01 March 2021 10:42
 

2 Usulan Proyek Indonesia di Forum KP APEC Tuai Dukungan Co-sponsorship

E-mail Print PDF

JAKARTA (28/2) – Upaya peningkatan diplomasi sektor kelautan dan perikanan di forum regional terus dilakukan Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Diplomasi ini ditujukan untuk memastikan terjaminnya kepentingan nasional dalam rangka pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, sebagaimana tujuan dan harapan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

KKP selaku focal point nasional di forum KP APEC, Ocean and Fisheries Working Group (OFWG), memimpin Delegasi Republik Indonesia (Delri) pada Pertemuan APEC OFWG ke-16 yang digelar secara virtual pada 25-26 Februari 2021. Pertemuan membahas perkembangan kerja sama yang diimplementasikan pada tahun 2020 dan pemaparan konsep usulan proyek untuk peroleh co-sponsorship dari anggota ekonomi APEC.

"KKP memimpin Delri yang beranggotakan perwakilan Kemenkomarves, Kemlu dan Bappenas serta unit kerja teknis KKP. Sinergi lintas sektor diharapkan memberi penguatan bagi KKP dalam berdiplomasi, sekaligus langkah mengoptimalkan koordinasi dalam penyusunan usulan proyek," terang Sekretaris Jenderal KKP, Antam Novambar di Jakarta (25/2/2021).

Proyek merupakan bagian penting dari proses kerja sama di forum APEC, dimana proyek yang diusulkan membantu menerjemahkan arah kebijakan para pemimpin APEC dalam tindakan dan manfaat kongkrit bagi masyarakat di kawasan Asia Pasifik.

APEC mengalokasikan dana di tahun 2021 sekitar 16 juta USD. Proyek-proyek tersebut dipilih secara kompetitif berdasarkan kriteria kelayakan dan penilaian yang telah ditetapkan, berupa lokakarya, peningkatan kapasitas, publikasi dan riset.

Dua usulan proyek Indonesia yang dipresentasikan adalah ‘Determining micro-plastic distribution in coastal aquaculture systems and developing its mitigation plan towards seafood safety’ yang disusun oleh Pusat Riset Perikanan BRSDM KKP, dan ‘Research on Marine Debris Vessel Fleet for Marine Protected Area and Tourism Sustainability’ yang disusun oleh Pusat Riset Kelautan BRSDM KKP.

Proyek pertama, dipaparkan oleh Hatim Albasri, Ph.D., untuk memetakan sebaran plastik mikro pada kegiatan perikanan budidaya di wilayah pesisir serta membahas langkah penanggulangan yang diperlukan untuk menjamin keamanan pangan laut (seafood safety). Proyek kedua, ditampilkan oleh Dr. Handy Chandra, dengan fokus pada penanggulangan sampah laut di kawasan konsevasi laut (marine protected areas), wisata laut dan pulau-pulau kecil melalui pengembangan kapal pengumpul dan insulator sampah.

"Presentasi usulan proyek Indonesia mendapatkan masukan, apresiasi hingga dukungan co-sponsorship dari beberapa anggota ekonomi APEC seperti Chili, Korea Selatan, China, Chinese Taipei dan Papua Nugini," ungkap Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri KKP, Agung Tri Prasetyo yang juga selaku Ketua Delri.

Lebih jauh Agung menjelaskan bahwa selain mempertimbangkan kondisi dan kebijakan sektor KP nasional, penyusunan usulan proyek juga diselaraskan dengan komitmen bersama dalam APEC, sehingga dapat memberikan manfaat bagi seluruh anggota ekonomi APEC.

Selain dua usulan proyek tersebut, KKP berkoordinasi dengan K/L terkait tengah menyiapkan beberapa usulan lainnya mencakup isu-isu seperti perubahan iklim, IUU Fishing, serta pemberdayaan masyarakat pesisir dan perempuan nelayan. Untuk isu perubahan iklim KKP menggandeng Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF). Pengajuan usulan proyek-proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan forum APEC bagi pembangunan sektor KP melalui pendanaan riset, berbagi pengalaman terbaik (sharing best practices) dan peningkatan kapasitas SDM.

Pertemuan APEC OFWG ke-16 diikuti oleh 20 Ekonomi APEC dari total 21 (Australia, Kanada, Chili, Tiongkok, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Chinese Taipei, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam) dan 5 (lima) Guest Presentation (FAO, APEC Virtual Working Group on Marine Debris, The Nature Conservancy, The Ocean Conservancy dan The Global Ghost Gear Initiative). Selain membahas proyek, pertemuan juga membahas implementasi APEC Roadmap on Marine Debris dan APEC Roadmap on IUU Fishing, serta mengesahkan APEC OFWG Work Plan dan Strategic Plan 2021.

Sumber : BIRO HUMAS DAN KERJA SAMA LUAR NEGERI


Last Updated on Monday, 01 March 2021 09:02
 

Pusriskel dan Universitas Bengkulu Pasang PUMMA di “Celah Seismik”

E-mail Print PDF

Pesisir Barat Sumatera merupakan salah satu kawasan yang rentan akan bencana gempa bumi dan tsunami. Wilayah Provinsi Bengkulu bersama-sama dengan Provinsi Sumatera Barat merupakan kawasan yang juga dikenal sebagai “celah seismik” yang memiliki potensi besar untuk terjadinya gempa besar yang juga berpotensi membangkitkan tsunami di masa yang akan datang. Sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan kesadaran akan bencana gempa bumi dan tsunami di Bengkulu dan dalam upaya mengembangkan kemandirian akan penguasaan teknologi peringatan dini tsunami di tingkat lokal, Pusriskel dan Universitas Bengkulu bekerjasama memasang PUMMA yang dapat dimanfaatkan untuk deteksi awal tsunami di kawasan ini.

PUMMA atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air merupakan sebuat tidegauge realtime yang dilengkapi dengan CCTV camera dan dapat dibekali peringatan dini untuk deteksi anomali di perairan seperti kondisi pasang atau surut akibat tsunami. Selain itu, di masa tidak ada tsunami, alat ini dapat dimanfaatkan untuk monitoring perairan dan Sumber Daya Ikan dengan menambahkan beberapa sensor yang diperlukan.

PUMMA untuk Bengkulu berhasil terpasang pada tanggal 19 Feb. 2021 masing-masing di Pulau Enggano (Pelabuhan Malakoni) dan Pelabuhan Pulau Baii (Dermaga AL) berkat kerjasama yang baik antara Tim Pusat Riset Kelautan-BRSDMKP-KKP, Tim Universitas Bengkulu (LPPM, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik), Tripika Kecamatan Enggano, Danlanal Pulau Baai serta Kemenko kemaritiman dan investasi, Asdep Infrastruktur Dasar dan SDA yang berperan fasilitator. Keberhasilan pemasangan PUMMA ini akan sangat membantu dalam monitoring celah seismik pantai barat sumatera serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami.


Last Updated on Monday, 01 March 2021 08:37