Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Pusat Riset Kelautan BRSDM Menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

E-mail Print PDF


Dalam rangkaian acara pembukaan Rakernis BRSDM KP di Hotel Holiday Inn, Bandung pada 6 April 2021, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Riset Kelautan BRSDM dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB tentang Riset dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Bidang Teknologi Kelautan.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Kepala Pusat Riset Kelautan, Dr. I Nyoman Radiarta dan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Dr. Irwan Meilano disaksikan oleh Kepala BRSDM KP, Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D. dan Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. rer.nat. Mutiara Rachmat Putri.

Ruang lingkup Perjanjian Kerja Sama ini adalah:
a. Riset di bidang kelautan serta penerapan teknologi kelautan;
b. Pembimbingan dan/atau pengujian tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis, disertasi);
c. Penyelenggaraan bersama sosialisasi dan edukasi hasil riset, serta penerapan teknologi kelautan; dan
d. Pemanfaatan sarana dan prasarana.

Perjanjian Kerja Sama ini berlaku selama 2 tahun dan akan dilaksanakan berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang disusun dan disepakati oleh FITB ITB dengan Pusriskel dengan berpedoman serta mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan.


Last Updated on Wednesday, 07 April 2021 10:41
 

Tutup Rakernas 2021, Menteri Trenggono Ajak Seluruh Stakeholder Wujudkan Sektor KP Maju dan Berkelanjutan Lewat 3 Program Terobosan

E-mail Print PDF


BANDUNG (6/4) - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono secara resmi menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2021 di Bandung, pada Selasa 6 April 2021. Dalam sambutannya, Menteri Trenggono mengajak seluruh pemangku kepentingan/stakeholder di sektor kelautan dan perikanan (KP) untuk bersama mewujudkan sektor KP yang maju dan berkelanjutan dengan menjalankan tiga program terobosan yang dijalankan KKP.

"Melalui Rakernas KKP Tahun 2021 ini saya mengajak seluruh stakeholder sektor KP untuk ikut mewujudkan kelautan dan perikanan yang maju dan berkelanjutan melalui tiga program terobosan KKP," terang Menteri Trenggono.

Menteri Trenggono menjelaskan langkah konkret yang akan dilakukan KKP dalam menjalankan tiga program terobosan tahun 2021 -2024.

Pertama, peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan nelayan. Hal itu akan dilakukan melalui skema pasca produksi dan skema konsesi bagi hasil.

"Peningkatan PNBP kita arahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, diantaranya melalui asuransi kesehatan dan jiwa, serta tabungan hari tua," jelas Menteri Trenggono.

Lebih lanjut, untuk program terobosan yang kedua, yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung oleh riset kelautan dan perikanan. Hal tersebut dilakukan dengan fokus pada komoditas bernilai ekspor tinggi.

"Kita akan fokus untuk mengembangkan perikanan budidaya pada komoditas yang bernilai ekspor tinggi,  yaitu udang, lobster tropis dan rumput laut. Namun KKP juga akan  tetap memperhatikan komoditas ekonomis lainnya, seperti kerapu, kepiting, nila dan bawal bintang. Pengembangan komoditas utama tersebut akan dilakukan melalui pengembangan shrimp estate dengan tata kelola lahan dan pemanfaatan teknologi demi menjamin keberlangsungan usaha serta menjaga kualitas lingkungan. Lalu, untuk pengembangan budidaya lobster tropis, terbuka bagi seluruh provinsi yang memiliki potensi teknis dan daya dukung lingkungan. Dan saya menegaskan, bahwa ekspor benih bening lobster (BBL) dihentikan, dan kita alihkan untuk budidaya. Sementara, untuk pengembangan rumput laut dilakukan secara hulu hingga hilir, termasuk diversifikasi produk turunannya," jelas Menteri Trenggono.

Untuk program terobosan yang ketiga, yaitu membangun kampung-kampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut yang berbasis kearifan lokal. Hal itu dilakukan secara terpadu mulai dari penyediaan benih, induk, pakan, vaksin, dan pengolahan pasca panen.

Sebelumnya, Menteri Trenggono telah melakukan diskusi interaktif dengan para Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi, Kabupaten dan Kota yang hadir  di Bandung, Senin (5/4/2021).

Menurutnya, kesempatan tersebut dimanfaatkan para Kepala DKP Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk menyampaikan saran atau masukan yang konstruktif dan kesiapan Pemerintah Daerah atas tiga program terobosan KKP tahun 2021-2024.

"Pada kesempatan itu saya menyampaikan bahwa KKP perlu menjabarkan target-target nasional ke dalam target per provinsi yang juga memerlukan komitmen dari pemerintah daerah. Saya yakin sinergi yang baik antara KKP dan para Kepala DKP daerah akan menghasilkan output positif bagi sektor kelautan dan perikanan," ucap Trenggono.

Selain tiga program prioritas yang dijalankan KKP, terdapat sejumlah hal yang juga perlu dilakukan dan ditindaklanjuti oleh KKP kedepan. Hal itu tercantum dalam Rumusan Rakernas Tahun 2021 yang disampaikan oleh Inspektur Jenderal KKP, Muhammad Yusuf.

Muhammad Yusuf menyampaikan sejumlah poin diantaranya KKP perlu memberikan dukungan terhadap peningkatan anggaran baik APBN maupun APBD menurut kewenangannya guna mendukung program prioritas KKP di daerah, mendukung peningkatan sarana dan prasarana produksi, serta regulasi yang dibutuhkan dalam melaksanakan program-program prioritas KKP di daerah, lalu meningkatkan koordinasi antar Kementerian/Lembaga dan antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sesuai dengan kewenangannya, melakukan pembinaan, pelatihan, pendampingan, kepada pelaku usaha kelautan dan perikanan, menyediakan bantuan akses dan fasilitasi permodalan, serta mendukung riset untuk pengembangan budidaya perikanan.

Lalu, menyelesaikan dan menyelaraskan Peraturan Daerah tentang penataan ruang Provinsi dan Peraturan Gubernur yang menjadi turunannya guna mendukung program prioritas KKP, menciptakan iklim usaha dan investasi, menyelesaikan validasi nasional produksi perikanan tepat waktu, serta peningkatan kualitas data kelautan dan perikanan, termasuk data serapan tenaga kerja sektor kelautan dan perikanan, serta pentingnya mengedukasi generasi penerus untuk cinta lingkungan.

Selain itu, Menteri Trenggono  menyampaikan bahwa KKP harus segera menyelesaikan aturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, serta revisi atas PP Nomor 75 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis PNBP dan PP Nomor 58 Tahun 2020 tentang Pengelolaan PNBP.

"Saya juga mengajak seluruh  pihak untuk mendukung upaya pemerintah untuk mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sekaligus menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih baik di sektor kelautan dan perikanan. Hal itu dilakukan melalui implementasi Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta aturan-aturan turunannya yang akan segera kami selesaikan," jelas Menteri Trenggono.

Menutup Rakernas 2021, Menteri Trenggono mengucapkan terima kasih atas segala kontribusi yang diberikan seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian kegiatan Rakernas selama 2 hari ini, ia berharap seluruh jajarannya dan para pemangku kepentingan di sektor KP memiliki semangat Rebound yang sama untuk melangkah kedepan.

Penutupan Rakernas  juga sekaligus membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) yang akan diselenggarakan oleh masing-masing Unit Eselon I KKP.  Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil kesepakatan Rakernas KKP tahun 2021.

Sumber Berita : Siaran Pers KKP




Last Updated on Tuesday, 06 April 2021 20:44
 

LPTK Wakatobi Bersama BTC Iplementasikan Sea Bamboo

E-mail Print PDF

PENASULTRA.ID, BUTON TENGAH – Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi bersama komunitas Buton Tengah Creative (BTC) mengiplementasikan Sea Bamboo (bambu laut) berupa penanaman bibit bambu laut di Desa Kamama Mekar, Kecamatan Gu, Buton Tengah (Buteng), Rabu 31 Maret 2021.

Iplementasi Sea Bamboo di Desa Kamama Mekar ini dilakukan setelah melaweti beberapa tahap yakni pengambilan bibit, pembibitan, dan survei lokasi di tiga desa di Buteng yakni desa Lasori Kecamatan Mawasangka Timur, desa Lanto dan Watorumbe di Kecamatan Mawasangka Tengah serta desa Kamama Mekar, Kecamatan Gu. Dan akhirnya diputuskan dilaksanakan di desa Kamama Mekar.

Kepala LPTK Wakatobi, Akhmatul Ferlin mengungkapkan implentasi dari penanaman bambu laut sebagai upaya restorasi perairan di Buteng khususnya lagi di desa Kamama Mekar. “Ada banyak manfaat dari bambu laut ini, salah satunya sebagai bahan kosmetik dan obat-obat. Sehingga dalam beberapa dekade terakhir bambu laut ini mengalami penurunan yang signifikan,” ujar Akhmatul.

Selain menjaga keberlangsungan ekosistem perairan di Buteng, lanjut Ferlin, ini dilakukan sebagaia upaya menciptakan Wakatobi baru di kepulaun Buton. “Muarahnya adalah kesejahteraan masyarakat, selain potensi perikanannya adanya implementasi ini dapat mendorong objek wisata baru yaitu ekowisata bahari. Muda-mudahan desa Kamama Mekar bisa kita dorong kesana bersama-sama,” ungkapnya.

Kepala Desa Kamama Mekar, Ismail mengaku sangat banggga dan berterimakasih kepada LPTK Wakatobi dan Kumunitas BTC yang telah menjadikan desanya sebagai implementasi Sea Mamboo ini dari tiga desa yang sebumnya menjadi tujuan tim survei dari LPTK Wakatobi. Menurutnya, ini sejalan dengan apa yang menjadi visi dan misinya untuk mengembalikan kejayaan masyarakat di laut. “Beberapa tahun terakhir masyarakat kami mengalami kesulitan mencari kehidupan di laut, karena kondisi perairan yang memburuk. Sehingga ketika desa kami ditunjuk dan dipercayai sebagai lokasi implementasi Mamboo, kami merespon dengan cepat. Muda-mudahan impelementasi bambu laut berhasil dan perlahan mengembalikan kondisi ideal laut,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Tengah H. Kostantinus Bukide sangat mengapresiasi penanaman bibit bambu laut.

“Antusias dari masyarakat sangat luar biasa. Ini bukti kalau masyarakat Buteng khsususnya desa Kamama Mekar menginginkan daerah dan desanya lebih baik lagi,” tandasnya.

Sumber Berita : Penisutra



Last Updated on Monday, 05 April 2021 08:17
 

Pemda Buteng Dorong Implementasi Bambu Laut Digelar Berskala Nasional

E-mail Print PDF


PENASULTRA.ID, BUTON TENGAH – Setelah sukses pelaksanaan implementasi Seo Bamboo (bambu laut) di desa Kamama Mekar, Kecamatan Gu yang digelar oleh Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi bersama komunitas Buton Tengah Creative (BTC) mendorong pemerintah daerah (Pemda) Buton Tengah (Buteng) kembali menggelar kembali kegiatan tersebut.

“Jadi nanti skalanya akan lebih besar minimal nasional dengan menghadirkan Kemenko Kemaritiman,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Buteng, H. Kostantinus Bukide saat ditemui beberapa awak media usai membuka kegiatan Seo Bamboo, Rabu 31 Maret 2021.

Ia menyebut itu sangat mungkin untuk dilakukan melihat rentan waktu yang masi menyisahkan beberapa bulan lagi lamanya.

“HUT Buteng kan masih menyisahkan waktu beberapa bulan lagi, jadi segala persiapan termasuk membangun koordinasi dengan Kemenko Kemaritiman itu bisa dilakukan. Apa lagi pak bupati dan pak Ferlin selaku Kepala LPTK Wakatobi sangat respon untuk dilakukan kedua kalinya dan lebih besar lagi,” tambah dia.

Jenderal ASN di Buteng ini menambahkan, penanaman bambu laut menyimpan harapan besar kedepannya untuk dilakukan ditiap kecamatan.

“Melihat penjelasan dari tim LPTK Wakatobi, justru saya berkeinginan kalau bisa ditiap kecamatan kita lakukan dan padukan dengan jenis karang lainnya biar bervariasi,” tandasnya.

Sumber Berita : Penasutra


Last Updated on Monday, 05 April 2021 08:07
 

Review oleh Duo Alumni Jerman : Cegah Naiknya Muka Air Laut dengan Minimalisir Emisi Karbon

E-mail Print PDF


JAKARTA — Data pantauan global menunjukkan peningkatan tinggi muka air laut, secara rata-rata, 3-5 mm per tahun. Jika ini tidak dicegah dengan hidup minim emisi karbon maka ada potensi beberapa bagian wilayah daratan dunia akan terendam oleh air, termasuk beberapa bagian Indonesia.

Peneliti Oseanografi Pusat Riset Kelautan Widodo S. Pranowo menyebutkan total jumlah air di bumi itu adalah tetap. Air ini bersirkulasi mulai dari darat, ke sungai, ke laut, terevaporasi ke atmosfer, turun lagi ke permukaan bumi menjadi hujan. Bentuknya bisa berbeda tapi jumlahnya sama.

“Jadi kalau ingin mempertahankan siklus air dan bentuknya, maka yang perlu dilakukan adalah bersama melakukan hidup yang meminimalisir emisi karbon,” kata Widodo saat dihubungi Cendana News, Rabu (31/3/2021).

Ia menjelaskan bahwa penyebab utama dari kenaikan permukaan air laut adalah karena mencairnya es di permukaan bumi, terutama di wilayah kutub-kutub.

“Sedangkan penyebab utama mencairnya es di permukaan bumi adalah karena efek gas rumah kaca. Udara di antara atmosfer dan permukaan bumi dinamis dari hangat menjadi panas, atau sering dikenal sebagai global warming,” katanya lebih lanjut.

Masyarakat ilmiah menduga global warming ini selain secara natural, lajunya semakin cepat dipicu oleh era industrialisasi yang meningkatkan emisi karbondioksida. Sementara itu pembangunan di segala sektor pasti memiliki emisi karbondioksida.

“Sehingga apabila kenaikan permukaan air laut ingin dikurangi lajunya maka emisi karbon dioksida haruslah dikurangi atau diatur emisinya. Menyetop pembangunan tidaklah mungkin, namun kehidupan manusia perlu diatur dengan cara hidup sehat yang seminimal mungkin mengurangi emisi karbondioksida,” papar Widodo.

Pandemi Covid19, lanjutnya, tanpa disadari turut mengerem emisi karbondioksida. “Bisa kita rasakan akhir-akhir ini langit Jakarta lebih cerah tanpa diselimuti warna kelabu yang disinyalir adalah karbondioksida,” tuturnya.

Kapus Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika, Badan Informasi Geospasial (BIG) Dr. Gatot Haryo Pramono menjelaskan bahwa muka air laut dipengaruhi oleh suhu laut, glasier dan penurunan daratan.

“Ketinggian muka air laut terjadi karena suhu udara meningkat dan menyebabkan suhu air laut juga meningkat. Saat suhu air laut meningkat maka air laut memiliki kecenderungan untuk mengembang. Kejadian ini memiliki 30 persen bagian dalam menyebabkan ketinggian muka air laut,” kata Gatot dalam kesempatan terpisah.

Mencairnya glasier atau es abadi juga bisa menjadi penyebab meningkatnya muka air laut. Potensi meningkatnya muka air laut karena glasier ini bisa mencapai 30 persen.

“Sementara yang terbesar, yaitu 40 persen terjadinya peningkatan muka air laut adalah karena daratan yang menurun, yang salah satunya adalah karena penyedotan air tanah secara berlebihan dan menyebabkan tanah turun memenuhi bagian yang awalnya di isi oleh air tanah,” ucapnya.

Gatot menjelaskan bahwa di tingkat global, kenaikan muka air laut terjadi dengan rata-rata 4,4 mm per tahun setelah tahun 2015. Meningkat jauh sejak periode 1900 – 1930 yang hanya 0.6 mm per tahun, lalu periode 1930-1992 yang menjadi 1,2 mm per tahun dan periode 1993-2015 pada angka 3,2 mm per tahun.

“Sementara di Indonesia, berdasarkan data SODA dan altimeter, terlihat tren kenaikan masih di bawah 10 mm per tahun. Sehingga, dengan simulasi kenaikan suhu permukaan laut pada 2 derajat, pada tahun 2100 diperkirakan permukaan laut global akan naik sekitar 30 cm dan Indonesia akan naik sekitar 50 cm, tanpa adanya aspek penurunan atau kenaikan struktur daratan,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews




Last Updated on Monday, 05 April 2021 07:57
 

Seminar Online : Pemanfaatan Anjungan Minyak dan Gas Lepas Pantai untuk Kepentingan Sektor Kelautan dan Perikanan Sesi #2

E-mail Print PDF


Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik bekerja sama dengan PII Learning Center mengadakan Seminar Online "Pemanfaatan Anjungan Minyak dan Gas Lepas Pantai untuk Kepentingan Sektor Kelautan dan Perikanan" Sesi #2

Seminar akan diselenggarakan pada:
Rabu, 31 Maret 2021
09.30 – 12.00 WIB

Pembicara:
1. Dr. Taufiq Arief Setyanto, S.T, M.Eng
Direktur Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

2. Tinggal Hermawan, S.Pi., M.Si
Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI

3. Anwar Rizal, M.Env.Sc.
Peneliti Pusat Riset Kelautan
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI

Join ZOOM Meeting:
https://us02web.zoom.us/j/84649340079?pwd=dmxHVldNdW1iUlZodkdxakUzYnlFdz09


Meeting ID: 846 4934 0079
Password: plckkp21

FREE ENTRY

Wajib melakukan registrasi untuk mengikuti pelatihan ini.

Info:
1. Registrasi melalui https://bit.ly/webinarPLCKKP31maret dan memfollow akun Instagram @wahyusaidi, @pii.learningcenter atau Facebook Page PII Learning Center dan subscribe youtube PII Learning Center serta channel telegram t.me/piilearningcenter

2. Info lebih lanjut silahkan bergabung di Grup WhatsApp melalui link berikut bit.ly/grupplc31maret atau Grup Telegram http://bit.ly/gruptelegramplc

Segera registrasi dan jangan sampai ketinggalan!

Contact (WA)
Anastasia: 0811-232-994
Mechdi : 085883576608



Last Updated on Tuesday, 30 March 2021 14:25