SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2014

Model Pengelolaan Kawasan Pesisir & Pulau-Pulau Kecil Berbasis Zonasi di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan

 

 

 

Latar Belakang :

Sebagai upaya pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, pemerintah mengeluarkan UU No. 27/2007 jo UU No. 1/2004. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rencana Zonasi dimaksudkan untuk membuat suatu jaringan/kisi-kisi spasial diatas lingkungan pesisir dan laut yang memisahkan pemanfaatan sumberdaya yang saling bertentangan dan menentukan kegiatan-kegiatan yang dilarang dan diizinkan untuk setiap zona peruntukan dalam rangka menciptakan suatu keseimbangan antara kebutuhan-kebutuhan pembangunan dan konservasi. Adapun tujuan rencana Zonasi adalah membagi wilayah pesisir kedalam zona-zona yang sesuai dengan peruntukan dan kegiatan yang bersifat saling mendukung (Compatible) serta memisahkannya dari kegiatan yang bersifat bertentangan (Incompatible).  Rencana Zonasi WP-3-K meliputi Penetapan Zona-Zona dan Arahan Pemanfaatannya, yaitu Zona  Pemanfaatan Umum (Multiple Use Zone), Zona Konservasi, Zona Kawasan Strategis Tertentu (kalau ada) dan Zona Alur (Corridor Zone).

Tujuan :

1.  Megetahui karakteristik lingkungan perairan dan ekosistem terumbu karang,

2.  Menyusun draft Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Kabupaten Barru

Metode :

1.   Pola sebaran parameter biofisika-kimia perairan dianalisis dengan menggunakan software MINITAB versi 14. Lebih lanjut untuk mengetahui perbedaan antara kondisi perairan pada setiap zona dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji t,

2.  Menyusun matriks kesesuaian dan pembobotan, menggunakan sistem informasi georafis

Hasil :

Indentifikasi terumbu karang dan ikan karang dilakukan pada kedalaman 3 m dan 5 m. Lokasi pengamatan yaitu P Puteangin, P Pannikiang  P Bakki, dan Kessipute. Kondisi terumbu karang pada seluruh stasiun termasuk dalam kategori sedang (klasifikasi kondisi menurut Brown(1986)). Gambaran kondisi ikan karang menunjukkan nilai yang bervariasi. Nilai kelimpahan tertinggi terdapat di P Pannikiang  dengan jumlah individu sebanyak 1.015 ekor, selanjutnya P Puteanging berada pada posisi kedua dengan jumlah sebanyak 819 ekor, Kessipute sebanyak 748 ekor dan P Bakki sebanyak 509.

Zonasi perencanaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Barru, meliputi : Wilayah zona 1 merupakan perairan utara Kabupaten Barru yang berbatasan langsung dengan Kota Pare-pare. Secara administrasi, wilayah ini meliputi satu  Kecamatan pesisir yaitu Kecamatan Mallusetasi. Batas bentang alam wilayah ini berawal dari muara sungai yang berbatasan dengan Kota Pare-pare hingga di muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Soppeng Riaja. Wilayah zonasi II berada di wilayah perairan laut Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Batas bentang alam wilayah ini berawal dari muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Mallusetasi hingga di muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Balusu. Bentang alam pada wilayah perencanaan ini relatif lebih kompleks, dimana bentang alam pesisirnya terdapat teluk yang cukup besar dan kecil, tanjung yang besar dan kecil, perairan terbuka menghadap Selat Makassar dengan sedikit dangkalan/gusung. Wilayah III berada di wilayah perairan laut Kabupaten Barru dengan batas administrasi dua kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Balusu dan Kecamatan Barru. Batas bentang alam wilayah ini berawal dari muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Soppeng Riaja hingga di muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Tanete Rilau. Wilayah ini berada di perairan selatan Kabupaten Barru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pangkep. Secara administrasi, wilayah perencanaan IV meliputi satu wilayah Kecamatan pesisir yaitu, Kecamatan Tanete Rilau. Batas bentang alam wilayah ini berawal dari muara sungai yang berbatasan dengan Kecamatan Barru hingga di muara sungai yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep. Zonapemanfaatan budidaya laut adalah 389,99 Ha berada pada wilayah Teluk Labosso, Teluk Siddo, Teluk Labunge dan Awerange, Pulau Batukalasidan Pulau Bakki. Zonakonservasi terdiri dari konservasi laut dan konservasi mangrove berada di Pulau Pannikiang dan wilayah laut yang ada disekitarnyadenganluas wilayah konservasi mencapai 525,2 Ha.Zonawisata bahari beradasepanjang pantai daerah Kecamatan Mallusetasi, Pulau Batukalasi, Pulau Bakki dan Pulau Dutungan, Pulau Puteangin, sertadi Kecamatan Balusu dengan potensi denganestimasiluas wilayah 1.130,38 Ha.

Unit Kerja

Alamat

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Gedung Balitbang II Lantai 4, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

:

Propinsi Sulawesi Selatan

Peneliti Utama Keg

:

:

Dr. Taslim Arifin

Muhammad Ramdhan, MT

Eva Mustikasari,MSI

Aida Heriati. MT

:

:

: