Kajian  Sumberdaya dan Lingkungan Kawasan Pesisir Natuna

Latar Belakang :

Laut Natuna sebagai salah satu laut perbatasan dengan Laut China Selatan yang sangat strategis secara multi-lateral perlu diketahui secara mendalam karakteristik sumberdaya-nya terkait jika di kemudian hari terjadi pencemaran (seperti: pencemaran minyak, polutan lain) yang dapat berdampak kepada seluruh negara yang berkepentingan. Dimana Kawasan tersebut saat ini terdapat beberapa sumur pengeboran minyak yang operasional (Siddayao, 1984; Szarek et al., 2006).

Laut Natuna adalah sebagai salah satu portal penting dari pertukaran massa air lautan Indonesia dengan Laut China Selatan yang mempunyai interaksi erat dengan Monsun yang terjadi di Indonesia (Wyrtki, 1961; Hu et al., 2000). Keunikan Laut Natuna dan sekitarnya ini telah diendus sejak lama oleh para peneliti dari China (Wendong et al., 1998; Chu & Edmons, 1998), sehingga sudah sepantasnyalah, para peneliti Indonesia harus lebih mengenal Laut Natuna. Pemahaman monsun yang terjadi di Indonesia selama ini belumlah memadai, terbukti dengan gagalnya program nasional peningkatan produksi garam (minapolitan) nasional di tahun 2010 yang diakibatkan oleh faktor cuaca. Data dan informasi tentang cuaca dan iklim yang disediakan oleh BMKG belumlah cukup memadai didalam memahami kondisi monsun yang unik di Indonesia, sehingga kontribusi P3SDLP melalui pengukuran dan pengkajian lebih detil pada parameter lautnya adalah sangat diharapkan (Wirasantosa dkk., 2011; Pranowo et al., 2012). Terutama jika dikaitkan dalam mendukung program industrialisasi kelautan dan perikanan kedepan, maupun rencana aksi nasional adaptasi perubahan iklim.

Tujuan :

Inventarisasi dan pemantauan parameter oseanografi lingkungan perairan Natuna dan sekitarnya, dan untuk lebih mengenal karakteristik interaksi laut dan atmosfer Laut Natuna dan pengaruhnya bagi perairan Indonesia pada umumnya  sebagai dukungan dalam bentuk data dan informasi untuk menuju konsep industrialisasi kelautan dan perikanan

Metode :

Survei dan pengukura in situ dilaksanakan untuk memperoleh data dan informasi sejumlah parameter. Dimana data dan informasi dari berbagai sumber juga akan dikompilasi untuk merapatkan stasiun-stasiun pengamatan/analisis dan juga melengkapi resolusi temporal cakupan data untuk Laut Natuna dan sekitarnya. Metode time series data analysis, deskriptif dan statistik telah diimplementasikan pada penelitian ini.

Hasil : .

-     Dinamika pasang surut : pasang tertinggi terjadi pada tanggal 23 November 2012 (1.861 m) pada pukul 23:31 WIB, sedangkan pasang terendah terjadi pada tanggal 24 September 2012 pada pukul 06:31 WIB.

-     Dinamika suhu air permukaan : suhu tertinggi terjadi pada 12:00 – 18:00 WIB, kemudian temperatur menurun pada pukul 18:00 - ~00:00 WIB. Temperatur kemudian kembali meningkat ketika waktu menjelang pagi (00:00 - ~06:00 WIB).

-     Kondisi pola angin : Pulau Sedanau didominasi oleh angin timuran, dimana angin datang dari arah timur hingga timurlaut dengan kecepatan angin dominan 1-4 m/detik.

-     Sedimen : Sekitar pulau Sedanau pada umumnya mempunyai jenis sedimen lumpur berpasir, ataupun lumpur.

-     Kualitas air : kecerahan: 2 m – 20,9 m, suhu: 29,2 °C – 30,6 °C, salinitas: 27,9 – 30,4 ‰, pH: 8,09 – 8,27, DO: 6,34 – 7,96 mg/l, konduktivitas: 4,23 – 4,56 mS/m, σt : 16,4 – 18,4, TSS: < 3 – 26 mg/L, nitrat: 0,005 - 0,078 mg/L, fosfat : <0,005 - 0,015 mg/L, silikat: 0,045 – 0,704 mg/L, DIC: 1.902,93 - 2.090,14 µmol/kg, TOC: 250 – 1190 µg/kg, PAH: < 0,00002 - 0,00584 mg/L.

-     Logam berat (mg/L): Hg: <0,0002, As: <0,0002, Cd: <0,001, Cu: <0,005, Pb: <0,005

Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari hasil pengukuran parameter fisika dan kimia permukaan perairan pada penelitian ini, jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya di tahun 2010, dpat diperoleh kesimpulan bahwa dari tahun 2010 hingga saat ini kondisi perairan Pulau Tiga- Sedanau masih tergolong baik, menandakan bahwa kegiatan-kegiatan yang terjadi di Perairan tersebut belum menimbulkan dampak yang merusak. Kondisi kualitas peraeiran diwilayah tersebut masih memenuhi syarat baku mutu air laut untuk biota yang ditetapkan olah Kementerian Lingkungan Hidup, Dengan Kata lain, perairan di lokasi ini masih layak untuk pengembangan budidaya perikanan laut. Penduduk di Natuna sebagian besar melakukan budidaya ikan dengan pembesaran ikan menggunakan keramba.

 

Lokasi Kegiatan

:

Propinsi Sulawesi Selatan

Peneliti Utama Keg

:

Dr. Widodo S. Pranowo