Kajian Kebijakan Penataan Wilayah Pesisir Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat Sebagai Upaya Adaptasi dan Mitigasi Bencana

 

Salah satu TES Eksisting di Kab. Pesisir Selatan

Salah satu Peta Permukiman Usulan Shelter dan Pola Ruang

Peta percepatan di batuan dasar akibat kombinasi ketiga sumber gempa untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun di Sumatera Barat.

 

Latar Belakang :

Sumatera Barat merupakan daerah yang rawan bencana gempa dan tsunami karena berada di dekat dua sumber gempa, yaitu pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng India Australia dan sesar menganan Sumatera Fault Zone (SFZ). Sejak Gempa Aceh Andaman 2004 terlihat migrasi gempa ke arah selatan, yaitu dengan terjadinya Gempa Nias 2005 dan susulannya yang berada di selatan gempa utama yaitu di segmen Mentawai (Sieh, 2006). Sejarah telah membuktikan bahwa Gempa Megathrust Mentawai pernah terjadi pada 1797 dengan diikuti tsunami. Gempa di segmen ini, setelah itu, belum mencapai kekuatan setara dengan kejadian 1797. Sehingga, para ahli gempa mengkhawatirkan bahwa gempa megathrust massa depan akan terjadi di Segmen Mentawai. Kekhawatiran ini seharusnya ditindaklanjuti dengan persiapan menghadapi bencana. Dalam rangka persiapan menghadapi bencana, maka Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir melakukan penelitian tentang “Kajian Kebijakan Penataan Wilayah Pesisir Provinsi Sumatera Barat Berbasis Mitigasi Bencana”

Beberapa kabupaten Sumatera Barat belum mempersiapkan daerahnya secara optimal dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami. Berdasarkan Forum Grup Diskusi (FGD) dengan para pemangku kepentingan daerah, maka diputuskan daerah yang memerlukan perhatian dalam mempersiapkan bencana tersebut adalah Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman dan pesisir Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah di daerah tersebut hanya memiliki Tempat Evakuasi Sementara  (TES) yang minim baik jumlah maupun kapasitasnya

Tujuan :

a. Mengkaji dan menganalisis wilayah yang rawan bencana tsunami seperti Peta Rawan Tsunami hasil penelitian BNBD dan Peta bahaya gempabumi KemenPU,

b. Mengkaji pemanfaatan dan penataan wilayah pesisir yang ada saat ini (eksisting) untuk perencanaan usulan shelter atau TES,

c. Menganalisis kebutuhan TES dan infrastruktur pendukung evakuasi tsunami, berdasarkan sebaran dan kepadatan penduduk yang tinggal di lokasi rawan tsunami,

d. Mengusulkan lokasi TES, daya tampung TES dan proyeksi daya tampung TES untuk 50 tahun ke depan serta jalur evakuasi menuju TES dan jalur menuju Tempat Evakuasi Akhir yang berada di bukit atau dataran tinggi. Usulan tersebut sebagai bentuk dari penataan wilayah berbasis mitigasi bencana,

e. Menganalisis kebijakan-kebijakan eksisting terkait mitigasi bencana gempa dan tsunami di Sumatera Barat.

Metode :

Penelitian ini memperhitungkan skenario sumber gempa yang akan datang termasuk waktu yang diperlukan tsunami untuk tiba di pantai dan kemampuan manusia rata-rata (waktu tempuh) dalam mengevakuasi dirinya, serta jumlah populasi penduduk. Parameter penting yang dianalisis: scenario gempa dan tsunami, zonasi daerah rawan tsunami, analisis tata ruang tingkat kerawanan tsunami, kepadatan penduduk, jalur evakuasi, kondisi sosial masyarakat., yang dilanjutkan dengan metoda penentuan lokasi dan daya tampung TES dan lokasi menuju TEA.

Hasil : .

Ada tiga hal yang diperhitungkan dalam penelitian ini, yaitu desain lokasi dan kapasitas TES/vertical shelter, peta bahaya gempa dan respon spektrum gempa pada bangunan tahan gempa. Kesimpulan yang dapat diambil dari ketiga studi tersebut adalah sebagai berikut:

a.Wilayah studi memiliki Tempat Evakuasi Sementara (TES) yang minim baik jumlah maupun kapasitas. Berdasarkan hasil penelitian, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman Utara, Kabupaten Padang Pariaman Selatan, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kecamatan Bayang, Kecamatan IV Jurai, Kecamatan Batang Kapas, Kecamatan Sutera dan Kecamatan Lengayang membutuhkan berturut-turut 23,12, 39, 8, 4, 6, 11, 21 dan 33 TES/vertical shelter tambahan di lokasi yang tepat.

b. Percepatan di batuan dasar akibat kombinasi ketiga sumber gempa, yaitu sumber gempa background, sumber gempa sesar/patahan, sumber gempa subduksi (megathrust) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun di Sumatera Barat sekitar 0.1 – 1.25 g. Percepatan di batuan dasar maksimum terdapat di sekitar segmen megathrust Mentawai dan Sumatera Fault Zone (SFZ).

c. TES harus dibangun dengan standar tahan gempa dan tahan tsunami. TES tahan gempa dengan lokasi yang diusulkan memiliki standar respon spektrum gempa tertentu dengan mempertimbangkan percepatan batuan dasar dan tanah lunak di bawahnya.

Studi ini mencapai tujuan perancangan lokasi dan kapasitas TES/vertical shelter yang optimal di wilayah studi. Sedangkan perancangan TES/vertical shelter seharusnya mengacu pada peraturan yang dibuat oleh KemenPU. Perancangan bangunan tahan gempa idealnya menggunakan standar SNI 03 1726 2002, SNI 03 2847 2002, SNI 03 1729 2002. Perancangan bangunan di kawasan rawan tsunami diatur dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2009 tentang Pedoman Perencanaan Umum Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Rawan Tsunami (KemenPU, 2009).

Lokasi Kegiatan

:

Propinsi Sumatera Barat

Peneliti Utama Keg : Dr. Dini Purbani
Download Peta Rekomendasi Shelter Tsunami