Analisis Kebijakan Pengembangan Minapolitan Berbasis Budidaya Laut di Kawasan Teluk Tomini

 

Peta lokasi pengambilan data

Rumput laut Kabupaten Boalemo

Tambak Kabupaten Pohuwato

 

Latar Belakang :

Berdasarkan PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, laut Tomini dan sekitarnya ditetapkan sebagai kawasan budidaya yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut. Teluk Tomini memiliki berbagai pemanfaatan  (multiple use) baik nilai ekologi maupun ekonomi. Dalam pemanfaatan nilai ekologi, yaitu sebagai fungsi biodiversity dan tempat pemijahan ikan (spawning ground). Dalam pemanfaatan ekonomi, diidentifikasi berbagai kegiatan, diantaranya: fungsi transportasi, fungsi daerah penangkapan ikan dan budidaya, fungsi pariwisata dan fungsi kawasan industri. Dari potensi sumberdaya pesisir tersebut, Provinsi Gorontalo ditetapkan sebagai kawasan minapolitan, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.32/MEN/2010. Tujuan pengembangan kawasan Minapolitan adalah untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan kegiatan perikanan sebagai kegiatan  utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mendorong keterkaitan desa dan kota dan berkembangnya sistem dan usaha minabisnis yang berdaya saing berbasis kerakyatan, berkelanjutan (tidak merusak lingkungan) dan terdesentralisasi (wewenang berada di Pemerintah Daerah dan Masyarakat) di kawasan Minapolitan.

Tujuan :

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tipologi wilayah dan peranan sektor perikanan dalam mendukung pengembangan minapolitan  serta mengestimasi dampak ekologi-ekonomi pengembangan minapolitan perikanan budidaya di Provinsi Gorontalo.

Metode :

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis tipologi wilayah, analisis model input-outputm dan analisis ecological-economy

Hasil :

Kabupaten Pohuwato memiliki nilai PDRB perkapita di atas provinsi, namun pertumbuhan ekonominya masih dibawah provinsi (high income but low growth atau kategori maju tapi tertekan). Kabupaten Gorontalo, Boalemo dan Bone Bolango termasuk dalam kategori relatif tertinggal (low growth and low income). Pada subsektor perikanan, Kabupaten Gorontalo dan Bone Bolango berada pada kuadran IV (relatif tertinggal). Boalemo mampu mencapai kuadran I tetapi itu hanya terjadi tahun 2009. Ini berarti selama tahun 2008 – 2010 tidak ada kabupaten yang konsisten menempatkan subsektor perikanan pada kuadran I atau kategori cepat maju dan cepat tumbuh. Komposisi permintaan akhir dari sektor perikanan didominasi dari komponen rumah tangga (58,49%), hal ini menunjukkan bahwa konsumsi penduduk Provinsi Gorontalo terhadap hasil sektor perikanan, yaitu ikan cukup tinggi..

Kesimpulan

  1. Estimasi dampak ekologi dari pengembangan industrialisasi perikanan, terlihat bahwa perikanan budidaya membutuhkan input lingkungan di atas rata-rata kebutuhan area dan mangrove secara sektoral. Namun demikian, eksternalitas yang ditimbulkan dari perikanan budidaya masih berada di bawah rata-rata ekternalitas secara sektoral.
  2. Perikanan budidaya cukup andal dalam meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan, tetapi belum cukup andal dalam menciptakan kesempatan kerja.

Implikasi Kebijakan

  1. Intensifikasi pemanfaatan lahan pertambakan komoditi bandeng. Potensi lahan pertambakan di Kabupaten Boalemo seluas 250 Ha, sedangkan  di Kabupaten Pohuwato sekitar 4.337 Ha. Pengembangan  pertambakan perlu dilakukan dengan memperthatikan prinsip-prinsip ekologis, sehingga dapat menghindari eksternalitas negatif  dari penggunaan sumberdaya alam tersebut.
  2. Optimalisasi pemanfaatan lokasi budidaya rumput laut. Potensi lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Boalemo sekitar 15.838,22 Ha, sedangkan  diKabupaten Pohuwato sekitar 334 Ha. Kendala utama budidaya rumput laut adalah adanya penyakit ice-ice. Untuk mencegah kerugian yang akan dialami oleh petani rumput laut, diperlukan suatu penanganan didalam mengantisipasi terjadinya penyakit ice-ice, diantaranya melalui:
    • Diperlukan monitoring perairan, terutama pada saat terjadinya perubahan lingkungan perairan yang dratis seperti naik atau turunnya suhu dan atau salinitas,
    • Kualitas bibit sangat menentukan produktivitas produk dan ketahanan terhadap penyakit. Penggunaan bibit unggul merupakan cara yang sangat penting untuk pengendalian penyakit ice-ice.
  3. Penciptaan lapangan kerja melalui teknologi pengolahan dan pasca panen. Pengembangan sektor industri pengolahan rumput laut dan ikan bandeng untuk skala kecil/rumah tangga dan industri menengah dengan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan. Dengan pelaksanaan strategi ini diharapkan masyarakat setempat menjadi pelaku utama dalam penciptaan nilai tambah produksi sehingga pengembangan kegiatan industri bisa berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lokasi Kegiatan

:

Provisnsi Gorontalo (Teluk Tomini)

Peneliti Utama Keg

:

Dr. Taslim Arifin