Kajian Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Laut Berbasis Ekosistem Pesisir Laut Natuna

 

Peta Pesisir Laut Natuna

Proses penngambiln sampel sumberdaya arkeologi

 

 


 

Latar Belakang :

PERMEN KP RI Nomor Per .17/Men/2008 telah mengatur bahwa kawasan laut yang menyimpan atau mengandung potensi sumberdaya arkeologi laut, dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi maritim, maka riset Kajian Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Laut Berbasis Ekosistem Pesisir Laut Natuna dilaksanakan, agar dapat model kebijakan pengelolaan yang berbasis pada pemanfaatan dan peerlindungan sumberdaya arkeologi laut dengan memperhatikan ekosistem pesisir dan laut di lingkungan situs.

Informasi awal menyebutkan bahwa di Perairan Laut Natuna banyak ditemukan keramik-keramik kuna, kapal tenngelam dan sebaran muatannya, tetapi pengelolaan sumberdaya tersebut secara insitu baik pemanfaatan maupun perlindungannya belum terintegrasi dengan pengelolaan kawasan pesisir dan laut Natuna yang juga merupakan salah satu pulau terdepan.

Tujuan :

  1. Mengidentifisasi sebaran lokasi sumberdaya arkeologi di pesisir laut Natuna dan Kebijakan pengelolaannya saat ini, terkait ekosistem pesisir di lingkungannnya
  2. Mengidentifikasi jenis dan sebaran ekosistem peseisir Natuna di lingkungan situs dan kebijakan serta aktifitas pengelolaannya
  3. Membuat rekomendasi kebijakan wilayah pesisir terpadu yang berdasarkan pada model pengelolaan sumberdaya arkeologi laut berbasis ekosistem pesisir laut di Natuna

Metode :

  1. Metode analisis yang dipergunakan adalah induksi analitik yang berpegang pada data lapangan, data yang telah dikumpulkan dikelompokkan dalam tiga unit analisis utama yaitu analisis potensi sumberdaya arkeologi laut dan ekosisemnya, analisis kebijakan dan analisis tekstual yang dilakukan dalam bentuk integrasi data dari data sekunder dan perolehan data di lapangan
  2. Perumusan model pengelolaaan sumberaya arkeologi laut berbasis ekosistem pesisir laut di Natuna, yang diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan pengelolaanwilayah laut terpadu yang juga ikut memperhatikan pelastarian dan pemanfaaatan sumberdaya arkelogi laut dan ekosistemnya

Hasil :

  1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi sumberdaya arkeologi laut di Pesisir Pulau Natuna, khususnya di Tj. Senubing (Pulau Senoa) dan Teluk Buton, memiliki nilai kelangkaan dan sejarah yang tinggi,
  2. Keberadaan sebaran botol-botol minuman kuna, plat kapal perusahaan pemilik kapal, sebaran keramik-keramik dari berbagai dinasti, merupakan bukti arkeologis dan historis yang dapat menunjukkan adanya aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional. Hal tersebut membuktikan bahwa Natuna terletak pada jalur pelayaran internasional sejak dahulu kala. Fakta ini sangat menarik bagi para wisatawan untuk meng-eksplore situs tersebut.
  3. Bukti dan nilai sejarah yang dimiliki situs kapal karam ini, ditambah dengan berbagai jenis ekosistem terumbu karang yang masih sehat dan baik, menjadi nilai tambah dan kompleksitas bagi pesisir Pulau Natuna untuk mengembangkan wisata bahari dengan konsep ecominawisata.

 

Saran

  1. Diperlukan bentuk pengelolaan berupa penetapan kawasan konservasi maritim di Perairan Natuna yang selaras dengan aturan daerah serta kearifan lokal yang telah ada sebelumnya
  2. Daerah situs yang telah teridentifikasi semuanya masuk dalam kawasan KKLD Natuna, dimana pada wreck 1 Teluk Buton masuk dalam kawasan KKLD II dimana kebijakan konservasinya diprioritaskan pada suaka perikanan. Kemudian untuk wreck 2 Pulau Senoa (Tanjung Senubing) masuk dalam kawasan KKLD III dimana diprioritaskan untuk kepentingan wisata bahari.Berdasarkan hal tersebut di atas, tentunya penetapan kawasan konservasi maritim sulit dilakukan. Namun upaya pemanfaatan dan perlindungan situs bisa dilakukan dengan menambah aturan tambahan pada naskah peraturan KKLD.

Lokasi Kegiatan

:

Perairan dan Pesisir Laut Natuna

Peneliti Utama Keg.

 

Ira Dillenia, S.S. M. Hum