Kajian Proses Sedimentasi dan Dampaknya terhadap Pengembangan Kawasan Budidaya

 

 

 

Latar Belakang :

1. Proses sedimentasi dapat menimbulkan pendangkalan dan penurunan kualitas air laut.

2. Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat) ditetapkan sebagai daerah potensi perikanan tangkap, tambak dan Keramba Jaring Apung (KJA) berdasarkan peta Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil–Ditjen KP3K–KKP.

Tujuan :

1. Mengetahui proses sedimentasi; tekstur, arah pergerakan dan sumber sedimen; serta faktor yang mengontrol sedimentasi.

2. Mengetahui distribusi sedimen tersuspensi (diukur sebagai Total Suspended Solids/TSS), parameter kualitas air laut (pH,Dissolved Oxygen/DO, turbidity, temperatur, salinitas), serta kandungan logam berat untuk informasi kesesuain lahan budidaya.

Metode :

1. Kegiatan persiapan meliputi: pengumpulan data sekunder, data spasial, artikel ilmiah, literatur, dan laporan teknis terdahulu.

2. Kegiatan survei lapangan meliputi: persiapan, pengelompokan personal peneliti, penge-set-an (install) peralatan dan survei.

3. Analisis laboratorium meliputi: analisis besar butir, logam berat, suspensi sedimen (diukur sebagai TSS).

Hasil :

1. Berdasarkan batimetri, kedalaman laut di perairan Pemangkat berubah secara berangsur hingga kedalaman 8 m dan berubah tajam mulai dari kedalaman 8 m dan seterusnya. Pola ini dapat ditafsirkan sebagai kawasan pantai sedimentasi ditandai oleh adanya pendangkalan di sekitar muara Sungai Sambas dan alur pelayaran menuju PPN Pemangkat.

2. Berdasarkan hasil analisis gravimetri sampel air laut, konsentrasi TSS perairan Pemangkat berkisar antara 5 – 414 mg/L. Dari data ini dapat diketahui bahwa kualitas perairan Pemangkat dilihat dari konsentrasi TSS kondisinya sudah sangat buruk, kecuali ke arah laut lepas konsentrasi TSS nya masih relatif kecil.

3. Berdasarkan hasil analisis besar butir, sedimen permukaan dasar laut di daerah penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua satuan tekstur sedimen, yaitu: lanau (Z) dan lanau pasiran (sZ).

4. Hasil pemodelan sedimentasi menunjukkan penyebaran konsentrasi sedimen terlihat hampir sama dengan pola penyebaran sedimen hasil pengukuran lapangan. Pergerakan pasang surut sangat mendominasi penyebaran konsentrasi sedimen. Lumpur, sedimen kohesif sangat mudah terpengaruh oleh salinitas. Jika salinitas tinggi, akan terjadi flocculation (penggumpalan), sehingga pengendapan sedimen akan terjadi.

5. Berdasarkan kandungan konsentrasi logam berat (Hg, Pb, Cd, Cu, dan Zn) dalam air laut masih sesuai dengan nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (2004) untuk kepentingan biota laut.

6. Berdasarkan karakteristik proses sedimentasi, perairan Pemangkat memiliki resiko tinggi terhadap kehidupan biota dalam air ditunjukkan dengan tingginya nilai TSS.

7. Berdasarkan metode pembobotan parameter kualitas air, perairan Pemangkat masih sesuai untuk dikembangkan budidaya. Komoditas yang dibudidayakan harus memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan kondisi perairan seperti ikan kerapu lumpur, kerapu macan, kakap, dan kekerangan.

Lokasi Kegiatan : Kalimantan Barat (Kabupaten Sambas)

Penanggungjawab : Gunardi Kusumah, M.T.

Peneliti Utama Keg. : Tubagus Solihuddin, M.T.