Analisis Karakteristik Sumberdaya Pesisir Kota Makassar

 

Latar Belakang :

Wilayah pesisir Kota Makassar berbatasan langsung dengan Selat Makassar, memiliki garis pantai sepanjang 32 km serta mencakup 11 pulau dengan luas keseluruhan 178,5 Ha atau 1,1% dari luas wilayah daratan. Pada tahun 2009, Presiden Republik Indonesia mencanangkan Kota Makassar sebagai kawasan strategis nasional, yakni pembangunan Wisma Negara di lokasi Tanjung Bunga. Di sisi  lain  Kota  Makassar  juga  ditetapkan  sebagai  kawasan  Minapolitan  (Keputusan  Menenteri  Kelautan  dan Perikanan  No. 32/MEN/2010).

Tujuan :

1.  Mengetahui karakteristik perairan pesisir guna mendukung pembangunan di kawasan Kota Makassar.

2.  Rekomendasi dalam penyusunan model pengelolaan kawasan pesisir Kota Makassar.

Metode :

1.  Analisis karakteristik perairan pesisir, meliputi parameter kualitas perairan dan pola arus.

2.  Analisis distribusi spasial kualitas perairan menggunakan PCA (Principle Component Analysis).

3.  Analisis karakteristik pantai menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Hasil :

1.  Kandungan nitrat dan fosfat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap sebaran kandungan klorofil a di perairan laut Kota Makassar.

2.  Tipe pasang surut di perairan pesisir Makasar adalah tipe campuran yang cenderung diurnal (harian tunggal) dengan amplitudo sebesar 0,88 – 2,18 meter dari Mean Sea Level (MSL).

3.  Hasil verifikasi simulasi model hidrodinamika terhadap data lapangan memiliki kesesuaian yang cukup baik dengan selisih sebesar 7 %.

4.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rangka penyusunan model pengelolaan kawasan pesisir antar lain adalah:

  • Analisis dan evaluasi serta pengembangan program penanganan pencemaran dari sumber yang dapat dilacak (point sources pollution) dan sumberyang tak dapat dilacak (non point sources pollution).
  • Membangun komitmen dan kesadaran para pihak dalam pengendalian pencemaran air.
  • Mengingat keberadaan Sungai Jeneberang yang bermuara di selatan kota dan Sungai Tallo yang bermuara di utara kota, maka perlu kajian pengaruh sedimentsi pada daerah tersebut.
  • d. Keberadaan pulau-pulau kecil dengan potensi terumbu karang yang cukup baik serta keberadaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan dermaga antar pulau menjadikan daerah ini sebagai potensi kawasan minapolitan. Karena itu perlu diintegrasikan dengan keberadaan Wisma Negara sehingga Kota Makassar dapat dikembangkan menjadi Water Front City.

Lokasi Kegiatan            :   Sulawesi Selatan (Pesisir Kota Makassar)

Penanggungjawab         :   Triyono, S.Si., M.T.

Peneliti Utama Keg.     :   Dr. Taslim Arifin