Karakterisasi Kelautan untuk Pengembangan Kawasan Minapolitan di WPP 711 dan 712

 

 

 

 

 

 

Latar Belakang :

Kegiatan kajian karakterisasi ini menitikberatkan pada dua Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 dan 712 sebagai langkah awal pengkajian dari seluruh WPP yang ada di Indonesia.

Tujuan :

Mengkaji  karakteristik  kelautan  di  WPP  711  dan  712  yang  selanjutnya  dapat  disusun  profil  kedua  WPP  sebagai  langkah inventarisasi sumberdaya kelautan menurut satuan WPP.

Metode :

1.  Inventarisasi permasalahan karakteristik kelautan melalui kajian literatur, diskusi kelompok pakar dan pemangku kepentingan sebagai langkah awal memahami kebutuhan data, jenis data serta metodotogi yang akan digunakan.

2.  Sarasehan minapolitas sebagai wahana pertukarpikiran dalam upaya penguatan analisa dan interprestasi data karakteristik kelautan untuk penyusunan rekomendasi konseptual mnapolitan.

Hasil :

1.  Revisi peta WPP.

Laut Cina Selatan sebagai perairan yang dibatasi oleh banyak negara, memicu masing-masing negara untuk menegaskan batas lautnya. Segmen timur laut dari Laut Cina Selatan mendapatkan protes dari Republik Rakyat Cina (RRC) sehingga rapat interkementerian memutuskan untuk melakukan revisi pada batas maritim tersebut, yang juga bersesuaian dengan batas.

2.  Draft Buku Karakteristik WPP.

Sumberdaya laut dan darat merupakan satu kesatuan ekoregion yang saling terkait, sebagai contoh: perairan Laut Jawa yang didominasi substrat lumpur mendapat pasokan terus menerus dari sungai-sungai besar yang bermuara di perairan tersebut. Sama halnya dengan Perairan Laut Cina Selatan dengan dasar laut sedimen pasir dan berterumbu karang di beberapa tempat, mendapatkan arus laut dari utara dan bergabung dengan arus dari Selat Malaka, menghasilkan suatu area mengumpulkan sumberdaya ikan. Pelestarian sumberdaya laut non ikan menjadi prioritas utama.

3.  Rekomendasi konseptual minapolitan.

Minapolitan sebagai konsep pengembangan ekonomi perikanan, disusun dengan mendasarkan pada potensi dasar ekonomi dan kondisi sosial ekonominya. Konsep ekonomi wilayah atau regional economy mengurangi hingga sekecil mungkin kebocoran- kebocoran dari aliran komoditas perikanan dan kelautan. Beberapa wilayah pesisir di Laut Cina selatan banyak mendasarkan pada perikanan tangkap, maka pengembangan minapolitan diarahkan pengembangan pelabuhan perikanan dengan memanfaatkan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai pintu keluar-masuk komoditas. Berbeda halnya dengan perairan pesisir pantai utara (pantura) Jawa yang telah terbangun tambak-tambak. Produksi tambak tidak menunjukkan kenaikan yang berarti sehingga perlu adanya inovasi dalam pemanfaatan tambak, misalnya dengan jenis-jenis ikan ataupun penggunaan sebagai tambak garam. Beberapa wilayah perairan pantura Jawa dapat dikembangkan sebagai lahan budidaya rumput laut dimana saat ini permintaannya jauh lebih tinggi dari suplai.

Lokasi Kegiatan            :   DKI Jakarta, Jawa Barat (Bogor), DI Yogyakarta

Penanggungjawab         :   Triyono, S.Si., M.T.

Peneliti Utama Keg.     :   Triyono, S.Si., M.T.