ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA ARKEOLOGI MARITIM

BERBASIS EKOSISTEM DAN GEODINAMIKA PERAIRAN NATUNA



LATAR BELAKANG
Salah satu arah kebijakan, strategi dan indikator kinerja kementerian kelautan dan perikanan tahun 2015 - 2019 adalah pengembangan wawasan dan budaya bahari dengan langkah strategis melakukan identifikasi dan pengelolaan pada potensi sumberdaya budaya bahari yang terdapat di wilayah Perairan Indonesia. Salah satu bentuk potensi sumberdaya budaya bahari adalah sumberdaya arkeologi maritim berupa tinggalan kapal-kapal tenggelam beserta muatannya yang bernilai sejarah yang saat ini telah berada di wilayah pesisir maupun di bawah permukaan laut Indonesia. Faktor alam dan manusia menjadi penyebab tenggelamnya kapal-kapal tersebut. Hal ini membuktikan data sejarah yang menyebutkan Wilayah Perairan Indonesia telah sejak dahulu telah menjadi wilayah maritim silk road, yaitu sebagai perlintasan bagi kapal-kapal dagang nusantara dan asing baik dari barat ke timur, maupun sebaliknya.
Dalam pengembangannya, temuan situs arkeologi maritim dapat menjadi daya tarik wisata bahari dan wisata selam karena nilai sejarah dan nilai budaya bahari yang dimilikinya. Bahkan beberapa situs arkeologi maritim di mancanegara dan di Perairan Indonesia telah menjadi lokasi spot diving (the best dive site) yang paling banyak diminati wisatawan, antara lain situs kapal USSR Arizona dari masa perang dunia II di Hawai dan Truk Lagoon di Papua New Guinea, serta USS Liberty shipwreck di Tulamben, Bali. Pendapatan masyarakat pesisir di wilayah tersebut menjadi sangat tergantung pada kedatangan turis-turis yang ingin mengunjungi situs-situs tersebut. Hal ini juga tidak terlepas atas keaneka ragaman biodiversity dan kondisi fisik di lingkungan perairan situs. Namun banyak situs-situs arkeologi maritim di Perairan Indonesia yang belum dikelola dengan baik. Beberapa diantaranya bahkan telah di jarah dan dirusak oleh para pemburu harta karun atau aktivitas masyarakat pesisir saat melakukan penangkapan ikan dengan jaring yang tidak sengaja merusak situs dan aktivitas industri lainnya. Bahkan aktivitas penyelaman bila tidak di atur dengan undang-undang perlindungannya, maka tentunya akan merusak tinggalan-tinggalan bersejarah tersebut. Selain itu, kondisi geodinamika perairan seperti arus, letusan gunung api bawah laut, sedimentasi yang tinggi, dapat menutupi atau merubah posisi situs hingga hilang dari posisi semula di bawah permukaan laut. Sebaliknya, pada lingkungan situs, terumbu karang, merupakan salah satu jenis ekosistem yang sangat erat hubungannya dengan keberadaan situs. Demikian juga, terumbu karang, merupakan tempat hidupnya sumberdaya ikan. Pemanfaatan situs kapal karam bersejarah sebagai spot diving, bila tidak dikelola dengan baik, maka akan mengganggu ekosistem terumbu karang tersebut. Demikian juga, perburuan terhadap kapal-kapal tenggelam kuno dan muatannya yang bersejarah, akan merusak ekosistem di lingkungan situs. Namun data serta informasi mengenai sebaran situs dan kondisi fisik lingkungan perairan di Indonesia belumlah maksimal sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Sebagai studi kasus yang mendukung IKU Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai Pengelolaan Potensi Sumberdaya Laut di Daerah Pulau Terdepan NKRI, maka dipilihlah Perairan Pulau Natuna menjadi lokasi penelitian tahun 2015.
Kabupaten Natuna merupakan wilayah perairan yang banyak memiliki potensi sumberdaya arkeologi maritim dari masa – masa Dinasti China kuno, masa kolonial dan perang dunia II. Posisinya sebagai pulau terdepan NKRI dan berada diperbatasan dengan 19 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Singapura, Vietnam dan Malaysia dapat menjadi nilau strategis dalam pengembangan potensi sumberdaya arkeologi maritim, tetapi sekaligus juga menjadi ancaman bagi kelestarian situs.
Saat ini situs tinggalan arkeologi maritim di Perairan Natuna belum dijadikan sebagai obyek wisata bahari, serta aspek sejarah dan pelestariannya belumlah dikelola dengan optimal sehingga situs dapat terancam kelestariannya. Begitu pula dengan data kondisi geodinamika perairan situs serta aktivitas masyarakat pesisir di lingkungan situs belumlah dikaji dampaknya terhadap situs. Karena berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya kondisi geodinamika menjadi faktor utama penyebab kerusakan dan perubahan posisi situs beserta ekosistemnya.
Oleh karena itu hasil penelitian ini sangatlah penting untuk mendukung bentuk pengelolaannya yang bernilai strategis yaitu dengan menjadikan situs dan kawasan perairannya sebagai museum in situ bawah laut, yang merupakan gabungan antara konsep in situ preservation dengan pemanfaatan situs melalui pengungkapan informasi/ story line history yang tergambar pada situs serta keunikan ekosistem dan biodiversity yang terdapat pada situs dan lingkungannya, akan menjadi attraksi yang sangat menarik untuk di datangi oleh para penyelam baik lokal maupun wisatawan mancanegara.
Hal ini akan menjadi peningkatan pendapatan bagi masyarakat setempat dan pemerintah daerah melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi sumberdaya arkeologi maritim, khususnya sumberdaya arkeologi laut, yang sekaligus mengajak masyarakat untuk memahami arti penting keberadaan situs di lingkungan perairannya, sehingga timbul kesadaran untuk melindunginya situs (sustainable development).
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan site assessment sebagai dasar pembuatan master plan museum in situ bawah laut untuk situs-situs arkeologi maritim di Perairan Natuna.


TUJUAN PENELITIAN
1. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi.
2. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan.
3. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan.
4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional.


METODE PELAKSANAAN
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 10 (sepuluh) bulan. Lokasi penelitian direncanakan di Perairan Tj Senubing dan Teluk Buton, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Alasan pemilihan lokasi antara lain :
- Kabupaten Natuna merupakan wilayah terdepan NKRI
- Perairan Kabupaten Natuna memiliki berbagai jenis potensi sumerdaya arkeologi maritim dengan keanekaragaman jenis ekosistem laut yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata bahari/selam
- Perairan kabupaten Natuna memiliki potensi geodinamika yang dapat merubah posisi situs, serta menghilangkan dan merusak situs
I. Parameter yang Dikaji
- Jenis, struktur dan material situs
- Kualitas perairan dan laju sedimentasi
- Karateristik dan kondisi ekosistem beserta biofisik perairan situs
II. Teknik Pengumpulan Data
- Survey in situ
- Wawancara dan penelusuran data sekunder
- Kondisi eksisting sumberdaya dan lingkungan perairannya dengan teknik penyelaman dan photo mapping.
III. Langkah Analisis
Analisis dilakukan dengan pendekatan Cultural resource Management (CRM), Arkeologi, geologi, Oseanografi dan ekologi


HASIL
1. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi.
• Peraturan perundang-undangan di bidang Kelautan dan Perikanan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta diimplementasikan secara sinergis lintas sektor, pusat dan daerah.
• Seluruh perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat.
• Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
2. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan.
• Sumber daya Kelautan dan Perikanan dimanfaatkan secara optimal dan berkelnjutan.
• Konservasi kawasan dan jenis biota perairan yang dilindungi dikelola secara berkelanjutan.
• Pulau-pulau kecil dikembangkan menjadi pulau bernilai ekonomi tinggi.
• Indonesia bebas Illegal, Unreported dan Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan.
3. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan.
• Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable.
• Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin.
• Sarana dan Prasarana Kelautan dan Perikanan mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi.
4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional.
Seluruh desa memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan.
Indonesia menjadi market leader dunia dan tujuan utama investasi di bidang kelautan dan perikanan.