Kajian Sumberdaya Aktivitas Hidrotermal Kawasan Pesisir Barat Halmahera

 

Kondisi akrivitas Hidrotermal di daratan

Kondisi akrivitas Hidrotermal di perairan

 

Latar Belakang :

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago) yang secara geologi terbentuk dari tumbukan tiga lempeng tektonik dan mengakibatkan sepanjang wilayah Indonesia dilintasi gunungapi aktif yang membentuk busur-busur gunungapi di daratan, di permukaan laut, bahkan di bawah permukaan laut atau dalam istilah populer disebut ring of fire. Kondisi demikian ini akan menyimpan potensi yang sangat besar akan sumber daya yang terkait dengan magmatisme dan aktivitas hidrotermal. Di samping itu Indonesia juga memiiki 17.480 pulau besar dan kecil yang membentuk bibir pantai tropis sepanjang 95.186 km dengan 70% wilayah berupa perairan. Perairan bagian utara terhubung dengan Samudera Pasifik dan perairan bagian selatan terhubung dengan Samudera Hindia menjadikan Indonesia memiliki potensi keanekaragaman kehidupan laut yang tinggi.  Perairan Indonesia terdiri atas beragam ekosistem perairan tropis, antara lain estuari, mangrove, padang lamun, serta terumbu karang yang menjadi rumah bagi beragam komunitas makhluk hidup yang saling berasosiasi, dan kaya akan keanekaragaman spesies.

Perairan pesisir barat Pulau Halmahera ditempati oleh pulau-pulau yang lebih kecil, diantaranya adalah Pulau Ternate, Tidore, dan Makian. Pulau-pulau tersebut secara morfogenesa merupakan pulau gunungapi sehingga kawasan ini memiliki potensi sumber daya aktivitas hidrotermal, baik pada kawasan pesisir, pantai, ataupun di perairan dangkal (shallow waters). Aktivitas hidrotermal ini diduga berhubungan dengan kegiatan magmatisme pada busur gunungapi Halmahera. Perairan Halmahera berada dalam kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle) menjadikan perairan ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Keterdapatan aktivitas hidrotermal dengan biodiversitas tersebut merupakan sumber daya yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai potensi ekonomi baru Indonesia di sektor kelautan terutama dalam rangka mendukung program industrialisasi kelautan dan perikanan.

Tujuan :

Tujuan kegiatan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian dan analisis keterdapatan sumber daya aktivitas hidrotermal pada kawasan pesisir barat Halmahera untuk bahan rekomendasi teknis kebijakan pengembangannya sebagai potensi ekonomi baru Indonesia.

Metode :

Observasi langsung dilakukan terhadap obyek telitian yaitu aktivitas hidrotermal, serta lingkungan di sekitarnya (batuan, sedimen, biota, terumbu karang). Berdasarkan hasil observasi ini, dipilih beberapa sampel untuk dilakukan analisis lanjut di laboratorium. Selain itu dilakukan juga pengukuran kualitas air laut dengan peralatan multiparameter WQC24 merk TOAA-DKK. Metode penyelaman (scientific diving) dan transek kuadrat dilakukan untuk observasi sumber daya aktivitas hidrotermal dan lingkungan perairan dangkal di sekitarnya dengan kedalaman 15 - 30 meter

Hasil : .

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber daya aktivitas hidrotermal di lokasi kajian tersebar di wilayah daratan hingga perairan dangkal (shallow waters). Aktivitas hidrotermal di daratan umumnya berupa mata air dan uap panas yang muncul dalam retakan batuan. Berdasarkan tipe alterasi lempungan dan asosiasi mineral ubahan hasil analisis laboratorium diduga bahwa temperatur yang terukur di lapangan pada manifestasi hidrotermal di permukaan tersebut masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan temperatur larutan hidrotermal yang menerobos batuan di bawah permukaan (dapat mencapai > 200 oC). Artinya sumber daya aktivitas hidrotermal dalam lokasi kajian menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya energi baru terbarukan dengan memaanfaatkan uap panasnya yang masih tersimpan di bawah permukaan yang diduga memiliki temperatur tinggi. Demikian pula dengan sumberdaya aktivitas hidrotermal pada perairan dangkal yang memiliki tipe berupa semburan air panas bawah permukaan laut dengan radius cukup luas dengan tekanan atau gaya dorong ke atas pada aktivitas hidrotermal yang kuat.

Secara ekologi, terumbu karang di perairan Galela dan Tanjung Sulamadaha secara umum dalam kondisi rusak. Namun demikian, cukup banyak ditemukan koloni-koloni karang keras yang masih muda atau juvenile. Rekrutmen ini merupakan salah satu tanda proses pembentukan komunitas setelah mengalami kerusakan. Di Galela, pertumbuhan karang lunak cukup melimpah di area hidrotermal, yang dimungkinkan bahwa substansi yang keluar bersama air panas mendukung pertumbuhan karang lunak.  Ketiga perairan ini memiliki nilai potensi sumber daya yang tinggi namun rawan akan kerusakan. Sehingga perlu manajemen sumber daya yang baik agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Lokasi Kegiatan

:

Perairan Galela dan Tanjung Sulamadaha Halmahera

Peneliti Utama Keg

:

Rainer A. Troa, MT