KAJIAN KARBON STOCK DI PESISIRDELTA BERAU,

KALIMANTAN TIMUR UNTUK MITIGASI PERUBAHAN IKLIM

 

LATAR BELAKANG
Pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan berbasis ekonomi biru sangat ditentukan oleh inovasi yang berbasis pada penelitian dan pengembangan. Kajian karbon stock yang merupakan salah satu end-point dari siklus ekonomi biru masih sangat kurang mendapat perhatian. Padahal emisi yang dihasilkan dari proses ekonomi tersebut telah menghasilkan emisi yang dapat mengganggu kelangsungan proses ekonomi biru.
Perhitungan karbon stock secara empiris pada kawasan pesisir memiliki peran yang penting dan strategis dalam mengetahui fungsi ekosistem tersebut terutama dalam penyerapan emisi CO2 hasil dari aktivitas ekonomi di daerah pesisir tersebut.
Pada perairan pesisir dan laut Indonesia diperkirakan masukan karbon organik terlarut adalah sebesar ~21 Tg/tahun atau setara 10 persen total input dunia (Baut et.al, 2007). Besarnya input sedimen ini berasal dari tingginya laju sedimentasi, seperti sungai-sungai di Pulau Jawa yang mengalirkan sedimen kurang lebih sebanyak 0.33 x 109 ton/tahun ke perairan pesisir (Milliman et al.,1999). Data-data tersebut menunjukkan bahwa perairan pesisir menerima fluks karbon dari daratan dalam jumlah besar dan tingginya aktivitas biogeokimia serta interaksi energi dan materi karbon di perairan pesisir dengan laut lepas.
Menurut McNeil (2003) dan DKP (2007) bahwa potensi penyerapan karbon untuk luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia adalah sebesar 59,2 juta ton/tahun. Hutan bakau dengan luas 93.000 km2 memiliki potensi penyerapan karbon hingga 67,7 juta ton/tahun sedangkan luas padang lamun sebesar 30.000 km2 memiliki potensi penyerapan karbon hingga 50,3 juta ton/tahun dan fitoplankton (contoh 5.8 juta km2) potensial penyerapan karbonnya mencapai 36,1 juta ton/tahun dan 3.5 juta ton per tahun berdasarkan pada produktivitas primer.
Siklus karbon global yang kontinyu menjaga keseimbangan CO2 di lautan dan CO2 di atmosfer. Namun demikian angka atau kemampuan laut dan pesisir dalam menyerap CO2 masih menjadi penelitian intensif, terutama untuk perairan tropis. Sumbangan perairan pesisir tropis dalam siklus karbon global hingga saat ini belum diketahui terutama karena dinamisnya perairan dan beragamnya ekosistem pesisir tersebut.
Oleh karena itu, kajian mengenai karbon stock dan peranannya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut sangat penting untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi dan menjaga ekosistem pesisir tetap lestari.


Tujuan:
1. Memperoleh informasi dasar dan peranan BLUE CARBON di perairan Delta Berau dalam mitigasi perubahan iklim global
2. Mengkaji penerapan BLUE CARBON dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan sebagai bagian dari carbon incentive mechanisms.


Metode Pelaksanaan
Kajian karbon stok di perairan Delta Berau untuk mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan cara sebagaiberikut:
Kerja lapangan berupa survei yang dilaksanakan pada ekosistem pesisir meliputi karakteristik perairan, kondisi meteorologi dan analisa karbon. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya pengambilan data time series, pengambilan sampel air, biomass dan substrat di wilayah studi untuk mengukur parameter sistem CO2 dan parameter kimia-fisik dan biologi perairan, pengukuran luasan dan struktur komunitas dari ekosistem pesisir dan laut dan observasi insitu ekosistem pesisir dan laut seperti ekosistem mangrove dan padang lamun. Metode pengambilan data pada ekosistem mangrove berdasarkan Bengen (2003), Kauffman &Donato (2012) danSutaryo (2009) sedangkan metode survei untuk di ekosistem padang lamun menggunakan metode McKenzie et al (2003) dan Short et al (2006).
Pelaksanaan kegiatan riset ini memerlukan beberapa pertemuan teknisdan FGD, konsultasi narasumber/pakar dalam rangka pelaksanaan kegiatan dan penyusunan hasil penelitian.
Data yang diperoleh dari hasil survei akan dianalisis secara kuantitas yaitu perhitungan potensi karbon stok yang menggunakan beberapa persamaan allometrikserta kualitas lingkungan perairan baik secara fisika, biologi dan kimia. Indeks Shannon-Wiener digunakan untuk analisis ekosistem pesisir untuk mengetahui struktur komunitas ekosistem serta dilakukan pula analisis keterkaitan antara data perairan dan ekosistem hasil pengukuran dengan konsep blue carbon.


HASIL
Teridentifikasinya informasi dasardanperananDelta Berausesuai dengan kondisi kekiniandalam perubahan iklim global.