KARBON BIRU-TAHUN 2014

POTENSI EKOSISTEM KARBON BIRU DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DI PESISIR SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA

 

 

 

 

Latar Belakang :

Luasnya wilayah laut dan pesisir Indonesia memberikan modal dasar yang besar bagi pembangunan bangsa. Selain potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang besar untuk dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat, wilayah pesisir dan laut Indonesia juga sangat berpotensi untuk mitigasi perubahan iklim. Kemampuan ekosistem laut dan pesisir dalam mitigasi perubahan iklim terkait dengan kemampuannya dalam penyerapan karbon. Secara alami ekosistem laut dan pesisir ini menyerap gas karbon dari atmosfir serta memanfaatkan karbon inorganik lainnya dalam mekanisme autotrofik melalui proses fotosintesis. Di laut, fitoplankton dan alga sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara budget karbon di atmosfir dan laut. Sedangkan di pesisir, ekosistem mangrove dan padang lamun menyumbang kontribusi yang nyata secara alami dalam penyerapan dan penyimpanan karbon dalam bentuk material organik. Karbon organik dan inorganik ini juga ternyata tersimpan di dalam sistem sedimen/subsrat yang ada. Mengingat luas dan beragamnya pesisir Indonesia, sangatlah dibutuhkan upaya pengukuran dan pemetaan potensi karbon biru di sejumlah kawasan yang dianggap dapat mewakili keragaman ekosistem yang ada. Apalagi komplesitas sistem alami yang ada di wilayah laut dan pesisir ditambah dengan meningkatnya aktifitas pembagunan di wilayah itu akan memberikan pengaruh terhadap kemampuan penyerapan dan penyimpanan karbon. Informasi ini akan menjadi nilai penting yang dibutuhkan dalan upaya pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir yang berkelanjutan serta upaya mengukur kemampuan karbon biru Indonesia dalam skala nasional.

Tujuan Penelitian

1. Memperoleh informasi kapasitas ekosistem “Karbon Biru” dalam mitigasi perubahan iklim

2. Peranan “Karbon Biru” dalam mitigasi perubahan iklim terutama untuk wilayah pesisir selatan Provinsi Sulawesi Utara

 

Metode :

Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam beberapa tahap yaitu perencanaan, kegiatan survei lapangan dan pelaporan. Kegiatan perencanaan terdiri atas pertemuan konsultasi dengan para narasumber, pakar dan serta forum pemangku kepentingan (stakeholder) terkait serta pertemuan koordinasi internal. Kegiatan konsultasi ini dilaksanakan di kota Bogor dan Manado. Untuk survey digunakan metode purposive sampling dengan teknik pengukuran dan pengambilan data untuk masing-masing eksosistem mengacu pada metode seagraswatch (lamun), (2003), Kauffman & Donato (2012) dan Sutaryo (2009) untuk mangrove. Hasil : Kualitas air di lokasi penelitian sebagian besar masih memenuhi baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. DO di perairan sekitar Pulau Lembeh yang berada di bawah ambang baku mutu. Kekeruhan di Teluk Ratatotok dari hasil penelitian menunjukkan telah melampaui baku mutu, demikian pula di beberapa stasiun di Teluk Buyat dan perairan sekitar Pulau Lembeh. Kadar nitrat tercatat melebihi baku mutu di semua lokasi penelitian. Analisis menggunakan statistik untuk mengamati hubungan antara pCO2 dengan pH, DO dan suhu di lokasi penelitian menunjukkan bahwa korelasi terbesar didapat pada data di lokasi Teluk Ratatotok yaitu dengan nilai R sebesar 85,9%. Di Lembeh 12 species mangrove,yaitu: Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera parvitflora, Rhyzophora mucronata, Rhyzophora apiculata, Xylocarpus granatum, Xylocarpus mekongensis, Ceriops tagal, Ceriops decandra, Avicenia marina, Lumnitzera racemosa, Soneratia alba dan Nypah. R. mucronata mendominasi sebaran dengan nilai dominasi sebesar 248.5; nilai INP tertinggi adalah jenis mangrove S. alba besar 61,7% dan yang terendah pada C. decandra dengan INP 1,8%. Biomass mangrove di Pulau Lembeh adalah sebesar 78 (above ground) dan 36 (belowground). Nilai total karbon yang tersimpan di ekosistem mangrove di Pulau Lembeh Kota Bitung adalah sebesar 52 MgC/ha untuk biomass above dan belowground serta 22 MgC/ha yang ada di dalam sedimen. Di Kab.Minahasa Tenggara, terdapat paling tidak 9 species mangrove Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera hainessii, Bruguiera cylindrica,Xylocarpus granatum, Schyphiphora hydrophyllacea, Avicennia alba dan Avicennia eucalyptifolia. R. stylosa dan R. apiculata juga tumbuh di kawasan penelitian walalupun tidak teramati di dalam transek pengamatan. Total karbon untuk biomass di lokasi ini adalah sebesar 58,11 Mg C/ha. Dan karbon di sedimen mencapai 43 Mg C/ha. Terdapat 7 species lamun di Pulau Lembeh yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovali, Cymodocea serrulata, rotundata, Halodule uninervis danSyringodium isoetifolium. Nilai karbon dari biomas lamun sebesar 1,04 MgC/ha dengan komposisi terbesar di belowground sebesr 63%. Karbon stol di sedimen ekosistem lamun sebesar 25,9 MgC/ha. Di Teluk Totok juga diidentifikasi 7 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovali, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia danSyringodium isoetifolium. Lamun yang berpotensi sebagai blue carbon ada 3 jenis yaitu Ea, Cr dan Th dengan potensi Ea sebesar 39,334 gC/m2, Cr 10,764 gC/m2 dan Th 10,114 gC/m2

Unit Kerja

Alamat

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583, 64711672 ext  4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

:

Provinsi Sulawesi Utara : Kab. Minahasa Selatan dan Kota Bitung (Teluk Tomini)

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

:

:

Dr. Andreas Hutahean

Keltibang Karbon Biru