Analisis Penerapan Blue Carbon di Wilayah Perairan Indonesia sebagai Mitigasi Perubahan Iklim Global

 


Artikel mengenai Blue Carbon: A New Hope for Indonesia yang di muat pada harian The Jakarta Post, pada 28 Agustus 2012

Hasil survei kegiatan observasi yang di Kep. Derawan

 

Latar Belakang :

Adanya peningkatan pelepasan gas-gas rumah kaca (GRK) seperti CO2, CH4, N2O, CF4, C2F6 ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh aktivitas manusia menyebabkan semakin meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer. Peningkatan ini juga berimbas terganggunya keseimbangan laut dan perairan pesisir beserta ekosistemnya dalam menyerap CO2 alami (natural CO2 sink) dan CO2 antropogenik.

Pantai-laut adalah penyerap CO2 alami (natural CO2 sink) terbesar di bumi, dimana CO2 dapat larut di dalam air atau termanfaatkan oleh fitoplankton menjadi biomassa melalui proses fotosintesa. Saat ini diperkirakan sepertiga (30 %) CO2 antropogenik diserap oleh laut. Namun demikian angka atau kemampuan laut dalam menyerap CO2 masih menjadi penelitian intensif, terutama untuk perairan tropis. Sumbangan perairan pesisir tropis dalam siklus karbon global hingga saat ini belum diketahui terutama karena dinamisnya perairan dan beragamnya ekosistem pesisir tersebut.

Perubahan morfologi pantai dan dinamika di wilayah hulu ditambah dengan aktivitas manusia akan berpengaruh terhadap dinamika fluks karbon di wilayah pesisir antara lain Teluk Banten dan Pesisir Balikpapan sehingga diperlukan suatu studi yang komprehensif mengenai distribusi dan kuantitas fluks karbon di laut perairan barat Indonesia secara umum dan perairan pesisir Banten dan Kalimantan Timur secara khusus. Wilayah ini juga mempunyai tiga ekosistem pesisir utama, yaitu lamun, karang dan mangrove yang memanfaatkan karbon anorganik dalam metabolismenya yang karenanya juga diperlukan suatu studi mendalam mengenai perannya dalam siklus CO2 perairan.

Tujuan :

  1. Memperoleh informasi dasar mengenai BLUE CARBON di perairan Indonesia bagian barat.
  2. Mengetahui peranan BLUE CARBON di perairan Indonesia bagian barat dalam mitigasi perubahan Iklim Global.
  3. Mengkaji penerapan BLUE CARBON dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir dan  laut  secara terpadu dan berkelanjutan sebagai bagian dari carbon incentive mechanisms.

Metode :

  1. analisis perubahan dan  distribusi parameter terkait dengan iklim a.n. yaitu CO2, dan kualitas lingkungan perairan baik secara Fisika, Biologi, Kimia.
  2. analisis perubahan ekosistem pantai-laut seperti ekosistem mangrove dan padang Lamun.
  3. analisis data sekunder berdasarkan pengukuran lapangan dengan pembanding data dari literatur.
  4. pembahasan keterkaitan antara data perairan dengan konsep blue carbon

Hasil : .

Kisaran dan rata-rata konsentrasi nutrient adalah sebesar NO3 0,03-8,01 (1,42) μmol/L; NO2 0,09-1,73 (0,27) μmol/L; NH4 0,63-168,33 (41,90) μmol/L; SiO3  0,49-44,38 (9,16) μmol/L; PO4 0,12 – 1,03 (0,66) μmol/L. Nilai klorofil 2,32-20,07 (4,72) μg/L. Nilai pCO2 berkisar 335-456 atm dan rata-rata 388,54 atm. Kisaran salinitas 29,1-30,2 (29,44) dengan kecenderungan makin tinggi ke arah timur. Suhu permukaan berkisar 29,1 – 30,2oC dengan rata-rata 29,44 oC. Suhu udara berkisar antara 25,8 – 28,7oC.Angin bertiup dengan kecepatan minimum sebesar 1,6 dan maksimum 9,8 m/s dengan arah dominan dari barat. Biomass rata-rata lamun bagian bawah lebih tinggi daripada bagian atas. Biomass lamun bagian bawah berkisar 11,75 – 120,78 g BK /m2 sedangkan bagian atas 7,05-53,78 g BK /m2. Kapasitas penyimpanan karbon sebesar 3,42 – 40,46 g C/m2 di bagian bawah dan 2,29 – 17,47 g C/m2 di bagian atas. Nilai total biomass mangrove berkisar 0,42-2091,22 ton/ha dengan nilai penyimpanan rata-rata karbon sebesar 0,20 – 1010,69 ton/ha.

Kesimpulan dari penelitain ini adalah sebagai berikut:

1.   terjadi degradasi karena pengaruh alam dan aktifitas manusia di Teluk Banten, sedangakan Pulau Panjang dan Pulau Maratua memiliki biomassa dan karbon lamun yang cukup besar sehingga berpotensi memiliki laju produksi atau prodktifitas yang besar pula,

2.   secara keseluruhan berdasarkan hasil penelitian biomassa ekosistem lamun menunjukkan bahwa nilai total biomassa lamun di bawah substrat lebih tinggi dibandingkan di atas substrat,

3.   berdasarkan pengukuran dimater pohon dan perhitungan beberapa allometrik disimpulkan bahwa jenis yang mendominasi tidak selalu memiliki nilai biomass tinggi,

4.   distribusi nutrien cenderung semakin meningkat ke arah pesisir,

5.   terdapat fenomena di Periaran kepulauan Derawan yang ditunjukkan dengan distribusi CO2 tertinggi berada di perairan laut, sedangkan umumnya konsentrasi CO2 di pesisir lebih tinggi.

Lokasi Kegiatan

:

Teluk Banten dan Kepulauan Derawan

Peneliti Utama Keg

: