PENERAPAN IPTEK UNTUK PENGEMBANGAN MODEL KAWASAN INDUSTRI GARAM RAKYAT

 

LATAR BELAKANG

Kebutuhan akan garam kian hari makin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya berbagai industri, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, kebutuhan garam tersebut belum dicukupi dari produksi dalam negeri. Sekitar 40 % garam nasional masih dipenuhi melalui impor, diantaranya dari Australia dan India. Karena itulah Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan tercapainya swasembada garam konsumsi 2012 dan swasembada garam untuk industry tahun 2014 (KP3K, 2011).

Alat pemurnian garam telah diterapkan sejak tahun 2009 sebagai IPTEK untuk Masyarakat atau lebih dikenal sebagai IPTEKMAS Garam di 18 lokasi kelompok penerima tersebar di Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada tahun 2012 paket teknologi telah mengalami penyempurnaan. Paket yang diterapkan tidak hanya proses pemurnian, namun juga telah dilengkapi dengan peralatan iodisasi dan pengemasan. Kemampuan produksi rata-rata dapat mencapai 2 ton per hari dan menyerap 3 – 5 tenaga kerja. Inovasi sederhana dalam pengolahan garam krosok yang disiapkan menjadi garam konsumsi rumah tangga ini, telah berhasil memberikan nilai tambah 200 – 1000 rupiah per kilonya.

Dalam proses produksi melalui paket teknologi yang telah diberikan, diperlukan perbaikan untuk peningkatan kualitas hasil olahan. Selain peningkatan kualitas, agar memenuhi persyaratan dalam pengolahan garam perlu ditingkatkan menjadi suatu proses produksi yang hiegenis. Proses produksi hiegenis ini akan membantu dalam pengurusan persyaratan edar produk garam. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi adalah ijin dari BPOM dan pencantuman kandungan garam sesuai dengan SNI.

Selain alat teknologi pemurni garam sistem hiegenis, dikembangkan pula pengolah limbah garam atau bittern menjadi magnesium. “Bittern” dikenal sebagai limbah yang dihasilkan selama proses kristalisasi garam di tambak. Limbah cair sisa dari proses kristalisasi garam. Selama ini bittern dibuang atau dicampurkan kembali dengan air laut untuk proses mempercepat penuaan air dalam proses pembuatan garam di tambak. Proses penguapan air laut dan pengkristalan “bittern” adalah proses alami filterisasi kandungan-kandungan mineral air laut. Dalam bittern terkandung diantaranya 3,42% magnesium.

Para peneliti Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir telah berhasil mengembangkan teknologi sederhana pemisahan magnesium dari larutan bittern. Teknologi ini dirancang untuk dapat dioperasikan oleh kelompok masyarakat untuk menghasilkan padatan Magnesium Hidrosida atau Mg(OH)2. Padatan Mg ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan farmasi seperti halnya obat maag serta pemanfaatan lain bahan tahan api. Para peneliti kelompok penelitian sumberdaya garam Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir, telah berhasil membuat paket teknologi sederhana yang memiliki kemampuan memisahkan Mg(OH)2 yang terkandung dalam bittern. Paket teknologi terdiri dari pencampur dan pengaduk mekanis untuk melarutkan antara bittern dengan soda api dan air. Proses selanjutnya dilakukan pemisahan padatan magnesium dengan menggunakan mesin pemutar cepat serta oven pengering. Paket teknologi ini mampu mengolah 200 liter bittern menjadi padatan magnesium. Sementara ini harga magnesium di pasaran tanpa mencantumkan komponen kandungannya sekitar 40.000 rupiah per kilo. Suatu potensi pendapatan tambahan bagi petambak garam ke depan. Sudah barang tentu pemerintah perlu memikirkan sejak awal tata niaga serta perlindungan terhadap harga dasar magnesium hasil olahan limbah garam ini, sehingga nilai manfaat teknologi ini dapat dirasakan oleh para pengolah garam.

Selain pembuatan alat, sangat penting pula untuk selalu menjaga optimalisai kinerja peralatan yang telah diberikan pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu perlu dilakukan pendampingan secara kontinu. Beberapa peralatan yang ada perlu dilakukan modifikasi guna mengoptimalkan kinerja peralatan tersebut. Selain modifikasi juga diperlukan pendampingan berupa intensif untuk berproduksi dengan kualitas yang baik. Pendampingan bagi dilakukan baik untuk pemurni garam maupun pengolah magnesium.

 

TUJUAN PENELITIAN

1. Meningkatkan kemampuan produksi garam olahan dengan teknologi pencucian garam sebagai upaya terwujudnya industrialisasi garam rakyat memalui penerapan sistem produksi hiegenis.

2. Menjaga kontinuitas paket teknologi yang telah diberikan kepada para penerima melalui penguatan sistem produksi, pendampingan teknis dan manajerial pengolahan garam, pendampingan dalam analisis bisnis garam.

3. Menerapkan paket teknologi pengolah limbah garam “bittern” menjadi padatan magnesium yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petambak garam dengan menghasilkan produk tambahan selain garam.

 

METODE PELAKSANAAN

- Mengumpulkan dan menganalisa data dan informasi hasil pelaksanaan IPTEKMAS yang telah diterapkan pada 18 (delapan belas) titik yang tersebar di sentra produksi garam.

- Melakukan survei, wawancara, dan pengumpulan data primer untuk keperluan penyusunan laporan/analisis kelebihan dan kelemahan alat pemurni garam yang telah diberikan,

- Menyusun laporan/analisis/konsep pengembangan/ penerapanan IPTEK sederhana sebagai peningkatan kapasitas dan pengembangan sistem produksi hiegenis di Lamongan.

- Merancang dan menyusun pengembangan rancang bangun paket mesin pengolah garam turunan garam yang akan ditempatkan pada beberapa sentra garam di Pati dan Pamekasan.

 

 

HASIL

1. Sistem produksi hiegenis dalam proses pengolahan garam

2. Paket teknologi pemgolah limbah garam bittern untuk menghasilkan padatan magnesium hidroksida

3. Pendampingan secara kontinu penerima paket teknologi pemurni garam sistem mekanis