KAJIAN TEKNOLOGI PENGERINGAN MAGNESIUM MENGGUNAKAN SPRAY DRIER

 

LATAR BELAKANG

Definisi Pengeringan adalah suatu proses berpindahnya panas secara bersama-sama dengan uap air dan memerlukan energy panas yang berfungsi sebagai penghilang kadar air yang terdapat pada bahan atau material.

Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap cairan (Treybal, 1980).

Didalam proses pengeringan air yang dihilangkan menggunakan prinsip perbedaan kelembaban dinatara udara pengering dengan kondisi bahan atau material yang akan dikeringkan. Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air dari material ke udara pengering. Pengeringan adalah pemisahan air dari bahan yang mengandung air dalam jumlah kecil dengan mengalirkan udara melalui bahan. Proses dari pengeringan itu sendri mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan pangan dengan cara menguapkan sebagian air yang terkandung dalam bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Penghilangan kadar air dengan tingkat kadar air yang sangat rendah mendekati kondisi “bone dry”.

Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air. Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil. (Geankoplis, 1993)

Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari bahan sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat padat itu sampai suatu nilai rendah yang dapat diterima. Pengeringan biasanya merupakan langkah terakhir dari sederetan operasi dan hasil pengeringan biasanya siap dikemas. Pemisahan air dari bahan padat dapat dilakukan dengan memeras zat tersebut secara mekanik sehingga air keluar, dengan pemisah sentrifugal, atau dengan penguapan termal. Pemisahan air secara mekanik biasanya lebih murah biayanya, sehingga biasanya kandungan zat cair itu diturunkan terlebih dahulu sebanyak-banyaknya dengan cara mekanik sebelum diumpankan ke dalam pengering termal. Kandungan zat cair dalam bahan yang dikeringkan berbeda dari satu bahan ke bahan lain. Ada bahan yang tidak mempunyai kandungan zat cair sama sekali (bone dry). Pada umumnya zat padat selalu mengandung sedikit fraksi air sebagai air terikat. Zat padat yang akan dikeringkan biasanya terdapat dalam bentuk serpih (flake), bijian (granule), kristal (crystal), serbuk (powder), lempeng (slab), atau lembaran sinambung (continous sheet) dengan sifat-sifat yang berbeda satu sama lain. Zat cair yang akan diuapkan mungkin terdapat pada permukaan zat padat seperti pada kristal; dapat pula seluruh zat cair terdapat di dalam zat padat seperti pada pemisahan pelarut dari lembaran polimer; atau dapat pula sebagian zat cair sebagian di luar dan sebagian di dalam. Umpan pengering mungkin berupa zat cair di mana zat padat melayang sebagai partikel, atau dapat pula berbentuk larutan.

moisture content adalah jumlah kadar air yang terkandung pada suatu bahan. Kadar air dari padatan bisa akan mengalami penurunan selama proses pengeringan berlangsung, yang kemudian akan menurunkan densitasnya. Pada beberapa kasus, bahan kering akan menyusut.

 

TUJUAN PENELITIAN

1. memperoleh teknologi pengeringan magnesium hidrosida yang menggunakan spray drier dengan system cyclone

2. melakukan pembuatan prototype teknologi pengeringan (Mg(OH)2 ) untuk menghasilkan magnesium powder.

 

METODE PELAKSANAAN

Penelitian dan pengerjaan alat spray drier dilakukan di Surabaya dan Laboratorium kimia Fakultas teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang Tuah . Pengambilan Magnesium dapat diambil dilokasi penerima IPTEKMAS yang terdapat di Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Pati (Jawa Tengah).

a. Studi awal dilakukan dengan mempelajari komposisi magnesium cair yang dihasilkan dari alat mixer dengan pencampuran soda api dengan air mineral dilanjutkan dengan proses pemisahan antara padatan dengan cairan menggunakan alata centrifuce dimana produk yang didapatkan berupa MgOH2 atau biasa disebut magnesium hidrosida, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan yang menggunakan oven disini terjadi proses yang memakan waktu lebih kurang 12 jam untuk pengeringan 5 kg.

b. Mengacu pada hasil yang didapat dari proses diatas maka diperlukan suatu metode lain pada tahap pengeringan yaitu dengan membuat alat spray drier dimana waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan MgOH2 2.5 kg memerlukan waktu lebih kurang 1 jam.

 

HASIL

pembuatan prototype teknologi pengeringan (Mg(OH)2 ) untuk pengeringan magnesium hidrosida.