ANALISIS SISTEM PRODUKSI GARAM RAKYAT

DALAM MENDUKUNG SISTEM INFORMASI GARAM RAKYAT (SITEGAR)

 

LATAR BELAKANG

Garam merupakan salah satu senyawa penting dalam kehidupan sehari hari dan kebutuhan akan garam dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk serta perkembangan industri. Kualitas NaCl hasil produksi petani garam Indonesia umumnya masih rendah sehingga memiliki nilai jual yang relatif rendah dan kurang bersaing jika dibandingkan dengan garam impor. Dalam proses akhir pada pengolahan garam, dihasilkan limbah (air tua atau bittern) yang dapat menyebabkan hipersalinitas pada ekosistem. Namun, air tua tersebut mengandung garam-garam (mineral-mineral) yang bermanfaat, salah satunya magnesium yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan garam NaCl. Pemanfaatan air tua untuk menghasilkan produk turunan garam masih relatif rendah di masyarakat petani garam Indonesia. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah produksi garam ini yang mungkin dapat dilakukan meningkatkan potensi produksi garam. Mengingat pendapatan petani garam yang saat ini masih rendah, diharapkan pemanfaatan air tua/limbah produksi garam tersebut dapat menjadi salah satu alternatif tambahan pendapatan mereka.

Pembuatan garam rakyat sangat tergantung pada kondisi alam utamanya cuaca. Dalam upaya prakiraan kemampuan produksi garam rakyat, maka peran informasi susunan tanah di wilayah pantai, kondisi air laut menyangkut suhu dan salinitas, sebaran tambak garam, kondisi jaringan irigasi serta prediksi dinamika cuaca menjadi penting. Mendukung sistem prakiraan produksi garam, Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir telah mengembangkan sistem informasi geospasial yang mampu mengolah data tematik-temati tersebut yang dipadukan dengan sistem pemodelan cuaca. Disamping itu sistem informasi ini juga menyediakan fasilitas pendataan produksi garam secara on-line dari para petugas pendamping program PuGaR.

Teknologi Pengolahan Limbah Garam “Bittern” dan Sistem Informasi Garam Rakyat (SITEGAR) telah diluncurkan di Surabaya oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf pada acara Forum Grup Diskusi dengan tema Menuju Ekonomi Biru Berbasiskan Garam Rakyat. Kedua teknologi ini merupakan langkah tindak arahan Presiden RI dalam upaya mempercepat pembangunan pulau Madura. Forum ini membahas langkah dan strategi pembangunan ekonomi Madura berbasiskan garam rakyat yang ditekanankan pada industrialisasi garam rakyat dalam rangka pengembangan ekonomi biru di Indonesia.

SITEGAR ini terdiri dari 3 (tiga) modul utama yang terdiri dari:

1. Modul Spasial berisi data spasial yang mendukung produksi garam nasional seperti peta sebaran tambak, peta detail tambak garam, informasi dasar (jalan, sungai, saluran irigasi, dll)

2. Modul Kalender Produksi, modul ini berisi informasi iklim dan cuaca yang dapat digunakan sebagai perkiraan waktu produksi garam

3. Modul Pelaporan Produksi, modul ini berisi sistem pelapaoran produksi garam untuk tiap kabupaten, masing-masing dinas KP memiliki username dan password tersendiri.

Masing-masing modul akan didukung dengan basis data spasial yang akan menggambarkan secara spasial data yang ditampilkan. Untuk mendukung hal tersebut, maka menjadi penting upaya pembaruan data secara terus menerus karena sistem ini bersifat dalam jaringan (daring).

 

TUJUAN PENELITIAN

a. Memperoleh informasi karakteristik lahan dan iklim yang mendukung produksi garam rakyat

b. Menyajikan data karakteristik lahan dan iklim dalam suatu sistem informasi berbasiskan keruangan

 

 

Metode Pelaksanaan

1. Studi dan kajian pustaka terkait dengan karakteristik lahan dan iklim pada sentra infustri garam rakyat

2. Pengumpulan data sekunder terkait karakteristik lahan

3. Pengumpulan data sekunder terkait prediksi iklim dari instansi terkait

4. Pengolahan data dengan menggunakan sistem informasi spasial

5. Penyajian data hasil karakteristik dan ramalan dari instansi terkait dalam laman sitegar

6. Melakukan pemeliharaan laman Sitegar

7. Pembelian software pendukung untuk mendukung penyajian data dan informasi karakateristik lahan dan iklim

 

 

HASIL

1. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi.

2. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan.

3. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan.

4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional.