SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2014

Peningkatan Kualitas Garam Hasil Pemurnian Sistem Mekanis Dengan Penerapan Teknologi Filter Dan Bak Alir

 

 

 

Uji coba bahan penyaring yang sesuai dan hasil optimum

 

 

Bahan dasar media penyaring filter(Busa/spon,AF 10, W750)

3 buah tabung filter

 

Teknikpembuatanbak filter (PVC)

 

Identifikasi air pencuci yang terlihat bewarna kecoklatan

 

Proses pengolahan pemurnian garam sistem mekanis dengan menggunakan media filter 3 tingkat

Hasil akhir teknik filtering 3 tingkat terlihat secara visual garam halus jadi lebih putih(setelah pengeringan)

Hasil akhir teknik filtering 3 tingkat terlihat secara visual garam halus jadi lebih putih(setelah pengemasan)


 

Latar Belakang :

Untuk mensukseskan program swasembada garam konsumsi 2012  dan garam industri 2014 dapat didekati melalui 2 cara. Yang pertama adalah peningkatan nilai kuantitas produksi garam melalui intensifikasi lahan dan peningkatan kwalitas produksi melalui pemurnian garam krosok. Pemurnian garam krosok pada intinya adalah peningkatan kualitas garam dibandingkan dengan row materialnya sesuai setandar yang diberlakukan (SNI 3556:2010).

Program Iptekmas Garam yang dilaksanakan PusatLitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir yang dimulai tahun 2009 sampai tahun 2012 bergerak pada pemurnian garam dengan sistem mekanis. Sistem ini bertumpu pada pengecilan butir garam menggunakan hamermill/discmill dan pencucian dengan menggunakan air bersalinitas tinggi (180 – 300 pemil). Air pencuci dari sistem mekanis berasal dari air tua di tambak garam, generator peminihan air tua atau air tawar yang “dijenuhkan” dengan garam krosok.  Sebagai pembanding, air cuci yang berasal dari air tawar dengan volume 1400 liter berkadar salinitas 180 permil diperlukan 700 kg garam krosok  (Instalasi Pemanfaatan Sumberdaya Air Laut Lamongan, 2011). Dengan pertimbangan bahan krosok yang begitu banyak untuk membuat air cuci tersebut, maka komponen air pencuci dalam sistem pencucian garam mekanis digunakan sebagai bahan yang dipakai secara berulang. Pemakaian berulang air pencuci pada pemurnian garam sistem mekanis akan berdampak pada meningkatnya nilai kekeruhan serta mineral garam ikutan selain Natrium Chlorida (NaCl). Pada batas tertentu air pencuci akan mengalami disfungsi pencucian dengan menurunnya kualitas garam tercuci.

Tujuan :

  1. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah sistem filter dan bak alir yang efektif dan efisien mudah dalam pengoperasiannya ,sehingga akan berdampak langsung kepada penghematan biaya operasional pada waktu proses produksi pemurnian garam system mekanis.
  2. Dengan ditangkapnya material dan mineral tersebut, dengan sendirinya air tua untuk proses pemurnian tidak mengalami disfungsi dan dapat digunakan dalam tempo yang lama.

Metode :

-        Mengamati dan mempelajari letak kekurangan alat IPTEKMAS khususnya di bagian kualitas air tua (brine) untuk bahan dasar untuk pemurnian garam krosok agar kualitas menjadi lebih meningkat.

-        Mendesain dan merancang serta membuat sebuah alat filter 3 tingkat untuk menyaring material terampung yang menyebabkan air tua cepat kotor, agar didapatkan hasil akhir dari produksi garam halus menjadi lebih putih tambah mengubah kadar Naclnya.

-        Mengamati dan mencatat hasil perubahan yang diidapat dari alat filter 3 tingkat untuk diketahui seberapa besar daya saring yang dihasilkannya.(studi kasus di lokasi IPTEKMAS di gresik)

Hasil :

Sebagai informasi pada penelitian terdahulu tentang pembuatan alat filter yang menggunakan system 2 tingkat sudah mempunyai kapasitas500 kg x 0,8 % = 4 kg/jam. Pada penelitian di tahun 2014 di lokasi IPTEKMAS gresik terdapat peningkatan tingkat keberhasilan didalam penggunaan alat filter dengan hasil yang dapat dilihat dengan metode visual terdapat perubahan warna seperti yang terlihat pada gelas uji bahan dasar media filter seperti yang tercantum di bawahini:

  1. Padatabung 1 yang menggunakan media penyaring dengan bahan busa atau spon terlihat hanya sedikit perubahan warna kecerahan pada air tua +/- 10 %
  2. Padatabung 2 yang menggunakan media penyaring dengan bahan AF 10 terlihat lebih meningkat perubahan warna kecerahan pada air tua +/- 35 %
  3. Pada tabung 3 yang menggunakan media penyaring dengan bahan W 750 terliha tlebih banyak perubahan warna kecerahan pada air tua +/- 70 %.
  4. Pada pengujian yang menggunakan media W750 pada proses ke 4 terlihat perubahan yang signifikan seperti warna air mineral dengan tingkat kecerahan pada air tua +/- 85 %

Dari kesimpulan kegiatan penelitian tentang pembuatan alat filter untuk pengolahan garam krosok menggunakan sistem mekanis dapat disimpulkan bahwa sanga tdibutuhkan penambahan ala untuk menyaring kotoran atau material pengotor yang terapung seperti lumpur atau pun plankton pada para penerima bantuan IPTEKMAS yang berguna untuk meningkatkan hasil produksi dan menghemat biaya untuk penggatian air tua.

.

 

Unit Kerja

Alamat

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

:

IPTEKMAS GRESIK

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

:

:

Hariyanto Triwibowo, ST

Dr. Ifan Ridlo Suhelmi

Aris Wahyu Widodo, ST