SUMBERDAYA AIR LAUT DAN GARAM

Pemanfaatan Lahan Kritis Untuk Tambak Garam Tradisional di Kabupaten Lombok Timur

 

 

 

 

 

Gambar 1(a.b) Lahan kosong yang mulai di olah

 

 

Gambar 2. Peta kandungan mineral air laut Tl. Ekas

 


Gambar 3. Grafik Pasang Surut harian Tl. Ekas

Latar Belakang :

Pemanfatan lahan di wilayah pesisir terkadang tidak terkendali mengingat bertambahnya penduduk menyebabkan bertambah pula kebutuhan mereka akan barang pangan, sandang dan papan, atau juga karena belum matangnya perencanaan tata ruang sehingga penggunaan lahan yang terjadi tanpa memperhatikan kelas kemampuan lahan serta tidak dikelola dengan baik. Masalah pemanfaatan lahan di pesisir, seperti tersebut diatas dapat dikurangi dengan memanfaatkan lahan kritis ataupun lahan kosong yang ada di pesisir ke dalam bentuk tambak-tambak garam yang mandiri.

Melihat kondisi alam terutama jenis tanah, kualitas perairan serta iklim yang sesuai, menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan kritis ataupun lahan kosong menjadi lahan tambak garam yang produktif, sangat lah tepat, apalagi bila didukung oleh peran pemerintah daerah dalam memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana seperti perbaikan irigasi, akses jalan ataupun pembinaan dan pelatihan pengelolaan lahan tambak garam.

Melalui kegiatan pemanfaatan lahan kritis di pesisir tersebut, diharapkan dapat menjawab masalah yang ada, selain itu program ini juga akan mengurangi tingkat pengangguran yang tersebar di sekitar wilayah pesisir, sehingga ketergantungan kepada laut, bukan hanya pada tingkat tangkapan ikan saja, akan tetapi lebih meluas kepada industri-industri garam yang dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat di sekitar kawasan kepesisiran tersebut.

Tujuan :

Penelitian ini dilaksanakan untuk dapat memberikan gambaran (Visibility) tentang kondisi Laut dan pesisir di lokasi kajian, dalam upaya pemanfaatan lahan pesisir sebagai tambak garam guna mendukung swasembada produksi garam nasional.

Metode :

  1. Metode penelitian deskriptif yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada saat penelitian.

Metode deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tetapi hanya menggambarkan hal yang ada tentang suatu variable, gejala ataupun keadaan (Arikunto, 1995).

  1. Intepretasi citra, menentukan kondisi obyek berdasarkan perhitungan , prediksi, ataupun manipulasi dari gambaran yang ada
  2. Pengambilan sampel di lapangan dengan penentuan lokasi sampling menggunakan purposive sampling yaitu penentuan lokasi sampling dengan beberapa pertimbangan tertentu oleh peneliti (Sudjana, 1992).
  3. Analisa laboratorium untuk sampel tanah dan air laut sehingga diketahui jenis, grain size, serta permiabilitas tanahnya, selain itu nilai unsur mineral mayor air laut pembentuk garam dapat diketahui kualitasnya.

Hasil :

Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa laboratorium, diperoleh:

  • Tipe atau Jenis tanah pesisir Teluk Ekas rerata lempung berpasir, lempung dan pasir lempung
  • Permeabilitas Tanah lapisan atas pesisir Teluk Ekas sangat lambat, dengan nilai Permiabilitasnya antara 1.37E-07 (0,000000137/Cm) sampai 7.11E-08 (0,0000000711/Cm)
  • Salinitas perairan Teluk Ekas pada bulan maret bernilai 30 – 30,8 ‰
  • Nilai mineral air laut terutama Na (natrium) dan Cl (clor) rerata cukup tinggi, 11.976.84 – 13.980.12 mg/l untuk Na dan 19.000 - 22.000 mg/l untuk Cl.
  • Tunggang pasang surut di perairan Teluk Ekas berkisar 2 meter

 

Unit Kerja

Alamat

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

:

Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

:

:

Hari Prihatno. MSc

Rikha Bramawanto, S.Pi

Wahyu Hidayat