SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2014

Penerapan IPTEK untuk Pengembangan Model Kawasan Industri Garam Rakyat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latar Belakang :

Kebutuhan akan garam kian hari makin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya berbagai industri. Produksi garam secara evaporasi sangat tergantung kondisi iklim dan cuaca. Pada tahun 2014 ini produksi cukup melimpah karena didukung oleh musim kemarau yang relatif panjang. Untuk memberikan nilai tambah bagi petani garam, diperlukan teknologi pengolahan garam sehingga nilai manfaat yang dinikmati petani garama tidak hanya garam krosok, tetapi garam olahan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Alat pemurnian garam telah diterapkan sejaktahun 2009 sebagai IPTEK untuk Masyarakat atau lebih dikenal sebagai IPTEKMAS Garam di 18 lokasi kelompok penerima tersebar di Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Padatahun 2012 paket teknolog  telah mengalami penyempurnaan. Paket yang diterapkan tidak hanya proses pemurnian, namun juga telah dilengkapi dengan peralatan iodisasi danpengemasan. Kemampuan produksi rata-rata dapat mencapai 2 ton per hari dan menyerap 3 – 5 tenagakerja.

Selain alat teknologi pemurni garam sistemhiegenis, dikembangkan pula pengolah limbah garam atau bittern menjadi magnesium. “Bittern” dikenal sebagai limbah yang dihasilkan selama proses kristalisasigaram di tambak. Limbah cair sisad ari proses kristalisasi garam. Selama ini bittern dibuang atau dicampurkan kembali dengan air laut untuk proses mempercepat penuaan air dalam proses pembuatan garam di tambak. Proses penguapan air laut dan pengkristalan “bittern” adalah proses alami filterisasi kandungan-kandungan mineral air laut. Dalam bittern terkandung diantaranya 3,42% magnesium.

Tujuan :

Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) Meningkatkan kemampuan produksi garam olahand engan teknologi pencucian garam sebagai upaya terwujudnya industrialisasi garam rakyat memalui penerapan sistem  produksi hiegenis. (2) Menjaga kontinuitas paket teknologi yang telah diberikan kepada para penerima melalui penguatan sistem produksi, pendampingan teknis dan manajerial pengolahan garam, pendampingan dalam analisisb isnis garam. Dan (3) Menerapkan pakett eknologi pengolah limbah garam “bittern” menjadi padatan magnesium yang memiliki nilai ekonomistinggi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petambak garam d dengan menghasilkan produk tambahan selain garam.

Metode :

-  Melakukan identifikasi paket teknologi yang akan dikembangkan

-  Menentukan lokasi potensial bagi calon penerima paket teknolgi yang akan diserahkan kepada masyarakat

-  Menyusun laporan/analisis/konsep pengembangan/ penerapanan IPTEK sederhana sebagai peningkatan kapasitas dan pengembangan sistem produksi hiegenis di Lamongan.

-  Merancang dan menyusun pengembangan rancang bangun paket mesin pengolah garam turunan garam yang akan ditempatkan pada beberapa sentragaram di Patidan Pamekasan.

- Melakukan pendampingan teknisan bisnis pengolahan garam dan pengolahan limbah garam. Pendampingan dilakukan untuk menguji kemampuan alat sekaligus memberikan pembelajaran bagi penerima paket iptekmas.

Hasil :

Hasil kegiatan ini berupa desain proses pengolahan garam hiegenis yang memiliki referensi dasar yang digunakan dalam perancangan pabrik pencucian garam baik dasar proses pengolahan garam hingga pemilihan material.Selain desain hiegenis, tata letak alat juga diatur sehingga proses produksi dapat berjalan dengan efisien. Pembangunan pabrik garam sistem hiegenis merupakan salah satu hasil dari kegiatan ini.

Hasil yang lain adalah pengembangan paket teknologi pengolah limbah garam bittern menjadi padatan magnesium. Potensi ekonomi yang besar perlu dikembangkan secara masal dengan teknologi yang sederhana sehingga dapat menjadi nilai tambah yang besar bagi petambak garam. Paket teknologi ini terdiri dari 3 (tiga) subsistem yang berupa pengaduk, pemisah magnesium padat dan pengering.

Selain paket teknologi pengolah garam sistem hiegenis dan pabriknya serta paket teknologi pengolah limnag garam bittern menjadi padatan magnesium, perlu dilakukan pendampingan yang teratur dan berkelanjutan. Keberhasilan proses produksi tidak hanya tergantung dari alat yang diberikan, namun jaminan pasar, ketersediaan bahan baku dan ketersediaan sumberdaya manusia yang cakap dalam menjalankan Standard Operasional Prosedur (SOP) pengolahan garam dan limbah garam akan menunjang keberhasilan dan keefektifan program.

Unit KerjaAlamat

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

:

Sentra garam di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

:

:

Dr. Ifan Ridlo Suhelmi

Hariyanto Triwibowo, ST, Sophia L Sagala, M.Sc, Hari Prihatno, M.Sc, , Rikha Bramawanto, S.Pi, Aris Wahyu Widodo, ST