SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2013

Penerapan IPTEK untuk Pengembangan Model Kawasan Industri Garam Rakyat


 

Perbaikan system sirkulasi air pemurnian (lihat volume air pada tanki atau bak air bila terlihat penuh maka aturlah kran di diskmill dan karan pada tanki air) atau mungkin di perlukan penambahan pipa untuk menyeimbangkan volume air di masing-masing tangki atau bak.

 

Penambahan daya dan pemasangan keamanan alat dilakukan dengan cara :

1.lihat dan ukurlah daya yang dibutuhkan untuk memenuhi performance alat IPTEKMAS

2.tambahkan atau gantikan overload hyterises bila tidak memenuhi daya yang dibutuhkan

 

Alat untuk meniriskan garam hasil olahan disebut spinner dan ada beberapa perbaikan komponen diantaranya

1.Pemberian sabuk peredam disekeliling tabung.

2.Pegantian bearing peredam disekiling tabung.

3.pemberian oil/pelumas di bearing vertical tabung.

Komponen kapasitor yang disamping ini adalah salah salah asutu alat pengaman yang terdapat di motor listrik yang berfungsi sebagai pemfikter tegangan yang tidak rata atau stabil

 

1.Perbaikan generator set dengan pergantian AVR(automatic volteg regulator) agar tegangan yang dihasikannya stabil.
2.Pergantian Accu kadang perlu dilakukan apabila genset tidak bisa di starter secara elektrik.

 

Pemasangan alat ukur hz untuk mengetahui berapa frekuensi yang dikeluarkan oleh genset agar tidak terjadi lonjakan tegangan.atur keluaran frekuansi genset pada 50 hz.

Pembuatan/pengelasan dudukan untuk genset,diskmill ataupun rotary dryer agar sesuai dengan kebutuhan.

 

Penggantian heat exchanger dengan Pemasangan burner untuk proses pengeringan yang menggunakan rotary dryer

 

Contoh produk kemasan yang terdapat di titik-titik lokasi dan 1 lokasi menggunakan kemasan botol yaitu lokasi dilamongan dengan merek SAMUDRA.

Latar Belakang :

Tahun 2012, Indonesia telah mencatat sejarah penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan garam konsumsi. Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat atau lebih dikenal dengan nama PuGaR yang telah diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2010, telah berhasil memicu tercapainya Swasembada Garam Rakyat. Produksi garam

rakyat tahun 2012 tercatat lebih dari 2,1 juta ton, sementara kebutuhan garam konsumsi pada tahun yang sama diperkirakan 1,5 juta ton.

Ketersediaan garam yang berlimpah dapat memicu jatuhnya harga. Di sinilah diperlukan sebuah pemikiran untuk menciptakan inovasi yang dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan nilai tambah dalam berproduksi

Perangkat pemurnian garam sederhana, yang telah dihasilkan Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir - Badan Litbang Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Universitas Hangtuah

Surabaya, telah berhasil mendongkrak nilai tambah garam. Alat ini mampu meningkatkan tingkat kemurnian rata-rata kandungan NaCl 88% garam krosok menjadi garam halus dengan kandungan NaCl lebih dari 94%.

Alat pemurnian garam telah diterapkan sejak tahun 2009 sebagai IPTEK untuk Masyarakat atau lebih dikenal sebagai IPTEKMAS Garam di 18 lokasi kelompok penerima tersebar di

Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada tahun 2012 paket teknologi telah mengalami penyempurnaan. Paket yang diterapkan tidak hanya proses pemurnian, namun juga telah dilengkapi dengan peralatan iodisasi dan pengemasan. Kemampuan produksi rata-rata dapat mencapai 2 ton per hari dan menyerap 3 – 5 tenaga kerja. Inovasi sederhana dalam pengolahan garam krosok yang disiapkan menjadi garam konsumsi rumah tangga ini, telah berhasil memberikan nilai tambah 200 – 1.000 rupiah per kilonya.

Tujuan :

Tujuan  kegiatan  ini adalah  meningkatkan  kemampuan  produksi  garam  olahan  dengan  teknologi  pencucian  garam  paket  IPTEKMAS  pada  18  lokasi  penerima,  sebagai upaya terwujudnya industrialisasi garam rakyat. Sasaran Peningkatkan kemampuan produksi dilakukan melalui penguatan sistem produksi, perbaikan dan penambahan komponen peralatan serta pendampingan teknis dan manajerial pengolahan garam

Metode :

1.  Koordinasi dan Konsultasi merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan didalam melaksanakan kegiatan IPTEKMAS 2013

2. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan kebutuhan penerima IPTEKMAS

3. Pendampingan pada proses produksi yang berfungsi sebagai alat atau media komunikasi sebagai wadah untuk meningkatkan Sumber daya  Manusianya,Sehingga kita dapat mentransfer pengetahuan teknologi kepada kelompok penerima IPTEKMAS.

4. Call center adalah sebuah wadah untuk menerima informasi berupa permasalahan seputar peralatan IPTEKMAS untuk menunjang keberhasilan program kementerian kelautan  dan perikanan tentang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan model kawasan industry garam rakyat.

5. Monitoring dan evaluasi adalah proses rutin didalam pengumpulan data dan pengukuran untuk mengevaluasi kemajuan atas objektif program./ Memantau perubahan

Hasil : .

Paket pekerjaan konstruksi dikerjasamakan dengan Universitas Hang Tuah surabaya (UHT) secara swakelola dan pengadaan barang dan jasa  menggunakan pelelangan umum. Pemberian paket penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan model kawasan industri garam rakayat kepada penerima di 10 (Sepuluh) kabupaten pesisir pantai utara jawa dan pulau Madura terdiri dari 3 macam:

Paket konstruksi produksi garam system mekanis

Paket alat bantu produksi garam system mekanis

Paket bahan pendampingan produksi garam system mekanis

Setidaknya ada 13 kriteria standar mutu yang harus dipenuhi oleh penerima alat IPTEKMAS didalam pengolahan garam. Di antaranya adalah penampakan bersih, berwarna putih, tidak berbau, tingkat kelembaban rendah, dan tidak terkontaminasi dengan timbal/bahan logam lainnya. Kandungan NaCl untuk garam konsumsi manusia tidak boleh lebih rendahdari 97 % untuk garam kelas satu, dan tidak kurang dari 94 % untuk garam kelas dua. Tingkat kelembaban disyaratkan berkisar0,5 % dan senyawa SO4 tidak melebihi batas 2,0 %. Kadar iodium berkisar 30 - 80 ppm.

Gambaran bahwa mesin pemurni garam secara mekanik dapat menurunkan kadar senyawa-senyawa dan secara umum masih memenuhi standar baku mutu untuk garam konsumsi.Sebaliknya untuk kadar iodin (metode iodometri) yang awalnya tidak terdeteksi pada garam krosok, menjadi terdeteksi sebesar 35-40 ppm setelah diiodisasi, dan masih memenuhi standar baku mutu garam konsumsi beriodium. kadar logam berat berbahaya seperti merkuri, arsen, timbal masih berada di bawah  standar baku mutu garam konsumsi beriodium. Demikian juga untuk Zn,Sn, dan Cu kadarnya masih rendah, jauh dari ambang batas baku mutu garam konsumsi, sehingga masih aman untuk dikonsumsi.



Unit Kerja

Alamat

:

:

:

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

Sentra garam di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

Hariyanto Triwibowo