SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2013

Penataan Klaster Kawasan Industri Garam Rakyat

 

 

Latar Belakang :

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) menyebutkan bahwa  pada tahun 2012 Indonesia sudah mencapai titik swasembada garam rakyat.  Sebab petani garam Indonesia telah berhasil memproduksi 2,2 juta ton garam konsumsi, produksi sebesar itu sebenarnya telah melampaui target di 2012, yakni sebesar 1,32 juta ton, surplus produksi garam hingga 153 persen ini mendorong KPP untuk merekomendasikan penghentian impor garam di tahun 2013.Namun Kementerian Perdagangan punya alasan tersendiri terkait rendahnya kualitas garam sehingga tetap bermaksud melakukan impor garam di tahun 2013.

Sudah saatnya Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai mempertimbangkan program peningkatan kualitas garam yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Namun tidak semua sentra garam berpotensi untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi, harus dilakukan identifkasi terhadap setiap sentra yang benar-benar potensial, baik dari aspek kesiapan lahan, sumberdaya manusia maupun infrastruktur pendukungnya menuju pengembangan klaster industri garam rakyat. Selanjutnya dapat ditentukan stratifikasi dari tiap klaster yang ada. Dengan melakukan optimalisasi pengelolaan tambak potensial dapat meningkatkan efisiensi ongkos produksi

sehingga selisih dengan harga jual lebih besar yang dapat membangkitkan  semangat  para petambak  garam untuk meningkatkan  kuantitas  dan kualitas  produksi garamnya.

Tujuan :

1.    Menggali informasi karaktristik spesifik lokasi, teknik/pola produksi dan pelaku usaha garam rakyat

2.    Mendapatkan identifikasi peran dari unsur-unsur yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dalam faktor produksi pada Industri Garam Rakyat

3.    Mengetahui faktor-faktor utama dan penunjang yang mempengaruhi produksi-konsumsi komoditi garam  sebagai acuan untuk merumuskan model penataan klaster kawasan industri garam rakyat

Metode :

1.    Analisis Karakteristik pengelolaan tambak garam untuk mengetahui produktivitas, pengelolaan dan optimalisasi pengelolaan tambak garan di sentra garam

2.    Analisis klaster untuk   pengorganisasian kumpulan pola ke dalam cluster (kelompok-kelompok)  berdasarkan atas kesamaannya yang dimiliki dalam mengelola tambak garam dengan variabel antara lain: produktivitas tambak (ton/ha/musim), pengelolaan lahan (ha/orang), kemampuan produksi petambak (ton/orang), masa panen dari meja Kristal (hari), rata-rata panjang musim kemarau dalam 10 tahun terakhir (dasarian), proporsi kualitas produksi garam kp1 dibanding seluruh produksi di tiap kecamatan (%), kondisi akses ke jalan besar dan kondisi saluran primer

Hasil :

Dari hasil survey diperoleh informasi bahwa dalam memproduksi garam terdapat faktor-faktor teknis dan non teknis mempengaruhi kuantitas dan kualitas garam Sampang Pademawu Banyuates Kota Giligenting Galis Tlanakan Pragaan Pangarengan Camplong Ra'as Sreseh Saronggi Jrengik Sapeken Arjasa Talango Gapura Kalianget Dungkek Euclidean distances rakyat. Beberapa faktor teknis yang menjadi variabel produksi garam adalah peningkatan kecepatan penguapan air laut, penurunan peresapan tanah, pengaturan konsentrasi pengkristalan garam, perbaikan cara pengolahan lahan dan penggunaan teknologi. Sedangkan faktor non teknisnya antara lain adalah ketidakpastian harga, keterbatasan luas lahan garapan, sistem pengelolaan dan kepemilikan tambak,   perubahan lama musim kemarau, kondisi infrastruktur serta keterbukaan terhadap teknologi baru.

Hasil analisis cluster dengan mengambil studi kasus di Pulau Madura, menunjukkan bahwa  15% sentra garam (dalam lingkup kecamatan) di Pulau Madura berada dalam kelompok 1 yang terdiri dari Kecamatan Sampang, Pademawu, Bayuates, Kota, Giligenting, Galis, Tlanakan, Pragaan dan Pangarengan dengan ciri dominan produktivitas sedang, masa panen dari meja kristal 7 hari, panjang musim 24 dasarian, kondisi akses dan saluran primer baik.   Sebanyak 75% sentra garam berada dalam kelompok 2 (Kecamatan Camplong, Raas, Sreseh, Saronggi, Jrengik, Speken, Arjasa dan Talango) dengan ciri dominan produktivitas tinggi, luas pengelolaan lahan kurang dari 1 ha/orang, kemampuan produksi setiap petambak kurang dari 60 ton/orang dan kondisi akses kurang hingga baik dan kondisi saluran primer sedang hingga baik. Dan sisanya 10% yang terdiri dari Kecamatan Gapura, Kalianget dan Dungkek berada dalam kelompok 3 dengan ciri dominan luas pengelolaan lahan diatas 1,6 ha/orang, kemampuan produksi setiap petambak lebih dari 150 ton/orang, kondisi akses ke jalan besar sedang hingga baik dan kondisi saluran primer baik. Di antara ketiga klaster di Pulau Madura, klaster 3 merupakan klaster paling ideal pengelolaan tambaknya. Dengan menyandingkan data pengelolaan tambak garam (ha/orang) dan kemampuan/produktivitas petambak (ton/orang) diketahui  4 Kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Kalianget, Gapura, Pangarengan dan Lasem yang memanfaatkan lahan secara optimal.


Unit Kerja

Alamat

:

:

 

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

Cirebon, Indramayu, Pati, Rembang, Sampang, Pamekasan dan Sumenep

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

Dr. Ifan Ridlo Suhelmi,

Rizki Anggoro Adi, ST,Ahmad Nadjid, MT, Muhammad Ramdhan, M,Sc

Cirebon, Indramayu, Pati, Rembang, Sampang, Pamekasan dan Sumenep