Kajian Produksi Garam dengan Sistem Termal

 

Alat pembuatan air tua dan garam sisterm termal melalui perebusan air laut

 

 

 

Latar Belakang :

Kebutuhan akan garam kian hari makin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya berbagai industri, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, kebutuhan garam tersebut belum dicukupi dari produksi dalam negeri. Sekitar 40 % garam nasional masih dipenuhi melalui impor, diantaranya dari Australia dan India. Karena itulah Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan tercapainya swasembada garam konsumsi 2012 dan swasembada garam untuk industry tahun 2014 (KP3K, 2011).

Garam rakyat tradisional umumnya dibuat dengan cara menimba air laut, kemudian dimasukkan ke dalam ladang penguapan sehingga langsung dihasilkan kristal garam. Pada usaha garam rakyat (tradisional) yang memanfaatkan model terasering bertingkat kadar garam tertinggi yang dapat dihasilkan relatif jarang mencapai 90 %, sehingga diperlukan perlakuan-perlakuan khusus agar dihasilkan garam dengan kualitas tinggi.

Pada penelitian ini akan dikaji pembuatan garam dengan menggunakan sistem panas (thermal).  Prinsip pembuatan garam system termal adalah meningkatkan konsentrasi NaCl air laut dengan memisahkan air murninya. Efisiensi pemisahan air murni dari air laut menggunakan cara termal dan penurunan titik didih. Cairan yang berada dalam tekanan tinggi akan memiliki titik didih lebih tinggi jika dibandingkan dengan cairan pada tekanan rendah. Pada proses penguapan, tekanan uap jenuh (saturated vapor pressure (svp) atau vapor pressure) lebih kecil dari tekanan udara luar. Sementara proses mendidih dapat tercapai jika tekanan uap jenuh (svp) sama dengan tekanan tekanan luar.

Dengan sistem ini diharapkan dapat menghasilkan kadar NaCl dengan kadar low (< 40%), medium (40 - 90%), dan high (> 90%). Hasil dari pengkajian ini diharapkan dapat mendukung Iptekmas Garam, Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR), dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I) yang merupakan Agenda Riset Nasional.

Tujuan :

Mengkaji pembuatan garam sistem thermal

Metode :

  1. mengidentifikasi keperluan bahan, teknologi pabrikasi serta studi lokasi.
  2. Studi literatur, diskusi-diskusi tentang teknologi produksi garam rakyat,
  3. Identifikasi pembuatan garam sistem thermal,
  4. Pembuatan/pengadaan dan instalasi alat pendukung sistem (pabrikasi),
  5. Instalasi dan uji coba setting sistem

Hasil :

Hasil kajian ini berupa alat pengolahan air laut menjadi kristal garam melalui proses pemanasan buatan dengan sistem perebusan dan pengovenan.

Dalam termal buatan menggunakan sistem  perebusan, optimasi pelepasan air murni dalam air laut menggunakan media rebus tertutup dibantu recervoir destilator serta centrifugal blower vacuum. Pengoperasian alat ini  dimulai dengan tabung rebus bervolume 1000 liter diisi air laut bersalinitas 3 % sebanyak 750 liter. Air direbus dengan barner LPG berkalori 700 ° C  dapat mendidih dalam waktu 3 jam dengan pengurangan volume 113 liter tiap jam selanjutnya. Air murni diambil melalui tabung reservoir.

Sedangkan prinsip sistem pengovenan adalah mengeringkan garam hasil spinner dengan kadar air (± 30 %) dengan cara mengadopsi dari penjemuran alam dibawah terik matahari. Cara   tersebut diadaptasi menjadi pemanasan disertai dengan sirkulasi udara didalam ruang oven.  Untuk menghindari gosong dan bau digunakan”Heat Charger” didorong dengan kipas sirkulasi. Penggunaan ”Heat Charger” memungkinkan penggunaan oli bekas, solar dan briket sebagai bahan pemanas tanpa terpengaruh bau bahan didalam ruang ovennya. Stabilitas panas dan humidity dalam ruang oven terkontrol melalui buka tutup inlet/outlet  ruang oven serta control panas dalam ”Heat Charger”. Secara garis besar, pengurangan kadar air dalam garam  (± 30 %) menjadi ≥ 7% diperlukan waktu 30 menit menggunakan alat ini.

Lokasi Kegiatan

:

Propinsi Sulawesi Selatan

Peneliti Utama Keg

: