Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Tim riset "Kajian Terintegrasi Penanggulangan Abrasi dan Banjir Rob Pantura Jawa" melakukan survey pendahuluan selama 5 hari (5-9 April 2021) di Subang, Indramayu, dan Cirebon guna mengindentifikasi daerah terdampak abrasi, sedimentasi, banjir rob, dan penurunan tanah di ketiga kabupaten di Jawa Barat tersebut. Tim survey terdiri dari Tubagus Solihuddin, Ph.D, Eva Mustikasari, MT., Dr. Anastasia TDK, dan Redi Wibowo.

Salahsatu daerah terdampak abrasi dan banjir rob yaitu Pantai Pondok Bali, Desa Mayangan, Kec. Legon Kulon, Kab. Subang. Berdasarkan hasil kajian awal, abrasi dan banjir rob yang terjadi di Pantai Pondok Bali lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan sedimen akibat pembelokan arah muara Sungai Cipunagara ke pantai timur, sehingga di  Pantai Pondok Bali terjadi defisit sedimen.

Pengalihan aliran S. Cipunagara ke arah timur dilakukan sekitar tahun 1960an dan saat ini telah membentuk delta Cipunagara Baru di pantai timur seluas kurang lebih 1.621 hektar (lihat gambar). Sementara aliran sungai menuju Pantai Pondok Bali menjadi kali mati. Akibat defisit sedimen tersebut, Pantai Pondok Bali mengalami abrasi dan inundasi (genangan) yang berdampak terhadap hampir seribu hektar tambak udang dan bandeng (lihat gambar). Tim juga menemukan adanya indikasi amblasan tanah, namun perlu dikaji lebih lanjut laju penurunan tanah pertahunnya.

Intervensi yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian PUPR yaitu dengan instalasi pemecah gelombang jenis rock armor dan karung geobag sepanjang kurang lebih 300 m. Namun, pemecah gelombang tersebut perlahan tenggelam dan turun di bawah air pasang.

Penanganan abrasi/banjir rob alternatif yang dapat dipertimbangkan yaitu dengan membuka kembali aliran Sungai Cipunagara menuju utara agar terdapat akumulasi sedimen di sekitar Pantai Pondok Bali, setelah sedimen terakumulasi dapat ditindaklanjuti dengan penanaman mangrove. Apabila debit Sungai Cipunagara rata-rata sekitar 200 M3/detik dengan kandungan lumpur dalam air sungai sekitar 2,5 gr/liter, maka aliran sedimen yang disuplai oleh S. Cipunagara ke sekitar muara dapat mencapai 0,5 ton setiap detiknya. Namun sayangnya hingga saat ini kami belum mendapatkan update data debit rata-rata dan kandungan total suspended solid (TSS) Sungai Cipunagara. Arah pergerakan sedimen di sekitar muara juga sangat dipengaruhi oleh gelombang (swell) yang dibangkitkan oleh angin musiman, maka instalasi pemecah gelombang kedap air (permeable breakwater) juga dapat dipertimbangkan untuk mengakselerasi proses sedimentasi dan dapat melindungi sedimen dari proses pencucian (washed out) oleh gelombang. Selain itu, pembukaan kembali aliran Sungai Cipunagara menuju utara juga dapat mengurangi aliran sedimen dan pendangkalan ke pantai timur yang lokasinya berdekatan dengan pelabuhan offshore Patimban.

Dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, Pemerintah Daerah melalui PDAM diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih penduduk di Desa Mayangan, Kec. Legon Kulon yang berjumlah sekitar 1.200an dengan jumlah kepala keluarga sekitar 400an. Karena Kebutuhan air bersih penduduk saat ini umumnya menggunakan sumur bor sedalam lebih dari 60 m yang dalam penggunaan jangka panjang akan berdampak terhadap tingginya intensitas penurunan tanah. (Oleh : Tubagus Solihuddin, Ph.D)