Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Migrasi Website Pusriskel

E-mail Print PDF

Berita Terbaru Pusriskel dapat mengunjungi tautan

https://kkp.go.id/brsdm/pusriskel





Last Updated on Tuesday, 04 May 2021 10:11
 

Widodo Pranowo KKP Turut Mengenang Kiprah KRI-Nanggala 402 Sebagai Penjaga Abadi Laut Bali

E-mail Print PDF

Jakarta -Indonesia berduka. KRI Nanggala-402 telah ditemukan di kedalaman 838 meter, kawasan laut NKRI yang amat ganas. Laut Bali disebut-sebut berbahaya karena sangat dalam. Banyak berita beredar kalau sang "Monster Bawah Laut" sudah berada jauh di dalam palung. Nyatanya, tidak.

detikTravel mewawancarai Dr. -Ing Widodo S Pranowo, peneliti madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan. "Laut Bali adalah laut yang berbatasan dengan Pulau Bali dan Selat Lombok di sisi selatan," kata dia. Pada sisi timur, Laut Bali berbatasan dengan Laut Flores, di sisi utara berbatasan dengan Kepulauan Kangean dan kanal yang berhubungan dengan Kanal Labani di Selat Makassar. Di sisi barat Laut Bali berbatasan dengan Selat Madura dan Pulau Jawa. "Sementara kondisi dasar Laut Bali sendiri berbentuk basin atau seperti mangkuk," dia menjelaskan.

Dari yang paling dangkal berkisar antara 100 meter di bagian barat. Laut akan semakin dalam ke bagian timur, yaitu lebih dari 1.000 meter. Pada kedalaman lebih dari 1.000 meter tersebut, Laut Bali terhubung dengan dasar Selat Lombok dan Laut Flores. Bagian laut dalam inilah yang banyak diartikan sebagai palung. Padahal, tak ada palung di Laut Bali. Hal ini juga didukung dengan data batimertri dari KKP. "Kalau palung pasti laut dalam, tapi tidak semua laut dalam adalah palung," kata dia.

Lanjut ke karakteristik Laut Bali pada musim barat. Musim barat berlangsung pada bulan Desember-Februari. Musim ini dipengaruhi oleh angin musim barat yang bergerak dari arah barat menuju ke timur.

"Pada musim ini kondisi massa air laut permukaan di Laut Bali mendapatkan pasokan dari Laut Jawa dan dari Samudera Hindia. Massa air laut dari Laut Jawa yang cenderung bersuhu panas (29 - 31 derajat Celsius) bertemu dengan air laut dari Samudera Hindia yang bersuhu lebih dingin (27-28 derajat Celsius). Sehingga suhu permukaan Laut Bali menjadi hangat (28 - 29 derajat Celsius)," dia menjelaskan.

Untuk musim timur akan berlangsung pada bulan Juni-Agustus. Laut Bali akan dipengaruhi oleh angin musim timur yang bergerak dari arah timur menuju ke barat.

"Massa air laut dari Laut Flores dan Selat Makassar cenderung bersuhu dingin (27-28 derajat Celsius), sehingga suhu permukaan Laut Bali pada musim timur sedikit lebih dingin daripada saat musim barat. Suhu permukaan Laut Bali ini juga lebih dingin daripada suhu permukaan Laut Jawa dan Selat Madura," kata Widodo. bagaimana soal kuatnya arus di Laut Bali yang merupakan musuh abadi dari kapal selam NKRI?

"Kondisi arus di Laut Bali, secara umum, arus di lapisan permukaan laut dipengaruhi oleh angin monsun barat dan timur. Namun, pada kedalaman tertentu kemudian dipengaruhi oleh arus dari Samudera Hindia dan arus dari Selat Makassar," kata Widodo.

Masuk pada kedalaman sekitar 200 meter terdapat arus menuju ke utara dari Selat Lombok yang merupakan terusan dari Samudera Hindia, ini terlihat pada 22 April 2021. Arus tersebut akan terbelah menjadi dua arah (barat dan timur), ketika menabrak dinding basin Laut Bali bagian utara. Arus dari Selat Lombok yang berbelok ke barat kemudian bergerak mengikuti dinding basin Laut Bali yang berbentuk seperti wadah mangkuk. Sehingga, arus berpusar akan melawan arah jarum jam. Sedangkan arus dari Selat Lombok yang berbelok ke timur berpusar searah jarum jam. "Beda lagi dengan arus pada kedalaman 110 m. Melalui contoh keadaan ditanggal pada 25 April 2021, arus dominan datang dari arah Kanal Labani, Selat Makassar," dia menuturkan.

Arus ini dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau dikenal oleh komunitas internasional sebagai Indonesian Through-Flow (ITF). Arlindo akan semakin menguat ketika periode musim timur yakni Juni hingga Agustus. Sebagian kecil Arlindo berpusar di Laut Bali, dan sebagian besar mengalir menuju Samudera Hindia melewati Selat Lombok.

"Laut Bali punya karakter unik sebagai habitat organisme laut dan pesisir. Fakta menunjukkan bahwa komunitas lumba-lumba banyak terlihat di sekitar kawasan perairan Pantai Lovina yang merupakan bagian dari Laut Bali," kata dia.

Begitulah keadaan di bawah Laut Bali.Kini, area itu dijaga abadi oleh KRI Nanggala-402.

Sumber Berita : Detik Travel




Last Updated on Monday, 26 April 2021 10:58
 

Doa Untuk Awak Kapal Selam KRI Nanggala 402

E-mail Print PDF




Last Updated on Saturday, 24 April 2021 12:45
 

Dukungan Praktisi Budidaya dan Ahli Teknik Pantai untuk Kegiatan Riset Pantura Jawa

E-mail Print PDF

Kegitan riset Kajian Terintegrasi Penanganan Rob dan Abrasi Pantura Jawa telah menuntaskan survey lapangan ke Cirebon dan Indramayu pada akhir Maret dan awal April 2021. Hasil-hasil sementara yang didapat dari survey tersebut dikumpulkan untuk dianalisa dan dibawa untuk didiskusikan dengan para calon narasumber dari kegiatan ini, yaitu dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat dan Prodi Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung.

Diskusi yang berlangsung pada Kamis, 22 April 2021 dilakukan secara terpisah di mana dari Pusriskel dihadiri oleh Dr.Semeidi Husrin, Dr. Johan Risandi dan Agus Sufyan, MT. Dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat, Bapak Yudi ST dan Bapak Donny Orlando memberikan pandangannya dan dukungannya terkait rencana program penguatan usaha budidaya di Pantura Jawa Barat dari ancaman bencana abrasi dan rob. Penanganan yang terintegrasi terhadap kedua jenis bencana ini akan sangat banyak membantu kualitas dan produktivitas tambak. Beberapa data yang ada di Dinas KP diserahkan secara simbolis kepada Dr. Semeidi Husrin sebagai bukti dukungan ke kegiatan riset ini.

Sementara itu, Dr. Nita Yuanita dari Teknik Kelautan ITB yang telah lama melakukan penelitian pada dinamika Delta Cimanuk di Indramayu juga sepakat untuk terus menggali lebih dalam terhadap pentingnya pengaruh upstream pada dinamika kawasan pesisir serta pemanfaatan teknologi murah dan ramah lingkungan. Sungai-sungai yang mengalir ke laut sebagaimana diketahui banyak membawa material sedimen. Jika aliran ini terganggu,maka dapat dipastikan dinamika pantai tersebut akan terganggu pula. Oleh karenanya, kajian di kawasan pesisir pada dasarnya tidak dapat terlepas dari kajian di hulu-hulu sungai dan dinamika perubahannya. Tambak – tambak masyarakat yang merupakan ujung tombak sektor perikanan nasional perlu untuk dikaji ketahanannya pada bencana abrasi dan rob. Beberapa rekomendasi teknis dan nonteknis terkait upaya-upaya mitigasi bencana abrasi dan rob bagi kawasan tambak di Pantura Jawa khususnya Cirebon Raya adalah tujuan utama dari kegiatan penelitian ini. Kajian ini sepenuhnya akan menitikberatkan pada kajian data-data sekunder dan observasi lapangan ke beberapa lokasi di Cirebon Raya. Selanjutnya, analisa akan dilakukan setidaknya dari aspek teknik pantai, morfologi pantai, sosio-ekonomi, hidro-oseanografi, dan perikanan/budidaya. (Kontak: Dr. Semeidi Husrin).


Last Updated on Friday, 23 April 2021 08:08
 

Pusriskel di Event HNPW 2021

E-mail Print PDF


Acara yang berlansung pada 22 Apr 2021 (16:00-17:00 WIB) adalah Humanitarian Networks and Partnerships Weeks 2021 (HNPW 2021) adalah yang ke-7 dan merupakan salah satu acara terbesar atas kerjasama the United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) and by the Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC). Acara in secara offline berlangsung di Geneva- Swiss dan online (Webex). BRSDMKP melalui Pusriskel mendapat kehormatan untuk mengisi sesi “Multi-Hazard Early Warning Systems for Anticipatory Action”. Pada sesi ini dihadiri setidaknya 300 peserta international dari berbagai negara dan organisasi dunia (40an organisasi).

Sesi “Multi-Hazard Early Warning Systems for Anticipatory Action” dimodertori oleh Joint Research Centre - JRC- Komisi Eropa yang didampingi oleh WMO (Organisasi Meteorologi Dunia). Urutan pembicara didesain sedemikian rupa dari level dunia (WMO) ke level regional (Eropa) hingga nasional (Indonesia).

Pusriskel diundang dalam acara ini karena implementasi dua tahun IDSL yang dinilai cukup berhasil terutama dari sisi membangun kesiapsiagaan masyarakat dan pelibatan masyarakat dalam partisipasinya dalam memasang, menjaga dan merawat IDSL/PUMMA selama ini dan rencana pengembangan ke depan. Oleh karena itu, topik yang sangat penting ini diberi judul “From Warning to Citizens: Walking the Last Mile in Tsunami Early Warning System (The role of MMAF)”. Hal ini sesuai dengan mandat Perpres 93/2019 di mana KKP dimandati untuk menyampaikan Peringatan dini tsunami atau TEWS kepada masyarakat (peyampaian, diseminasi). Pilot project di Pangandaran juga menjadi salah satu yang didiskusikan dalam acara ini. Presentasi Pusriskel-BRSDMKP-KKP disampaiakan oleh Dr.-Ing. Semeidi Husrin sebagai peneliti senior yang sejak awal  mengawal riset dan pengambangan IDSL/PUMMA di Pusriskel.



Last Updated on Friday, 23 April 2021 08:03
 

Pentagar telah Terpasang Di Kebumen, Jawa Tengah

E-mail Print PDF

Kebumen, 22 April 2021. Bertepatan dengan Hari Bumi, tim Rancang Bangun Sistem Monitoring Lingkungan Pendukung Produksi Garam berbasis IoT memasang perangkat PENTAGAR (Pemantau Tambak Garam) di Kampung Garam, Miritpetikusan, Kab. Kebumen-Jawa Tengah. Pentagar menjadi salah satu instrumen pendukung pengembangan produksi garam dengan sistem tunnel yang lebih ramah lingkungan karena tidak merusak lahan (tidak meninggalkan lahan atau tanah yang mengandung salinitas berlebih ketika tidak digunakan lagi sebagai lahan garam, sehingga tetap bisa ditanami lagi). Pemasangan instrumen Pentagar dapat memberikan gambaran dan melengkapi data cuaca iklim dan paremeter lingkungan pada area pencontohan produksi garam diselatan pulau Jawa yang sebelumnya bukan daerah yang umum digunakan untuk produksi garam. Data  yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pendukung dalam menentukan dan mengembangkan  daerah-daerah lain dengan  karakter cuaca dan iklim yang serupa  menjadi sentra-sentra produksi garam baru. Areal pesisir selatan pulau Jawa berpotensi menghasilkan garam yang lebih sehat dan berkualitas dengan sumber air dari samudera Hindia yang relatif lebih bersih. Pentagar mendukung pengembangan garam dengan sistem tunnel untuk peningkatan produksi garam nasional yang berkualitas.


Last Updated on Thursday, 22 April 2021 13:55