Pamekasan (07/08/19) - Bertempat di Ruang Pertemuan IPSAL Pamekasan Madura diadakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Potensi Pemurnias Garam untuk Meningkatkan Nilai Tambah Garam Krosok. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala BidangTeknlogi Kelautan Dr. Ifan Ridlo Suhelmi sekaligus membuka acara. Dalam sambutannya disampaikan beberapa hal yaitu Perlunya pengaturan kuota import garam adar harga garam krosok di kalangan petani  tidak terlalu jatuh. Oleh sebab itu perlu adanya prediksi produksi garam sebagai bahan masukan kebijakan pengaturan kuota import, perlunya dilakukan kajian minimal harga garam dari petani yang layak (saat ini harga garam tergolong masih sangat rendah) serta dibutuhkan riset dan inovasi untuk menaikkan nilai garam krosok. Kemudian Paparan dari Kepala IPSAL Aris Widodo, S.T. beberapa hal disampaikan diantaranya sesuai dengan kebijakan pemerinta daerah, Pamekasan merupakan pusat kawasan ekonomi garam di Pulau Madura. Kegiatan budidaya garam diharapkan bisa menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja, harus ada pembaruan aturan impor yang melarang garam impor datang saat musim panen karena menyebabnya membludaknya persediaan garam sehingga harganya terus menurun, namun dengan kenyataaan rendahnya harga garam krosok di kalangan petani, perlu upaya peningkatan nilai tambah. Salah satu cara peningkatan nilai tambah ini dengan dilakukan pemurnian garam. Ada dua teknik yang bisa dilakukan yaitu sistem mekanis dan rekristal. Kelebihan pengolahan garam rekristal adalah tidak membutuhkan modal tidak begitu banyak dan tidak memerlukan wlayah yang seperti halnya pengolahan garam mekanis. Proses garam rekristal sangat cocok untuk produksi garam rumahan (petani garam skala kecil).

FGD dihadiri oleh Perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan yang meliputi  Bapak Camat dan jajarannya, Kepala Desa dan perangkat, Dinas Perikanan, Universitas, Sekolah Menengah Perikanan, Perwakilan BNI, Penyuluh pegawai IPSAL  dan kelompok petani garam.