Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Workshop Kehumasan "Optimalisasi Media Sosial untuk Humas Pemerintah"

E-mail Print PDF

Jakarta, 11 Maret 2020. Media sosial merupakan salah satu alat penyampaian informasi kepada masyarakat, bahkan banyak organisasi swasta maupun pemerintah yang juga menggunakan media sosial untuk menyampaikan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Pengetahuan  managemen media sosial dilingkup pemerintah juga diperlukan guna optimalisasi penyampaian informasi.  Pada hari Rabu – Jumat tanggal 11- 13 Maret 2020, perwakilan  Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) mengikuti Workshop Kehumasan dengan tema “Optimalisasi Media Sosial untuk Humas Pemerintah” yang digelar oleh  Sekretariat Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Workshop dilaksanakan di Ruang Arwana Gedung Mina Bahari II lantai 14 dan dibuka oleh Kepala Bagian Humas, Kerjasama dan Data Sekretariat BRSDM, Ir. Andi Soesmono, M.EM. yang dihadiri oleh seluruh satker Lingkup BRSDMKP se-Indonesia. Workshop ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kehumasan lingkup BRSDMKP khususnya dalam pengelolaan media sosial pemerintah.

Beberapa narasumber dihadirkan untuk mengoptimalisasikan penggunaan media social sebagai alat penyampaian informasi dan data. Pelaksanaan hari pertama, hadir Ibu Swinny Andestika dari Communication Manager Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI) yang menyampaikan mengenai pengelolaan Sosial Media Management dan sekaligus membagikan tips dan trik untuk membuat konten yang menarik dan update sesuai isu/kegiatan/program utama bagi lembaga. Hadir pula Founder Mobile Journalisme (MOJO) Liputan 6.com Bpk. Riki Dhanu yang membagikan teknik pemanfaatan smartphone untuk membuat konten multimedia. Peserta workshop diajarkan dan dilatih membuat konten video mulai dari tahap shooting (production), hingga editing ( post-production).



Last Updated on Thursday, 12 March 2020 11:48
 

Selamat dan Sukses Kepada Dr. Edhy Prabowo S.E., M.M., M.B.A

E-mail Print PDF


Segenap keluarga besar Pusat Riset Kelautan mengucapkan selamat kepada Bapak Dr. Edhy Prabowo, S. E., M. M., M. B. A. atas raihan gelar Doktor Ilmu Komunikasi.



Last Updated on Wednesday, 11 March 2020 22:40
 

Alternatif Pengganti Jabat Tangan di Lingkungan KKP

E-mail Print PDF




Last Updated on Wednesday, 11 March 2020 14:41
 

Pemerintah Submisi Klaim Batas Terluar Landas Kontinen Utara Papua

E-mail Print PDF

Sesuai dengan hukum laut internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea / UNCLOS 1982), negara pantai, bila tidak berbatasan dengan negara lain, berhak untuk menetapkan batas terluar landas kontinennya melebihi 200 mil laut. Namun hal tersebut harus dibuktikan secara ilmiah dan disetujui Komisi Batas Landas Kontinen Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations Commission on the Limit of the Continental Shelf / UN CLCS).

Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah sedang mempersiapkan presentasi sebelum mengajukan landas kontinen Indonesia di luar 200 mil laut di segmen utara Papua. Persiapan Indonesia menghadapi perundingan pembentukan hukum internasional, yang mengatur pengelolaan sumber daya genetik di laut internasional (di luar yurisdiksi negara).

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan submisi klaimnya untuk segmen utara Papua, pada 11 April 2019.  Dengan submisi tersebut, Indonesia berpotensi untuk mendapatkan tambahan luas landas kontinen kurang lebih 196.568,9 kilometer persegi (lebih luas dari Pulau Sulawesi).

Hari ini (4/3), Tim Nasional yang berada di bawah koordinasi Kemenko Marves Luhut Pandjaitan, sebagai wakil Pemerintah RI, akan mempresentasikan submisi Indonesia di hadapan sidang Komisi Batas Landas Kontinen PBB. Tim Nasional Indonesia ini terdiri dari perwakilan Kementerian Lembaga terkait, yaitu: Kementerian Luar Negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Pushidros TNI AL.

Area yang disubmisikan oleh Indonesia tersebut akan tumpang tindih dengan submisi yang disampaikan oleh beberapa negara tetangga, yaitu Palau, Papua Nugini, dan Federasi Mikronesia. Jika submisi Indonesia dan ketiga negara tersebut disetujui Komisi Batas Landas Kontinen PBB, maka negara-negara terkait akan duduk bersama untuk menentukan batas-batasnya. Artinya, Indonesia akan memiliki tambahan 1 negara tetangga yang berbatasan langsung, yaitu Federasi Mikronesia.  Sebelumnya Indonesia berbatasan langsung dengan 10 negara, yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia, dan Timor Leste).

Rencananya pada tahun ini pula,  Tim Nasional akan menyampaikan submisi berikutnya untuk segmen barat Pulau Sumatera. Dari hasil kajian sementara, Pemerintah Indonesia berpeluang untuk melakukan klaim area landas kontinen tambahan kurang lebih 200.000 kilometer persegi. Lebih luas dari segmen utara Papua, dan tidak ada tumpang tindih dengan negara lain.

Submisi-submisi tersebut, bukan hanya berdampak pada potensi perluasan perairan landas kontinen Indonesia. Ke depannya, Pemerintah Indonesia diharapkan mampu untuk mengelola berbagai potensi sumber daya alam yang ada di landas kontinen tersebut. Berdasarkan penelitian, dasar laut dalam di landas kontinen menyimpan cadangan potensi mineral yang sangat besar, bahkan dapat melebihi cadangan mineral di daratan.

Sumber berita : maritimenews.id


Last Updated on Tuesday, 10 March 2020 14:09
 

Submisi Landas Kontinen Indonesia di Luar 200 NM – Segmen Utara Papua dan Peran Aktif Indonesia di Pembentukan Hukum Internasional Pengelolaan Sumber Daya Hayati di Laut Internasional

E-mail Print PDF

Jakarta, Pada hari ini Jumat (28/2/2020), Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan memimpin rakor yang membahas dua isu kemaritiman nasional, yaitu, Persiapan presentasi Indonesia sebelum mengajukan landas kontinen Indonesia di luar 200 mil laut di segmen utara Papua, Persiapan Indonesia menghadapi perundingan pembentukan hukum internasional, yang mengatur pengelolaan sumber daya genetik di laut internasional (di luar yurisdiksi negara). Sesuai dengan hukum laut internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea / UNCLOS 1982), negara pantai, termasuk Indonesia, bila tidak berbatasan dengan negara lain, berhak untuk menetapkan batas terluar landas kontinennya melebihi 200 mil laut. Namun hal tersebut harus dibuktikan secara ilmiah dan disetujui Komisi Batas Landas Kontinen Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations Commission on the Limit of the Continental Shelf / UN CLCS).

Pada 11 April 2019, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan submisi klaimnya untuk segmen utara Papua. Dengan submisi tersebut, Indonesia berpotensi untuk mendapatkan tambahan luas landas kontinen kurang lebih 196.568,9 kilometer persegi (lebih luas dari Pulau Sulawesi). Pada tanggal 4 Maret 2020 mendatang, Tim Nasional yang berada di bawah koordinasi Kemenko Marves, sebagai wakil Pemerintah RI, akan mempresentasikan submisi Indonesia di hadapan sidang Komisi Batas Landas Kontinen PBB. Tim Nasional Indonesia ini terdiri dari perwakilan Kementerian Lembaga terkait, yaitu: Kementerian Luar Negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Pushidros TNI AL.

Area yang disubmisikan oleh Indonesia tersebut akan tumpang tindih dengan submisi yang disampaikan oleh beberapa negara tetangga, yaitu Palau, Papua Nugini, dan Federasi Mikronesia. Jika submisi Indonesia dan ketiga negara tersebut disetujui Komisi Batas Landas Kontinen PBB, maka negara-negara terkait akan duduk bersama untuk menentukan batas-batasnya. Artinya, Indonesia akan memiliki tambahan 1 negara tetangga yang berbatasan langsung, yaitu Federasi Mikronesia (sebelumnya Indonesia berbatasan langsung dengan 10 negara, yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia, dan Timor Leste).

Rencananya pada tahun ini pula,  Tim Nasional akan menyampaikan submisi berikutnya untuk segmen barat Pulau Sumatera. Dari hasil kajian sementara, Pemerintah Indonesia berpeluang untuk melakukan klaim area landas kontinen tambahan kurang lebih 200.000 kilometer persegi. Lebih luas dari segmen utara Papua, dan tidak ada tumpang tindih dengan negara lain. Submisi-submisi tersebut, bukan hanya berdampak pada potensi perluasan perairan landas kontinen Indonesia, namun juga memiliki arti penting sebagai berikut:

  1. Membuktikan kemampuan para ilmuwan  dan ahli hukum laut Indonesia untuk menambah area sesuai ketentuan hukum internasional. Dalam submisi ini, tidak seperti negara-negara lain, Indonesia tidak dibantu sama sekali oleh ilmuwan asing.
  2. Membuktikan bahwa data kelautan dan kemampuan survey laut Indonesia semakin mumpuni;

Ke depannya, Pemerintah Indonesia diharapkan mampu untuk mengelola berbagai potensi sumber daya alam yang ada di landas kontinen tersebut. Berdasarkan penelitian, dasar laut dalam di landas kontinen menyimpan cadangan potensi mineral yang sangat besar, bahkan dapat melebihi cadangan mineral di daratan.

 Konferensi Diplomatik Pembentukan Hukum Internasional Pengelolaan Sumber Daya Hayati di Laut Internasional

Last Updated on Tuesday, 10 March 2020 14:02 Read more...
 

Indonesia Akan Pasang Alat Pelacak Sampah untuk Mendeteksi Asalnya

E-mail Print PDF

Dream- Kepala Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Riyanto Basuki mengatakan, pemeritah akan memasang puluhan alat pelacak sampah di wilayah perairan Indonesia. Alat tersebut untuk memantau asal sampah kiriman antarwilayah di Indonesia atau antarnegara. "Jadi dengan tracker itu, nanti kita bisa melihat menggunakan satelit tracker jalannya (sampah) itu ke mana. Apakah sampah itu benar ditengarai memang borderless," kata Riyanto, Selasa, 18 Februari 2020.

Riyanto mengatakan, pemasangan itu karena Malaysia mengirimkan sampah ke wilayah Indonesia atau sebaliknya. Menurut Riyanto, salah satu contoh kasus yang paling nyata 'ekspor' sampah terjadi saat musim angin barat. Di musim itu kawasan pantai seperti di Nusa Penida, Kuta, dan sekitarnya dipenuhi tumpukan sampah.

" Imbas sampah itu, belum tentu datang dari Bali bisa juga dari luar Bali. Khususnya kalau angin barat, itu angin dari barat ke timur dan itu mungkin dari Pulau Jawa," kata dia. Riyanto menyebutkan, tahun ini ada sekitar 10 hingga 20 alat tracker sampah akan disebarkan ke wilayah laut di kota-kota besar dan Pantai Utara Jawa, sebagai muara-muara sungai. "Di Bali juga, Pantai Utara Jawa dan kota-kota besar di Indonesia khususnya mulai dari Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang. Itu yang nantinya menjadi sasaran dari kita," jelasnya.

Penggunaan alat pelacak sampah bukan hal baru. Di sejumlah negara lain sudah digunakan, seperti Italia di wilayah Mediterania dan juga di Perancis.

" Tapi di Indonesia dan di Asia Tenggara ini sesuatu yang baru. Baru kali ini akan kita uji cobakan dan kita gunakan. Mungkin kita menyebar sekitar 10 atau 20 tracker di seluruh Indonesia dan nantinya kita akan lihat sampai di mana (sampah) di wilayah itu," ujar dia.

Alat pelacak sampah didapat atas kerja sama KKP dengan World Bank dan Agence Francaise de Development (AFD).

Sumber Berita : Dream.co.id & merdeka.com


Last Updated on Monday, 09 March 2020 07:51