Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Presiden Ke-3 Prof. BJ Habibie

E-mail Print PDF





Last Updated on Friday, 13 September 2019 13:54
 

Ini Rute Hiu Blacktip Menuju Nusa Dua, Bali

E-mail Print PDF

Jakarta - Viralnya gerombolan hiu blacktip di Nusa Dua menarik perhatian wisatawan. Kemunculan hiu-hiu ini menimbulkan pertanyaan, dari manakah mereka berasal?

Media sosial ramai dengan kemunculan gerombolan hiu blacktip di Pantai Peninsula, Nusa Dua, Bali, sejak Selasa (20/5). Menurut pakar, gerombolan hiu ini muncul karena adanya upwelling di Nusa Dua, Bali.

Upwelling adalah pengangkatan massa air dari lapisan dalam ke lapisan permukaan laut. Pengangkatan massa air ini kaya akan nutrisi dan mineral.

Kelimpahan nutrien dan mineral akan menarik ikan-ikan pelagis. Rantai makanannya pun berlanjut dengan kedatangan hiu blacktip di Pantai Peninsula.


Selain itu, diketahui pula ada dua pertemuan air bersuhu dingin dan panas di sekitar perairan Nusa Dua Bali. Hal ini bisa menjadi pedoman dalam meninjau rute perjalanan hiu yang datang ke Nusa Dua, Bali.

"Air dingin (23-24 derajat celsius) dari upwelling muncul di selatan Selat Bali dan selatan Pulau Bali. Air bersuhu dingin terus masuk ke Selat Bali," ujar Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan, Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (22/8/2019).

Setelah itu, suhu air akan naik sedikit menjadi 26-27 derajat celsius. Air akan bergerak keluar dari Selat Lombok menuju ke selatan, menuju Samudera Hindia Timur.


"Suhu air ini kemungkinan berasal dari Laut Bali dan Selat Makassar," ujar Widodo.

Melalui pemodelan yang dilakukan selama 3 hari (20-22 Agustus) terlihat pertemuan kedua massa air tadi (dingin dan hangat) di sekitar Perairan Nusa Dua. Biasanya di daerah pertemuan tersebut terdapat banyak plankton dan mikronekton.

Banyaknya plankton dan mikronekton akan menarik ikan-ikan pelagis. Ikan-ikan pelagis kemudian menjadi pemikat kedatangan hiu.


"Dari gambar pemodelan, bisa dilihat pada simbol (X) adalah penampakan ikan hiu blacktip yang pernah tercatat. Terlihat bahwa Nusa Dua memang dulunya pernah pula dikunjungi hiu," ungkap Widodo.

Tampak di Selat Lombok tercatat 3 lokasi penampakan hiu tersebut. Yang di Selat Lombok ada di sekitaran timur Nusa Penida, di Timur laut Pulau Bali, dan di barat laut Pulau Lombok. Bisa disimpulkan, rute hiu menuju Nusa Dua adalah dari Selat Lombok dan Selat Bali.

"Hiu ini hidup di kedalaman 25-75 meter, masih dangkal. Kemungkinan hiu-hiu tersebut berasal dari Selat Bali atau Selat Lombok," jelas Widodo.

Sumber Berita : Detik.com





Last Updated on Friday, 20 September 2019 08:57
 

National Expo for Science and Technology (NEST) 2019

E-mail Print PDF





Last Updated on Monday, 19 August 2019 12:56
 

Kerjasama Pusriskel-JICA Untuk Peningkatan Pemanfaatan Satelit

E-mail Print PDF

Jakarta, 15 Agustus 2019. Bertempat di Ruang Rapat Yellow Fin Tuna Gedung BRSDMKP 2 Lantai 6,  pada hari ini Kamis, 15 Agustus 2019 ini telah berlangsung penandatanganan Minutes of Meeting (MoM) oleh Kepala Pusat Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki dan Ketua Tim Survei JICA Mr. Satosi Chikami yang disaksikan oleh Perwakilan Kedutaan Besar Jepang Mr. Nakamura dan Kepala BROL Dr. I Nyoman Radiarta.

Balai Riset Observasi Laut (BROL) yang merupakan salah satu Satker  Pusat Riset  Kelautan menjalin kerjasama dengan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) untuk proyek kerjasama teknis yang berjudul The Project for Enhancement of Satellite Utilization for Monitoring Illegal, Unreported And Unregulated (IUU) Fishing Activity. JICA telah membentuk Tim Survei Detail Perencanaan pada tanggal 5 hingga 15 Agustus 2019 dengan tujuan membahas kerangka kerja proyek kerja sama teknis proyek Peningkatan Pemanfaatan Satelit Untuk Memantau Kegiatan IUU Fishing. Tim JICA juga melakukan serangkaian diskusi dan bertukar pandangan dengan tujuan menyusun kerangka kerja dan isi project dengan pihak berwenang yang terkait. Pelaksanaan project rencananya akan berlangsung selama 3 (tiga) tahun berlokasi di Bali.

Setalah acara penandatangan MoM, tim JICA bersama Kepala Pusriskel, Kepala BROL, Peneliti Senior Pusriskel Dr. Aulia Riza Farhan dan perwakilan dari Ditjen Pengelolaan Tata Ruang Laut (DJPRL) KKP membahas beberapa hal detail terkait project diantaranya Project Design Matriks, Plan of Operation, serta Project site(s) and beneficiaries.  Keseluruhan detail tersebut merupakan bagian dari Record of Discussion yang rencananya akan ditandatangani oleh Kepala BRSDMKP Prof. Sjarief Widja dan Chief Representatif JICA Indonesia


Last Updated on Thursday, 15 August 2019 15:25
 

Rekomendasi Ahli Nasional Tentang Perlindungan Pesisir Palu Terhadap Ancaman Tsunami

E-mail Print PDF

Jakarta, 12 Agustus 2019, Peneliti Pusriskel Dr. Semeidi Husrin bersama beberapa ahli di bidang tsunami menghadiri acara Diskusi Panel Ahli ke-3 Mengenai Penentuan Sumber Tsunami Dan Level Keamanan, pada tanggal 7-9 Agustus 2019 di SwissBel Hotel, Palu. Acara tersebut juga digelar dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana di Sulawesi Tengah. Tujuan utama acara adalah untuk mendapatkan rekomendasi ahli nasional tentang perlindungan pesisir Palu terhadap ancaman tsunami.

Para ahli menyimpulkan bahwa sistem mitigasi bencana tsunami di Palu harus berdasarkan pada hasil-hasil riset ilmiah karena masih banyak hal-hal teknis yang belum diketahui terutama sumber-sumber tsunami yang akan datang. Selain itu, upaya non-struktural jauh lebih penting dan harus diutamakan untuk melindungi kawasan pesisir Palu dari bencana gempa dan tsunami yang akan datang. Upaya-upaya non-struktural dimaksud adalah diantaranya: pengelolaan tata ruang, perlindungan pantai berbasis ekosistem dan peningkatan kesadaran masyarakat. Lebih jauh lagi, infrastruktur penuinjang perekonomian Kota Palu tetap harus dibangun kembali dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana.

Beberapa ahli yang hadir pada acara tersebut diantaranya adalah Gegar S. Prasetya, Abdul Muhari, Radianta Triatmadja, I Gde Widiadnyana Merati, Widjo Kongko, Dinar Catur Istiyanto, Andojo Wurjanto, Teuku Faisal Fathani, Iswandi Imran, Masyhur Irsyam, Rahman Hidayat, Danny Hilman Natawijaya, Wilham G. Louhenapessy, Mudrik Daryono dari IPB, IATsI, Bappenas, LIPI, UGM, BPPT, Kemenkomar, dan praktisi.



Last Updated on Thursday, 15 August 2019 14:07
 

Potensi Pemurnian Garam Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Garam Krosok di Pamekasan

E-mail Print PDF

Pamekasan (07/08/19) - Bertempat di Ruang Pertemuan IPSAL Pamekasan Madura diadakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Potensi Pemurnias Garam untuk Meningkatkan Nilai Tambah Garam Krosok. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala BidangTeknlogi Kelautan Dr. Ifan Ridlo Suhelmi sekaligus membuka acara. Dalam sambutannya disampaikan beberapa hal yaitu Perlunya pengaturan kuota import garam adar harga garam krosok di kalangan petani  tidak terlalu jatuh. Oleh sebab itu perlu adanya prediksi produksi garam sebagai bahan masukan kebijakan pengaturan kuota import, perlunya dilakukan kajian minimal harga garam dari petani yang layak (saat ini harga garam tergolong masih sangat rendah) serta dibutuhkan riset dan inovasi untuk menaikkan nilai garam krosok. Kemudian Paparan dari Kepala IPSAL Aris Widodo, S.T. beberapa hal disampaikan diantaranya sesuai dengan kebijakan pemerinta daerah, Pamekasan merupakan pusat kawasan ekonomi garam di Pulau Madura. Kegiatan budidaya garam diharapkan bisa menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja, harus ada pembaruan aturan impor yang melarang garam impor datang saat musim panen karena menyebabnya membludaknya persediaan garam sehingga harganya terus menurun, namun dengan kenyataaan rendahnya harga garam krosok di kalangan petani, perlu upaya peningkatan nilai tambah. Salah satu cara peningkatan nilai tambah ini dengan dilakukan pemurnian garam. Ada dua teknik yang bisa dilakukan yaitu sistem mekanis dan rekristal. Kelebihan pengolahan garam rekristal adalah tidak membutuhkan modal tidak begitu banyak dan tidak memerlukan wlayah yang seperti halnya pengolahan garam mekanis. Proses garam rekristal sangat cocok untuk produksi garam rumahan (petani garam skala kecil).

FGD dihadiri oleh Perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan yang meliputi  Bapak Camat dan jajarannya, Kepala Desa dan perangkat, Dinas Perikanan, Universitas, Sekolah Menengah Perikanan, Perwakilan BNI, Penyuluh pegawai IPSAL  dan kelompok petani garam.


Last Updated on Wednesday, 14 August 2019 07:28