Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Pusris Kelautan Terbitkan Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari

E-mail Print PDF


Jakarta, 20 September 2018. Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari ini menguraikan tentang konsep, isu, potensi, pemangku kepentingan (stakeholder), objek kegiatan dan zona ekowisata bahari, yang disusun sebagai panduan dalam penetapan zona ekowisata bahari dengan memuat beberapa parameter dan kriteria zonasi ekowisata bahari berdasakan aktivitas wisata. Buku yang disusun oleh Yulius dkk ini sangat cocot untuk dibaca oleh para pengambil kebijakan terkait penetapan zona ekowisata bahari dan juga dapat menjadi rujukan ilmiah bagi para peneliti, mahasisiwa yang melakukan studi S1, S2, dan S3. Buku terbitan Pusris Kelautan ini bisa  didapat secara "Gratis"  dengan mengunjungi Kantor Pusat Riset Kelautan dan membawa surat permohonan permintaan buku yang ditujukan kepada Kepala Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Gedung BRSDMKP 2 Lantai 2, Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara. Soft copy buku panduan ini dapat diakses  pada tautan dibawah ini.

Soft Copy “Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari



Last Updated on Thursday, 20 September 2018 14:37
 

Pemerintah Terbitkan Kalender Prediksi Kematian Massal Ikan

E-mail Print PDF

Mencegah terulangnya kematian massal pada ikan yang terjadi di Danau Toba, Sumatera Utara, Pemerintah Indonesia merilis kalender yang berisi prediksi kematian massal ikan dan skema alur penanganan kematian massal ikan. Kalender tersebut dirilis resmi pada Kamis (13/9/2018) di Jakarta. Tujuan dibuat kalender, karena Pemerintah ingin memberi peringatan kepada para pembudidaya ikan tentang situasi yang tepat untuk melaksanakan budidaya perikanan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja. Menurut dia, upaya pencegahan dan pengendalian akan bisa dilakukan selama para pembudidaya yang ada di sekitar Danau Toba mematuhi peraturan dan himbauan yang dikeluarkan Pemerintah, baik pusat ataupun daerah.

“Untuk itu, diperlukan juga ketegasan dari pemerintah daerah atau dinas setempat untuk melarang para pembudidaya melaksanakan budidaya di bulan-bulan yang masuk dalam kategori bahaya,” ucapnya.

Adapun, yang dimaksud bahaya, kata Sjarief, adalah masa dimana perairan sedang mengalami kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan perikanan budidaya karena kondisi alam ataupun yang lain. Saat kondisi seperti itu, langkah terbaik yang bisa dilakukan para pembudidaya, adalah dengan berhenti sementara dan mengikuti rekomendasi yang ada dalam kalender yang dirilis KKP.

Di dalam kalender tersebut, Sjarief menjelaskan, terdapat informasi dan data yang merinci tentang penyebab kematian massal ikan yang terjadi di keramba jaring apung (KJA). Kemudian, untuk memudahkan para pembudidaya, Pemerintah juga menyertakan informasi tentang upaya penanggulangan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal pada ikan.

“Kalender prediksi dan skema alur penanganan ini dapat membangun kesadaran pembudidaya dan para pengambil kebijakan untuk tidak menganggap sepele setiap kasus kematian massal ikan,” terang dia.

Sementara, Kepala Pusat Riset Perikanan BRSDM KP Toni Ruchimat menjelaskan, bagi para pembudidaya yang ada di Danau Toba, sebaiknya dari saat ini segera tingkatkan kewaspadaan dengan cara mempelajari kalender yang diterbitkan KKP. Di dalam kalender Prediksi Kematian Massal contohnya, para pembudidaya bisa mencermati tiga kategori tentang kondisi di perairan, yaitu aman, waspada, dan bahaya. “Itu berdasarkan penelitian di lapangan, jadi ada tiga kategori,” tuturnya.

Toni memaparkan, pada kategori aman, para pembudidaya KJA dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar dan daya dukung serta zonasi yang telah dilakukan. Kemudian, untuk kategori waspada, para pembudidaya KJA diminta untuk mengurangi pemberian pakan, pengurangan padat tebar ikan dalam KJA, memperhatikan perubahan kondisi lingkungan perairan, hingga melakukan panen lebih awal.

Sementara, menurut Toni, untuk kategori bahaya, tanda-tanda yang patut untuk dicermati para pembudidaya KJA, adalah jika temperatur air di KJA sudah dalam batas yang rendah, oksigen terlarut rendah kurang dari 3 miligram per liter, angin dan mendung sepanjang hari, serta terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi dan terus menerus. “Jika tanda-tanda itu muncul, maka itu sudah masuk kategori bahaya,” tuturnya.

Saat kondisi sudah ada dalam bahaya, Toni meminta kepada seluruh pembudidaya KJA di Danau Toba, untuk segera memanen ikan sudah siap panen, menghentikan kegiatan budidaya, memelihara ikan yang tahan terhadap kondisi perairan yang jelek, penambahan aerasi, dan relokasi KJA ke lokasi perairan yang lebih dalam.

Eceng Gondok

Lebih jauh Toni Ruchimat mengatakan, untuk mencegah terjadinya kematian massal pada ikan di KJA, pihaknya juga merekomendasikan penggunaan eceng gondok sebagai fitur mediasi pada air. Penggunaan eceng gondok, diketahui memiliki kemampuan menyerap logam berat dan residu pestisida yang muncul dari pakan ikan.

“Akar dari tumbuhan eceng gondok atau Eichhornia crassipes mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri,” jelasnya.

Tak hanya itu, Toni menyebutkan, pembudidaya juga bisa menggunakan hasil penelitian KKP berupa Buoy Pluto untuk peringatan dini pencemaran perairan. Buoy Pluto adalah alat pemantau kualitas air yang dapat diakses melalui internet (sistem telemetri). Dengan alat ini, para pembudidaya dapat memahami dan membaca keadaan lingkungan penyebab umbalan.

Selain itu, sambung dia, KKP juga memiliki KJA Sistem Manajemen Air dengan Resirkulasi dan Tanaman (SMART) yang merupakan sistem budidaya KJA dengan meminimalisir masukan bahan pencemar organik yang berasal dari pakan yang terbuang dan ekskresi ikan. KJA SMART memadukan sistem semi resirkulasi, akuaponik dan filtrasi fisik. Dengan menerapkan KJA SMART, diharapkan dapat menjadi solusi terhadap perbaikan dan konservasi perairan.

Last Updated on Tuesday, 18 September 2018 08:08 Read more...
 

Kima, Kerang yang Mitosnya Jadi Obat Kuat & Suka Diambil Wisatawan

E-mail Print PDF

Jakarta - Cangkang kerang kima seringkali diambil dan dijadikan oleh-oleh wisatawan yang main ke pantai. Supaya tak terjadi lagi, yuk kenal kima lebih dekat.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Salah satunya adalah kima, kerang cantik yang hidup di dalam karang. "Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Dr. Novi Susetyo Adi, Peneliti Bidang Ekologi Spasial Pesisir dan Laut, Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Senin (10/9/2018). Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. "Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Dr Novi. Tugas lain kima juga sebagai penyumbang kalsium karbonat pembentuk ekosistem terumbu karang. Sehingga kima juga sumber zooxanthellae (symbiodinium spp) yang bersimbiosis dengan hewan karang."Kima juga sebagai pencegah eutrofikasi (pengkayaan nutrien perairan akibat limbah organik) dengan fungsi filteringnya," papar Dr Novi. Di Indonesia, kima ini termasuk hewan yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Indonesia sendiri juga terikat suatu konvensi internasional yang melarang perdagangan endangered species (termasuk kima ini), yaitu konvensi CITES.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr-ing Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP. Menurutnya kima yang menjadi barang sitaan di Bandara Komodo kebanyakan adalah kima yang masih bagus. "Biasanya kima segede itu hidupnya di area terumbu karang yg masih bagus dan kedalamannya minimal 10 m, hidup di antara terumbu karang tersebut," ungkap Dr-ing Widodo. Jika cangkang kima yang sebesar itu ditemukan di pantai, artinya memang ada orang yang sengaja untuk mengkonsumsi dan meninggalkan cangkangnya begitu saja.
Kima tak hanya tinggal di antara karang, ada pula yang habitatnya di pasir. Namun biasanya hidup di dasar laut yang sangat jarang terjamah manusia. Selain enak, kima memiliki nilai sendiri bagi masyarakat pesisir. Mitosnya, daging kima dipercaya sebagai obat kuat. "Masyarakat lokal suka makan kima karena dipercaya bisa sebagai aprosidiak atau obat kuat sex," papar Dr-ing Widodo. Oleh karena itu sampai sekarang masih saja ada masyarakat yang suka memburu kima. Padahal mengganggu kelestarian kima jelas pelanggaran di mata hukum.
Yuk traveler, kita jaga dan lestarikan kima demi ekosistem laut yang sehat!

Sumber :Travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 15:04
 

Jangan Ambil Lagi Pasir dan Kerang! Ini Aturan yang Melarangnya

E-mail Print PDF


Jakarta - Pengambilan pasir atau kerang untuk jadi suvenir, rupanya jadi tindak pelanggaran. Dilindungi pemerintah, ini peraturannya.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Tahukah traveler, kalau melakukan aksi ini adalah pelanggaran di mata hukum?
"Ini jelas kerang kima. Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Novi Susetyo Adi, Peneliti Muda Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Sabtu (8/9/2018).
Di Indonesia kima ini termasuk hewan yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Indonesia sendiri juga terikat suatu konvensi international yang melarang perdagangan endangered species (termasuk kima ini), yaitu konvensi CITES. Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. 
"Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Novi. Tak hanya kima, dari foto juga terlihat karang bercabang. Karang ini berukuran kecil dan kerap jadi suvenir dari pantai. "Intinya hampir sama dengan kima tadi. Beberapa spesies karang juga masuk dalam IUCN red list dan juga masuk ke dalam daftar appendix CITES," ungkap Novi.
Selain kerang dan karang, pasir juga jadi suvenir saat berkunjung ke pantai. Apalagi Pantai Pink yang punya pasir cantik. "Pengambilan pasir pantai ini bisa dikaitkan dengan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perusakan lingkungan, misal UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup," tambah Novi.
Hilangnya pasir, mematikan atau mengganggu kima, membawa karang berarti akan mengganggu atau bahkan mematikan fungsi-fungsi ekologis dari mereka. Hal ini akan berdampak pada rusaknya alam dan hilangnya ekosistem laut.

Sumber : Travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:16
 

Kata Peneliti Soal Pengambilan Pasir Laut dan Karang di Pulau Komodo

E-mail Print PDF


Jakarta - Tren wisatawan yang mengambil pasir dan kerang untuk suvenir sebenarnya sudah lama terjadi dan makin mengkhawatirkan. Begini kata peneliti.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Rupanya aksi ini bisa meninggalkan dampak negatif untuk alam. "Ini jelas kerang kima. Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Novi Susetyo Adi, Peneliti Muda Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Sabtu (8/9/2018).

Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. "Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Novi. Tugas lain kima juga sebagai penyumbang kalsium karbonat pembentuk ekosistem terumbu karang. Sehingga kima juga sumber zooxanthellae (symbiodinium spp) yang bersimbiosis dengan hewan karang.

"Kima juga sebagai pencegah eutrofikasi (pengkayaan nutrien perairan akibat limbah organik) dengan fungsi filteringnya," papar Novi. Hidup menyatu dengan karang, pengambilan kima berarti juga merusak dan membunuh karang. Hal ini menjadi hal yang harus dipahami oleh traveler yang mau main ke pantai. Tak hanya kerang, karang bercabang dan pasir pun terlihat jadi barang sitaan pihak bandara. Rupanya karang bercabang pun juga ikut menjadi daftar suvenir dari laut. Padahal beberapa karang tersebut juga masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi. Karang mempunyai fungsi ekologis yang beragam.

"Karang sebagai tempat berlindung dan habitat ikan-ikan karang dan juga sebagai peredam gelombang sehingga pantai tidak abrasi," ungkap Novi. Novi menambahkan bahwa karang juga mempunyai fungsi ekonomi. Melalui funsinya karang sebagai pendukung perikanan tadi dan ekoturisme yang dimanfaatkan industri pariwisata dan masyarakat pesisir. "Jadi kalau karang hilang, sektor perikanan karang menurun dan kalau berlanjut hilang, dan juga pariwisata hilang," tambah Novi.

Bukan cuma kima dan kerang bercabang yang seringkali jadi oleh-oleh dari pantai. Pasir pun juga masuk daftar. Seringkali wisatawan mengambil pasir pantai dan dimasukkan ke dalam botol sebagai kenang-kenangan. Apalagi di Pantai Pink!

Walau tak dilindungi namun pengambilan pasir pantai juga merupakan kegiatan yang merusak lingkungan. "Dari sisi ekologi, pantai berpasir sendiri mempunyai beberapa layanan ekosistem (ecosystem services) antara lain sebagai transpor dan penyimpan sedimen, pemecah gelombang sehingga mencegah abrasi (pelindung pantai)," ujar Novi.

Pasir berfungsi sebagai pemfilter dan tempat dekomposisi akhir bahan organik dan polutan. Tak hanya itu, pasir pantai juga jadi tempat bertelur penyu, habitat burung laut, dll. Hilangnya pasir berarti akan menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi ekologis tadi. Melihat hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa suvenir berbentuk pasir, kima dan karang akan berakibat buruk. Bukan hanya bagi laut, tapi juga masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup di sana.

Yuk, kita jadi wisatawan cerdas yang bertanggung jawab!

Sumber :travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:07
 

AIS Mini Adalah Produk Unggulan Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Wakatobi

E-mail Print PDF


Jakarta, 10 September 2018. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi memiliki Stasiun Radar Pantai yang telah beroperasi sejak tahun 2012. Radar pantai tersebut hingga sekarang dipakai untuk memantau lalu lintas kapal. Radar pantai LPTK Wakatobi memiliki 3 teknologi utama yakni Radar X-Band yang digunakan untuk mendeteksi lokasi, arah gerak dan kecepatan kapal, AIS Base Station yang digunakan untuk mengidentifikasi objek radar memanfaatkan transponder AIS pada kapal, dan Long Range Camera yang digunakan untuk mengidentifikasi visual kapal, memvalidasi data radar dan AIS dengan kondisi sesungguhnya. Kemudian data hasil pantauan radar tersebut diserahkan kepada autoritas setempat seperti TNI AL dan Bakamla serta Polairud.

Para peneliti dan perekayasa LPTK Wakatobi mempelajari teknologi radar tersebut lalu mengkonstruksi atau merekayasa AIS versi mini,  berupa transponder  AIS berukuran kecil untuk meningkatkan keselamatan nelayan, khususnya nelayan kecil (<3 GT). Beberapa kelebihan dari AIS mini adalah ukurannnya yang kecil dan ringan sehingga tidak membutuhkan banyak ruang, serta mudah dioperasikan dan tahan lama dengan hasil yang akurat serta harganya yang terjangkau.

AIS (Automatic Identification System) adalah sebuah sistem pelacakan otomatis yang digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu llintas kapal untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain, BTS AIS dan satelit. Hingga saat ini AIS wajib dipasang pada semua kapal dengan tonase > 300GT dan kapal penumpang.

Dengan dikembangkannya AIS mini diharapkan kecelakaan laut yang sering terjadi di Kabupaten Wakatobi seperti kapal hanyut, nelayan hilang dan kapal tenggelam yang dialami oleh nelayan kecil pencari tuna dapat dihindari.


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:05