Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Radar Penangkap Kapal Pelaku Illegal Fishing

E-mail Print PDF

Jembrana – Data satelit radar terus diaktifkan sebagai komitmen Indonesia dalam memberantas kapal pelaku illegal fishing. Aplikasi pemanfaatan data radar untuk Illegal, Unreported and Unregulated (IUUFishing ini dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Perancak Bali.

Kepala Badan Riset Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Prof R. Sjarief Widjaja PhD, FRINA mengatakan, pemberantasan IUU fishing sebagai aksi nyata dari misi KKP. Hal ini untuk menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan. Pelanggaran IUU Fishing yang terjadi di Indonesia dilakukan kapal ikan asing yang berasal dari berbagai negara.

Stasiun bumi radar satelit di BROL, Unit Pelaksana Teknis Pusat Riset Kelautan, satu-satunya di Indonesia dan Asia. Dalam pemrosesan, radar satelit menerima langsung downlink data RADARSAT-2 dan COSMO-SKYMED.
Proses downlink data radar tersebut memungkinkan untuk mengetahui keberadaan kapal pelaku IUU Fishing. Kapal illegal fishing dapat diketahui secara real-time, sehingga informasi segera ditindaklanjuti dengan penangkapan.

Pengaktifan stasiun bumi ini menjadi momentum sangat penting menjaga keutuhan dan kedaulautan NKRI. Data satelit radar ini dapat dimanfatkan secara langsung oleh Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan – KKP, Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Ilegal (Satgas 115), Badan Keamanan Laut, TNI AL, Bea Cukai dan POLAIRUD – POLRI.

Komitmen Indonesia dalam memerangi IUU Fishing sangat besar. Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan menyatakan bahwa negara Indonesia berkomitmen dalam pemberantasan IUU Fishing. Pada
KKP telah membuat terobosan dalam memerangi pelaku IUU Fishing dan menjaga kedaulatan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia. Terobosan ini dengan memutakhirkan peralatan-peralatan pengawasan, serta infrastruktur pendukung.

Dalam melakukan pengawasan juga menggabungkan teknologi Monitoring, Control and Surveillance (MCS) agar operasi IUU Fishing dapat dilakukan secara optimal. Langkah strategis dengan membangun sarana pengawasan secara komprehensif melalui pemanfaatan data satelit radar merupakan jawaban atas tantangan dalam rangka pemberantasan IUU Fishing.

Integrasi satelit radar dengan Vessel Monitoring Systems (VMS) memberikan hasil yang lebih baik. Kapal ilegal yang tidak terpantau VMS, tetap diketahui keberadaannya karena terpantau satelit radar.*

 Sumber : darilaut.id


Last Updated on Friday, 31 August 2018 11:12
 

Laut Nusantara, Aplikasi Kelautan untuk Nelayan

E-mail Print PDF

Jembrana, Bali, CNN Indonesia - Indonesia sebagai negara kepulauan diapit oleh banyak laut dan samudra. Profesi nelayan menjadi salah satu yang utama karena posisi negara kepulauan.
Namun, saat ini kondisi laut yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan. Melihat potensi dan kebutuhan teknologi informasi sektor tersebut, Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan XL Axiata berkolaborasi dan meluncurkan aplikasi Android yang membantu peningkatan produktivitas dan keamanan kerja nelayan Indonesia.
Aplikasi yang dinamakan Laut Nusantara mengakses informasi terkini terkait laut Indonesia. Kepala BROL I Nyoman Radiarta, mengatakan, aplikasi ini menyediakan peringatan keselamatan bagi nelayan ketika melaut. Laut Nusantara memberikan informasi arah dan ketinggian gelombang perairan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sebelum berangkat melaut, nelayan juga bisa mengakses segala informasi cuaca perairan, yaitu arah angin, kecepatan angin, curah hujan, dan kondisi cuaca. Berdasarkan informasi ini, aplikasi bisa memberikan anjuran apakah aman atau berbahaya untuk melaut.

"Aplikasi Laut Nusantara ini memiliki basis data yang lengkap dan real time sangat bermanfaat bagi para nelayan di seluruh wilayah Indonesia. Selain informasi mengenai keberadaan ikan di lautan, juga ada informasi mengenai kondisi cuaca mempertimbangkan keselamatannya," kata Nyoman di kantor BROL, Jembrana, Bali, Kamis (30/8).
Nyoman mengatakan agar dapat meningkatkan produktivitas nelayan, aplikasi ini menginformasikan daerah perkiraan tangkapan ikan. Aplikasi ini juga memungkinkan nelayan dapat memperhitungkan jumlah BBM yang dikonsumsi untuk menuju ke titik tangkapan ikan. Selain itu nelayan juga bisa mendapatkan informasi real time terkait harga ikan yang di pelabuhan.

"Nelayan kini sudah meninggalkan metode tradisional oseanografi. Sekarang nelayan bisa menggunakan metode menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas," kata Nyoman.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Teknologi XL Axiata, Yessie D Yosetya mengatakan aplikasi besutan in house XL Axiata ini menggunakan data-data oseanografi real time resmi dari BROL. Oleh karena itu, menurutnya data ini sangat akurat.
Sebelumnya Yessie memaparkan sebelumnya XL Axiata sebelumnya sudah memiliki aplikasi untuk nelayan "mFish". Kendati demikian, Yessie mengakui data-data mFish masih menggunakan data open source yang kurang real time.
" Yang membedakan aplikasi Laut Nusantara dengan aplikasi sebelumnya adalah basis informasi yang lebih lengkap dan real time, serta sumber data sepenuhnya disuplai oleh data resmi dari BROL," ujar Yessie.
Aplikasi Laut Nusantara bisa diunduh di Play Store tidak hanya oleh pengguna XL, tapi pengguna operator lain. Aplikasi ini akan mengunduh dan memperbarui data dari BROL sehingga nelayan bisa tetap menggunakan data ketika tidak ada jaringan internet.

Sumber : CNN Indonesia


Last Updated on Friday, 31 August 2018 10:47
 

Pakai Aplikasi, Nelayan Dijanjikan Lebih Mudah Tangkap Ikan

E-mail Print PDF

Jembrana, Bali, CNN Indonesia. Aplikasi Android Laut Nusantara diklaim bisa membuat nelayan lebih mudah menangkap ikan dan meningkatkan produktivitas hingga 50 persen. Hal ini diungkap Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP, Syarief Widjaya.
Menurut Kepala BROL I Nyoman Radiarta, lewat aplikasi nelayan bisa lebih efektif mendapat lokasi tangkapan ikan dibandingkan dengan metode tradisional. Nelayan bisa langsung mengarahkan ke peta lokasi ikan.
"Akurasi berdasarkan hasil kajian mencapai 50 persen. Artinya bisa dipastikan bahwa 50 persen peluang mendapatkan ikan dilokasi yang dipetakan. Kalau musim lagi bagus akurasi bisa mencapai 70 persen," kata Nyoman. 
Peningkatan produktivitas ini menurut Syarief bisa meningkatkan sumbangan produk domestik bruto (PDB) dari bidang perikanan. Saat ini PDB perikanan hanya di angka 3,89 persen. Angka ini cukup rendah mengingat potensi kekayaan laut Indonesia dengan luas 5,8 juta km persegi.
"Kita harus bangunkan raksasa tidur. Kita punya 620 ribu unit perahu nelayan, jumlah ini terbesar di dunia. Kita punya 2,7 juta nelayan dan pada 2017, potensi tangkapan 12, 5 juta ikan per tahun," kata Syarief. 
Aplikasi Laut Nusantara ini merupakan hasil kerjasama Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan XL Axiata. Aplikasi tersebut baru meluncur bagi pengguna Android. 

Last Updated on Friday, 31 August 2018 10:41 Read more...
 

Pusat Riset Kelautan Siap Sumbangkan Pemikiran untuk Persiapan COP-24 UNFCCC Polandia 2018

E-mail Print PDF

Jakarta, 31 Agustus 2018. Bertempat di Auditorium Dr. Soedjarwo, Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti, KLHK pada hari Selasa, 28 Agustus 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan pertemuan Kick-off Meeting Persiapan Indonesia pada COP-24 UNFCCC, Katowice, Polandia 3 – 14 Desember 2018. Tujuan dari pelaksanaan pertemuan kick-off meeting yang diselenggarakan oleh KLHK selaku selaku National Focal Point for UNFCCC adalah sebagai persiapan awal Delegasi Indonesia pada “Pertemuan Para Negara Pihak UNFCCC ke-24 (the twenty-fourth session of the Conference of the Parties/COP24/CMP14/CMA1.3 dan SBI49, SBSTA49)” atau disebut secara informal COP24 UNFCCC di Katowice, Polandia.

Acara dibuka oleh sambutan Ir. Ilyas Arsyad, MP., MH selaku Staf Ahli KLHK dengan arahannya terkait tujuan diselenggarakannya kick-off meeting kali ini serta review dari pelaksanaan pertemuan United Nations Climate Change Conference yang telah dilaksanakan di Bonn, Jerman, 6-17 November 2017 lalu. Selanjutnya agenda pertemuan dilanjutnya dengan sesi paparan yang dimoderatori oleh Ir. Laksmi Dhewanthie, M.A selaku Staf Ahli Menteri LHK Bidang Industri Perdagangan Internasional. Sesi paparan terdiri dari 3 (tiga) narasumber yakni oleh Dr. Ir. Nur Masripatin, M.For. Sc selaku Penasehat Senior Menteri LHK Bidang Perubahan Iklim dan Konvensi, Dr. Ir. Ruandha Agung Sugardiman selaku Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, dan Dr. Ir. Agus Justianto, M.Sc selaku Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi KLHK.

Berdasarkan hasil COP-23 di Bonn, Jerman maka ditentukan adanya penegasan penyelesaian keseluruhan paket Paris Agreement Work Program (PAWP) yang akan dilaksanakan pada COP-24 di Katowice, Polandia 2018 dan dengan negoisasi tambahan melalui Bangkok Climate Change Conference, 4-9 September 2018. Mengingat pentingnya agenda COP-24 ini, maka KLHK nantinya akan kembali mengadakan pertemuan-pertemuan kick-off meeting lanjutan untuk lebih mempersiapkan para Delegasi Indonesia. Hadir mewakili Pusat Riset Kelautan, Dr. Anastasia R.T.D. K didampingi oleh Staff Datin dan Lab. Data Laut dan Pesisir Armyanda Tussadiah, S.Kel. Dr. Anastasia telah berpatisipasi aktif dan mengikuti pertemuan Climate Change Conference yang mengawal lembar kebijakan Indonesia untuk pergerakan adaptasi perubahan iklim.

Link Berita Terkait:


Last Updated on Friday, 31 August 2018 10:42
 

Pusris Kelautan Terbitkan Buku Bunga Rampai

E-mail Print PDF


Jakarta, 30 Agustus 2018.  Buku “Bunga Rampai Iptek dan Sumber Daya Pesisir Untuk Pengembangan Blue Economy Di Pulau Lombok” yang disusun oleh Dr. Taslim Arifin, Yuluis, M.Si., Eva Mustikasari, M.Si., Aida Heriati, MT, MEng., dan Muhammad Ramdan, MT. merupakan kompilasi beberapa bab terkait ekologi dan budidaya perairan serta kondisi sosial ekonomi dan pengelolaan sumberdaya pesisir. Buku ini cocok untuk di baca oleh para pengambil kebijakan terkait pengelolaan sumber daya laut dan pesisir dan juga dapat menjadi rujukan ilmiah bagi para peneliti, mahasisiwa yang melakukan studi S1, S2, dan S3. Pusat Riset Kelautan juga pernah menerbitkan Buku Blue Economi lainnya pada tahun 2015.  Buku terbitan Pusris Kelautan ini bisa  didapat secara gratis  dengan mengunjungi kantor Pusat Riset Kelautan dan membawa surat permohonan permintaan buku yang ditujukan kepada Kepala Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Gedung BRSDMKP 2 Lantai 2, Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara.


Jakarta, 30 Agustus 2018.  Buku terbitan Pusris Kelautan ini bisa  didapat secara gratis  dengan mengunjungi kantor Pusat Riset Kelautan dan membawa surat permohonan permintaan buku yang ditujukan kepada Kepala Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Gedung BRSDMKP 2 Lantai 2, Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara. Beberapa buku yang ada yakni “Profil Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud Propinsi Selawesi Utara”, dengan tim penyusun Agus Setiawan, Freddy Supriadi, Gries Elvina Noor, Muhammad Fadli dan Ari Murdimanto. Buku “Potensi Wisata Bahari Pulau Karabak Kretek” yang disusun oleh Try Altanto, Aprizon Putra dan Semeidi Husrin. Buku “Panduan Survei Toponim Selat Di Indonesia” yang disusun oleh Yulius, M.Si dan Hadiwijaya Lesmana Salim, M.Si. Buku “Bunga Rampai Iptek dan Sumber Daya Pesisir Untuk Pengembangan Blue Economy Di Pulau Lombok” yang di susun oleh Dr. Taslim Arifin, Yuluis, M.Si., Eva Mustikasari, M.Si., Aida Heriati, MT, MEng., dan Muhammad Ramdan, MT.

Last Updated on Thursday, 30 August 2018 08:47
 

Poros Riset Maritim Indonesia Tiongkok Akan Kembali Diperkuat

E-mail Print PDF


Jakarta, 28 Agustus 2018. Indonesia Tiongkok pernah mengalami kejayaan melakukan riset bidang maritim sepanjang tahun 2006 hingga 2015, dengan wujud eksistensi dari Pusat Kelautan Indonesia Tiongkok atau lebih dikenal sebagai Indonesia China Center for Ocean Climate (ICCOC). ICCOC dioperasionalisasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama State Oceanic of Administration (SOA) P.R. China. Dimana KKP dalam operasionalisasinya bermitra dengan Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, dan Institut Teknologi Bandung.
Pada 21 Agustus 2018, Bertempat di Gedung Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut (PKSPL) Institut Pertanian Bogor (IPB), dilakukan pembahasan kerjasama Indonesia Tiongkok yang dilakukan oleh PKSPL dengan Coastal and Ocean Management Institute (COMI). COMI berafiliasi dibawah Xiamen University (XMU). Pada tahun 2015, pernah dilakukan inisiasi kerjasama antara XMU dengan KKP namun mengalami kebuntuan. Pada pertemuan di PKSPL tersebut, Chair-woman ICCOC yakni Dr. Anastasia Tisiana Dwi Kuswardani memaparkan milestone kerjasama Indonesia Tiongkok yang pernah dicapai. Dr. Anna, begitu sapaan akrabnya, memaparkan berbagai kegiatan riset, analisis lab, workshop, dan pelayaran ilmiah (scientific cruise) yang telah dilakukan sepanjang 2007 hingga 2015.


Sinyal baik dari  Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Prof. Dr. Sjarif Widjaja, M.Sc, FRINA, baru-baru ini pada 2018, merestui untuk dihidupkan dan diperkuat kembali kerjasama Indonesia Tiongkok. Direktur PKSPL, Dr.rer.nat. Ario Damar, sangat mengharapkan kerjasama PKSPL dengan COMI dapat diperluas dengan melibatkan KKP. Hal ini sejalan dengan yang diharapkan oleh Prof. Dr. Luky Adrianto selaku salah satu founder konsorsium Sino Indonesia Marine Allied Research Strategic (SIMARS). Menurut Dekan FPIK IPB yang lebih akrab disapa sebagai Prof Luky, dengan menggunakan payung konsorsium SIMARS, kerjasama dapat semakin integratif dan berpotensi meluas secara internasional.
Pada awalnya abreviasi SIMARS, saat dicetuskan di Xiamen pada 24-25 November 2016 bersama Prof. Dr. Minhan Dai adalah "Sino - Indonesian consortium of Marine And fisheRies Studies, tambah Prof Luky. Prof Minhan pada saat itu adalah Direktur dari State Key Laboratory of Marine Environmental Science, XMU. Turut hadir para anggota SIMARS yang lain adalah Dr. Agus Supangat (Pusat Riset Iklim Laut ITB), Dr. I Wayan Nurjaya (Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB), dan Dr. Widodo Pranowo (peneliti Pusat Riset Kelautan). Diskusi dengan delegasi COMI yang terdiri dari Prof. Xionh-Zhi Xue (Executive Director), Dr. Phoebe (Director of International Affairs), dan Dr. Lin (Director of Finance), makin hangat dengan bergabungnya Prof. Dr. Arif Satria (Rektor IPB) pada sesi siang. Pertemuan diakhiri dengan acara potong tumpeng karena bertepatan dengan ulang tahun PKSPL ke-22. Saat ini, terdapat beberapa staf peneliti KKP masih menjalani pendidikan doktoral (S3) di XMU, antara lain: Salvienty Makarim (Pusat Riset Kelautan), Faisal Hamzah (Balai Riset dan Observasi Laut), dan Agusman (Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan).

Berita terkait :


Last Updated on Wednesday, 29 August 2018 13:33