Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Pusat Riset Kelautan Buka Peluang Kerjasama Penelitian Dalam Acara Kuliah Tamu di UGM

E-mail Print PDF

Jakarta, 1 Oktober 2018.  Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. Semeidi Husrin dan Kepala Bidang Riset Mitigasi, Adaptasi dan Konservasi (MAK) Triyono, MT menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum “Analisis Kerentanan Pesisir dari Sisi Tehnik Pantai” yang digelar oleh Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. Acara dilaksanakan di Ruang Auditorium Merapi, Fakultas Geografi  Universitas Gajah Mada, pada hari Kamis 27 September 2018. Pada saat acara terlebih dahulu Kepala Bidang MAK TRiyono, MT menjelaskan mengenai Pusat Riset Kelautan terutama terkait dengan peluang kerjasama penelitian di bidang kerentanan pesisir, dilanjutkan dengan pemaparan Dr. Semeidi yang menjelaskan mengenai kerentanan pesisir dan pulau–pulau kecil ditinjau dari segi teknik pantai dan kaitannya dengan ilmu geografi. Dari hasil kuliah umum ini berhasil dijaring sebanyak 3 (tiga) orang mahasiswa untuk melaksanakan skripsi di Pusat Riset Kelautan terkait dengan karbon biru mangrove dan air tanah di pulau kecil.


Last Updated on Wednesday, 03 October 2018 10:56
 

Pemantauan Batas Wilayah Laut Menggunakan Analisa Sediment Transport Di Perairan Merauke Papua

E-mail Print PDF


Universitas Indonesia, Depok - Penentuan Batas Laut Teritorial antara suatu negara dengan negara seberangnya atau berjajar berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982 berdasarkan kesepakatan menentukan titik pangkal dan batas wilayah diantara dua negara. Salah satu perairan yang mempunyai perbatasan laut dengan negara lain ialah Perairan Arafuru Kabupaten Merauke Papua yaitu berbatasan langsung dengan teritorial Papua New Guenia (PNG) dan Australia dengan Sungai Torasi sebagai tempat yang dijadikan penetepan titik pangkal/titik dasar. Berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2002 terdapat 5 titik dasar yang terletak di sekitar Perairan Sungai Torasi yaitu TD.082, TD.082 A, TD.082 B, TD.082 C dan TD.083, dengan berdekatannya titik tersebut di sekitar muara sungai Torasi diyakini terdapat perubahan (morfologi) pada keberadaan titik tersebut.

Morfologi pantai secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk pantai. Morfologi pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan oleh karena ada banyak proses yang terjadi di dalamnya baik itu proses yang berawal dari daratan maupun dari lautan, kedua proses tersebut bertemu di pantai. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal seperi pasang surut, gelombang, arus laut, jenis batuan, dan lainnya. Namun, secara sederhana, perubahan pantai diakibatkan oleh dua kejadian alam yang disebut dengan abrasi dan sedimentasi. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan banyak metode yang dapat diterapkan dalam memahami fenomena tersebut seperti pembuatan model numerik dan juga pengaplikasian citra satelit.

Jumat, 28 September 2018 bertempat di Gedung A FMIPA Universitas Indonesia telah dilaksanakan sidang tesis dengan topik Dinamika Morfologi Pantai Dalam Pemantauan Batas Wilayah Laut Menggunakan Analisa Sediment Transport Di Perairan Merauke Papua oleh I Wayan Sumardana Eka Putra dengan Tim Penguji terdiri dari Dr.rer.nat Mufti Petala Patria, M.Sc (UI), Dr. Abinawanto, M.Si (UI), Dr. Supriatna, M.T (UI), Drs. Sundowo Harminto, M.Sc (UI) dan Dr.-Ing Semeidi Husrin, S.T., M.Sc (Pusat Riset Kelautan KKP). Penelitian yang dilaksanakan mempunyai tujuan untuk memantau keberadaan titik dasar di sekitar perairan Sungai Torasi Merauke Papua akibat adanya fenomena dinamika morfologi pantai (sedimentasi atau erosi) dengan mengaplikasikan penggunaan citra satelit pembuatan model hidrodinamika menggunakan software Delft 3D-Flow yang diverifikasi dengan data hasil survey yang dilaksanaan oleh tim survei Pushidrosal pada tahun 2016, hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian tersebut ialah dapat diketahuinya pergerakan sedimen yang bergerak ke arah barat dan timur serta adanya proses sedimentasi maupun erosi yang terjadi pada titik dasar milik Indonesia akan tetapi perubahan yang terjadi tidak serta merta mengubah kesepakatan batas wilayah laut antara Indonesia dengan Papua New Guenia dikarenakan perubahan titik dasar akibat faktor alam tidak akan merubah status titik dasar (Pasal 9 UNCLOS 1982 tentang Mulut Sungai). Meskipun dalam penelitian yang dilakukan masih terdapat kekurangan diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat mendorong dan memberikan gambaran tentang kondisi titik dasar Indonesia pada wilayah tersebut. Secara umum diharapkan juga terjadi keselarasan antara pihak terkait baik dari institusi pemerintahan dan pendidikan dalam proses pengembangan daerah – daerah terluar demi terciptanya pemerataan di segala bidang.



Last Updated on Tuesday, 02 October 2018 07:40
 

Dari Wakatobi Untuk NKRI, SOLUSI NELAYAN HILANG DARI LPTK BRSDM KP: Sebuah Refleksi dari Berita Viral Hilangnya Nelayan (Aldi)

E-mail Print PDF

Kasus hilangnya Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang 1,5 bulan hanyut terombang-ambing hingga di Perairan Laut Jepang, bukanlah satu-satunya kasus nelayan hilang yang terjadi di Indonesia. Di Wakatobi kejadian serupa (hilang) bahkan rata-rata setiap bulannya terjadi, walaupun perbedaannya dengan insiden Aldi, hanya pada sarana yang dipakai dan durasi waktu hilangnya.  Tidak mustahil banyak kasus serupa yang tidak terekspos menimpa nelayan kita.

LPTK BRSDM KP dan tentu kita semua perihatin dengan kejadian-kejadian berulang seperti ini.  Dalam dua tahun terakhir, LPTK BRSDM KP telah mengambil bagian dalam upaya mengurangi risiko insiden hanyutnya nelayan tradisional melalui riset dan pengembangan teknologi mitigasi kecelakaan laut. Teknologi yang dihasilkan adalah Wakatobi AIS (nama sementara yang diusulkan). WAKATOBI AIS merupakan akronim dari WAhana KeselAmatan dan PemanTauan Obyek Berbasis Informasi AIS.

Dari banyaknya faktor terkait keselamatan nelayan, terdapat tiga simpul masalah utama yang dihadapi oleh nelayan, khususnya nelayan tradisional yang dapat didukung oleh teknologi. Yang pertama adalah terkait dengan kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan. Kedua terkait dengan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang berkelanjutan sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut. Dan yang ketiga adalah sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut sehingga upaya penyelamatan tidak dapat segera diselenggarakan.

LPTK BRSDM KP berkontribusi untuk memastikan negara hadir dalam menyelamatkan pelaku perikanan kita khususnya mendukung keterpantauan nelayan dan meningkatkan kemampuan menginformasikan kondisi darurat yang dialami.  Teknologi ini diberi nama WAKATOBI AIS didesain untuk friendly dengan nelayan kecil kita. Untuk upaya minimalisasi resiko melaut seperti kasus yang menimpa Aldi, telah tersedia tombol distress yang digunakan untuk mengirim informasi SOS ke pusat kendali informasi laut Base Station LPTK secara eksisting berdasarkan waktu dan lokasi kejadian (kalaupun posisi kapal yang mengirimkan SOS di luar jangkauan jaringan Base Station, maka identitas kapal dapat dijangkau oleh semua jenis kapal yang menggunakan AIS di sekitar kejadian). Yang selanjutnya informasi tersebut akan diteruskan ke Pihak yang berwewenang untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Last Updated on Thursday, 27 September 2018 13:11
 

Kenapa Aldi 'Life of Pi' Bisa Hanyut ke Guam, Ini Penjelasannya

E-mail Print PDF

Jakarta - Aldi Novel 'Life of Pi' jadi pusat perhatian karena terombang-ambing dari Sulawesi ke perairan Guam. Ini penjelasan dari ahli oseanografi.

Aldi Novel Adilang (19) adalah seorang pemuda asal Manado yang viral di media. Aldi berhasil bertahan hidup di atas rumah rakit atau rompong selama 49 hari. Dia bisa pulang ke Indonesia dibantu oleh KJRI Osaka.

Aldi berada di tengah lautan pada pertengahan Juli dan hanyut sampai September. Aldi hanyut terbawa arus dari Manado menuju ke arah timur laut sampai ke Perairan Guam."Ketika tiba di sekitaran utara Pulau Halmahera, dia (Aldi) terbawa hanyut semakin ke timur oleh Arus Pusaran yang bernama Halmahera Eddy. Aldi terus terbawa hingga mencapai sekitaran 150 derajat Bujur Timur," ujar Dr Ing Widodo S Pranowo, Ketua Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan KKP kepada detikTravel, Selasa (25/9/2018).

Widodo menjelaskan, ketika Aldi dibawa semakin ke timur, arus Halmahera Eddy semakin melemah. Ketika Halmahera Eddy melemah, Aldi dihanyutkan oleh arus menuju ke Barat Laut menuju ke arah sekitaran Guam

"Kemungkinannya, itu ada siklon tropis Jebi 28 Agustus hingga 1 September. Beruntung ditemukan pada pada 31 Agustus 2018," jelas Widodo yang juga Pengajar Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut.

Jarak antara posisi kapal dengan jalur siklon tropis sekitar 500-600 km. Jarak ini memang terlihat sangat jauh. Namun dari sisi fenomena alam, jarak ini tetap berpengaruh kepada kondisi kecepatan arus permukaan laut.

Ketika siklon tropis ini melintas, kemungkinan menarik massa air permukaan di sisi tenggara hingga barat daya. Sehingga menghasilkan arus yang menghanyutkan Aldi setelah adanya Halmahera Eddy.

"Siklon ini membawa Aldi menuju ke arah barat laut ke arah Guam," papar Widodo. (bnl/fay)

Sumber : Travel.detik.com



Last Updated on Thursday, 27 September 2018 07:00
 

Peneliti Pusat Riset Kelautan Berikan Materi Pada Masa Orientasi Studi Mahasiswa Baru Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta

E-mail Print PDF

Jakarta, 24 September 2018. Peneliti Madya Pusat Riset Kelautan Dr. Widodo Pranowo diundang oleh Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Perikanan (PPs STP) untuk menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Masa Orientasi Studi Program Calon Maahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Perikanan pada hari Kamis tanggal 20 September 2018.  Acara berlangsung di Ruang VIP PPs STP Jakarta, dan dihadiri oleh  peserta Masa Orientasi Studi (MOS) Program Pasca Sarjana Angkatan VIII berjumlah kurang lebih 40 orang mahasiswa baru. Dimana 17 orang diantaranya adalah para guru SUPM/Politeknik yang mendapatkan beasiswa Pusat Pendidikan (Pusdik) BRSDM KKP. Pada saat pemberian materi dengan judul “ Pemodelan Numerik Hidrodinamika dan Transport Untuk Aplikasi Kelautan dan Perikanan” tampak hadir beberapa pejabat STP diantaranya Dr. Suharyanto (Direktur Pasca sarjana STP), dan Dr. Yasser (Sekretaris Program). Pada awalnya direncanakan Kepala Badan Riset dan SDMKP Prof, Sjarief Widjaja akan hadir pada acara MOS tersebut, namun dibatalkan karena adanya kegiatan lain.

Pusat Riset Kelautan sudah sering melaksanakan kolaborasi riset cruise dengan menggunakan kapal latih milik STP, yakni Madidihang 3 untuk survei riset upwelling di Samudera Hindia Barat Sumatra dan Selatan Jawa pada tahun 2010 hingga 2015.

Berita Terkait : Rapat Persiapan MOMSEI Cruise P3SDLP dengan STP


Last Updated on Wednesday, 26 September 2018 08:14
 

”Laut Nusantara” Mudahkan Nelayan Tangkap Ikan

E-mail Print PDF

Wayan Kartika (45), nelayan asal Perancak, Jembrana, Bali, biasanya menangkap ikan di perairan Tabanan, sekitar 17 kilometer dari kampungnya.

”Sudah bertahun-tahun saya melaut. Seperti nelayan lainnya, saya hanya menebak-nebak lokasi ikan berkumpul. Tapi, setelah saya mengunduh aplikasi Laut Nusantara, saya mengetahui persis lokasi untuk menangkap ikan,” kata Wayan.

Setelah menggunakan aplikasi Laut Nusantara, lanjut Wayan, jumlah ikan yang didapatnya meningkat dua kali lipat, dari 5-10 kilogram menjadi sekitar 20 kilogram.

Hal senada disampaikan Mispandi, nelayan Air Kuning. ”Nelayan menikmati teknologi. Berkat aplikasi ini, kami lebih mudah mendapatkan ikan,” katanya, beberapa waktu lalu.

Aplikasi Laut Nusantara diciptakan untuk membantu nelayan kecil perseorangan yang selama ini mengandalkan tangkapan untuk menopang kehidupan keluarga mereka sehari-hari.

Aplikasi ini hasil kolaborasi antara Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk.

”Selain memuat informasi tentang lokasi ikan di lautan, aplikasi ini memberi informasi tentang kondisi cuaca. Ini sangat bermanfaat dan menjadi panduan bagi nelayan,” kata Kepala BROL Dr I Nyoman Radiarta, MSc di Jembrana.

Sampai pertengahan September, sudah 1.500 orang yang mengunduh aplikasi Laut Nusantara dan sebagian besar nelayan. Saat ini, aplikasi ini baru tersedia untuk sistem operasi Android. Karena sistem iOS lebih rumit dan membutuhkan verifikasi dari Apple, pengguna ponsel iPhone masih harus bersabar menunggu.

Last Updated on Monday, 24 September 2018 07:48 Read more...