Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Pusat Riset Kelautan Sebagai Harmonisator Data Timnas Penanggulangan Tumpahan Minyak Di Laut

E-mail Print PDF

Jakarta, 20 Maret 2018. Rakor dan fasilitasi penyusunan dokumen tuntutan ganti rugi pencemaran tumpahan minyak di kawasan Batam - Bintan, pada 15-16 Maret 2018, dihadiri oleh para anggota instansi lintas kementerian dan perguruan tinggi. LAPAN memaparkan hasil analisis terkini deteksi citra satelit. P2O LIPI menampilkan data ekosistem laut dan pesisir. Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Pusat Riset Kelautan, dan KLHK menampilkan pemodelan tumpahan minyak. Badan Keamana Laut (Bakamla) menyerahkan data AIS untuk disinergikan dengan data kejadian tumpahan minyak Kemenhub. Pemda Provinsi Kepulauan Riau, Pemkot Batam, dan Pemkot Bintan, serta BPPT secara aktif terlibat dalam diskusi, memberikan masukan, dan data pendukung. Diskusi penyatuan data dimoderatori oleh Dr. Widodo Pranowo, sedangkan pelaksana harmonisasi data dalam bentuk peta dilakukan oleh Armyanda Tussadiah, S.Kel, dari Pusat Riset Kelautan.

Berita terkait:


 

Kontribusi Nyata Pusat Riset Kelautan Kepada Timnas Penanggulangan Tumpahan Minyak Di Laut

E-mail Print PDF

Jakarta, 20 Maret 2018. Pusat Riset Kelautan secara aktif sejak tahun 2015 telah memberikan kontribusi nyata terhadap respon cepat dan upaya penanggulangan cemaran minyak akibat tumpahan minyak di perairan Batam - Bintan. Pusat Riset Kelautan sejak masih bernomenklatur Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP) telah beberapa kali menurunkan tim survei ke kawasan perairan tersebut. Pada tahun 2015 dan 2016 tim survei diketuai oleh Rainer Arif Troa, M.Si, pada tahun 2017 tim survei diketuai oleh Hari Prihatno, M.Si. Tim survei berhasil melakukan pengukuran parameter oseanografi fisik, dan juga pengambilan sampel kerak minyak yang tertinggal di pantai Sebong Pulau Bintan, Pulau Mapur. Hasil analisis karakteristik minyak yang dilakukan di Laboratorium Lemigas pun telah diserahkan kepada Timnas melalui Kementerian Koordinator Bidang Maritim. Pada rakor penyusunan dokumen klaim ganti rugi terhadap pencemaran minyak kawasan perairan pesisir Batam - Bintan, sejumlah titik stasiun survei dari Pusris Kelautan tersebut diplot berbarengan dengan stasiun tarball dari Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Rakor yang diselenggarakan pada 15-16 Maret 2018 di Hotel Salak tersebut dihadiri oleh duta oil spill Pusris Kelautan, Dr. Widodo Pranowo, Dr. Budhi Gunadharma, dan Armyanda Tussadiah, S.Kel. Hadir pula Direktur pada Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan KKP yakni Eko Rudianto, M.Bus.IT, yang pernah menjabat Kepala P3SDLP pada tahun 2016.

Berita terkait:


Last Updated on Tuesday, 20 March 2018 09:55
 

Simulasi Model Tumpahan Minyak Peneliti Pusat Riset Kelautan Dirujuk Timnas

E-mail Print PDF

Jakarta, 20 Maret 2018. Rapat koordinasi (rakor) dan fasilitasi untuk Tim Nasional Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut, kembali digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Maritim. Rakor yang dilaksanakan di Hotel Salak Bogor, 15-16 Maret 2018, melakukan inisiasi penyusunan dokumen klaim tuntutan ganti rugi pencemaran pesisir Batam - Bintan akibat tumpahan minyak. Pada kesempatan tersebut, Dr. Budhi Gunadharma, menampilkan hasil simulasi terkininya lintasan partikel tumpahan minyak. Pada rakor tersebut, simulasi Dr. Budhi kemudian dibandingkan pula dengan hasil simulasi yang telah dilakukan oleh Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, dan juga model yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Secara umum, seluruh simulasi menunjukkan pola yang mirip. Diskusi terjadi cukup hangat dan dinamis diantara para peserta rakor yang mewakili berbagai instansi anggota Tim nasional.

Berita terkait:



Last Updated on Tuesday, 20 March 2018 09:44
 

Peringatan Hari Air Sedunia: Selamatkan Ekosistim Pesisir Jakarta

E-mail Print PDF


Masifnya pembangunan ibukota Jakarta saat ini sangat memberikan tekanan terhadap keberadaan ekosisitim pesisir Jakarta. Salah satunya terkait ketersediaan air bersih dan beban sampah yang terus menerus bertambah.

Menurut Bappenas, krisis air bersih yang terjadi di Jakarta menyebabkan penurunan muka tanah yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumya. Hal ini disebabkan banyaknya masyarakat yang memanfaatkan air tanah dengan cara menggali sumur untuk mendapatkan air bersih.

Selain masalah air bersih, problem Jakarta saat ini adalah rendahnya penanganan air limbah yang hanya mengcover 2% dari seluruh limbah yang ada di Jakarta.

Koordinator Nasional DFW-Indonesia Moh. Abdi Suhufan melalui rilisnya ke NMN mengatakan bahwa ancaman kerusakan eksosistim pesisir di Jakarta makin mengkhawatirkan dan menggangu penyediaan air bersih bagi warga.

Tekanan terhadap kondisi pesisir disebabkan oleh aktvitas pembangunan itu sendiri.

“Praktik ocean sprawl yang marak terjadi di Jakarta seperti pembangunan pelabuhan New Tanjung Priok dan reklamasi teluk Jakarta merupakan contoh aktivitas yang mengubah habitat laut menjadi ruang baru merupakan salah satu ancaman ekosistim Jakarta,” sebut Abdi.

Terdapat kontribusi yang hampir sama bahwa kerusakan ekosistim pesisir dilakukan oleh masyarakat yang membutuhkan air bersih dengan kegiatan pembangunan yang difasilitasi oleh negara secara masif.

Isu sampah

Menurut Abdi, selain penyediaan air bersih dan ocean sprawl, masalah pelik lainnya yang dihadapi pesisir ibukota Jakarta adalah masalah persampahan.

Akibat penanganan yang tidak terpadu dari hulu ke hilir, pesisir Jakarta menjadi lokasi “pembuangan alami” sampah warga ibukota dan sekitarnya.

Belum lagi pada musim barat (Desember-Februari) setiap tahunnya, karena dinamika oseanografi, sampah perairan di Teluk Jakarta terbawa arus dan gelombang hingga ke pesisir Jakarta. Akibatnya pesisir Muara Angke dan sekitarnya menjadi daerah yang terkena dampak berupa timbunan sampah dari berbagai jenis.

Sampah yang tidak terurus dan menumpuk di pesisir Jakarta akan menyebabkan dampak lingkungan, kesehatan dan sanitasi bagi warga pesisir Jakarta.

Diperlukan keterpaduan dalam penanganan sampah di pesisir Jakarta dengan mengadopsi penggunanan teknologi pengolahan sampah yang modern.

Hal tersebut, kata Abdi, bertujuan agar dampak dari manajemen persampahan yang tidak dikelola dengan baik, tidak menimbulkan implikasi pembangunan yang makin luas dan bisa  mencoreng wajah Indonesia di mata internasional

Oleh karena itu, peringatan Hari Air Sedunia yang diperingati tanggal 22 Maret setiap tahunnya mesti menjadi momentum untuk membenahi kondisi pesisir Jakarta dari tekanan pembangunan yang makin berat terutama terkait dengan penyediaan air bersih.

“Salah satu kunci pembenahan adalah regulasi yang kuat dan adanya partsipasi publik oleh kelompok masyarakat, private sector dan organisasi yang peduli pada masalah lingkungan” tambah Widya Safitri,  Koordinator Program DFW-Indonesia.

Untuk memperingati Hari Air Sedunia, DFW-Indonesia bekerjasama dengan komunitas masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan  serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggelar aksi di dalam kawasan Pelabuhan Perikanan Muara Baru.

Aksi lingkungan tersebut akan dilakukan pada tanggal 23 Maret 2018 dengan serangkaian kegiatan yaitu clean up the beach, penanaman mangrove dan pelatihan pengolahan sampah plastik.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menggugah kepedulian publik terhadap ancaman eksositim pesisir Jakarta melalui tindakan dan aksi kecil yang berkontribusi bagi lingkungan” tambah Widya.

Sesuai dengan tema hari air sedunia tahun ini yaitu nature for water maka perlu gerakan kolektif masyarakat untuk melindungi sumber-sumber air di pesisir Jakarta.

Saran pakar

Terkait isu sulitnya memperoleh air bersih dan beban sampah di pesisir dan perilaku warga, peneliti Pusat Riset Kelautan, Badan Riset Kelautan dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Dr.-Ing Widodo S. Pranowo menyatakan bahwa upaya adaptasi dan mitigasi seperti yang diungkapkan oleh tim DFW Indonesia harus dibarengi pembangunan mental.

“Kementerian yang dipimpin Puan Maharani (Pembangunan manusia dan kebudayaan) dibangun untuk menguatkan mental masyarakat Indonesia dalam membangun Poros Maritim,” katanya.

Menurut Widodo, pembangunan fisik akan percuma, tidak akan sustainable bila mental tidak dibangun.

“Pendidikan formal dan non-formal terkait kebersihan dan perilaku tidak nyampahsembarangan harus dimulai sejak dini hingga dewasa, agar menjadi budaya. Mengubah budaya tidaklah bisa sebentar, perlu dilakukan perlahan dan terus menerus. Jadi, kementeriannya Puan juga harus berkolaborasi dengan Kemenristekdikti,” saran Widodo.

“Konkretnya ya kurikulum pendidikan dibenahi, mulai dari usia dini sampai pendidikan tinggi tentang pentingnya buang sampah pada tempatnya,” sebut anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia ini.

Sementara itu Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA, anggota dewan pakar ISKINDO yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjung Pinang, Kepri mengatakan bahwa penanganan sampah di pesisir harus dilakukan dari hulu ke hilir.

“Mulai dari edukasi dini, contoh perilaku baik sampai pengolahan sampah sebagai material reuse dan recycle serta penggunaan lainnya. Institutional arrangement harus menjadi dasar pijakan. Misalnya melalui penyusunan peraturan tata kelola sampah hingga penegakannya,” katanya.

Sumber : Maritimnews.id


Last Updated on Monday, 19 March 2018 11:00
 

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

E-mail Print PDF


Last Updated on Monday, 19 March 2018 12:53
 

Kolaborasi Riset Pusris Kelautan dan Balai Riset Pemulihan Sumberdaya Ikan Jatiluhur, ”Upaya Mensiasati Keterbatasan Anggaran”

E-mail Print PDF


Jakarta, 16/03/18.- Di tengah-tengah terbatasanya anggaran riset kelautan dan perikanan pada beberapa tahun terakhir, menuntut adanya kreativitas para peneliti untuk dapat berkolaborasi menyatukan ide, tenaga dan sumberdaya yang mereka miliki dalam rangka memperoleh hasil output yang lebih maksimal, fokus pada isu utama dan memiliki nilai kemanfaatan yang luas.

Berangkat dari hal tersebut, pada hari Kamis 8 Maret 2018 bertempat di kantor Balai Riset Pemulihan Sumberdaya Ikan (BRPSDI) Jatiluhur, telah berlangsung pertemuan antara peneliti Bidang Riset Mitigasi Adaptasi dan Konservasi Pusat Riset Kelautan dan kelompok peneliti Pemulihan Sumberdaya Ikan BRPSDI guna menyatukan ide dan rencana kolaborasi riset yang bisa dilakukan bersama pada tahun 2018. Hal ini dilakukan guna memperoleh hasil kajian yang lebih komperhensif baik dari sisi riset kelautannya maupun sumberdaya ikannya. “Kita sepakat untuk melakukan riset bersama dengan judul Pengelolaan Ekosistem Pesisir Dan Sumberdaya Ikan Di Muara Gembong Teluk Jakarta” kata Hikmat dengan mantap.

Hadir pada pertemuan tersebut Kasubbid Riset Mitigasi Dan Adaptasi Puriskel Hikmat Jayawiguna beserta dua orang perwakilan peneliti dibidangnya yang dikoordinatori R. Bambang Nugraha M.App.Sc., sementara di kubu BRPSDI yang dikoordinatori oleh Prof. Krismono dan Adriyani Sri Nastiti hadir lengkap beserta jajaran penelitinya. “Ini strategi baru teman-teman untuk menyiasati terbatasnya dana riset, yaitu dengan menyatukan lokus kajian, turun survey bersama, dan saling melengkapi data hasil kajian guna mendapatkan output yang lebih komperhensif dan tidak parsial” terang Prof. Krismono selaku ketua tim. Lebih lanjut beliau mengatakan selama ini para peneliti lingkup Puriskel dan Puriskan “terkesan” lebih asyik dengan risetnya masing-masing dan belum banyak berkolaborasi untuk menghasilkan output yang lebih besar sehingga dapat saling melengkapi justifikasi hasil riset dan memiliki nilai kemanfaatan yang lebih luas.

Pertemuan menyepakati beberapa point keluaran untuk ditindaklanjuti dalam aksi yang lebih riil diantaranya adalah, Bahan hasil kajian riset BRSDM KP ini akan digunakan sebagai rekomendasi bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan juga Pemda Kab. Bekasi dalam menyusun revisi rencana zonasi dan tata ruang wilayah pesisirnya, Dihasilkannya buku bunga rampai pengelolaan ekosistem pesisir dan sumberdaya ikan di lokasi kajian yang akan diterbitkan oleh penerbit berakreditasi, Dihasilkannya minimal 10 Karya Tulis Ilmiah dari riset kolaborasi untuk mendukung target capaian kinerja masing-masing.


Last Updated on Friday, 16 March 2018 13:35