Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia : Beat Plastic Pollution

E-mail Print PDF


Last Updated on Tuesday, 05 June 2018 08:30
 

Diskusi Wacana Reorganisasi BRSDM KKP Pun Berlangsung Dinamis

E-mail Print PDF


Jakarta, 4 Juni 2018. Rapat perdana pembahasan wacana penataan organisasi Badan Riset dan SDM KKP pun digelar pada Rabu 30 Mei 2018. Rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala BRSDM KKP, Prof. Dr. Ir. Sjarief Widjaja, M.Sc, FRINA berlangsung di Gedung Mina Bahari III Lantai 7.

Hadir pada rapat tersebut Sekretaris BRSDM bersama beberapa kepala bagian dan sub bagian terkait, Kepala Pusat Riset Perikanan, Kepala Pusat Riset Kelautan dalam hal ini kehadirannya diwakili oleh Kepala Bidang Mitigasi, Adaptasi dan Konservasi, Triyono, M.T., dan beberapa Profesor Riset dan Senior Peneliti. Dimana para profesor dan senior peneliti tersebut juga mewakili Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) cabang KKP.

Diskusi berlangsung sangat dinamis setelah Sekretaris BRSDM, Dr. Maman, memaparkan draft usulan bagan struktur organisasi yang baru bilamana BRSDM bertransformasi menjadi Direktorat Jenderal Aplikasi Riset dan Sumber Daya Manusia.

Prof. Dr. Ketut Sugama, Prof. Dr. Hari Eko Irianto, Prof. Dr. Sonny Koeshendrajana, dan Prof. Dr. Agus Heri Purnomo secara umum mengkhawatirkan karir fungsional peneliti yang mungkin dapat terhambat atau bahkan mungkin terhapuskan bilamana BRSDM menjadi Direktorat Jenderal teknis.

Sedangkan Dr. Rudy Akhwadi, Dr. Novi S. Adi, Dr. Nursid, Dr. Siti Hajar Suryawati, Dr. Estu Nugroho, dan Dr. Widodo Pranowo lebih mengusulkan agar BRSDM tidak berganti nama menjadi Direktorat Jenderal Teknis, namun penataan organisasi didalamnya perlu dilakukan. Hal ini tentu akan lebih cepat dan efisien dalam mengimplementasikan visi dan misi dari Kepala BRSDM yakni penguatan di inovasi dan hilirisasi hasil riset kelautan dan perikanan.

Hilirisasi hasil riset sebenarnya pernah dilakukan dengan sukses oleh Badan Litbang KKP, pada kurun waktu 2010-2015, yakni program ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKMAS), dan Klinik Iptek Mina Bisnis (KIMBIS). Hal ini tentunya dapat dihidupkan kembali, tentunya dengan dukungan anggaran yang memadai.

Kepala BRSDM, menegaskan bahwa, wacana transformasi BRSDM KKP menjadi Direktorat Jenderal Teknis sebenarnya adalah untuk mewujudkan visi dan misi poros maritim Presiden Joko Widodo.

Kepala BRSDM, kemudian mengajak kepada para hadirin rapat untuk merenungkan kembali kemungkinan ruang bermain yang lebih besar, lebih luas, dimana Riset Kelautan dan Perikanan akan dapat menjadi trendsetter dan menjadi leader untuk riset kelautan dan perikanan nasional, bilamana menjadi Direktorat Jenderal Teknis. Dengan menjadi Direktorat Jenderal Teknis, kesempatan penganggaran pun akan semakin meningkat, baik untuk menjalankan riset maupun untuk inovasi dan hilirisasi hasil riset.

Rapat-rapat lanjutan akan segera digelar, mengingat Kepala BRSDM mempunyai target penataan organisasi dapat selesai dengan baik dan operasional dalam waktu 18 (delapan belas) bulan.

Berita terkait : Agenda Utama BRSDM : Transformasi Nomenklatur Organisasi


Last Updated on Monday, 04 June 2018 08:45
 

Selamat Hari Lahir Pancasila #HARILAHIRPANCASILA

E-mail Print PDF


Last Updated on Saturday, 02 June 2018 11:01
 

Riset KKP Dirujuk Kemen ATR Untuk Penyusunan KSN Pancangsanak

E-mail Print PDF

Jakarta, 31 Mei 2018. Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang bermaksud menyusun Kawasan Strategis Nasional (KSN) Pangandaran, Kali Pucang, Cilacap dan Segara Anakan (Pancangsanak). Pada Senin 28 Mei 2018, Direktorat Perencanaan Tata Ruang menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) di Hotel Verandah Jakarta Selatan membahas tentang potensi sumber daya kelautan kawasan Segara Anakan.

Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan diundang untuk memberikan data dan informasi terkini yang dapat dijadikan bahan rujukan dan pertimbangan untuk penyusunan KSN Pancangsanak tersebut. Pusat Riset Perikanan diwakili oleh Dr. Joni Haryadi, Kepala Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan memaparkan panjang lebar serta detil potensi sumber daya ikan dan keanekaragaman yang akan hilang bilamana sebagian besar Segara Anakan berubah menjadi daratan. Hal ini didukung oleh penjelasan Dr. Amulah, sebagai peneliti pada balai yang sama, menurutnya terdapat spesies udang unik yang hidupnya hanya menetap di kawasan perairan Segara Anakan, yang dikawatirkan akan lenyap akibat sedimentasi yang tidak terkendali.

Sedangkan menurut Dr. Widodo Pranowo, Pusat Riset Kelautan, lambat laun, Segara Anakan akan menyatu dengan Pulau Nusa Kambangan, suatu proses alam jutaan tahun yang tidak bisa dihindari. Yang hanya bisa dilakukan adalah memperlambat proses tersebut dengan melakukan pengelolaan Daerah Aliran Sungai mulai dari hulu hingga hilir. Selain itu, Widodo mengatakan bahwa secara umum Kawasan Pancangsanak di sisi yang menghadap Samudera Hindia Laut Selatan Jawa mempunyai potensi kebencanaan alam seperti terkena ekor badai tropis, gempa dan tsunami. Sedangkan kebencanaan lingkungan juga berpotensi terjadi akibat cemaran minyak karena ada aktivitas migas di Cilacap. Tercatat beberapa kali telah terjadi cemaran minyak di Cilacap dari tahun 2000 hingga 2015, baik dari sumber yang diketahui maupun tidak diketahui. Pada Mei tahun 2016 terjadi cemaran minyak akibat bocornya pipa bawah laut pertamina, cemarannya bahkan meluas hingga ke pesisir selatan Nusa Kambangan hingga kawasan Plawangan barat dan hampir mencapai Pangandaran timur. Tim Badan Riset KKP, pada tahun 2004, pernah turut menangani kasus cemaran minyak di Cilacap akibat sobeknya lambung Kapal Tanker Lucky Lady.

Widodo, pun menekankan bahwa manakala kawasan pesisir KSN Pancangsanak akan dilakukan pembangunan fisik, maka perlu dipersyaratkan agar semua bangunan wajib tahan terhadap gempa dan harus bisa difungsikan untuk evakuasi vertikal dari bahaya tsunami.

 Berita terkait :


Last Updated on Thursday, 31 May 2018 08:40
 

Sepuluh Titik Wisata Arkeologi Bahari Pembangunannya Dimandatkan Kepada Pusat Riset Kelautan

E-mail Print PDF

Jakarta, 31 Mei 2018. Menindaklanjuti pertemuan perdana seluruh pegawai Pusat Riset Kelautan, Pusat Riset Perikanan, Pusat Pendidikan dan dan Pelatihan dan Penyuluhan dengan Kepala Badan Riset dan SDM yang baru Prof. Dr. Ir. Sjarief Widjaja, M.Sc, FRINA pada hari Kamis 24 Mei 2018 lalu,  berlangsung audiensi khusus antara Kepala Badan Riset dan SDM  yang baru dengan Kepala Pusat Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki, M.Si membahas penentuan 10 (sepuluh) titik Wisata Arkeologi Bahari. Audiensi pada hari  Jumat 25 Mei 2018 lalu dilaksanakan di Ruang Rapat Gedung BRSDM I dan  dihadiri oleh seluruh pejabat struktural dan peneliti Pusat Riset Kelautan, yang diberi mandat oleh Kepala Badan  untuk membentuk tim perencanaan pembentukan dan penentuan lokasi yang akan dijadikan sebagai Wisata Arkeologi Bahari.

Berita terkait : Agenda Utama BRSDM : Transformasi Nomenklatur Organisasi


Last Updated on Thursday, 31 May 2018 07:52
 

Selamat Hari Raya Waisak 2562 BE/2018

E-mail Print PDF


Last Updated on Tuesday, 29 May 2018 08:50