Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

E-mail Print PDF

Sistem peringatan dini tsunami dibangun berbasis teknologi. Komponen sistem ini, terdiri dari perangkat keras dan lunak. Fungsinya, untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan evakuasi diri bila terjadi gempa yang (berpotensi) menyebabkan tsunami. Sistem peringatan dini tsunami regional yang sudah operasional, antara lain, untuk Samudera Pasifik dan Atlantik. Masing-masing dibawah kendali operasi Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) dan Atlantik Tsunami Warning Center (ATWC). Untuk wilayah Samudera Hindia, sejak 2009, dibahas dalam konsorsium Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) tentang siapakah yang akan bertindak sebagai Regional Tsunami Watch Provider (RTWP). Dalam hal ini, apakah Indonesia melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ataukah India melalui Indian National Centre for Ocean Information Services (INCOIS). Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dibangun sejak 2005. Setelah peristiwa mega-gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004. InaTEWS diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2008.

Teknologi

Komponen sistem peringatan dini, seperti pusat kendali operasi (Tsunami Warning Center atau TWC), alat pendeteksi gempa di darat (seismograf), alat pendeteksi gempa di dasar laut (Ocean Bottom Unit atau OBU). Selain itu, alat pengukur pasang surut digital (tide gauge), differential Global Positioning System (dGPS), pelampung di permukaan laut (mooring buoy) pentransmisi sinyal informasi dari OBU ke satelit. Alat ini dilengkapi dengan pengukur perubahan tinggi muka air laut, satelit yang berfungsi sebagai wahana transmisi sinyal antara berbagai alat pendeteksi gempa/tsunami dengan pusat kendali operasi. Perangkat lunak berupa Decision Support System (DSS) berkoordinasi dengan dua perangkat lunak lain, Seiscomp untuk pengolah data gempa dan System Information Management (SIM). Secara umum, ketika tremor gempa yang episenter di dasar laut terdeteksi oleh OBU. Sinyal tersebut akan ditransmisikan ke mooring buoy di permukaan laut. Mooring buoy akan mendeteksi perubahan muka air laut.

Kedua indikasi tersebut kemudian akan ditransmisikan ke TWC untuk konfirmasi dengan alat pendeteksi lainnya seperti seismograf, dGPS dan tide gauge di pantai/pelabuhan (Behrens et al., 2008; Behrens et al., 2009; Tessman et al., 2010). Selanjutnya, episenter dan kekuatan gempa akan mengonfirmasikan dengan basis data tsunami yang memiliki lebih dari 2250 skenario dengan beragam episenter dan berdasarkan variasi kekuatan gempa dari Mw 6,5 – 9,0 (Mentrup et al., 2007; Behrens et al., 2008; TRG-ITB, 2010). Perangkat lunak DSS akan menyajikan informasi apakah gempa tersebut akan menimbulkan tsunami ataukah tidak. Jika akan menimbulkan tsunami, petugas TWC segera menekan tombol diseminasi yang otomatis akan mengirimkan peringatan bahaya tsunami melalui sirine, Short Message Service (SMS), faksimili, radio, dan Televisi (Tessman et al., 2010). Perjalanan sinyal hingga diterbitkannya peringatan dini yang cukup panjang, berlangsung hanya dalam waktu 5 (lima) menit setelah gempa (Lauterjung et al., 2010).

Aplikasi

Sistem peringatan dini tsunami di BMKG pada 12 September 2007 untuk pertama kalinya menerbitkan peringatan tsunami terhadap gempa Mw 8.4 dengan episenter di baratdaya Bengkulu. Kemudian tercatat beberapa gempa lain yang berpotensi tsunami di Toli-toli 17 Nopember 2008, Manokwari Papua 4 Januari 2009, Padang 16 Agustus 2009 dan 30 September 2009 dan selatan Jawa 2 September 2009. Selain itu, di utara Sumatra 6 April 2010 dan 9 Mei 2010 dan juga yang menimbulkan tsunami di Mentawai 25 Oktober 2010. Sistem ini telah dikaji oleh komisi dari IOC-UNESCO pada September 2010, dengan harapan dapat meningkatkan kualitasnya sebagai penyedia peringatan dini tsunami nasional dan kapasitasnya sebagai RTWP untuk Samudera Hindia di masa mendatang (Fauzi et al., 2009; Rudloff et al., 2010).

Last Updated on Friday, 26 October 2018 13:08 Read more...
 

Ambruknya Jembatan Kuning

E-mail Print PDF

Dengan mengendarai sepeda motor, Hakum, 24 tahun, berusaha mencari terpal di Kota Palu. Hakum tinggal di Desa Toaya Vunta, Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala. Jarak dari Toaya Vunta ke Palu 40 kilometer. Sarjana pemerintahan Universitas Tadulako ini, ingin mengabarkan kondisi di Donggala yang jarang tersentuh bantuan. “Di desa saya ada 524 kepala keluarga yang mengungsi karena gempa,” ujar Hakum, Sabtu (6/10).

Namun, gempa awal pada Sabtu (28/9), pukul 15.00 Wita sudah cukup merusak. Paman Hakum yang tinggal di Desa Ombo, Kecamatan Sirenja, melalui telepon seluler minta untuk dijemput. “Rumah om (paman) saya sudah hancur (roboh) lebih dulu,” kata Hakum. Sirenja adalah lokasi pusat terjadinya gempa. Sabtu sore, jam 16.00 Wita, Hakum menuju Desa Ombo untuk menjemput pamannya. Setelah bertemu pamannya, dalam perjalanan menuju Desa Toaya Vunta, azan magrib berkumandang di Donggala, terjadi gempa dahsyat Sabtu (28/9).

Lima jurnalis TV di Palu, yang berada dalam mobil juga merasakan guncangan yang kuat ketika berada di Jalan Trans Sulawesi dekat Pelabuhan Pantoloan. Ody Rahman, jurnalis NET TV menghentikan mobil yang dikendarainya saat terjadi gempa. Di depan mobil mereka, terlihat sejumlah kendaraan sepeda motor berjatuhan. Ody bersama empat jurnalis Palu lainnya Abdy Mari (TV One), Rolis Muhlis (Kompas TV), Jemmy Hendrik (Radar TV) dan Ary Al-Abassy (TVRI) turun dari mobil. Setelah keluar dari mobil, terjadi lagi gempa. Tak lama, tampak gelombang tinggi bergerak cepat ke arah pantai dan daratan. Tsunami. Sedianya, kelima jurnalis TV ini akan melakukan liputan gempa yang terjadi pukul 15.00 Wita. Gempa itu berkekuatan magnitude 5,9 skala Richter (SR). Pusat gempa di Sirenja, Kabupaten Donggala.

Last Updated on Friday, 26 October 2018 12:07 Read more...
 

Hidup Ramah dengan Bencana Gempa dan Tsunami

E-mail Print PDF

Secara parsial, telah banyak upaya yang dilakukan berbagai kalangan (ilmuwan, praktisi, lembaga, mahasiswa, pelajar dan masyarakat) untuk menjawab tantangan ke depan untuk adaptasi dan mitigasi bencana gempa dan tsunami. Hal tersebut patut diteruskan, diwadahi, dikoordinasi dan didukung pemerintah agar lebih optimal hasil yang diharapkan. Upaya-upaya tersebut antara lain: Diseminasi Gempa dan Tsunami kepada Masyarakat. Pendidikan formal kurikulum dan non-formal, lewat berbagai media. Seperti pertunjukan wayang, musik dangdut dan tabligh akbar. Diseminasi ini murah, efisien dan efektif (Diposaptono, 2007). Selanjutnya, diseminasi TEWS dan pelatihan evakuasi tsunami (tsunami drill) tetap diperlukan dan pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Jaringan Peralatan Oseanografi Pembangunan sistem TEWS berbasis lokal, contohnya pemasangan tide gauge lokal, optimalisasi sistem siskamling, dan sebagainya. Membangun jaringan peralatan oseanografi nasional seperti INAGOOS (Indonesia Global Ocean Observing System) sebagai upaya memperoleh data untuk verfikasi dan validasi model tsunami. Seperti Shallow Pressure Gauge Array (SPGA) dari konsorsium International Nusantara Stratification and Transport (INSTANT) yang bertujuan untuk meneliti Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) secara tidak sengaja merekam sinyal tsunami Aceh 2004 dan Jawa 2006 (Drushka et al., 2008).

Jaringan Telekomunikasi dan Informasi. Penelitian dan pengembangan dibidang teknologi telekomunikasi dan informasi, misalnya, perluasan jaringan telekomunikasi ke daerah-daerah pesisir terisolir. Eksplorasi teknologi telekomunikasi untuk lebih mempercepat pengiriman sinyal peringatan dini tsunami. Pengembangan alat deteksi gempa/warning skala rumah tangga yang ringan, murah dan konsumsi daya listrik yang kecil atau bisa dengan memanfaatkan batere (KOMPAS.com, 2010a).

Jaringan Listrik. Perluasan jaringan listrik hingga menyentuh ke daerah-daerah terisolir rawan tsunami, disertai dengan meningkatkan ekplorasi energi terbaharukan (renewable energy), seperti tenaga angin (Hendry et al., 2009), surya, gelombang dan arus laut (ECOR, 2003), yang cukup berpotensi di Indonesia. Konsorsium Indonesia-Jerman energi terbaharukan sudah mengembangkan prototipe Mobile (Geothermal) Powerplant yang direncanakan untuk mensuplai energi listrik ke berbagai pelosok menggunakan pembangkit listrik yang bisa menampung dan mengangkut suku cadang listrik (geothermal) dari sumbernya dan bergerak ke lokasi lain yang membutuhkan. Daerah percontohan riset ekplorasi dan percontohan untuk sementara adalah Sumatra dan Jawa Timur (BPPT, 2010) .

Jaringan Struktur/Infrastruktur. Pembangunan jalan, jembatan dan jalur transportasi laut adalah langkah efektif untuk membuka wilayah terisolasi, desa akan bisa terhubung dengan pusat-pusat pemerintahan yang lebih tinggi. Jika jalur transportasi terbentuk, maka pertumbuhan sosial ekonomi akan terjadi, diikuti dengan difusi teknologi dan informasi. Melakukan kampanye tentang pentingnya perlindungan pantai alami seperti jalur hijau di pantai atau green belt (EJFct, 2006). Peran vegetasi pantai penting dalam melindungi bangunan dari kerusakan akibat tsunami.

Memperbanyak bangunan dan akses ke dataran tinggi untuk evakuasi vertikal di daerah berpantai landai permukiman padat dan wisata. Membangun tanggul perlindungan pantai (USACE, 1995). Membangun rumah panggung dan (relokasi) tata permukiman di pesisir yang menjauhi garis pantai (Diposaptono, 2007). Memperbaiki Building (structure) Code yang lebih tahan gempa (FEMA & NOAA, 2008; Irsyam et al., 2009), karena kualitas bangunan yang rendah berpotensi menyebabkan kematian/korban (Sumaryono, 2010).

Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kebumian. Penelitian dan pengembangan di bidang ilmu kebumian terkait, seperti gempa pelan dan berayun/slow earthquake (Kanamori, 1972) yang terjadi di selatan Jawa 2006 (Fritz et al., 2007) dan Mentawai 2010 (Kongko et al., 2010) saat ini masih menjadi kendala di dalam sistem peringatan dini tsunami di beberapa negara. Paleo-tsunami untuk mencari siklus perulangan gempa besar dan tsunami (Natawidjaja et al., 2006). Radon sebagai prekursor gempa di mana konsentrasi gas tersebut disinyalir meningkat dan dilepaskan di kolom air menjelang terjadinya gempa (Crockett et al., 2006a, 2006b). Pengamatan (seismo-)ionosfer yang juga dimungkinkan dapat berperilaku anomali sebelum gempa terjadi (KOMPAS.com, 2010b).

Melakukan (pembaharuan data) pemeruman kedalaman laut atau batimetri maupun topografi pantai untuk meningkatkan akurasi dari resolusi prediksi luasan daerah landaan tsunami. Indonesia saat ini mempunyai wahana dan lembaga/instansi riset dan survei yang sangat mendukung untuk upaya tersebut di atas, yang diperlukan sekarang ini hanyalah koordinasi. Kembali mengambil contoh Kota Padang sebagai obyek, terdapat empat hasil simulasi prediksi pengaruh gempa berkekuatan Mw 8,9. Dengan menggunakan input data topografi yang berbeda, yakni, SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) beresolusi kasar 1 kilometer, DSM (Digital Surface Model) beresolusi 2,5 meter, DTM (Digital Terrain Model) beresolusi 2,5 meter dan HRSC (High Resolve Stereographic Camera) beresolusi 50 meter. Ketiga data tersebut hasil akuisisi satelit, di mana ketinggian maksimum elevasi daratan pada DSM adalah hasil pantulan sinyal transmisi dari satelit terhadap atap bangunan/gedung dan puncak pepohonan. Pada DTM seluruh benda/bangunan/pepohonan di atas lapisan tanah telah dieliminasi.

Berbeda dengan data HRSC yang merupakan foto udara yang diakuisisi menggunakan pesawat udara sehingga berpresisi lebih tinggi. Tampak landaan tsunami secara signifikan tercipta dari input data HRSC dan DTM. Selain upaya pembaharuan data tersebut di atas, pengembangan berbagai metodologi untuk meningkatkan kinerja sistem peringatan dini juga penting. Salah satu contohnya dengan inovasi di bidang pemodelan (matematika) numerik untuk meningkatkan efisiensi komputasi dan akurasi simulasi model tsunami dalam rangka memproduksi basis data tsunami yang dilakukan oleh Pranowo (2010), dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Diperlukan kesadaran dari komponen seluruh bangsa dari seluruh kalangan  utuk mewujudkan masyarakat yang hidup ramah dengan bencana  gempa dan tsunami. Bencana akan selalu ada, dan ini menuntut upaya tanggap waspada, guna memperkecil korban.

Sumber : darilaut.id



Last Updated on Friday, 26 October 2018 13:26
 

Kurangi Kecelakaan Kapal Nelayan, KKP Luncurkan Wakatobi AIS

E-mail Print PDF

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementrian Kelautan dan Perikanan ( KKP) lewat Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi mengembangkan teknologi berbasis radar pemantauan dalam Wakatobi AIS. Wakatobi AIS adalah alat hasil rekayasa transporder AIS berukuran kecil yang dirancang meningkatkan keselamatan nelayan khususnya nelayan kecil (< 3 GT) serta meningkatkan pantuan terhadap nelayan untuk mencegah IUU fishing. Adanya teknologi Wakatobi AIS ini jadi bagian dalam upaya mengurangi risiko insiden hanyutnya nelayan. Mengingat di Wakatobi, kejadian nelayan hilang dapat ditemui hampir setiap bulan. "Melalui pendekatan teknologi, diharapkan akan dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan standar keselamatan para pelaku perikanan serta mendukung keterpantauan nelayan tradisional untuk perikanan yang berkelanjutan," kata Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Akhmatul Ferlin di Gedung Mina Bahari 3 KKP, Selasa (9/10/2018). Wakatobi AIS direkayasa bersama LAB247, unit litbang non pemerintah yang mengembangkan radar dan teknologi perangkat lunak yang didesain khusus berdasarkan karakteristik nelayan kecil di Indonesia. AIS transponder ini berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 cm dengan panjang antena sepanjang 100 cm. Setiap unitnya memiliki bobot 0,6 kg agar bisa diaplikasikan pada kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil khususnya yang armada berbobot dibawah 1 Gross Ton. Alat ini didesain dapat bekerja secara portabel dengan baterai sebagai sumber tenaga yang bisa diisi ulang setiap 20 jam pemakaian. Untuk meningkatkan keselamatan nelayan, terdapat tiga tombol pada perangkat ini, yaitu tombol power, Penanda Lokasi Tertentu (custom tag), dan tombol darurat (distress). Pengoperasian alat ini cukup mudah. Fungsi dasar AIS yang dimiliki memungkinkan lokasi dan pergerakan nelayan terpantau detik ke detik pada stasiun penerima (VTS). “Dengan demikian, jika suatu saat mereka mengalami masalah di laut seperti mesin kapal mati, tenggelam, atau dirampok maka rekaman lokasi para pengguna akan mempermudah pencarian,” jelas Ferlin. Selain itu, nelayan juga bisa secara aktif memberikan kabar darurat ke seluruh perangkat penerima AIS lainnya. Dengan menekan tombol distress maka perangkat akan melakukan broadcast pesan AIS selama selang waktu tertentu untuk memastikan pesan teks tersebut dapat terkirim dengan sempurna. Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya, identitas yang meliputi nama kapal, pelabuhan asal, dan nomor telepon yang bisa dihubungi dan atau informasi lain yang sebelumnya diprogram kedalam perangkat.

Sumber: ekonomi.kompas.com



Last Updated on Friday, 26 October 2018 12:01
 

Kepekaan Lingkungan Laut Batam-Bintan Terhadap Tumpahan Minyak Akan Dianalisis per Kecamatan

E-mail Print PDF

Jakarta, 08 Oktober 2018. Bertempat di Ruang Rapat Yellow Fin Tuna Gedung BRSDMKP2 Lantai 6, pagi tadi Peneliti Pusat Riset Kelautan yakni Dr. Widodo Pronowo, Dr, Budhi Gunadharma, bersama staf  Laboratorium data laut dan pesisir yakni Rizal F. Abida, S.T, Armyanda Tussadiah, S. Kel dan Sari Novita, S.T tengah membahas hasil analisis modeling menggunakan simulasi numeric 2D Langrangian untuk tumpahan minyak di perairan Batam-Bintan pada Kegiatan Kajian Tumpahan Minyak di Perairan Batam-Bintan yang telah dilakukan pada bulan Agustus 2018 lalu. Hasil analisis ini digunakan sebagai salah satu identifikasi untuk  penyusunan Indeks Kepekaan Lingkungan Laut (IKLL) yang saat ini sedang dikerjakan. Terdapat beberapa parameter yang digunakan untuk identifikasi dalam penyusunan IKLL ini, diantaranya adalah ekosistem mangrove, lamun, terumbu karang, serta zonasi perikanan tradisional dan perikanan demersal. Pada saat diskusi telah disepakati bersama bahwa  perlu ditambahkan pula beberapa identifikasi lain yakni identifikasi jarak dari pantai dan identifikasi kecamatan-kecamatan di Batam-Bintan.  Kedepan dari kegiatan ini akan dihasilkan peta kepekaan lingkungan laut terhadap tumpahan minyak di perairan Batam-Bintan, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penyusunan langkah mitigasi tumpahan minyak di Batam-Bintan.

Berita terkait :


 

Susi Pudjiastuti Luncurkan Aplikasi Laut Nusantara

E-mail Print PDF


Pengambengan (10/10). Laut Nusantara, aplikasi berbasis android yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lewat Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) bersama dengan PT. XL Axiata Tbk merupakan aplikasi yang ditujukan untuk mendukung aktifitas kenelayanan dalam memperoleh akses informasi yang cepat, tepat, dan murah. Melalui aplikasi ini, nelayan Indonesia disiapkan untuk memasuki era digital dalam aktifitas kenelayanannya dan dapat meningkatkan hasil tangkapannya. Informasi berupa Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) menjadi informasi utama yang disuguhkan aplikasi ini.

Rabu (10/10) bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia) didampingi Sjarief Widjaja (Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan-KKP RI), I Putu Artha (Bupati Kabupaten Jembrana) beserta wakil, I Nyoman Radiarta (Kepala BROL) dan Siti Siswandari (Head of Social and Innovation Project PT. XL Axiata Tbk) secara resmi dan simbolis meluncurkan aplikasi Laut Nusantara di hadapan ratusan nelayan Pengambengan. Susi Pudjiastusi memberikan 3 perangkat aplikasi Laut Nusantara secara simbolis kepada perwakilan nelayan dan menorehkan tanda tangannya ke buku saku Laut Nusantara. Sebelumnya, sejumlah 150 nelayan di Kabupaten Jembrana dari Perancak, Air Kuning, dan Pengambengan telah menerima distribusi dan sosialisasi aplikasi Laut Nusantara tersebut.

Pada kunjungan kali ini, Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) berkesempatan meninjau aktifitas bongkar muat ikan di PPN Pengambengan, juga menyapa para nelayan dan memberikan motivasi agar nelayan selalu semangat dalam beraktifitas. Di sela kegiatan, Ibu Menteri KP dengan gesit juga menyambangi salah satu kapal nelayan dan melihat ikan yang didapat. Nelayan juga berkesempatan memberikan aspirasinya secara langsung kepada Ibu Menteri KP.

"Saya senang bisa ketemu Ibu Susi. Tadi saya juga sempat menyampaikan beberapa aspirasi kepada beliau. Alhamdulillah, makin kesini kondisi makin membaik. Ikan juga sudah mulai banyak sekarang”, ungkap Wayan, nelayan Pengambengan.

“Ini kunjungan ketiga saya kesini. Saya senang berada disini, kapal nelayannya menarik. Saya berharap, semoga nelayan disini bisa terus semangat dalam menangkap ikan, terlebih dengan adanya aplikasi Laut Nusantara yang friendly ini. Tak lupa juga saya dorong pihak kabupaten untuk bisa terus berupaya memberikan kemudahan kepada nelayan. Saya melihat makin kesini aktifitas nelayan makin membaik. Semoga kedepan lebih baik lagi. Terlebih nanti jika Politeknik KP Jembrana sudah beroperasi, Jembrana punya banyak sumber daya manusia yang berkompeten di bidang KP”, imbuh Susi Pudjiastuti.

“Kami sejak 2014 telah melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) untuk nelayan. Komitmen kami salah satunya ialah untuk masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Kedepannya, kami akan terus berupaya memantapkan kegiatan-kegiatan sejenis” tutur Siti Siswandari.

Selain peluncuran aplikasi Laut Nusantara, Susi Pudjiastuti juga meluncurkan Wakatobi AIS (Automatic Identification System), alat hasil perekayasaan dari Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi untuk meningkatkan keselamatan nelayan, dan memberikan simbolisasi bantuan beasiswa kepada 36 taruna Poltek KP Jembrana kategori anak pelaku utama, masing-masing sebesar 6 juta rupiah.

"Cintai laut, jaga laut, rawat laut, karena laut adalah masa depan kita", ungkap Susi Pudjiastuti di akhir kegiatan.

Last Updated on Tuesday, 15 January 2019 08:53