Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Sarasehan Pusriskel : Kearifan Lokal Raja Dan Bajak Laut Dalam Kaitan Batas Maritim

E-mail Print PDF

Pusat Riset Kelautan akan Menyelenggarakan Sarasehan Pusat Riset Kelautan.
Dilaksanakan pada Selasa 22 September 2020 pada pukul 09:00 - 12:00 WIBdengan Tema "Kearifan Lokal Raja Dan Bajak Laut Dalam Kaitan Batas Maritim"
Streaming melalui media ZOOM dan Youtube Pusat Riset Kelautan (https://youtu.be/uQ79PtrLpWw).


Link Pendaftaran : https://bit.ly/BatasMaritimPRK2020


Diagendakan Dibuka Oleh Kepala BRSDM-KP Prof. Ir. R. Sjarif Widjaja, Ph.D. F.RINA

Pengantar :Dr. Rudi Alek Wahyudin (Kepala Pusriskel)

Narasumber :

1. Laksamana Pertama TNI Dr. ir. Trismadi, M.Si (Staf Khusus KASAL)
2. Sonny Ch Wibisono, DEA (Pusat Arkeologi Nasional - Kemendikbud)
3. Prof. Dr. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd. (Dekan Fakultas Ilmu dan Pendidikan Umrah – Bintan, Kep. Riau)
4. R..A. GUSMAN C SISWANDI, SH, LL., M, PhD. (Direktur The Indonesian Center for Law of The Sea – ICLOS Fakultas Hukum Unpad - Bandung)

Pemantik :

ERISH WIDJANARKO, S.T (Kepala Bidang Riset dan Sumber Daya Laut dan Kewilayahan, Pusriskel)


Last Updated on Monday, 21 September 2020 10:43
 
 

Penyusunan Juknis Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi

E-mail Print PDF


Bogor, 17 September 2020. Menindaklanjuti rumusan Rakorpus BRSDM 2020 yang memuat rekomendasi agar BRSDM menginventarisir hasil riset yang sudah disiapterapkan di masyarakat atau industri, maka diperlukan klaim yang memastikan hasil riset sudah siap diterapkan. Guna mendukung hal tersebut pada hari Kamis-Jumat tanggal 17-18 September 2020 dilaksanakan pertemuan rapat Penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) guna menyusun  draft awal (draft 0) petunjuk teknis pengukuran TKT hasil riset di Swissbel Hotel, Bogor yang dihadiri oleh seluruh Pusat dan Satker lingkup BRSDM secara tatap muka dan daring.

Acara yang digelar oleh Sekretariat BRSDM ini merupakan tindak lanjut dari Kick Off Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang telah dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2020 terkait intervensi produk inovasi dan hasil riset yang telah dihasilkan dan siap untuk dihilirisasi.

Pertemuan rapat dibuka oleh Sekretaris BRSDM Dr. Maman Hermawan yang memberikan pengarahan kepada seluruh peserta rapat, serta mengingatkan kembali agar BRSDM menginventarisasi hasil riset yang sudah disiapterapkan dan diadopsi oleh masyarakat dan industri. Hadir sebagai narasumber dari Pusat Sistem Audit Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PSTA-BPPT) Bpk. Dedi Suhendri M.Si. yang menyampaikan Tata Cara Pengukuran Tingkat Kesiapterapan Teknologi dan dilanjutkan dengan diskusi bersama.

Hadir mewakili Pusriskel pada acara ini yakni Kepala Bagian Tata Usaha Theresia Lolita, M.Si., Kepala Subbidang Riset Sumber Daya Laut Dr. Niken Financia, Kepala Subbagian Keuangan B. Realino, M.Si. staf Bidang Riset Teknologi Kelautan Nurlian Ilyas, M.Si. dan staf Tata Usaha Sari Novita, S.T.


Last Updated on Thursday, 17 September 2020 14:32
 

Pembahasan Draft Kerjasama Pusriskel dengan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN

E-mail Print PDF


Bertempat di Ruang Rapat Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Jl Djunjunan No.133 Bandung  pada hari Selasa 15 September 2020 berlangsung rapat pembahasan kerjasama riset antara Pusriskel  dengan PSTA LAPAN. Rapat ini merupakan tindaklanjut dari penjajagan kerjasama yang telah dilakukan pada bulan Juli 2020. Rapat dibuka oleh Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer  Dr. Didi Setiadi didampingi oleh Koordinator Bidang Diseminasi Dr. Lilik Slamet Suprihatin dan beberapa peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN  serta Kepala Subbidang Sumber Daya Laut Dr. Niken Gusmawati, Kepala Subbidang Mitigasi dan Adaptasi M. Hikmat Jayawiguna, M.SI., Peneliti Pusriskel Dr. Dwiyoga Nugroho, dan staf  kerjasama Pusriskel Sari Novita, S.T. Kerjasama ini bertujuan untuk melakukan penelitian dan pengolahan data dan informasi dari SEMAR (Sistem Embaran Maritim). Diharapkan hasil kerjasama ini dapat dijadikan sebagai salah satu system pendukung keputusan di sektor kelautan dan perikanan.


Last Updated on Tuesday, 15 September 2020 14:37
 

Inovasi Memitigasi Kecelakaan Nelayan

E-mail Print PDF



Artikel selengkapnya : Inovasi Memitigasi Kecelakaan Nelayan 

Video : Membanggakan, Kepala LPTK menerima Satyalancana Pembangunan dari Presiden RI



Last Updated on Monday, 14 September 2020 11:18
 

Ahli Oseanografi, Widodo Setiyo Pranowo : ENSO dan IOD Bisa Berdampak Positif bagi Nelayan

E-mail Print PDF

JAKARTA – Fenomena ENSO, yaitu El Nino dan La Nina seringkali hanya dikaitkan dengan kondisi cuaca di Indonesia. Padahal dengan mengkombinasikan penelitian terhadap fenomena ENSO dan IOD yang terjadi bersamaan, akan bisa menghasilkan suatu kemudahan bagi para nelayan dalam melakukan penangkapan ikan pada waktu dan lokasi yang tepat.

Ahli Oseanografi, Widodo Setiyo Pranowo, menyatakan IOD (Indian Ocean Dipole) baik positif maupun negatif yang terjadi bersamaan dengan ENSO disebut sebagai Kopling.

“Kopling IOD dan ENSO ini kemudian akan mempengaruhi kondisi musim (Monsun) yang ada di Indonesia,” kata Widodo saat dihubungi, Jumat (11/9/2020). Contohnya, pada tahun 2004/2005 terjadi EL Nino, namun pada 2005 sendiri ada ketambahan IOD Negatif. Atau pada tahun 2005/2006 terjadi La Nina namun pada 2006 sendiri ada ketambahan IOD (Modoki) Positif yang mencatatkan tahun 2006 sebagai kejadian anomali ekstrem. “Suhu merupakan faktor penting kenyamanan makhluk hidup untuk tinggal di habitatnya. Logika sederhananya, seperti kita yang lebih suka berada di bawah pohon rindang yang teduh ketika udara di sekitar kita panas terik,” ujarnya.

Hal yang sama, lanjutnya, juga terjadi di ekosistem lautan. Yang mana masing-masing hewan dan tumbuhan laut memiliki kesukaan terhadap suhu air, kondisi salinitas (kadar garam terlarut), oksigen terlarut dan kedalaman. “Masing-masing jenis organisme laut memiliki kesukaan kondisi laut, seperti suhu untuk optimum hidup. Sehingga, bila suhu air berada di bawah suhu optimum atau di atas suhu optimum, maka dapat mengakibatkan stres pada organisme laut. Bila kondisi tersebut semakin ekstrem dan berlangsung lama, maka bisa mematikan organisme laut tersebut,” imbuhnya.

Ia mencontohkan organisme terkecil yang bersel satu di laut yang sensitif terhadap variabilitas laut-iklim adalah fitoplankton. Karena fitoplankton ini membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis. “Sehingga kelimpahannya di laut pun akan sangat tergantung dari intensitas energi radiasi sinar matahari ke badan air laut,” ujarnya.

Gerak semu Matahari terhadap Bumi, dimana pergerakan rotasi Bumi dan revolusi Bumi terhadap Matahari menyebabkan seakan-akan Matahari secara musim akan bergerak dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan melewati ekuator. “Pada saat gerak semu tersebut maka intensitas energi sinar matahari yang diterima oleh fitoplankton akan bervariasi terhadap musim. Ditambah lagi ketika adanya tutupan awan yang menghalangi pancaran sinar matahari,” ujarnya lebih lanjut.

Fenomena IOD dan ENSO, lanjutnya, juga akan mempengaruhi kelimpahan dan distribusi dari Fitoplankton tersebut. “Fitoplankton adalah makanannya plankton, kemudian plankton dimakan ikan kecil, dan rantai atau piramida makanan di laut pun berlanjut hingga kepada predator teratas. Sehingga keberlimpahan fitoplankton kemudian akan mempengaruhi sumber daya ikan yang menjadi salah satu sumber pangan manusia,” papar Widodo.

Sebagai contoh, seperti yang terjadi di Teluk Tomini, dimana secara umum Fitoplankton di Teluk Tomini lebih melimpah pada Monsun Tenggara dibandingkan ketika Monsun Barat.

“Namun secara distribusi spasial, pada Monsun Tenggara, fitoplankton di bagian dalam Teluk Tomini (sisi barat) adalah lebih rendah daripada di bagian mulut Teluk Tomini (sisi timur). Fitoplankton akan lebih melimpah lagi ketika terjadi kopling antara Monsun Tenggara dengan El Nino. Untuk sementara, belum ada tercatat fenomena IOD berpengaruh kepada kemelimpahan fitoplankton di Teluk Tomini,” urainya.

Atau contoh lokasi lainnya, yaitu Laut Selatan Jawa hingga Selatan Nusa Tenggara yang mengalami keberlimpahan fitoplankton saat Monsun Timur/Tenggara. “Keberlimpahan tersebut akan semakin meningkat ketika ada kopling dari El Nino, dan/atau ditambah lagi kopling dari IOD positif dan/atau IOD Modoki Positif,” ujarnya. Atau yang lebih menarik lagi, apa yang terjadi di Selat Karimata yaitu puncak keberlimpahan fitoplankton dapat terjadi 2 kali dalam setahun, yakni di Monsun Barat dan Monsun Timur. “Keberlimpahan fitoplankton pada Monsun Barat akan semakin meningkat ketika ada kopling dari El Nino. Keberlimpahan fitoplankton semakin juga meningkat ketika ada kopling dari La Nina pada Monsun Timur,” imbuhnya.

Dengan demikian, secara umum, keberlimpahan fitoplankton di Lautan Indonesia adalah setiap saat selalu ada. “Dengan variabilitas volumenya pada setiap lokasi laut, selat, dan teluk di setiap musim/monsunnya. Fitoplankton selain berkontribusi menjamin sumber daya perikanan, juga berkontribusi menyediakan oksigen terlarut. Ikan akan sehat dan happy untuk tinggal di laut sebagai habitat hidupnya. Bila terpenuhi sumber makanannya dan bisa bernafas leluasa karena oksigen terlarut di dalam air melimpah,” kata Widodo lebih lanjut.

Jika keberadaan ikan terjamin di laut, maka nelayan akan mendapatkan kemudahan untuk melakukan penangkapan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhannya. “Sehingga, riset pemantauan terkait interaksi IOD dan ENSO ini sangat penting untuk tetap dilanjutkan demi memberikan ramalan daerah penangkapan ikan dalam waktu 3 hingga 14 hari ke depan. Riset dan pemantauan ini akan lebih dahsyat output-nya kepada pemerintah dan outcome-nya kepada publik bila dilakukan Kolaborasi antara Badan Riset & SDM KKP, BMKG dan tentunya LAPAN. Jadi, secara umum, Benua Maritim Indonesia (BMI) memiliki peran geostrategis terhadap ketahanan pangan dan ekosistem laut dunia,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews




Last Updated on Monday, 14 September 2020 07:48