Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Semarak Ramadhan 1439 H di BROL

E-mail Print PDF


Perancak (06/06). Bulan Ramadhan merupakan bulan wajib berpuasa, menahan hawa nafsu bagi umat muslim di seluruh dunia. Bulan ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hidayah kepada manusia. Bulan yang penuh berkah dan ampunan sekaligus bulan pembinaan bagi kaum muslimin menuju derajat orang-orang yang bertakwa

Dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan, BROL menyelenggarakan serangkaian kegiatan, seperti buka puasa bersama pegawai BROL setiap Senin, Rabu, dan Jumat; Pengumpulan dana infaq dan shadaqah dari pegawai BROL; Pembagian takjil kepada masyarakat pesisir dan nelayan di Desa Ketapang Lampu, Pengambengan pada Jumat (01/06); Bakti sosial di Pesantren Mambaus Solihin Pengambengan serta di Musholla dan Pesantren Nurul Huda Tegal Badeng Timur pada Selasa (05/06); serta buka puasa bersama anak-anak dan pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Jembrana yang didukung oleh Bank Muamalat dan Biznet kantor cabang Negara pada Rabu (06/06).

Buka puasa bersama pegawai BROL tiap Senin, Rabu, dan Jumat


Pembagian takjil kepada masyarakat pesisir dan nelayan di Desa Ketapang Lampu, Pengambengan pada Jumat (01/06)


Bakti sosial di Pesantren Mambaus Solihin Pengambengan serta di Musholla dan Pesantren Nurul Huda Tegal Badeng Timur pada Selasa (05/06)


Buka puasa bersama anak-anak dan pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Jembrana yang didukung oleh Bank Muamalat dan Biznet kantor cabang Negara pada Rabu (06/06)

Serangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan setiap tahun oleh BROL dengan tujuan untuk menyemarakkan bulan Ramadhan, meningkatkan pemahaman agama serta keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, mempererat tali ukhuwah islamiyah diantara umat muslim, serta membantu sesama melalui penyaluran santunan.




Last Updated on Monday, 13 August 2018 14:15
 

Bermain "Mangroves and Me" Bersama Sunrise School Bali

E-mail Print PDF

Perancak (07/06). Bermain sambil belajar adalah hal yang menyenangkan untuk anak-anak. Keinginan bereksplorasi dan rasa ingin tahu anak-anak akan sesuatu yang baru sangatlah tinggi. Hal ini dapat ditingkatkan dengan kombinasi antara kegiatan belajar dan bermain (education with fun).

Kamis (07/06) lalu, Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) menerima kunjungan siswa dan siswi dari Sunrise School Bali dalam rangka Annual Camp Program. Kunjungan ini bukan kali pertama. Tiga tahun lalu sekolah ini juga berkunjung ke BROL untuk belajar hal yang sama.

Pada kunjungan kali ini, 10 (sepuluh) siswa dan siswi Sunrise School Bali diajak bermain dengan mengisi pertanyaan-pertanyaan tentang Mangroves and Me pada lembar kerja yang dibagikan oleh Dr. Frida Sidik, seorang pakar mangrove dan merupakan Ketua Kelompok Penelitian BROL. Melalui metode ini, siswa/i menuangkan deskripsi dan interpretasinya tentang ekosistem mangrove yang dikenalnya, sehingga dapat diketahui seberapa jauh pengetahuan mereka akan ekosistem tersebut.

“Kali ini mereka saya ajak fun learning dulu sebelum ke lapangan. Saya mau mencoba merangsang nalar dan pengetahuan mereka tentang ekosistem mangrove. Saya siapkan worksheet berisi beberapa pertanyaan tentang mangrove, juga saya minta mereka untuk menggambar bentuk anatomi mangrove, saya ingin melihat kreativitas mereka. Setelahnya, mereka akan kita ajak site visit dan menanam buah mangrove di hutan mangrove sekitar kantor BROL”, ujar Dr. Frida Sidik.

Para siswa mengenal mangrove berikut jenis, tata cara identifikasi, dan manfaatnya bagi masyarakat, baik secara ekologi, ekonomi, maupun sosial. Melalui penanaman mangrove, siswa/i juga dapat mengenal ekosistem mangrove secara lebih dekat.

"Saya senang dan beruntung bisa berkunjung ke sini, saya disambut baik, dapat bermain lumpur, dan mendapat informasi yang banyak mengenai mangrove yang sebelumnya saya kurang tahu", ungkap G. Ryee Hawksworth, salah satu siswa Sunrise School Bali.



Last Updated on Monday, 13 August 2018 13:26
 

KAN Setujui Penambahan Ruang Lingkup Pengujian Pada LRK BROL

E-mail Print PDF


Perancak (23/05). Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.33/MEN/2017 tentang Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Laboratorium Riset Kelautan (LRK) secara berkelanjutan melakukan pembenahan diri. Salah satunya melalui penambahan ruang lingkup pengujian pada fasilitas pengujian Laboratorium Kualitas Perairan (LKP).

Setelah melalui beberapa perbaikan persyaratan akreditasi, pada (23/05) lalu, Komite Akreditasi Nasional (KAN) akhirnya memutuskan untuk memberikan akreditasi penambahan ruang lingkup pengujian atas 25 parameter pengujian yang diusulkan. Keputusan ini dituangkan dalam Sertifikat Akreditasi Laboratorium No. LP-454-IDN. Melalui keputusan tersebut saat ini ruang lingkup pengujian yang telah terakreditasi oleh KAN menjadi 32 parameter pengujian yang terdiri dari air laut (16 jenis pengujian), air limbah (10 jenis pengujian), dan air permukaan (6 jenis pengujian).

“Ruang lingkup yang ada saat ini memiliki parameter uji lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya ada tujuh parameter. Dengan penambahan ruang lingkup jenis pengujian dan mendapatkan akreditasi dari KAN, LKP BROL dapat memberikan pelayanan pengujian kualitas air dengan keterjaminan mutu yang berkualitas", ujar Eko Susilo selaku Manajer Mutu LRK BROL.

Ruang lingkup pengujian pada fasilitas pengujian LKP selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:




Last Updated on Monday, 13 August 2018 13:57
 

Partisipasi Pusris Kelautan Dalam Rencana Aksi Nasional CTI-CFF Indonesia Tahun 2018-2020

E-mail Print PDF

Jakarta, 07 Juni 2018. Setelah disahkannya Peraturan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Nomor 2 tahun 2018 pada tanggal 5 Maret 2018 tentang Rencana Aksi Nasinal  Coral Triangle Initiative on Coral Reef, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), beberapa kementerian dan lembaga non pemerintah mendapatkan mandat untuk melaksanakan program dan kegiatan rencana aksi nasional CTI-CFF untuk periode 2018-2020.

Kementerian Kelautan dan Perikanan dan beberapa kementerian dan lembaga lainnya yakni Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenkomar), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (KNPPN),  dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditunjuk sebagai pemimpin untuk memfasilitasi dialog dan diskusi dalam setiap rangkain kegiatan  yang dapat diimplementasikan secara nyata dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Sesuai peraturan menteri tersebut, Pusat Riset Kelautan Badan Riset dan SDMKP (Pusriskel-BRSDMKP) dalam hal ini mendapat mandat menjalankan rencana aksi untuk merumuskan sistem peringatan dini dan respon terhadap variabilitas cuaca, suhu dan perubahan fenomena termasuk pemutihan karang,  serta merumuskan strategi langsung atau respon cepat pada dampak perubahan iklim terhadap nelayan. Secara khusus Pusriskel akan bertanggung jawab pada beberapa kegiatan yakni, kegiatan monitoring pesisir menggunakan radar untuk meningkatkan ketahanan wilayah pesisir, pengukuran pada parameter indikator  kesehatan laut, fenomena identifikasi laut terkait dengan perubahan iklim, pengukuran potensi pengasaman laut di Indonesia, studi perubahan tutupan lahan di daerah pesisir dan dampaknya pada ekosistem pesisir dan karbon,  serta  pengembangan Bioreeftek untuk konservasi terumbu karang dan replikasinya.

Pusriskel juga berpartisipasi dalam rencana aksi yang dimandatkan pada BRSDM dalam mengembangkan kebijakan dan melakukan beberapa penellitian tentang dampak perubahan iklim terhadap keanekaragamanhayati dan sosial ekonomi.  Yang secara khusus membantu dalam pemetaan dan pengukuran stock karbon di hutan bakau dan padang lamun di Indonesia, analisis layanan ekosistem pesisir dan aspek masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim lokal, dan pengembangan metode penghitungan karbon pesisir.

Satker di bawah Pusriskel yakni Balai Penelitian Observasi Laut -BPOL ( Nomenklatur lama dari Balai Riset dan Observasi Laut-BROL) juga mendapatkan tugas mengidentifikasi dan memetakan daerah Segitiga Karang Indonesia pada tingkat kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Secara khusus mencakup penelitian tentang dinamika laut dan produksi primer yang berkaitan dengan perikanan, dan sosialisasi tentang keadaan lingkungan laut yang berkaitan dengan sumber daya perikanan dan perubahan iklim.


Last Updated on Thursday, 07 June 2018 11:04
 

Pusriskel Beri Masukan Kriteria Penentuan Lokasi Zona Konservasi Mangrove Peta RZWP3K Jawa Barat

E-mail Print PDF

Jakarta,31/05/18.- Bertempat di Ruang Rapat Lt.1 GMB 3 telah berlangsung pertemuan rapat lanjutan pembahasan dokumen final dan Ranperda RZWP3K Pemprov Jawa Barat. Acara ini diprakarsai oleh Itjen Pengelolaan Ruang Laut. Rapat dipimpin oleh Dr. Krisna Samudera selaku Kasubdit Zonasi Daerah Direktorat Perencanaan Ruang Laut dan dihadiri oleh unsur Muspida Pemprov Jawa Barat yang terkait seperti kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Kepala Biro Hukum serta perwakilan lintas K/L terkait seperti Setneg, Dit.Wilhan Kemenhan, Kemen PUPR, KLHK, KPK, ESDM, PLN, Telkom, dan Kementerian  Pariwisata.

Turut hadir dari unsur internal KKP perwakilan dari masing-masing unit kerja eselon 1 terkait, dimana untuk BRSDMKP diwakilkan oleh Pusat Riset Kelautan. Adapun point-point penyampaian yang menjadi agenda utama pembahasan adalah koreksi terakhir dokumen final RZWP3K dan Rancangan peraturan daerah yang mengaturnya dimana masing-masing institusi diberikan kesempatan untuk memberikan verifikasi/komentar/koreksi/dan masukkan terkait teks naskah teks maupun teknis isi rancangan perda tersebut serta melakukan koreksi geometric terhadap lokasi-lokasi objek pada masing-masing zona yang terdapat dalam peta RZWP3k yang terkait dengan institusinya.

Adapun Pusat Riset Kelautan dalam hal ini diwakilkan oleh Hikmat Jayawiguna selaku Kasubbid Riset Mitigasi dan Adaptasi yang didampingi oleh dua orang peneliti dibidangnya R. Bambang Nugraha dan  Fajar Yudi Prabawa. Dalam hal ini tim Puriskel memberikan beberapa koreksi naskah terhadap pasal-pasal yang ada di dokumen Ranperda serta masukan terkait penyempurnaan dokumen Final (peta) RZWP3K khususnya dalam hal penentuan deliniasi kawasan konservasi yang ada di Muara Gembong Bekasi. “Kami punya detail hasil kajian scientific yang bisa dijadikan rujukan dalam penentuan dimana seharusnya kawasan konservasi di plotting sesuai kondisi eksisting dan tingkat kerusakan yang ada” terang Bambang. Dalam penyampaiannya Hikmat juga meminta agar Pemprov Jabar memberikan space untuk zona inti dan penyangga kawasan konservasi mangrove dan fauna akuatik di Kecamatan Muara Gembong untuk pemanfaatan sumberdaya ikan secara berkelanjutan, mengingat 65% penduduk setempat bermata pencaharian mengandalkan hasil laut.

Pada sesi diskusi Pemprov Jabar berjanji akan memasukkan usulan dan rekomendasi puriskel terkait deliniasi kawasan konservasi mangrove sesuai dengan titik-titik koordinat yang telah diberikan berdasarkan kajian scientific yang telah dilakukan. Dijadwalkan tim teknis Jabar akan mengundang Puriskel beserta beberapa instansi lain dalam FGD hasil perbaikan dokumen final Ranperda dan RZWP3K di Bandung yang akan dipimpin oleh Pak Sekda. Diharapkan zona kawasan konservasi mangrove yang telah direkomendasikan oleh tim Puriskel pada sesi FGD tersebut sudah tercantum di dalam peta RZWP3K hasil perbaikan.



Last Updated on Thursday, 07 June 2018 11:02
 

Wisata Warisan Bawah Laut Diidentifikasi oleh Pusat Riset Kelautan

E-mail Print PDF

Jakarta, 7 Juni 2018. Sesuai dengan arahan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Ir. Sjarief Widjaja, M.Sc, FRINA terkait kegiatan penentuan 10 titik Lokasi Wisata Arkeologi Bahari, pada hari Selasa 5 Juni 2018 bertempat di Ruang Rapat Lt 4, Gedung II BRSDMKP diadakan rapat lanjutan mengenai penentuan lokasi Wisata Arkeologi Bahari. Rapat dipimpin oleh Kepala Pusat Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki yang dihadiri pula oleh Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Bungus Nia Naelul Hasanah Ridwan, S.S. M.Soc.Sc, Kepala Sub Bidang Riset Kewilayahan Eko Triarso, M.Si, serta beberapa peneliti yang turut berkontribusi diantaranya Dr. –Ing Widodo S. Pranowo, Rainer A. Troa, M.Si, Yulius, M.Si, Joko Prihantono, M.Si, Dr. Nur Azmi Ratna Setyawidati, Dr. Rinny Rahmania, dan Hadiwijaya Lesmana Salim, M.Si.

Bentuk capaian dari kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu buku informatif dan eyecatching yang menggambarkan keunikan serta potensi wisata arkeologi bahari dengan ilustrasi gambar yang menarik. Buku ini kemudian akan diserahkan kepada pihak Pemerintah Daerah dan akan dipromosikan ke beberapa pihak media. Yang menjadi sorotan atau topik utama dalam kajian Wisata Arkeologi Bahari adalah mengenai kondisi dan sejarah kapal karam (shipwreck) serta situs arkeologi maritim Indonesia. Pusat Riset Kelautan telah melakukan kegiatan riset mengenai potensi sumberdaya laut dalam dan arkeologi maritim di beberapa wilayah di Indonesia. Kegiatan yang dikoordinatori oleh Eko Triarso, M.Si, Reiner A. Troa, M.Si, dan Ira Dillenia, M.Hum ini, diantaranya telah mengkaji wilayah Perairan Natuna, P Serasan, P Mandeh, P Selayar, P Togean, Perairan Bangka Belitung, Perairan Halmahera, Morotai, Sorong, dan Raja Ampat.

Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Pusat Riset Kelautan dan Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) Bungus, maka telah ditentukan beberapa lokasi yang berpotensi dijadikan sebagai Wisata Arkeologi Bahari, yaitu: 1) Perairan Natuna (P Laut, P Sedanau, dan P Senubing); 2) Bangka Belitung (P Klapa Kampit dan P Long); 3) Perairan Maluku Utara (Halmahera dan Morotai); 4) Raja Ampat; 5) Manokwari; 6) P Mandeh; 7) P Weh; dan 8) Perairan Gorontalo. Selanjutnya diskusi dilanjutkan dengan pembahasan terminologi perubahan dari Bahasa asing menjadi Bahasa Indonesia terkait dengan judul buku. Beberapa contoh perubahan bahasa yang dibahas diantaranya Undewater Heritage berubah menjadi Wisata Warisan Bawah Laut Indonesia serta Historical Shipwreck menjadi Situs Kapal Karam Bersejarah Indonesia.

Beberapa konten yang akan dibahas dalam pembuatan Buku Wisata Arkeologi Bahari diantaranya adalah 1) Profil singkat situs; 2) Strategi pengembangan wisata; 3) Aksesibilitas dan Akomodasi; serta 4) Kondisi umum lingkungan. Kepala Pusat Riset Kelautan menunjuk Dr.-Ing Widodo S. Pranowo untuk dapat membantu penulisan kondisi umum lingkungan seperti arus permukaan laut, kecerahan, serta parameter fisik perairan lainnya. Target dari pelaksanaan kegiatan ini dapat selesai dalam kurun waktu 10 (sepuluh) bulan kedepan, dengan target awal telah terbentuknya infografis lokasi.

Berita Terkait:




Last Updated on Thursday, 07 June 2018 12:59