Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Jangan Ambil Lagi Pasir dan Kerang! Ini Aturan yang Melarangnya

E-mail Print PDF


Jakarta - Pengambilan pasir atau kerang untuk jadi suvenir, rupanya jadi tindak pelanggaran. Dilindungi pemerintah, ini peraturannya.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Tahukah traveler, kalau melakukan aksi ini adalah pelanggaran di mata hukum?
"Ini jelas kerang kima. Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Novi Susetyo Adi, Peneliti Muda Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Sabtu (8/9/2018).
Di Indonesia kima ini termasuk hewan yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Indonesia sendiri juga terikat suatu konvensi international yang melarang perdagangan endangered species (termasuk kima ini), yaitu konvensi CITES. Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. 
"Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Novi. Tak hanya kima, dari foto juga terlihat karang bercabang. Karang ini berukuran kecil dan kerap jadi suvenir dari pantai. "Intinya hampir sama dengan kima tadi. Beberapa spesies karang juga masuk dalam IUCN red list dan juga masuk ke dalam daftar appendix CITES," ungkap Novi.
Selain kerang dan karang, pasir juga jadi suvenir saat berkunjung ke pantai. Apalagi Pantai Pink yang punya pasir cantik. "Pengambilan pasir pantai ini bisa dikaitkan dengan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perusakan lingkungan, misal UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup," tambah Novi.
Hilangnya pasir, mematikan atau mengganggu kima, membawa karang berarti akan mengganggu atau bahkan mematikan fungsi-fungsi ekologis dari mereka. Hal ini akan berdampak pada rusaknya alam dan hilangnya ekosistem laut.

Sumber : Travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:16
 

Kata Peneliti Soal Pengambilan Pasir Laut dan Karang di Pulau Komodo

E-mail Print PDF


Jakarta - Tren wisatawan yang mengambil pasir dan kerang untuk suvenir sebenarnya sudah lama terjadi dan makin mengkhawatirkan. Begini kata peneliti.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Rupanya aksi ini bisa meninggalkan dampak negatif untuk alam. "Ini jelas kerang kima. Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Novi Susetyo Adi, Peneliti Muda Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Sabtu (8/9/2018).

Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. "Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Novi. Tugas lain kima juga sebagai penyumbang kalsium karbonat pembentuk ekosistem terumbu karang. Sehingga kima juga sumber zooxanthellae (symbiodinium spp) yang bersimbiosis dengan hewan karang.

"Kima juga sebagai pencegah eutrofikasi (pengkayaan nutrien perairan akibat limbah organik) dengan fungsi filteringnya," papar Novi. Hidup menyatu dengan karang, pengambilan kima berarti juga merusak dan membunuh karang. Hal ini menjadi hal yang harus dipahami oleh traveler yang mau main ke pantai. Tak hanya kerang, karang bercabang dan pasir pun terlihat jadi barang sitaan pihak bandara. Rupanya karang bercabang pun juga ikut menjadi daftar suvenir dari laut. Padahal beberapa karang tersebut juga masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi. Karang mempunyai fungsi ekologis yang beragam.

"Karang sebagai tempat berlindung dan habitat ikan-ikan karang dan juga sebagai peredam gelombang sehingga pantai tidak abrasi," ungkap Novi. Novi menambahkan bahwa karang juga mempunyai fungsi ekonomi. Melalui funsinya karang sebagai pendukung perikanan tadi dan ekoturisme yang dimanfaatkan industri pariwisata dan masyarakat pesisir. "Jadi kalau karang hilang, sektor perikanan karang menurun dan kalau berlanjut hilang, dan juga pariwisata hilang," tambah Novi.

Bukan cuma kima dan kerang bercabang yang seringkali jadi oleh-oleh dari pantai. Pasir pun juga masuk daftar. Seringkali wisatawan mengambil pasir pantai dan dimasukkan ke dalam botol sebagai kenang-kenangan. Apalagi di Pantai Pink!

Walau tak dilindungi namun pengambilan pasir pantai juga merupakan kegiatan yang merusak lingkungan. "Dari sisi ekologi, pantai berpasir sendiri mempunyai beberapa layanan ekosistem (ecosystem services) antara lain sebagai transpor dan penyimpan sedimen, pemecah gelombang sehingga mencegah abrasi (pelindung pantai)," ujar Novi.

Pasir berfungsi sebagai pemfilter dan tempat dekomposisi akhir bahan organik dan polutan. Tak hanya itu, pasir pantai juga jadi tempat bertelur penyu, habitat burung laut, dll. Hilangnya pasir berarti akan menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi ekologis tadi. Melihat hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa suvenir berbentuk pasir, kima dan karang akan berakibat buruk. Bukan hanya bagi laut, tapi juga masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup di sana.

Yuk, kita jadi wisatawan cerdas yang bertanggung jawab!

Sumber :travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:07
 

AIS Mini Adalah Produk Unggulan Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Wakatobi

E-mail Print PDF


Jakarta, 10 September 2018. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi memiliki Stasiun Radar Pantai yang telah beroperasi sejak tahun 2012. Radar pantai tersebut hingga sekarang dipakai untuk memantau lalu lintas kapal. Radar pantai LPTK Wakatobi memiliki 3 teknologi utama yakni Radar X-Band yang digunakan untuk mendeteksi lokasi, arah gerak dan kecepatan kapal, AIS Base Station yang digunakan untuk mengidentifikasi objek radar memanfaatkan transponder AIS pada kapal, dan Long Range Camera yang digunakan untuk mengidentifikasi visual kapal, memvalidasi data radar dan AIS dengan kondisi sesungguhnya. Kemudian data hasil pantauan radar tersebut diserahkan kepada autoritas setempat seperti TNI AL dan Bakamla serta Polairud.

Para peneliti dan perekayasa LPTK Wakatobi mempelajari teknologi radar tersebut lalu mengkonstruksi atau merekayasa AIS versi mini,  berupa transponder  AIS berukuran kecil untuk meningkatkan keselamatan nelayan, khususnya nelayan kecil (<3 GT). Beberapa kelebihan dari AIS mini adalah ukurannnya yang kecil dan ringan sehingga tidak membutuhkan banyak ruang, serta mudah dioperasikan dan tahan lama dengan hasil yang akurat serta harganya yang terjangkau.

AIS (Automatic Identification System) adalah sebuah sistem pelacakan otomatis yang digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu llintas kapal untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain, BTS AIS dan satelit. Hingga saat ini AIS wajib dipasang pada semua kapal dengan tonase > 300GT dan kapal penumpang.

Dengan dikembangkannya AIS mini diharapkan kecelakaan laut yang sering terjadi di Kabupaten Wakatobi seperti kapal hanyut, nelayan hilang dan kapal tenggelam yang dialami oleh nelayan kecil pencari tuna dapat dihindari.


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 07:05
 

Perangi Pelaku "Illegal Fishing" KKP Optimalkan Satelit Pemantau Di Perancak

E-mail Print PDF

Sumber : Bali Pos, Jumat Pon, 31 Agustus 2018



Last Updated on Thursday, 06 September 2018 07:28
 

Video Conference BROL Dengan Penyuluh Kabupaten Kota se-Indonesia dalam kegiatan Sosialisasi Aplikasi Laut Nusantara

E-mail Print PDF


Jakarta (06/09). Ragam respon bermunculan pasca peluncuran aplikasi Laut Nusantara, sebuah aplikasi berbasis android oleh Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) dan PT. XL Axiata, Tbk., yang memuat informasi mengenai sebaran dugaan daerah potensi ikan di Indonesia. Banyak pihak menyambut baik kehadiran aplikasi gratis ini dengan harapan meningkatnya taraf kesejahteraan bagi nelayan yang menggunakannya. Disamping itu, saran dan masukan membangun juga bermunculan memberikan angina positif untuk perkembangan aplikasi Laut Nusantara kedepan.

Guna penyampaian informasi dan penerapan aplikasi Laut Nusantara yang tepat sasaran, BROL bersama Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Jakarta adakan video conference pada Kamis (06/09). Kegiatan yang diadakan di ruang VICON Puslatluh KP ini dihadiri oleh perwakilan staf dari Puslatluh KP dan Tim XL Axiata serta diikuti oleh lebih dari 5000 penyuluh perikanan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia melalui Skype dan ditayangkan secara live video streaming melalui YouTube. Sebagai perwakilan narasumber dari BROL, Romy Ardianto secara khusus mempresentasikan materi tentang pengenalan dan kerangka kerja Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI), cara mengakses PPDPI, serta perkenalan Sistem Prediksi Kelautan (SIDIK) hingga pengenalan aplikasi Laut Nusantara yang merupakan produk inovasi turunan dari SIDIK.

“Acara ini mendapat respon sangat baik dari penyuluh seluruh Indonesia, terlihat dari adanya aktivitas tanya jawab interaktif yang diajukan oleh setiap perwakilan penyuluh. Sebagai tindak lanjut, para penyuluh mengharapkan agar aplikasi ini terus dikembangkan dalam rangka mendukung produktivitas nelayan dalam melakukan penangkapan ikan dan jika dimungkinan, ditambahkan beberapa informasi penting seperti area kawasan konservasi laut dan informasi sebaran sampah laut yang sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan. Selain itu, penyuluh mengharapkan agar Puslatluh KP dapat segera mengadakan acara Training of Trainer (ToT) aplikasi Laut Nusantara bagi penyuluh seluruh Indonesia dengan narasumber tim ahli dari BROL”, ungkap Romy usai kegiatan.

“Melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu tim penyuluh KP untuk meningkatkan pemahaman dan bahan pendukung teknologi dalam merubah mindset nelayan Indonesia khususnya nelayan kecil dari yang tadinya mencari ikan jadi menangkap ikan. Sehingga, dampak positif yang diharapkan dengan menggunakan cara modern ini tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia secara merata”, tambahnya.

Last Updated on Tuesday, 15 January 2019 09:10
 

Turut Berbela Sungkawa atas Meninggalnya Sdr. Riswan Hasan

E-mail Print PDF


Last Updated on Wednesday, 05 September 2018 06:57