Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Titah Samudera Dalam Kebijakan Kelautan Dan Perikanan

E-mail Print PDF

Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) pada Selasa 29 September 2020 menggelar Sarasehan Kelautan dengan tema “Titah Ratu Samudera Dalam Kebijakan Kelautan dan Perikanan” melalui ruang Zoom Meeting. Sarasehan Kelautan ini merupakan seri lanjutan dari “Seminar Online: Kebijakan Pemanfaatan Data Gelombang Seri #2”.

Sarasehan berlangsung hangat dan dinamis dipandu oleh Erish Widjanarko, S.T., selaku Kepala Bidang Sumber Daya Laut dan Kewilayahan Pusriskel. Disambut dan dibuka oleh Dr. Nyoman Radiarta selaku Kepala Pusriskel. Pak Kapus Radiarta, didalam pembukaannya  menjelaskan kiprah Pusat Riset Kelautan dalam menguak fenomena “RATU”  dari tahun 2002 hingga sekarang, yang dilakukan bersama-sama dengan seluruh Unit Pelaksana Teknis dalam rangka menyiapkan bahan kebijakan untuk KKP dan juga untuk mendukung sinergitas kebijakan nasional lainnya.

Sambutan dan pembuka berikutnya adalah dari Ibu Imas Masriah, S.Pi  sebagai Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), Cilacap) yang membawakan memaparkan dengan gamblang bagaimanakah dinamika produksi perikanan tangkap di WPPNRI 573. WPPNRI tersebut cakupan wilayahnya cukup luas yakni Samudera Hindia Selatan Jawa Nusa Tenggara, dengan batas terluar adalah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Cakalang adalah produksi tangkapan terbesar saat ini yang didaratkan di PPS Cilacap, kemudian Ibu Imas juga menceritakan keheranannya pada tahun 2019 terjadi anomali limpahan ekstrim atau ledakan dari populasi ubur-ubur. Namun, untungnya ubur-ubur tersebut termasuk yang bisa dikonsumsi manusia, sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir/nelayan.

Narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum, dengan pendalaman sepenuh jiwa menyampaikan materi “Membaca Samudera Memandang Gelombang”. Berbagai atau multi tafsir tentang Ratu Penguasa Samudera Selatan atau Samudra Hindia Selatan, yang dikenal sebagai “Kanjeng Ratu Kidul” dijelaskan menggunakan logika. Logika ini diambil dari pemikiran asli yang berkembang di kalangan masyarakat Indonesia, di kalangan ilmuwan, budayawan, dan filsuf. Pak Nur juga menggarisbawahi bahwa ada 2 (dua) periodisitas kebangkitan Bangsa Samudera di Indonesia ditandai dengan dibentuknya untuk pertama kalinya Kementerian Kelautan dan Perikanan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur, dan satu lagi pada masa pemerintahan Presiden Jokowi yang membentuk Kemenko Maritim.

Materi dari Pak Nur, kemudian disambung dengan cerita kesehari-harian dari masyarakat pesisir selatan Jawa termasuk nelayan di Cilacap, dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Cerita tersebut disampaikan oleh Pak Sarjono selaku Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap). Kegiatan rutin acara ‘Sedekah laut’ yang dilaksakan setahun sekali di bulan Muharam/Syura pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, tidak luput diceritakan oleh Pak Sarjono.

Sarasehan Kelautan ini menjadi lebih hidup tatkala, Prof. Dr. Andin H. Taryoto, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal KKP pada masa pemerintahan Menteri Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, turut aktif membacakan sebuah sajak dari pujangga  bernama Joko Sigit Bausosro (2013) berjudul “Cepuri Dua” yang bercerita akan kewibawaan dan kesaksian dari Samudera Hindia atas pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul untuk mendapatkan restu dalam memanfaatkan sumber daya bumi dan laut. Tak lupa Pak Andin, mengingatkan pekerjaan rumah yang besar tentang ratifikasi perbatasan laut dengan beberapa negara yang belum selesai juga sejak zaman KKP berdiri hingga sekarang. Beliau memberikan “insight” bahwa tantangan tersebut belum bisa diselesaikan mungkin karena belum mendapatkan restu dari Kanjeng Ratu Kidul.

Peneliti Senior Bidang Oseanografi Fisika, Dr. Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani, menceritakan pengalamannya mengarungi Samudera Selatan (Southern Ocean) ketika melakukan ekspedisi ke Antartika atau Kutub Selatan. Suatu perasaan “unik” muncul ketika kapal ekspedisi memasuki Samudera Selatan, perasaan seperti memasuki suatu dunia lain, yang menurut Mbak Anna (panggilan akrab beliau) mungkin saat itu sedang memasuki wilayah Kerajaan Kanjeng Ratu Laut Kidul. Mbak Anna, juga bercerita tentang kedekatannya dengan pantai selatan Jawa karena tugas akhir S1 dan tesis magisternya adalah berlokasi di selatan Jawa dan Cilacap. Kedepan, Mbak Anna berencana melakukan riset khusus tentang interaksi laut-atmosfer dalam pengaruhnya terhadap kemelimpahan ubur-ubur di Selatan Jawa. Terkait dengan pengalamannya aktif di IOC-UNESCO dan IPCC UNFCCC maka Mbak Anna memberikan dukungan penuh kepada pengembangan riset ke depan terhadap kearifan lokal masyarakat pesisir dalam mengenali fenomena-fenomena seperti El Nino dan La Nina dan bagaimanakah adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat selama ini.

Materi terkait perkembangan IPTEK Kelautan dalam rangka memantau, meneliti dan mengkaji Samudera Hindia Selatan Jawa dibawakan oleh Aida Heriati, M.T.  Selaku Peneliti Bidang Oseanografi Fisika di Pusriskel, Mbak Aida membahas secara ilmiah tentang Tradisi atau Prosesi Larung Sesaji Laut yang sering dilakukan oleh masyarakat pesisir di Selatan Jawa. Kisaran waktu pelaksanaan Sedekah Laut kemudian disandingkan dengan kisaran waktu terjadinya fenomena Upwelling di Selatan Jawa yang sering kali membangkitkan keberlimpahan kesuburan primer di laut yang kemudian menjadi daya tarik bagi ikan pelagis kecil dan besar untuk berkumpul, sehingga dengan mudah bisa ditangkap oleh nelayan.

Bagaimanakah metodologi eksplorasi sumberdaya energi dan mineral yang ada di dasar Laut Selatan Jawa disampaikan secara detil dan gamblang oleh Ir. Subaktian Lubis, M.Sc dari Prodi Oseanografi Institut Teknologi Bandung (ITB). Pak Subaktian, juga menceritakan bagaimana suatu kearifan lokal di masyarakat pesisir Cilacap yang bergotong-royong membersihkan tumpahan minyak menggunakan perahu fiber, ember, dan tong-tong plastik, sehingga dalam waktu 6 bulan pantai yang tadinya kotor oleh tumpahan minyak menjadi bersih. Apabila meninjau kembali kepada kejadian tumpahan di Teluk Mexico maka proses pembersihannya dari tumpahan minyak tidaklah secepat di Cilacap.

Peneliti Bidang Oseanografi Terapan Pusriskel Dr.-Ing. Widodo S. Pranowo membedah tradisi “Sedekah Laut” secara lebih teoritis dari sisi ranting ilmu Etno-Oseanografi. Widodo kemudian menjelaskan bahwa bagaimana konsep Etno-Oseanografi sebenarnya telah diaplikasikan secara budaya atau telah menjadi kearifan lokal sejak dulu yang tanpa disadari oleh masyarakat nusantara termasuk nelayan.

Penanggung Jawab kegiatan Kajian Data Gelombang, Dr. Niken Financia Gusmawati, memberikan pandangan secara kebijakan praktis, bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki kewenangan dalam mengatur Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yang diatur dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan 18/2014. Selain fokus kepada perikanan budidaya, maka KKP pun fokus kepada sektor perikanan tangkap. Berbicara tentang WPPNRI dan perikanan tangkap, maka tidak akan lepas dari tematik tentang hidrodinamika arus, gelombang, pasang surut, interaksi laut-atmosfer, dan kesuburan primer. Salah satu WPPNRI yang memiliki karakteristik unik adalah WPPNRI 573 yang meliputi Laut Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara yang ekstensi luasan zona ekonomi ekslusifnya hingga ke Samudera Hindia Tenggara. Pada WPPNRI 573 ini terdapat suatu fenomena yang disebut sebagai “semi-peRmanent javA coasTal Upwelling” disingkat “RATU”, yakni suatu fenomena naiknya lapisan massa air dari lapisan yang dalam menuju ke lapisan yang lebih dangkal atau bahkan hingga ke permukaan yang membawa zat hara yang melimpah yang berdampak meningkatnya produktivitas primer dan kemudian menarik bagi ikan-ikan untuk berkumpul sehingga nelayan mendapatkan jumlah tangkapan yang melimpah. RATU ini disebut sebagai ‘semi-permanent’ karena waktu berlangsungnya tidak selalu rutin mengikuti waktu angin monsun tenggara saja (Juni-Agustus) setiap tahunnya, melainkan waktu dan intensitasnya bisa mengalami penambahan waktu menjadi lebih lama akibat pengaruh dari El Nino, sehingga RATU bisa berlangsung hingga Oktober. Konsekuensi dari angin tenggara yang membangkitkan RATU, juga membangkitkan tinggi gelombang signifikan. Pusat Riset Kelautan pada Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, sejak tahun 2002 hingga sekarang, telah memantau dan melakukan riset terkait RATU ini.


Last Updated on Friday, 02 October 2020 06:22
 

Apa itu Etno-Oseanografi Dijelaskan oleh Widodo Pranowo

E-mail Print PDF

JAKARTA – Peneliti mengatakan, pengaplikasian kajian-kajian oseanografi sebenarnya sudah dilakukan sejak dahulu oleh para nenek moyang, termasuk nelayan Indonesia. Baik yang hanya berbasis pada pengamatan pada laut, atau yang menggabungkannya dengan metode keilmuan lain, seperti perbintangan. Penggabungan ilmu oseanografi dengan budaya yang ada di suatu masyarakat, disebut etno-oseanografi.

Menurut ahli oseanografi, Widodo S Pranowo, hal itu bisa dilihat pada berbagai perilaku budaya yang diturunkan turun temurun secara lisan. “Contohnya perwujudan rasa syukur para nelayan, biasanya diwujudkan dengan sedekah laut, yang memiliki penyebutan berbeda dari setiap wilayah Indonesia. Mulai dari Upacara Sinara di Kaimana Papua Barat, Labuh Laut di Yogyakarta hingga Jamuan Laut di Melayu Serdang,” kata Widodo, saat dihubungi, Rabu (30/9/2020).

Frekuensi pelaksanaan sedekah laut ini, bergantung pada tujuan dari kegiatan ini. Misalnya, yang setahun sekali biasanya dilakukan pada Bulan Suro sebagai rasa syukur atau yang dilakukan pada Bulan Oktober, yang merupakan musim pancaroba sebagai upaya meminta perlindungan. “Misalnya, masyarakat pesisir utara Jawa dan para nelayan yang menangkap ikan di Laut Jawa, menyelenggarakan Tradisi Nadran setahun sekali antara September hingga Oktober, yang bermakna rasa terima kasih, sebagai janji jika jumlah ikan yang ditangkap sesuai dengan keinginan nelayan,” ucapnya.

Kalau ditinjau dari sisi ilmiah, pada data migrasi musiman ikan pelagis kecil bulan September hingga November pergerakannya adalah di seputar Laut Jawa. “Nelayan kemudian dapat menangkap ikan paling banyak pada dengan puncak migrasi, yakni Oktober,” ucap Widodo, seraya menunjukkan tabel pergerakan arus.

Berdasarkan data tangkapan ikan pelagis kecil 1982-1992 seperti ikan Layang di Laut Jawa, dalam setiap tahunnya terdapat dua puncak hasil tangkapan, namun selalu puncak ke dua di Oktober adalah yang lebih tinggi dibandingkan pada bulan April. “Migrasi ikan Layang dari Selat Makassar menuju ke Laut Jawa adalah mengkuti massa air laut yang dingin dan berkadar garam tinggi yang mengalir dari Selat Makassar ke Laut Jawa, mulai bulan Mei hingga Oktober. Kondisi massa air tersebut adalah habitat yang nyaman dihuni oleh ikan, sehingga ikan mengikuti pergerakan aliran massa air tersebut,” paparnya.

Sedangkan di Selatan Jawa, adanya fenomena ENSO dari Samudra Pasifik dan IOD dari Samudra Hindia yang menyebabkan variasi upwelling, meningkatkan jumlah ikan Tuna seperti Cakalang dan Tuna Sirip Kuning. “Jika kita meninjau ulang dengan proses periode tangkapan ikan nelayan tradisional di Selatan Jawa, maka pada bulan Juli Oktober memang adalah hal yang tepat. Karena pada masa itu memang jumlah ikan meningkat secara drastis,” urainya.

Fenomena lainnya yang juga mempengaruhi keberadaan ikan, lanjut Widodo, adalah Arus Eddy, yang merupakan pusaran massa air di laut yang terbentuk di sepanjang batas arus Samudra. “Kalau kita melihat pada kapal penangkap tuna, maka tanpa disadari mereka selalu berada pada tepi-tepi arus Eddy. Arus Eddy ada yang mengindikasikan upwelling (Arus Eddy Siklonik) dan ada yang mengindikasikan downwelling (Arus Eddy Anti-Siklonik). Dari penggabungan data arus Eddy, terlihat ikan Tuna Sirip Kuning mendekati arus Eddy yang menyebabkan upwelling,” imbuhnya.

Selain itu, Widodo menyampaikan, para intelektual Jawa kuno mengenal apa yang disebut primbon. “Sebenarnya primbon adalah suatu kumpulan hasil observasi yang telah dilakukan dalam kurun waktu yang sangat panjang. Observasi dilakukan mengkorelasikan antara tanda-tanda alam, perilaku hewan termasuk ikan, kemunculan bulan, bintang dan matahari, serta kejadian bencana,” kata Widodo.

Multikorelasi dan regresi secara kuno dilakukan untuk mendapatkan komponen-komponen harmonik, yang kemudian dipergunakan untuk meramalkan hari baik untuk mendapatkan tangkapan ikan dan menjauhi petaka. “Komponen harmonik tersebut antara lain adalah lima unsur, yaitu udara atau Legi, api atau Pahing, Cahaya Matahari atau Pon, tanah atau Wage, dan air atau Kliwon. Variasi komponen harmonik lainnya adalah muncul ketika sistem penanggalan atau Kalender Jawa mengalami pengkayaan dengan diadopsinya sistem kalender Saka, yang berbasiskan siklus putaran matahari, dan sistem kalender Hijriah yang berbasikan siklus putaran Rembulan,” paparnya.

Dengan melakukan observasi pada hubungan manusia dengan alam secara integratif darat, laut, udara, angkasa dan benda langit, mereka melakukan penentuan pada keberlimpahan ikan, hewan maupun tumbuhan pangan. Segala bentuk budaya yang berkembang di masyarakat ini, menjadi suatu bukti, bahwa observasi kajian terhadap laut sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dahulu kala di Indonesia. Walaupun belum terdokumentasi secara ilmiah dan tersimpan dengan rapi rekam datanya, sehingga hanya terdapati sebagai tradisi-tradisi atau budaya kearifan lokal. “Semua hal tersebut di atas adalah mewujudkan apa yang disebut sebagai etno-oseanografi. Yaitu, suatu kajian tradisi budaya kearifan lokal yang tanpa masyarakat sadari sebenarnya adalah berbasis kepada ilmu oseanografi, yang merupakan pengembangan dari oseanografi terapan,” pungkasnya.

Sumber Berita : cendananews





Last Updated on Thursday, 01 October 2020 13:08
 

Selamat Hari "Kesaktian Pancasila"

E-mail Print PDF


Last Updated on Thursday, 01 October 2020 09:58
 

Menggali Potensi SDA dan Bencana di Laut Selatan Jawa

E-mail Print PDF

JAKARTA – Upaya untuk mengembangkan Laut Selatan Jawa harus didasarkan pada potensi yang dimiliki, yang bisa diketahui dengan melakukan kajian dan eksplorasi. Jika potensi positif, maka bisa dikembangkan dan jika potensi bencana, maka harus dipersiapkan mitigasinya.

Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut, Ir. Subaktian Lubis, menyebutkan, seperti wilayah lainnya di Indonesia, membicarakan potensi Laut Selatan Jawa akan berbicara tentang potensi sumber daya migas, sumber daya mineral, sumber bencana geologi, pencemaran laut dan samudra sebagai sumber EBT. “Potensi pertama yang terungkap melalui kajian, yaitu potensi gas hidrat. Gas hidrat ini, umumnya merupakan gas methan yang terperangkap pada batuan penutup yang bersifat plastis pada cekungan tersier,” kata Subaktian, dalam Sarasehan Kelautan, Selasa (29/9/2020).

Ia mengungkapkan, bahwa dari kajian air seismic gun, diperkirakan cadangan hipotesis sementara pada perairan selatan Sumatra Selatan dan Jawa Barat mencapai luas 22.000 kilometer persegi. “Potensi ke dua adalah gas biogenik methan di laut dangkal, yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang terperangkap di lapisan permukaan holosen. Sifat lapisan holosen ini plastis dan tidak tembus air dan udara. Sehingga keberadaan gas biogenik, bisa terlihat dari kantung-kantung gas di dasar laut,” urainya.

Di daratan, kantung udara gas biogenik ini bisa menjadi salah satu sumber energi, yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Walaupun, mayoritas masyarakat malah menganggapnya sebagai hal yang membahayakan. Pemanfaatannya bisa untuk kompor gas dengan menyesuaikan spuyer kompor atau untuk generator listrik, seperti yang dilakukan di Kalimantan Selatan. “Potensi ke tiga di dasar laut, yaitu mineral dasar laut, seperti kerak Mangan, yang diangkat dari kedalaman 3936 meter di Laut Banda. Atau Kobalt dan Nikel. Walaupun mayoritas adalah Mangan. Atau jalur Timah, jalur Tembaga. Tapi, potensi ini belum terlihat di wilayah selatan Jawa. Saya cenderung penyebabnya adalah karena belum dilakukan survei secara mendalam,” papar Subaktian.

Dari segi potensi energi laut, pada 2011, Dewan Energi Nasional meratifikasi potensi energi yang berasal dari laut, secara praktis adalah 49.000 MW, yang terbagi menjadi panas laut 43 ribu MW, arus laut 4.800 MW dan gelombang laut 1,200 MW. Dan, diperbaharui pada 2017 oleh KESDM, yang menyatakan angkanya adalah 60.8 GW, dengan rincian panas laut 41 GW, arus laut 17,9 GW dan gelombang laut 1,9 GW. “Jika dimiliki fasilitasnya, maka eksplorasi potensi ini bisa dilakukan. Baik menggunakan ADCP untuk mengukur arus, seperti yang dilakukan di Nusa Penida tahun 2016 atau dengan teknologi lainnya,” paparnya lebih lanjut.

Untuk potensi bencana geologi, tentunya alasan dilakukannya kajian adalah untuk membangun mitigasi bencana untuk menghindari dampak negatif. “Data historis menunjukkan berbagai bencana yang sudah terjadi. Yang penting dari data ini adalah menyikapi daerah yang kosong, yang memiliki potensi pelepasan dahsyat sebagai akibat tidak adanya pelepasan dalam kurun waktu yang panjang. Daerah kosong ini banyak terpantau di daerah selatan laut Jawa dan Selat Sunda,” kata Subaktian.

Dan, hal lainnya yang perlu diwaspadai adalah potensi pencemaran laut, yang umumnya berasal dari tumpahan minyak dari kapal yang lalu lalang di wilayah tersebut. “Contohnya, apa yang terjadi pada 2015, terjadi pencemaran minyak di perairan Cilacap. Pencemaran ini terjadi cukup masif, sampai-sampai melibatkan masyarakat dalam proses pembersihannya,” ujarnya. Dalam kasus tumpahan minyak ini, lanjutnya, yang terpenting adalah menyusun suatu respons berbasis win-win solution, sehingga proses pencemaran bisa dilakukan secara cepat.

“Dari semua potensi yang ada di laut, perlu didorong untuk melakukan survei pada beberapa potensi yang hingga saat ini belum dilakukan, seperti potensi gas hidrat dasar laut dan gas biogenik laut dangkal. Dan, melakukan mitigasi bencana geologi maupun mitigasi pencemaran laut,” pungkasnya.

Sumber berita : cendananews


Last Updated on Thursday, 01 October 2020 12:49
 

Aida Heriati Peneliti Pusriskel Jelaskan Tradisi Larung Sesaji Secara Ilmiah

E-mail Print PDF

JAKARTA – Budaya larung banyak ditemui di masyarakat pesisir selatan Jawa. Walaupun terkesan tidak ilmiah, tapi sebenarnya larung ini merupakan perwujudan pengetahuan masyarakat berdasarkan cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan berkembang menjadi yang disebut kearifan lokal.

Peneliti Pusat Riset Kelautan, Aida Heriati, MT., menyatakan kearifan lokal masyarakat Indonesia menunjukkan nilai budaya yang sangat tinggi, yang diturunkan secara turun menurun. “Salah satunya adalah larung sesaji, yang dikenal dengan nama Taber Laot, Muang jong, Nadran, Petik Laut maupun Nyepi Segara. Kesemuanya memiliki makna yang sama, yaitu rasa syukur, perlindungan, keselamatan, kesehatan, rezeki dan penghormatan dan dilakukan pada saat yang sama, yaitu 15 Suro, yang bertepatan dengan bulan purnama sempurna,” kata Aida, dalam Sarasehan Kelautan, Selasa (29/9/2020).

Dalam kaitannya dengan bulan purnama sempurna dan lokasi penyelenggaraan larung, ternyata larung ini memiliki mekanisme yang bisa dijelaskan secara ilmiah. “Walaupun saat tradisi ini awalnya dilakukan, teknologi yang ada belum bisa menjelaskannya secara ilmiah,” ucapnya.

Dilihat dari waktunya, yaitu saat bulan purnama sempurna, yang jika dikaitkan dengan sifat air yang bereaksi pada energi magnetik Bulan dan tubuh manusia sendiri, 70 persennya adalah air, dipercaya bahwa pada masa ini merupakan masa paling tepat dalam mengumpulkan energi positif.

“Dari sisi kajian oseanografi, bulan purnama sempurna ini berpengaruh pada mekanisme pasang surut, yang menyebabkan pasang naik lebih tinggi dan surut lebih rendah, sehingga kecepatan arus akan lebih kencang,” urainya.

Arus ini selanjutnya akan menyebabkan gerakan vertikal air laut, yang jika terjadi pergerakan air dari lapisan dalam naik ke permukaan disebut upwelling, dan jika air dari permukaan turun ke lapisan yang lebih dalam disebut downwelling. “Di area laut selatan Jawa, upwelling ini biasa terjadi sekitar bulan Mei hingga September atau Oktober. Hal ini menyebabkan temperatur permukaan air yang lebih rendah, salinitas yang lebih tinggi dan naiknya massa air dari dasar yang kaya akan zat hara, meningkatkan jumlah phytoplankton, yang selanjutnya akan menjadi ekosistem menguntungkan bagi pertumbuhan ikan,” urainya.

Dan dari hasil kajian, juga ditemukan di Laut Selatan Jawa terjadi downwelling, yang mendorong phytoplankton turun hingga ke kedalaman 450 meter, yang juga mendorong ekosistem pertumbuhan yang baik bagi ikan. Dari segi lokasi, yang tanpa penjelasan ilmiah dan hanya didasarkan pada cerita-cerita yang disampaikan secara turun menurun, masyarakat pesisir selatan Jawa melakukan larung untuk meminta perlindungan. “Secara ilmiah, data saat ini menunjukkan daerah selatan laut Jawa memiliki potensi gempabumi, tsunami, likuefaksi dan gelombang tinggi. Sehingga alasan mereka untuk melakukan larung, saat ini bisa terbukti secara ilmiah,” pungkasnya.

Sumber Berita : cendananews


Last Updated on Wednesday, 30 September 2020 10:12
 

Seminar Online LRSDKP : Sosialisasi Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) untuk Tsunami Early Warning System di Padang dan Mentawai

E-mail Print PDF


Last Updated on Wednesday, 30 September 2020 09:33