Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Turut Berduka atas meninggalnya Bapak Kusmanto

E-mail Print PDF



Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 07:17
 

PENGUMUMAN PENERIMAAN TENAGA KONTRAK

E-mail Print PDF

PENGUMUMAN

Nomor: 02/BRSDM.2/SP/XII/2018

TENTANG

PENERIMAAN TENAGA KONTRAK

PUSAT RISET KELAUTAN

BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

TAHUN 2019



Sehubungan dengan telah terbitnya Peraturan Pemerintah nomor 49/2018 mengenai Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, maka Surat Pengumuman Penerimaan Pegawai Tenaga Kontrak Pusat Riset Kelautan dengan nomor 01/BRSDM.2/SP/XII/2018, kami tarik. Demikian kami sampaikan, dan kami mohon maaf atas pengumuman ini. Terima kasih atas perhatiannya.




Jakarta, 27 Desember 2018

Kepala Pusat

Riset Kelautan


TTD


Drs. Riyanto Basuki, M.Si.


Surat Pengumuman




Last Updated on Friday, 28 December 2018 10:23
 

BROL dan LAPAN Bersinergi Kembangkan Model Manajemen Operasi Pemantauan Berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV)

E-mail Print PDF


Perancak (07/12). Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai Riset dan Observasi Laut dan Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memasuki tahap diskusi implementasi pengembangan LAPAN Surveillance Unmanned Aerial Vehicle (LSU) untuk pemantauan illegal fishing di Perairan Indonesia. Seperti apa perkembangannya?

Guna perencanaan jalur terbang efektif UAV dan meningkatkan efek jera (detteren) di wilayah maritim Indonesia, BROL dan LAPAN adakan diskusi di ruang rapat Laboratorium Riset Kelautan BROL, Perancak.  “Diskusi kami kali ini bertujuan untuk perencanaan desain dan kerangka riset LSU nanti di lapangan. Kami akan segera eksekusi pesawat tanpa awak ini, karena illegal fishing yang terjadi tidak dapat menunggu, harus segera ditumpas”,  Romy Ardianto, M.Sc, koordinator kerja sama dari pihak BROL.

Strategi pemantauan illegal fishing menggunakan LSU atau yang umum dikenal sebagai pesawat tanpa awak ini relatif lebih murah. Didukung dengan data daerah potensi ikan linier dan data daerah dimana kapal ikan (legal dan ilegal) beroperasi serta sinergi dengan aparat yang beroperasi di perairan akan semakin memudahkan pemantauan tersebut. Tak hanya itu, spesifikasi pesawat nirawak milik LAPAN ini juga memiliki progres yang memadai.

“Kami rasa, adanya source data radar memadai yang saat ini dimiliki oleh BROL yang dikombinasikan dengan model dalam LSU, akan menciptakan strategi pemantauan praktik illegal fishing yang komprehensif di perairan Indonesia. “Perlu kami informasikan bahwa LSU telah dikembangkan sejak 2011. Pesawat ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya berkemampuan terbang dengan jangkauan 60 km hingga 500 km, berpengalaman operasi pemantauan yang sangat beragam, serta beberapa telah bersertifikasi laik dari IMAA (Indonesian Military Airworthiness Authority)”, ungkap Adi Wirawan, Peneliti LAPAN.

Tak jauh dari topik bahasan, diskusi yang turut dihadiri oleh operator Bali Radar Ground Receiving Station (BARATA) ini juga membahas seputar isu illegal fishing yang acap terjadi di perairan Natuna dan tumpahan minyak di perairan Kepulauan Riau.

“Natuna menjadi daerah yang rawan terjadi penangkapan ikan ilegal, terlebih posisinya berada di batas terluar Indonesia. Tak hanya itu, disekitar sana juga sering terjadi tumpahan minyak, yang terkadang sengaja dibuang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Setali dengan PKS ini, tumpahan minyak berpeluang menjadi fokus berikutnya untuk perkembangan kerja sama kedepan”, ungkap Dr. Teja Arief Wibawa, Manajer Operasional BARATA.

“Fokus sekarang terkait dengan metode dan hipotesa yang akan dituangkan dalam pelaksanaan riset kerja sama ini. Diagram alir pekerjaan riset juga sudah ada, data pun sudah tersedia, mungkin beberapa minggu ke depan akan segera memasuki tahap konstruksi berikutnya”, tambahnya.

Diskusi berakhir dengan kunjungan ke area kerja BARATA guna meninjau persiapan teknis penyediaan data radar yang dibutuhkan.

Last Updated on Tuesday, 15 January 2019 09:28
 

Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Ayahanda dari Terry L. Kepel

E-mail Print PDF


Last Updated on Friday, 30 November 2018 09:50
 

Please Jangan Buang Lagi Sampah ke Laut, Paus Sampai Mati Tuh

E-mail Print PDF

Jakarta - Sampah lagi-lagi memakan korban. Kali ini, seekor paus sperma mati terdampar di Laut Wakatobi dengan perut yang penuh dengan sampah plastik.

Paus sperma yang memiliki nama latin Physeter macrocephalus ini terdampar mati dengan perut terbuka di Pulau Kapota, Wakatobi , Sulawesi Tenggara. Bangkai paus ini sudah tidak utuh dan banyak sampah di perutnya.

Kejadian ini kembali mempertanyakan pengelolaan sampah di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang menjadikan laut sebagai tempah sampah raksasa. Padahal, laut memiliki ekosistem dan kehidupan yang jauh lebih kompleks.

"Imbauan kepada masyarakat, kurangi penggunaan kantong plastik yang berpotensi terbuang ke sungai dan laut. Pastikan para pengelola wisata bahari, penyedia transportasi jasa laut, pengelola restoran pingir sungai dan laut, menyediakan tempat sampah yang memadai secara daya tampung dan daya dukung, dan juga tempat sampah harus cukup kokoh wadahnya, terlindungi agar tidak mudah terguling/terbongkar yang menyebabkan sampah-sampah tadi terbuang secara tidak sengaja atau sengaja ke badan sungai maupun ke laut," ungkap Dr Ing Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP, eksklusif kepada detikTravel, Rabu (21/11/2018).

Widodo juga menambahkan agar pengosongan tong-tong sampah tersebut di atas juga harus rutin. angan sampai meluber dan mudah terangkut oleh angin ataupun daya penggerak lain masuk ke badan sungai dan laut.

"Punishment dan reward bisa dilakukan, kayaknya sudah banyak perda tentang hal ini seperti denda bagi yang buang sampah sembarangan. Namun pengamatan saya secara sekilas masih hanya skedar pasang spanduk dan papn peringatan semata. Instrumen petugas yang mengawasi dan memberikan peringatan dan denda kayaknya kok masih sangatlah kurang," kata Widodo.

Menurut Widodo, Indonesia bisa belajar tentang pengelolaan sampah dari Jerman. Contohnya di swalayan atau supermarket, tersedia seperti vending machine, tapi gunanya untuk menukarkan botol plastik dengan sejumlah uang. Botol plastik yang dinilai uang oleh mesin tersebut adalah yang memiliki logo recycle. Nilai uangnya tergantung dari ukuran volume botol plastik tersebut.

"Begitu botol-botol tadi selesai dimasukkan ke machine, maka machine akan menghitung dan mengeluarkan kertas struk berisi berapakah nilai uang (euro, di Jerman) yang kita dapatkan dari hasil penukaran tersebut. Struk kertas tersebut bisa kita tukarkan dengan uang di kasir swalayan atau supermarket, atau bisa kita gunakan sebagai alat pembayaran ketika kita belanja di swalayan atau supermarket tersebut," jelas Widodo.

Bila nilai belanjaanmu lebih sedikit ketimbang nilai yang tercantum di struk kertas, maka kamu mendapatkan sisa kembalian dalam bentuk uang cash. Sebaliknya bila nilai belanjaanmu melebihi nilai yang tercantum di struk kertas hasil penukaran botol plastik tadi, maka kamu tinggal menambahkannya.

"Dengan metode demikian, maka setiap orang akan merasa sayang membuang botol plastik begitu saja. Orang akan menyimpannya hingga mereka bisa menukarnya menjadi uang," ujar Widodo.

Selain mengotori laut, sampah plastik juga akan merusak ekosistem laut. Sudah seharusnya kita mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai. Yuk, sadar buang sampah pada tempatnya dan jaga laut kita! (bnl/fay)

Sumber : Travel.detik.com



Last Updated on Friday, 23 November 2018 07:29
 

Perut Bangkai Paus Penuh Sampah, Masih Mau Buang Sampah ke Laut?

E-mail Print PDF

Jakarta - Cerita sedih datang dari paus sperma yang mati terdampar di Wakatobi, dengan perutnya berisi sampah. Bagaimana kata peneliti laut soal kejadian ini ya?

Seekor paus sperma mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bukan hanya mati, ditemukan juga sampah-sampah plastik yang ada di perut paus sperma tersebut. Berita ini pun viral dan menarik perhatian banyak orang.

Paus sperma yang memiliki nama latin physeter macrocephalus ini bukanlah korban pertama dari ganasnya sampah plastik yang dibuang ke laut. Kemungkinan paus tersebut sudah mati di lautan baru terdampar di perairan Wakatobi.

"Perairan wakatobi adalah salah satu wilayah yang dilewati oleh Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Arus ini dikenal secara internasional sebagai Indonesian Through-Flow (ITF). Arus ini sebenarnya adalah aliran suatu volume besar massa air dari Samudera Pasifik yang melewati Perairan Internal Indonesia ketika menuju Samudera Hindia," ujar Dr-Ing Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP, eksklusif kepada detikTravel, Rabu (21/11/2018).

Arlindo ini sering juga digunakan oleh mamalia besar seperti paus sebagai wahana untuk bermigrasi dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Kalau mau dibayangkan secara visual, kegiatan migrasi ini seperti yang ada di film Nemo, bedanya hanya lokasi perairannya saja.

"Biasanya, sepanjang Juni hingga Oktober-November Arlindo bergerak dari Samudera Pasifik masuk ke Selat Makassar. Dari Selat Makassar ada sebagian yang diteruskan menuju ke Selat Lombok, dan ada juga yang sebagian dibelokkan alirannya dari Selat Makassar menuju timur melewati Perairan Wakatobi lalu masuk ke Laut Banda. Arlindo kemudian akan stay di Laut Banda sekitar 3-4 bulan, lalu bergerak sebagian menuju Selat Ombai dan sebagian menuju Laut Timor untuk menuju ke Samudera Hindia," Ungkap Widodo.

Namun letak terdamparnya paus sperma di Pulau Kapota juga memiliki analisis alternatif. Paus bisa dibawa dari utara Wakatobi dengan jalur, massa air Samudera Pasifik memasuki Terusan Lifamatola lalu menuju ke selatan melewati Selat Seram menuju ke Perairan Wakatobi. Massa air ini di wilayah Wakatobi pun kemudian dibelokkan ke timur menuju Laut Banda.

"Nah, Paus yang mati terdampar di Wakatobi, juga belum tentu mati di perairan tersebut, bisa jadi mati di lokasi-lokasi jalur Arlindo yang kemudian bangkainya terbawa arus lalu terdampar di Perairan Wakatobi," tambah Pranowo.

Paus sperma sendiri merupakan mamalia yang makan cumi-cumi raksasa atau ubur-ubur. Sampah plastik yang dibuang ke laut, sekilas akan nampak mirip ubur-ubur dan di makan oleh paus sperma.

"Kantong plastik yang bening, putih, merah, kuning dan warna-warni sebagainya bila di kolom air tentunya bergerak lincah akibat arus adveksi maupun difusi, sehingga sekilas mirip ubur-ubur yang menjadi mangsa dari penyu dan mamalia laut. Apalagi mamalia laut besar atau raksasa seperti paus, tentunya sekali membuka lebar mulutnya, semua organisme dan semua benda akan masuk ke mulutnya tanpa bisa dipilahnya," jelas Widodo.

Sampah plastik di laut, tentulah tidak terjaid secara alami. Ada tangan-tangan manusia yang tak beradab yang seenaknya membuang sampah ke laut. Miris!(msl/aff)

Sumber : Travel.detik.com



Last Updated on Friday, 23 November 2018 07:15