Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Kenapa Aldi 'Life of Pi' Bisa Hanyut ke Guam, Ini Penjelasannya

E-mail Print PDF

Jakarta - Aldi Novel 'Life of Pi' jadi pusat perhatian karena terombang-ambing dari Sulawesi ke perairan Guam. Ini penjelasan dari ahli oseanografi.

Aldi Novel Adilang (19) adalah seorang pemuda asal Manado yang viral di media. Aldi berhasil bertahan hidup di atas rumah rakit atau rompong selama 49 hari. Dia bisa pulang ke Indonesia dibantu oleh KJRI Osaka.

Aldi berada di tengah lautan pada pertengahan Juli dan hanyut sampai September. Aldi hanyut terbawa arus dari Manado menuju ke arah timur laut sampai ke Perairan Guam."Ketika tiba di sekitaran utara Pulau Halmahera, dia (Aldi) terbawa hanyut semakin ke timur oleh Arus Pusaran yang bernama Halmahera Eddy. Aldi terus terbawa hingga mencapai sekitaran 150 derajat Bujur Timur," ujar Dr Ing Widodo S Pranowo, Ketua Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan KKP kepada detikTravel, Selasa (25/9/2018).

Widodo menjelaskan, ketika Aldi dibawa semakin ke timur, arus Halmahera Eddy semakin melemah. Ketika Halmahera Eddy melemah, Aldi dihanyutkan oleh arus menuju ke Barat Laut menuju ke arah sekitaran Guam

"Kemungkinannya, itu ada siklon tropis Jebi 28 Agustus hingga 1 September. Beruntung ditemukan pada pada 31 Agustus 2018," jelas Widodo yang juga Pengajar Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut.

Jarak antara posisi kapal dengan jalur siklon tropis sekitar 500-600 km. Jarak ini memang terlihat sangat jauh. Namun dari sisi fenomena alam, jarak ini tetap berpengaruh kepada kondisi kecepatan arus permukaan laut.

Ketika siklon tropis ini melintas, kemungkinan menarik massa air permukaan di sisi tenggara hingga barat daya. Sehingga menghasilkan arus yang menghanyutkan Aldi setelah adanya Halmahera Eddy.

"Siklon ini membawa Aldi menuju ke arah barat laut ke arah Guam," papar Widodo. (bnl/fay)

Sumber : Travel.detik.com



Last Updated on Thursday, 27 September 2018 07:00
 

Peneliti Pusat Riset Kelautan Berikan Materi Pada Masa Orientasi Studi Mahasiswa Baru Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta

E-mail Print PDF

Jakarta, 24 September 2018. Peneliti Madya Pusat Riset Kelautan Dr. Widodo Pranowo diundang oleh Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Perikanan (PPs STP) untuk menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Masa Orientasi Studi Program Calon Maahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Perikanan pada hari Kamis tanggal 20 September 2018.  Acara berlangsung di Ruang VIP PPs STP Jakarta, dan dihadiri oleh  peserta Masa Orientasi Studi (MOS) Program Pasca Sarjana Angkatan VIII berjumlah kurang lebih 40 orang mahasiswa baru. Dimana 17 orang diantaranya adalah para guru SUPM/Politeknik yang mendapatkan beasiswa Pusat Pendidikan (Pusdik) BRSDM KKP. Pada saat pemberian materi dengan judul “ Pemodelan Numerik Hidrodinamika dan Transport Untuk Aplikasi Kelautan dan Perikanan” tampak hadir beberapa pejabat STP diantaranya Dr. Suharyanto (Direktur Pasca sarjana STP), dan Dr. Yasser (Sekretaris Program). Pada awalnya direncanakan Kepala Badan Riset dan SDMKP Prof, Sjarief Widjaja akan hadir pada acara MOS tersebut, namun dibatalkan karena adanya kegiatan lain.

Pusat Riset Kelautan sudah sering melaksanakan kolaborasi riset cruise dengan menggunakan kapal latih milik STP, yakni Madidihang 3 untuk survei riset upwelling di Samudera Hindia Barat Sumatra dan Selatan Jawa pada tahun 2010 hingga 2015.

Berita Terkait : Rapat Persiapan MOMSEI Cruise P3SDLP dengan STP


Last Updated on Wednesday, 26 September 2018 08:14
 

”Laut Nusantara” Mudahkan Nelayan Tangkap Ikan

E-mail Print PDF

Wayan Kartika (45), nelayan asal Perancak, Jembrana, Bali, biasanya menangkap ikan di perairan Tabanan, sekitar 17 kilometer dari kampungnya.

”Sudah bertahun-tahun saya melaut. Seperti nelayan lainnya, saya hanya menebak-nebak lokasi ikan berkumpul. Tapi, setelah saya mengunduh aplikasi Laut Nusantara, saya mengetahui persis lokasi untuk menangkap ikan,” kata Wayan.

Setelah menggunakan aplikasi Laut Nusantara, lanjut Wayan, jumlah ikan yang didapatnya meningkat dua kali lipat, dari 5-10 kilogram menjadi sekitar 20 kilogram.

Hal senada disampaikan Mispandi, nelayan Air Kuning. ”Nelayan menikmati teknologi. Berkat aplikasi ini, kami lebih mudah mendapatkan ikan,” katanya, beberapa waktu lalu.

Aplikasi Laut Nusantara diciptakan untuk membantu nelayan kecil perseorangan yang selama ini mengandalkan tangkapan untuk menopang kehidupan keluarga mereka sehari-hari.

Aplikasi ini hasil kolaborasi antara Balai Riset dan Observasi Laut (BROL), Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk.

”Selain memuat informasi tentang lokasi ikan di lautan, aplikasi ini memberi informasi tentang kondisi cuaca. Ini sangat bermanfaat dan menjadi panduan bagi nelayan,” kata Kepala BROL Dr I Nyoman Radiarta, MSc di Jembrana.

Sampai pertengahan September, sudah 1.500 orang yang mengunduh aplikasi Laut Nusantara dan sebagian besar nelayan. Saat ini, aplikasi ini baru tersedia untuk sistem operasi Android. Karena sistem iOS lebih rumit dan membutuhkan verifikasi dari Apple, pengguna ponsel iPhone masih harus bersabar menunggu.

Last Updated on Monday, 24 September 2018 07:48 Read more...
 

Pusris Kelautan Terbitkan Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari

E-mail Print PDF


Jakarta, 20 September 2018. Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari ini menguraikan tentang konsep, isu, potensi, pemangku kepentingan (stakeholder), objek kegiatan dan zona ekowisata bahari, yang disusun sebagai panduan dalam penetapan zona ekowisata bahari dengan memuat beberapa parameter dan kriteria zonasi ekowisata bahari berdasakan aktivitas wisata. Buku yang disusun oleh Yulius dkk ini sangat cocot untuk dibaca oleh para pengambil kebijakan terkait penetapan zona ekowisata bahari dan juga dapat menjadi rujukan ilmiah bagi para peneliti, mahasisiwa yang melakukan studi S1, S2, dan S3. Buku terbitan Pusris Kelautan ini bisa  didapat secara "Gratis"  dengan mengunjungi Kantor Pusat Riset Kelautan dan membawa surat permohonan permintaan buku yang ditujukan kepada Kepala Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Gedung BRSDMKP 2 Lantai 2, Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara. Soft copy buku panduan ini dapat diakses  pada tautan dibawah ini.

Soft Copy “Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari



Last Updated on Thursday, 20 September 2018 14:37
 

Pemerintah Terbitkan Kalender Prediksi Kematian Massal Ikan

E-mail Print PDF

Mencegah terulangnya kematian massal pada ikan yang terjadi di Danau Toba, Sumatera Utara, Pemerintah Indonesia merilis kalender yang berisi prediksi kematian massal ikan dan skema alur penanganan kematian massal ikan. Kalender tersebut dirilis resmi pada Kamis (13/9/2018) di Jakarta. Tujuan dibuat kalender, karena Pemerintah ingin memberi peringatan kepada para pembudidaya ikan tentang situasi yang tepat untuk melaksanakan budidaya perikanan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja. Menurut dia, upaya pencegahan dan pengendalian akan bisa dilakukan selama para pembudidaya yang ada di sekitar Danau Toba mematuhi peraturan dan himbauan yang dikeluarkan Pemerintah, baik pusat ataupun daerah.

“Untuk itu, diperlukan juga ketegasan dari pemerintah daerah atau dinas setempat untuk melarang para pembudidaya melaksanakan budidaya di bulan-bulan yang masuk dalam kategori bahaya,” ucapnya.

Adapun, yang dimaksud bahaya, kata Sjarief, adalah masa dimana perairan sedang mengalami kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan perikanan budidaya karena kondisi alam ataupun yang lain. Saat kondisi seperti itu, langkah terbaik yang bisa dilakukan para pembudidaya, adalah dengan berhenti sementara dan mengikuti rekomendasi yang ada dalam kalender yang dirilis KKP.

Di dalam kalender tersebut, Sjarief menjelaskan, terdapat informasi dan data yang merinci tentang penyebab kematian massal ikan yang terjadi di keramba jaring apung (KJA). Kemudian, untuk memudahkan para pembudidaya, Pemerintah juga menyertakan informasi tentang upaya penanggulangan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal pada ikan.

“Kalender prediksi dan skema alur penanganan ini dapat membangun kesadaran pembudidaya dan para pengambil kebijakan untuk tidak menganggap sepele setiap kasus kematian massal ikan,” terang dia.

Sementara, Kepala Pusat Riset Perikanan BRSDM KP Toni Ruchimat menjelaskan, bagi para pembudidaya yang ada di Danau Toba, sebaiknya dari saat ini segera tingkatkan kewaspadaan dengan cara mempelajari kalender yang diterbitkan KKP. Di dalam kalender Prediksi Kematian Massal contohnya, para pembudidaya bisa mencermati tiga kategori tentang kondisi di perairan, yaitu aman, waspada, dan bahaya. “Itu berdasarkan penelitian di lapangan, jadi ada tiga kategori,” tuturnya.

Toni memaparkan, pada kategori aman, para pembudidaya KJA dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar dan daya dukung serta zonasi yang telah dilakukan. Kemudian, untuk kategori waspada, para pembudidaya KJA diminta untuk mengurangi pemberian pakan, pengurangan padat tebar ikan dalam KJA, memperhatikan perubahan kondisi lingkungan perairan, hingga melakukan panen lebih awal.

Sementara, menurut Toni, untuk kategori bahaya, tanda-tanda yang patut untuk dicermati para pembudidaya KJA, adalah jika temperatur air di KJA sudah dalam batas yang rendah, oksigen terlarut rendah kurang dari 3 miligram per liter, angin dan mendung sepanjang hari, serta terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi dan terus menerus. “Jika tanda-tanda itu muncul, maka itu sudah masuk kategori bahaya,” tuturnya.

Saat kondisi sudah ada dalam bahaya, Toni meminta kepada seluruh pembudidaya KJA di Danau Toba, untuk segera memanen ikan sudah siap panen, menghentikan kegiatan budidaya, memelihara ikan yang tahan terhadap kondisi perairan yang jelek, penambahan aerasi, dan relokasi KJA ke lokasi perairan yang lebih dalam.

Eceng Gondok

Lebih jauh Toni Ruchimat mengatakan, untuk mencegah terjadinya kematian massal pada ikan di KJA, pihaknya juga merekomendasikan penggunaan eceng gondok sebagai fitur mediasi pada air. Penggunaan eceng gondok, diketahui memiliki kemampuan menyerap logam berat dan residu pestisida yang muncul dari pakan ikan.

“Akar dari tumbuhan eceng gondok atau Eichhornia crassipes mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri,” jelasnya.

Tak hanya itu, Toni menyebutkan, pembudidaya juga bisa menggunakan hasil penelitian KKP berupa Buoy Pluto untuk peringatan dini pencemaran perairan. Buoy Pluto adalah alat pemantau kualitas air yang dapat diakses melalui internet (sistem telemetri). Dengan alat ini, para pembudidaya dapat memahami dan membaca keadaan lingkungan penyebab umbalan.

Selain itu, sambung dia, KKP juga memiliki KJA Sistem Manajemen Air dengan Resirkulasi dan Tanaman (SMART) yang merupakan sistem budidaya KJA dengan meminimalisir masukan bahan pencemar organik yang berasal dari pakan yang terbuang dan ekskresi ikan. KJA SMART memadukan sistem semi resirkulasi, akuaponik dan filtrasi fisik. Dengan menerapkan KJA SMART, diharapkan dapat menjadi solusi terhadap perbaikan dan konservasi perairan.

Last Updated on Tuesday, 18 September 2018 08:08 Read more...
 

Kima, Kerang yang Mitosnya Jadi Obat Kuat & Suka Diambil Wisatawan

E-mail Print PDF

Jakarta - Cangkang kerang kima seringkali diambil dan dijadikan oleh-oleh wisatawan yang main ke pantai. Supaya tak terjadi lagi, yuk kenal kima lebih dekat.

Dari informasi yang diterima detikTravel, di Bandara Komodo, Labuan Bajo, NTT banyak sekali turis yang membawa pasir dan kerang untuk dijadikan suvenir. Salah satunya adalah kima, kerang cantik yang hidup di dalam karang. "Kerang ini, yang cangkangnya ada di gambar itu, adalah hewan dilindungi, termasuk dalam endangered species, atau masuk dalam IUCN red list," ujar Dr. Novi Susetyo Adi, Peneliti Bidang Ekologi Spasial Pesisir dan Laut, Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel, Senin (10/9/2018). Kima sendiri punya tugas penting bagi ekosistem laut. Secara ekologi kima adalah bagian dari ekosistem terumbu karang. "Fungsinya secara ekologis adalah sebagai shelter (tempat berlindung) ikan-ikan karang," ungkap Dr Novi. Tugas lain kima juga sebagai penyumbang kalsium karbonat pembentuk ekosistem terumbu karang. Sehingga kima juga sumber zooxanthellae (symbiodinium spp) yang bersimbiosis dengan hewan karang."Kima juga sebagai pencegah eutrofikasi (pengkayaan nutrien perairan akibat limbah organik) dengan fungsi filteringnya," papar Dr Novi. Di Indonesia, kima ini termasuk hewan yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Indonesia sendiri juga terikat suatu konvensi internasional yang melarang perdagangan endangered species (termasuk kima ini), yaitu konvensi CITES.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr-ing Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP. Menurutnya kima yang menjadi barang sitaan di Bandara Komodo kebanyakan adalah kima yang masih bagus. "Biasanya kima segede itu hidupnya di area terumbu karang yg masih bagus dan kedalamannya minimal 10 m, hidup di antara terumbu karang tersebut," ungkap Dr-ing Widodo. Jika cangkang kima yang sebesar itu ditemukan di pantai, artinya memang ada orang yang sengaja untuk mengkonsumsi dan meninggalkan cangkangnya begitu saja.
Kima tak hanya tinggal di antara karang, ada pula yang habitatnya di pasir. Namun biasanya hidup di dasar laut yang sangat jarang terjamah manusia. Selain enak, kima memiliki nilai sendiri bagi masyarakat pesisir. Mitosnya, daging kima dipercaya sebagai obat kuat. "Masyarakat lokal suka makan kima karena dipercaya bisa sebagai aprosidiak atau obat kuat sex," papar Dr-ing Widodo. Oleh karena itu sampai sekarang masih saja ada masyarakat yang suka memburu kima. Padahal mengganggu kelestarian kima jelas pelanggaran di mata hukum.
Yuk traveler, kita jaga dan lestarikan kima demi ekosistem laut yang sehat!

Sumber :Travel.detik.com


Last Updated on Wednesday, 12 September 2018 15:04