Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Kurangi Kecelakaan Kapal Nelayan, KKP Luncurkan Wakatobi AIS

E-mail Print PDF

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementrian Kelautan dan Perikanan ( KKP) lewat Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi mengembangkan teknologi berbasis radar pemantauan dalam Wakatobi AIS. Wakatobi AIS adalah alat hasil rekayasa transporder AIS berukuran kecil yang dirancang meningkatkan keselamatan nelayan khususnya nelayan kecil (< 3 GT) serta meningkatkan pantuan terhadap nelayan untuk mencegah IUU fishing. Adanya teknologi Wakatobi AIS ini jadi bagian dalam upaya mengurangi risiko insiden hanyutnya nelayan. Mengingat di Wakatobi, kejadian nelayan hilang dapat ditemui hampir setiap bulan. "Melalui pendekatan teknologi, diharapkan akan dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan standar keselamatan para pelaku perikanan serta mendukung keterpantauan nelayan tradisional untuk perikanan yang berkelanjutan," kata Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan Akhmatul Ferlin di Gedung Mina Bahari 3 KKP, Selasa (9/10/2018). Wakatobi AIS direkayasa bersama LAB247, unit litbang non pemerintah yang mengembangkan radar dan teknologi perangkat lunak yang didesain khusus berdasarkan karakteristik nelayan kecil di Indonesia. AIS transponder ini berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 cm dengan panjang antena sepanjang 100 cm. Setiap unitnya memiliki bobot 0,6 kg agar bisa diaplikasikan pada kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil khususnya yang armada berbobot dibawah 1 Gross Ton. Alat ini didesain dapat bekerja secara portabel dengan baterai sebagai sumber tenaga yang bisa diisi ulang setiap 20 jam pemakaian. Untuk meningkatkan keselamatan nelayan, terdapat tiga tombol pada perangkat ini, yaitu tombol power, Penanda Lokasi Tertentu (custom tag), dan tombol darurat (distress). Pengoperasian alat ini cukup mudah. Fungsi dasar AIS yang dimiliki memungkinkan lokasi dan pergerakan nelayan terpantau detik ke detik pada stasiun penerima (VTS). “Dengan demikian, jika suatu saat mereka mengalami masalah di laut seperti mesin kapal mati, tenggelam, atau dirampok maka rekaman lokasi para pengguna akan mempermudah pencarian,” jelas Ferlin. Selain itu, nelayan juga bisa secara aktif memberikan kabar darurat ke seluruh perangkat penerima AIS lainnya. Dengan menekan tombol distress maka perangkat akan melakukan broadcast pesan AIS selama selang waktu tertentu untuk memastikan pesan teks tersebut dapat terkirim dengan sempurna. Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya, identitas yang meliputi nama kapal, pelabuhan asal, dan nomor telepon yang bisa dihubungi dan atau informasi lain yang sebelumnya diprogram kedalam perangkat.

Sumber: ekonomi.kompas.com



Last Updated on Friday, 26 October 2018 12:01
 

Kepekaan Lingkungan Laut Batam-Bintan Terhadap Tumpahan Minyak Akan Dianalisis per Kecamatan

E-mail Print PDF

Jakarta, 08 Oktober 2018. Bertempat di Ruang Rapat Yellow Fin Tuna Gedung BRSDMKP2 Lantai 6, pagi tadi Peneliti Pusat Riset Kelautan yakni Dr. Widodo Pronowo, Dr, Budhi Gunadharma, bersama staf  Laboratorium data laut dan pesisir yakni Rizal F. Abida, S.T, Armyanda Tussadiah, S. Kel dan Sari Novita, S.T tengah membahas hasil analisis modeling menggunakan simulasi numeric 2D Langrangian untuk tumpahan minyak di perairan Batam-Bintan pada Kegiatan Kajian Tumpahan Minyak di Perairan Batam-Bintan yang telah dilakukan pada bulan Agustus 2018 lalu. Hasil analisis ini digunakan sebagai salah satu identifikasi untuk  penyusunan Indeks Kepekaan Lingkungan Laut (IKLL) yang saat ini sedang dikerjakan. Terdapat beberapa parameter yang digunakan untuk identifikasi dalam penyusunan IKLL ini, diantaranya adalah ekosistem mangrove, lamun, terumbu karang, serta zonasi perikanan tradisional dan perikanan demersal. Pada saat diskusi telah disepakati bersama bahwa  perlu ditambahkan pula beberapa identifikasi lain yakni identifikasi jarak dari pantai dan identifikasi kecamatan-kecamatan di Batam-Bintan.  Kedepan dari kegiatan ini akan dihasilkan peta kepekaan lingkungan laut terhadap tumpahan minyak di perairan Batam-Bintan, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penyusunan langkah mitigasi tumpahan minyak di Batam-Bintan.

Berita terkait :


 

Susi Pudjiastuti Luncurkan Aplikasi Laut Nusantara

E-mail Print PDF


Pengambengan (10/10). Laut Nusantara, aplikasi berbasis android yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lewat Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) bersama dengan PT. XL Axiata Tbk merupakan aplikasi yang ditujukan untuk mendukung aktifitas kenelayanan dalam memperoleh akses informasi yang cepat, tepat, dan murah. Melalui aplikasi ini, nelayan Indonesia disiapkan untuk memasuki era digital dalam aktifitas kenelayanannya dan dapat meningkatkan hasil tangkapannya. Informasi berupa Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) menjadi informasi utama yang disuguhkan aplikasi ini.

Rabu (10/10) bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia) didampingi Sjarief Widjaja (Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan-KKP RI), I Putu Artha (Bupati Kabupaten Jembrana) beserta wakil, I Nyoman Radiarta (Kepala BROL) dan Siti Siswandari (Head of Social and Innovation Project PT. XL Axiata Tbk) secara resmi dan simbolis meluncurkan aplikasi Laut Nusantara di hadapan ratusan nelayan Pengambengan. Susi Pudjiastusi memberikan 3 perangkat aplikasi Laut Nusantara secara simbolis kepada perwakilan nelayan dan menorehkan tanda tangannya ke buku saku Laut Nusantara. Sebelumnya, sejumlah 150 nelayan di Kabupaten Jembrana dari Perancak, Air Kuning, dan Pengambengan telah menerima distribusi dan sosialisasi aplikasi Laut Nusantara tersebut.

Pada kunjungan kali ini, Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) berkesempatan meninjau aktifitas bongkar muat ikan di PPN Pengambengan, juga menyapa para nelayan dan memberikan motivasi agar nelayan selalu semangat dalam beraktifitas. Di sela kegiatan, Ibu Menteri KP dengan gesit juga menyambangi salah satu kapal nelayan dan melihat ikan yang didapat. Nelayan juga berkesempatan memberikan aspirasinya secara langsung kepada Ibu Menteri KP.

"Saya senang bisa ketemu Ibu Susi. Tadi saya juga sempat menyampaikan beberapa aspirasi kepada beliau. Alhamdulillah, makin kesini kondisi makin membaik. Ikan juga sudah mulai banyak sekarang”, ungkap Wayan, nelayan Pengambengan.

“Ini kunjungan ketiga saya kesini. Saya senang berada disini, kapal nelayannya menarik. Saya berharap, semoga nelayan disini bisa terus semangat dalam menangkap ikan, terlebih dengan adanya aplikasi Laut Nusantara yang friendly ini. Tak lupa juga saya dorong pihak kabupaten untuk bisa terus berupaya memberikan kemudahan kepada nelayan. Saya melihat makin kesini aktifitas nelayan makin membaik. Semoga kedepan lebih baik lagi. Terlebih nanti jika Politeknik KP Jembrana sudah beroperasi, Jembrana punya banyak sumber daya manusia yang berkompeten di bidang KP”, imbuh Susi Pudjiastuti.

“Kami sejak 2014 telah melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) untuk nelayan. Komitmen kami salah satunya ialah untuk masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Kedepannya, kami akan terus berupaya memantapkan kegiatan-kegiatan sejenis” tutur Siti Siswandari.

Selain peluncuran aplikasi Laut Nusantara, Susi Pudjiastuti juga meluncurkan Wakatobi AIS (Automatic Identification System), alat hasil perekayasaan dari Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi untuk meningkatkan keselamatan nelayan, dan memberikan simbolisasi bantuan beasiswa kepada 36 taruna Poltek KP Jembrana kategori anak pelaku utama, masing-masing sebesar 6 juta rupiah.

"Cintai laut, jaga laut, rawat laut, karena laut adalah masa depan kita", ungkap Susi Pudjiastuti di akhir kegiatan.

Last Updated on Tuesday, 15 January 2019 08:53
 

Pusat Riset Kelautan Buka Peluang Kerjasama Penelitian Dalam Acara Kuliah Tamu di UGM

E-mail Print PDF

Jakarta, 1 Oktober 2018.  Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. Semeidi Husrin dan Kepala Bidang Riset Mitigasi, Adaptasi dan Konservasi (MAK) Triyono, MT menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum “Analisis Kerentanan Pesisir dari Sisi Tehnik Pantai” yang digelar oleh Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. Acara dilaksanakan di Ruang Auditorium Merapi, Fakultas Geografi  Universitas Gajah Mada, pada hari Kamis 27 September 2018. Pada saat acara terlebih dahulu Kepala Bidang MAK TRiyono, MT menjelaskan mengenai Pusat Riset Kelautan terutama terkait dengan peluang kerjasama penelitian di bidang kerentanan pesisir, dilanjutkan dengan pemaparan Dr. Semeidi yang menjelaskan mengenai kerentanan pesisir dan pulau–pulau kecil ditinjau dari segi teknik pantai dan kaitannya dengan ilmu geografi. Dari hasil kuliah umum ini berhasil dijaring sebanyak 3 (tiga) orang mahasiswa untuk melaksanakan skripsi di Pusat Riset Kelautan terkait dengan karbon biru mangrove dan air tanah di pulau kecil.


Last Updated on Wednesday, 03 October 2018 10:56
 

Pemantauan Batas Wilayah Laut Menggunakan Analisa Sediment Transport Di Perairan Merauke Papua

E-mail Print PDF


Universitas Indonesia, Depok - Penentuan Batas Laut Teritorial antara suatu negara dengan negara seberangnya atau berjajar berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982 berdasarkan kesepakatan menentukan titik pangkal dan batas wilayah diantara dua negara. Salah satu perairan yang mempunyai perbatasan laut dengan negara lain ialah Perairan Arafuru Kabupaten Merauke Papua yaitu berbatasan langsung dengan teritorial Papua New Guenia (PNG) dan Australia dengan Sungai Torasi sebagai tempat yang dijadikan penetepan titik pangkal/titik dasar. Berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2002 terdapat 5 titik dasar yang terletak di sekitar Perairan Sungai Torasi yaitu TD.082, TD.082 A, TD.082 B, TD.082 C dan TD.083, dengan berdekatannya titik tersebut di sekitar muara sungai Torasi diyakini terdapat perubahan (morfologi) pada keberadaan titik tersebut.

Morfologi pantai secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk pantai. Morfologi pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan oleh karena ada banyak proses yang terjadi di dalamnya baik itu proses yang berawal dari daratan maupun dari lautan, kedua proses tersebut bertemu di pantai. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal seperi pasang surut, gelombang, arus laut, jenis batuan, dan lainnya. Namun, secara sederhana, perubahan pantai diakibatkan oleh dua kejadian alam yang disebut dengan abrasi dan sedimentasi. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan banyak metode yang dapat diterapkan dalam memahami fenomena tersebut seperti pembuatan model numerik dan juga pengaplikasian citra satelit.

Jumat, 28 September 2018 bertempat di Gedung A FMIPA Universitas Indonesia telah dilaksanakan sidang tesis dengan topik Dinamika Morfologi Pantai Dalam Pemantauan Batas Wilayah Laut Menggunakan Analisa Sediment Transport Di Perairan Merauke Papua oleh I Wayan Sumardana Eka Putra dengan Tim Penguji terdiri dari Dr.rer.nat Mufti Petala Patria, M.Sc (UI), Dr. Abinawanto, M.Si (UI), Dr. Supriatna, M.T (UI), Drs. Sundowo Harminto, M.Sc (UI) dan Dr.-Ing Semeidi Husrin, S.T., M.Sc (Pusat Riset Kelautan KKP). Penelitian yang dilaksanakan mempunyai tujuan untuk memantau keberadaan titik dasar di sekitar perairan Sungai Torasi Merauke Papua akibat adanya fenomena dinamika morfologi pantai (sedimentasi atau erosi) dengan mengaplikasikan penggunaan citra satelit pembuatan model hidrodinamika menggunakan software Delft 3D-Flow yang diverifikasi dengan data hasil survey yang dilaksanaan oleh tim survei Pushidrosal pada tahun 2016, hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian tersebut ialah dapat diketahuinya pergerakan sedimen yang bergerak ke arah barat dan timur serta adanya proses sedimentasi maupun erosi yang terjadi pada titik dasar milik Indonesia akan tetapi perubahan yang terjadi tidak serta merta mengubah kesepakatan batas wilayah laut antara Indonesia dengan Papua New Guenia dikarenakan perubahan titik dasar akibat faktor alam tidak akan merubah status titik dasar (Pasal 9 UNCLOS 1982 tentang Mulut Sungai). Meskipun dalam penelitian yang dilakukan masih terdapat kekurangan diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat mendorong dan memberikan gambaran tentang kondisi titik dasar Indonesia pada wilayah tersebut. Secara umum diharapkan juga terjadi keselarasan antara pihak terkait baik dari institusi pemerintahan dan pendidikan dalam proses pengembangan daerah – daerah terluar demi terciptanya pemerataan di segala bidang.



Last Updated on Tuesday, 02 October 2018 07:40
 

Dari Wakatobi Untuk NKRI, SOLUSI NELAYAN HILANG DARI LPTK BRSDM KP: Sebuah Refleksi dari Berita Viral Hilangnya Nelayan (Aldi)

E-mail Print PDF

Kasus hilangnya Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang 1,5 bulan hanyut terombang-ambing hingga di Perairan Laut Jepang, bukanlah satu-satunya kasus nelayan hilang yang terjadi di Indonesia. Di Wakatobi kejadian serupa (hilang) bahkan rata-rata setiap bulannya terjadi, walaupun perbedaannya dengan insiden Aldi, hanya pada sarana yang dipakai dan durasi waktu hilangnya.  Tidak mustahil banyak kasus serupa yang tidak terekspos menimpa nelayan kita.

LPTK BRSDM KP dan tentu kita semua perihatin dengan kejadian-kejadian berulang seperti ini.  Dalam dua tahun terakhir, LPTK BRSDM KP telah mengambil bagian dalam upaya mengurangi risiko insiden hanyutnya nelayan tradisional melalui riset dan pengembangan teknologi mitigasi kecelakaan laut. Teknologi yang dihasilkan adalah Wakatobi AIS (nama sementara yang diusulkan). WAKATOBI AIS merupakan akronim dari WAhana KeselAmatan dan PemanTauan Obyek Berbasis Informasi AIS.

Dari banyaknya faktor terkait keselamatan nelayan, terdapat tiga simpul masalah utama yang dihadapi oleh nelayan, khususnya nelayan tradisional yang dapat didukung oleh teknologi. Yang pertama adalah terkait dengan kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan. Kedua terkait dengan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang berkelanjutan sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut. Dan yang ketiga adalah sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut sehingga upaya penyelamatan tidak dapat segera diselenggarakan.

LPTK BRSDM KP berkontribusi untuk memastikan negara hadir dalam menyelamatkan pelaku perikanan kita khususnya mendukung keterpantauan nelayan dan meningkatkan kemampuan menginformasikan kondisi darurat yang dialami.  Teknologi ini diberi nama WAKATOBI AIS didesain untuk friendly dengan nelayan kecil kita. Untuk upaya minimalisasi resiko melaut seperti kasus yang menimpa Aldi, telah tersedia tombol distress yang digunakan untuk mengirim informasi SOS ke pusat kendali informasi laut Base Station LPTK secara eksisting berdasarkan waktu dan lokasi kejadian (kalaupun posisi kapal yang mengirimkan SOS di luar jangkauan jaringan Base Station, maka identitas kapal dapat dijangkau oleh semua jenis kapal yang menggunakan AIS di sekitar kejadian). Yang selanjutnya informasi tersebut akan diteruskan ke Pihak yang berwewenang untuk melakukan tindakan penyelamatan.



Last Updated on Thursday, 27 September 2018 13:11