Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Kolaborasi LPTK Wakatobi dan UHO Sukses Merestorasi Bambu Laut

E-mail Print PDF

Wakatobi, Klanews.id – Bambu laut telah menggoda banyak nelayan di pesisir Sulawesi. Sejak awal tahun 2000-an eksploitasi berlangsung intensif. Di pesisir Takalar, Makassar, Pangkep, bambu laut diburu untuk jadi pencampur keramik porselin. Di pesisir Kendari, Soropia, Konawe hingga Wakatobi, biota beruas-ruas seperti bambu ini diburu dengan masif. Daerah lainnya perlu waspada. Bambu laut yang dimaksud adalah speises Iris hippuris, banyak dijumpai di perairan Sulawesi. Saat ini, pasokan dari pesisir Sulawesi disebut mencapai 5000 ton per tahun. Bambu laut (Isis hippuris), adalah anggota suku Gorgonacea atau karang lunak (Octocorallia). Tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan beberapa tempat lainnya, terutama di daerah tropis.

Pada karang tersebut ditemukan senyawa anti-bakteri, anti-kanker maupun anti-virus. Isis hippuris mengandung senyawa anti-virus, mengandung senyawa spesifik hippuristanol yang memiliki sifat antivirus karena dapat mencegah proses replikasi virus. “Bambu laut asal Sulawesi diperdagangkan ke negara Asia, Eropa hingga Amerika. Permintaan terbesar dari Cina. Harganya lumayan tinggi. Akibatnya, berdampak pada ekosistem khususnya terumbu karang,” jelas Dr. Syafyudin Yusuf, ST, M.Si ahli terumbu karang Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin saat dihubungi Klanews.id. “Ekosistem rusak karena metode pengambilannya mencungkil substrat. Merusak alas spesies, merusak yang lain,” tambah alumni Ilmu Kelautan Unhas ini.

Menurut Syafyudin, bambu laut juga digunakan untuk bahan kosmetika, obat-obatan, dan perhiasan. Bambu laut basah nilainya bisa mencapai Rp 5000/kg di tingkat nelayan. Pendek kata, bambu laut adalah komoditi perikanan terakhir dari terumbu karang yg dimanfaarkan nelayan sebagai sumber ekonomi lokal. “Beberapa perairan terumbu karang masih cukup melimpah seperti di Halmahera dan Maluku Utara, Papua serta pulau-pulau Maluku Tengah dan umumnya di Indonesia bagian Timur seperti di Teluk Tomoni Gorontalo. Tapi ini harus dijaga, tidak boleh jadi target eksploitasi besar-besaran,” kata periset yang pernah menyelam di lokasi-lokasi dimaksud.

Maka tepatlah ketika Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan surat Kepmen KP No. 46/KEPMEN-KP/2014 tanggal 27 Agustus 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Bambu Laut (Isis spp.). Kepmen tersebut menetapkan status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp) yang berlaku selama 5 tahun, terhitung sejak 27 Agustus 2014.

Hasil riset BPSPL Sorong KKP menemukan bahwa jumlah koloni bambu laut yang ditemukan tidak berbanding lurus dengan luas kawasan konservasi perairan nasional.  Salah satu area yang disebut juga mempunyai hamparan bambu laut adalah Perairan Raja Ampat dimana ditemukan ada sebanyak 1.915 koloni dengan laus kawasan konservasi 60.000 Ha. “Jumlah koloni bambu laut yang ditemukan berbading lurus dengan kondisi terumbu karang. Semakin baik kondisi terumbu karangnya, jumlah koloni bambu laut yang ditemukan lebih banyak,” demikian rilis BPSPL Sorong pasca riset mereka.

Inisiatif LPTK-BRSDM KP Wakatobi

Sejak moratorium diberlakukan, populasi bambu laut mulai membaik. Namun persoalannya, terhitung mulai 28 Agustus 2019, moratorium akan berakhir dan ini berarti pemanfaatan bambu laut akan menjadi masif lagi. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) di naung Badan Riset dan Sumber Daya Manusian Kementerian Kelautan dan Perikanan tak tinggal diam. Demi melindungi bambu laut dari ancaman kepunahan dengan melaksanakan riset terkait bambu laut. “Para peneliti dan perekayasa Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi bekerjasama dengan FIKP-UHO Kendari telah melakukan penelitian dan pengembangan restorasi bambu laut secara in-situ dan ex-situ,” kata Akhmatul Ferlin, Kepala LPTK ke Klanews.id. “Penanaman transplantasi bambu laut secara in-situ dilakukan di Desa Waha, Pulau Wangi-wangi dengan menggunakan metode rak bersubstrat konkret semen,” jelasnya.

Sementara penanaman secara ex-situ, menurut Ferlin, dilakukan di ruang laboratorium LPTK dengan metode instalasi aquarium air laut. Sejumlah teknologi digunakan LPTK Wakatobi dalam penelitian dan pengembangan dengan dukungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (FPIK UHO). Ferlin menambahkan bahwa perekayasaan teknologi bambu laut, meliputi rekayasa susbtrat untuk diuji coba di area yang mendapatkan pengaruh arus dan ombak. Lalu perekayasaan teknologi ex-situ melalui aquarium dengan menggunakan suplai mandiri energi yang berasal dari panel surya. “Kita juga mengintegrasikan teknologi rekayasa exsitu dan in-situ,” ujarnya.

Apa yang dilaksanakan pihaknya dengan UHO ini dibungkus sebagai ‘Wakatobi Sea Bamboo’, sebuah solusi pasca moratorium hasil perekayasaan teknologi konservasi sumber daya laut yang dihasilkan LPTK. “Kita sebut itu sebagai Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota (Wakatobi) – Sea Bamboo atau disingkat menjadi Wakatobi Sea Bamboo,” jelas Ferlin. “Wakatobi Sea Bamboo menawarkan alternatif. Tidak hanya di lokasi perairan laut tenang, tetapi juga bisa diimplementasikan di area yang mendapatkan pengaruh ombak, serta bisa dilakukan di lokasi ex-situ seperti di laboratorium,” tambahnya.

Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 09:36 Read more...
 

Kunjungan Rektor University of Rhode Island Ke LPTK Wakatobi

E-mail Print PDF

Jakarta, 09 Januari 2019. Pada hari Selasa kemarin, 08 Januari 2019, Kepala LPTK Wakatobi  Akhmatul Ferlin, MT menerima kunjungan Dr.  David Dooley,  Presiden (Rektor) University of Rhode Island (URI-USA) dan Brook Williams Roos,  MA.,  MBA,  Director Business & Education Partnerships Asia dikantor Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi. Kunjungan dilaksanakan dalam rangka penjajakan rencana kerjasama riset Universitas Rhode Island dengan LPTK Wakatobi.  Dalam kunjungannya perwakilan Dr David Dooley dan Brook Williams berkesempatan meninjau fasilitas riset/display Teknologi Restorasi Bambu Laut, WakatobiAIS dan Laboratorium Simlan, dan beliau terkesan dengan Inovasi Teknologi Restorasi Bambu Laut,  Teknologi WakatobiAIS dan operasionalisasi Radar Pantai. Pada kesempatan tersebut tidak lupa disampaikan pula bahan publikasi hasil Riset LPTK Wakatobi.


Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 08:52
 

Wakatobi Sea Bamboo : Lindungi Bambu Laut dari Ancaman Kepunahan

E-mail Print PDF

Sebagai Tindaklanjut Penandatanganan MoU antara BRSDMKP dengan UHO beberapa waktu yang lalu, serta PKS yang ditandatangani antara Kepala LPTK (Akhmatul Ferlin, MT) dengan Dekan FPIK-UHO (Prof Ir.  La Sara,  MSc., PhD) menghasilkan Inovasi untuk mendukung dan menunjang PERMEN-KP/46/2014 tentang penetapan status perlindungan terbatas Bambu Laut (ISIS Spp)





Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 08:49
 

Turut Berduka atas meninggalnya Bapak Kusmanto

E-mail Print PDF



Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 07:17
 

PENGUMUMAN PENERIMAAN TENAGA KONTRAK

E-mail Print PDF

PENGUMUMAN

Nomor: 02/BRSDM.2/SP/XII/2018

TENTANG

PENERIMAAN TENAGA KONTRAK

PUSAT RISET KELAUTAN

BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

TAHUN 2019



Sehubungan dengan telah terbitnya Peraturan Pemerintah nomor 49/2018 mengenai Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, maka Surat Pengumuman Penerimaan Pegawai Tenaga Kontrak Pusat Riset Kelautan dengan nomor 01/BRSDM.2/SP/XII/2018, kami tarik. Demikian kami sampaikan, dan kami mohon maaf atas pengumuman ini. Terima kasih atas perhatiannya.




Jakarta, 27 Desember 2018

Kepala Pusat

Riset Kelautan


TTD


Drs. Riyanto Basuki, M.Si.


Surat Pengumuman




Last Updated on Friday, 28 December 2018 10:23
 

BROL dan LAPAN Bersinergi Kembangkan Model Manajemen Operasi Pemantauan Berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV)

E-mail Print PDF


Perancak (07/12). Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai Riset dan Observasi Laut dan Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memasuki tahap diskusi implementasi pengembangan LAPAN Surveillance Unmanned Aerial Vehicle (LSU) untuk pemantauan illegal fishing di Perairan Indonesia. Seperti apa perkembangannya?

Guna perencanaan jalur terbang efektif UAV dan meningkatkan efek jera (detteren) di wilayah maritim Indonesia, BROL dan LAPAN adakan diskusi di ruang rapat Laboratorium Riset Kelautan BROL, Perancak.  “Diskusi kami kali ini bertujuan untuk perencanaan desain dan kerangka riset LSU nanti di lapangan. Kami akan segera eksekusi pesawat tanpa awak ini, karena illegal fishing yang terjadi tidak dapat menunggu, harus segera ditumpas”,  Romy Ardianto, M.Sc, koordinator kerja sama dari pihak BROL.

Strategi pemantauan illegal fishing menggunakan LSU atau yang umum dikenal sebagai pesawat tanpa awak ini relatif lebih murah. Didukung dengan data daerah potensi ikan linier dan data daerah dimana kapal ikan (legal dan ilegal) beroperasi serta sinergi dengan aparat yang beroperasi di perairan akan semakin memudahkan pemantauan tersebut. Tak hanya itu, spesifikasi pesawat nirawak milik LAPAN ini juga memiliki progres yang memadai.

“Kami rasa, adanya source data radar memadai yang saat ini dimiliki oleh BROL yang dikombinasikan dengan model dalam LSU, akan menciptakan strategi pemantauan praktik illegal fishing yang komprehensif di perairan Indonesia. “Perlu kami informasikan bahwa LSU telah dikembangkan sejak 2011. Pesawat ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya berkemampuan terbang dengan jangkauan 60 km hingga 500 km, berpengalaman operasi pemantauan yang sangat beragam, serta beberapa telah bersertifikasi laik dari IMAA (Indonesian Military Airworthiness Authority)”, ungkap Adi Wirawan, Peneliti LAPAN.

Tak jauh dari topik bahasan, diskusi yang turut dihadiri oleh operator Bali Radar Ground Receiving Station (BARATA) ini juga membahas seputar isu illegal fishing yang acap terjadi di perairan Natuna dan tumpahan minyak di perairan Kepulauan Riau.

“Natuna menjadi daerah yang rawan terjadi penangkapan ikan ilegal, terlebih posisinya berada di batas terluar Indonesia. Tak hanya itu, disekitar sana juga sering terjadi tumpahan minyak, yang terkadang sengaja dibuang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Setali dengan PKS ini, tumpahan minyak berpeluang menjadi fokus berikutnya untuk perkembangan kerja sama kedepan”, ungkap Dr. Teja Arief Wibawa, Manajer Operasional BARATA.

“Fokus sekarang terkait dengan metode dan hipotesa yang akan dituangkan dalam pelaksanaan riset kerja sama ini. Diagram alir pekerjaan riset juga sudah ada, data pun sudah tersedia, mungkin beberapa minggu ke depan akan segera memasuki tahap konstruksi berikutnya”, tambahnya.

Diskusi berakhir dengan kunjungan ke area kerja BARATA guna meninjau persiapan teknis penyediaan data radar yang dibutuhkan.

Last Updated on Tuesday, 15 January 2019 09:28