Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Arahan Strategis 2018 Kepala Pusat Riset Kelautan

E-mail Print PDF

Jakarta, 03 Januari 2017. Hari ini bertempat di Ruang Rapat Yellow Fin, Gedung 2 BRSDMKP Lantai 6, Kepala Pusat (Kapus) Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki, M.Si didampingi oleh Kepala Bagian Tata Usaha Theresia Lolita N. M.Si. mengadakan acara pertemuan sehubungan dengan kegiatan Pusat Riset Kelautan tahun 2018. Dalam acara yang dihadiri oleh beberapa Kepala Subbidang Riset dan Pelaksana Subbag Umum serta tenaga kontrak lingkup Pusris Kelautan tersebut, Riyanto Basuki memberikan pengarahan khususnya kepada tenaga kontarak mengenai beberapa hak dan kewajiban tenaga kontrak yang harus dipenuhi. Pada kesempatan tersebut Bapak Kapus juga menyampaikan hasil penilaian kinerja tenaga kontrak untuk periode masa kerja Januari - Desember 2017. Selain itu, di tahun 2018 akan dilakukan reposisi tenaga kontrak yang sebelumnya membantu di struktural bidang riset, terkait adanya penambahan sub bagian data dan informasi dan sub bagian kerjasama di bidang Tata Usaha.


Last Updated on Thursday, 04 January 2018 07:42
 

Pusat Riset Kelautan Dibantu AMAFRAD Press Terbitkan 5 Album Data dan Informasi Pelabuhan Perikanan

E-mail Print PDF


Jakarta, 02 Januari 2018. Laboratorium Data Laut dan Pesisir (Marine & Coastal Data Laboratory) Pusat Riset Kelautan di sepanjang 2017 melakukan "repackaging" data dan informasi untuk pelabuhan perikanan. Repackaging yang dimaksud adalah peng-album-an data dan informasi prakiraan cuaca di pelabuhan perikanan 2016 yang telah didiseminasikan secara online melalui website. Pendokumentasian secara Album ini adalah sebagai back up data, mengingat server utama KKP pernah mengalami peretasan di awal tahun 2017. Sekaligus album tersebut dapat sebagai data referensi bagi riset atau masyarakat yang ingin melakukan reanalisis data.  Lembaga resmi penerbitan buku pertama yang dimiliki oleh KKP, yakni AMAFRAD Press, menyantuni Pusris Kelautan untuk menerbitkan Album tersebut. AMAFRAD Press yang dikelola oleh Sekretariat Badan Riset & SDM KKP tersebut mengeluarkan 5 (lima) Album Prediksi Suhu Permukaan, Curah Hujan, Kecepatan dan Arah Angin, yang masing-masing untuk Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), Pelabuhan Perikanan (PP) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Bagi masyarakat yang menginginkan Album tersebut tentunya dapat menghubungi langsung ke pihak AMAFRAD Press.


Last Updated on Tuesday, 02 January 2018 09:12
 

Selamat Tahun Baru 2018

E-mail Print PDF



Last Updated on Monday, 01 January 2018 08:19
 

Pakai Jaring Tarik, Nelayan Trenggalek Dapatkan Tangkapan Ikan Melimpah

E-mail Print PDF

TRENGGALEK - Hasil tangkapan ikan para nelayan di Trenggalek melimpah beberapa waktu belakangan. Hanya dengan menggunakan jaring tarik, para nelayan bisa mendapatkan ikan lebih dari 1 ton.

Perencana Muda di Pusat Riset kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indra Hermawan menuturkan melimpahnya tangkapan ikan di wilayah Trenggalek tidak lepas dari kebijakan yang dijalankan, yakni pelarangan pengoperasian kapal 30 gross ton (GT) ke atas. “Dikarenakan kebijakan 30 GT tidak melaut, maka nelayan kecil dengan jaring biasa yang ditarik langsung dari pinggir pantai, bisa dengan mudah memperoleh ikan,” jelasnya, Rabu (20/12/2017).

 Menurut Indra, ikan-ikan tersebut tidak masuk dalam tempat pelelangan ikan (TPI), namun langsung dijual ke masyarakat. Sementara itu, pengepul ikan di Trenggalek Kresno Wahyu Arianto membenarkan, dalam beberapa waktu terakhir ini jumlah ikan yang ditangkap nelayan cukup banyak. Dengan menggunakan jaring tarik, nelayan bisa memperoleh sekitar 15 keranjang ikan.

Di mana satu keranjang rata-rata berbobot sekitar 1 kuintal. “Jadi bisa dihitung, setiap kali menarik jaring, berapa banyak ikan yang diperoleh,” jelas Arie, panggilan akrabnya. Dia menuturkan jumlah ikan sebanyak itu didapat nelayan dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat seperti pada Desember ini. Di waktu-waktu lain ketika cuaca bagus, jumlah tangkapan ikan bisa lebih banyak lagi. “Bulan-bulan kemarin, bisa lebih banyak ikan yang ditangkap. Untuk sekarang, cuacanya sedang kurang bagus,” jelas dia. (Bambang Priyo Jatmiko)

Berita ini sudah tayang di kompas.com dengan judul : Nelayan Trenggalek Nikmati Melimpahnya Tangkapan Ikan

Sumber  Berita: Surabaya Tribun News.com


Last Updated on Thursday, 28 December 2017 08:50
 

Akankah Komnas Kajiskan Bertransformasi Menjadi Komnas Pengelolaan Perikanan

E-mail Print PDF

Jakarta, 21 Desember 2017. Seiring dengan perkembangan jaman, Undang-Undang 45/2009 Tentang Perikanan memerlukan suatu pemutakhiran. Badan Riset dan SDM KP telah menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia untuk perubahan UU 45/2009, dan telah menyerahkannya kepada Sekretariat Jenderal KKP pada 31 Oktober 2017.
Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan) yang mempunyai tugas untuk memberikan saran dan bahan pertimbangan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, pada 21 Desember 2017, membahas RUU tersebut. Terdapat bahasan yang cukup dinamis antara bahasa hukum, teknis, dan bahasa kesepakatan, yang muncul di RUU hasil usulan dari berbagai Ditjen terkait. Komnas Kajiskan menelaah berbagai usulan revisi per pasal dari Ditjen Perikanan Budidaya, Ditjen Perikanan Tangkap, Ditjen Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, dan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut.
Diharapkan dengan UU Perikanan yang baru nantinya akan berdampak kepada pengelolaan sumber Daya perikanan yang lebih baik oleh pusat maupun daerah. Salah satu contoh implikasi dari penerapan UU 45/2009 adalah pada Bab I, angka 6 yang menyatakan bahwa "Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan". Maka dengan demikian, organisme seperti rumput laut pun dikategorikan sebagai "ikan".
Ditjen Perikanan Tangkap KKP sejak tahun lalu sedang menggodhog Rancangan Permen KP untuk kelembagaan pengelolaan perikanan di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPPNRI). Dimanakah posisi Komnas Kajiskan nantinya. Ataukah kemudian akan bertransformasi menjadi Komisi Nasional Pengelolaan Perikanan. Diskusi pun masih terus berlanjut.

Berita terkait :


Last Updated on Thursday, 28 December 2017 08:34
 

Telah Ratusan Tahun Lautan Indonesia "Diobok-Obok" Peneliti Asing

E-mail Print PDF

Jakarta, 21 Desember 2017. Lautan Indonesia sejak tahun 1875 telah diarungi dan diukur oleh peneliti asing. Sehingga tidaklah heran apabila para peneliti asing pun selalu ingin memutakhirkan data-data tentang dinamika Lautan Indonesia, hingga ke sumber dayanya. Pada 14 Desember 2017, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Diskusi Grup Terarah (FGD) terkait Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Litbang Asing dan Dana Pendampingan Mitra Peneliti Asing. FGD tersebut dilaksanakan di Pusat Geoteknologi LIPI di Bandung.

Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja sebagai peneliti senior Pusat Geoteknologi LIPI memaparkan pengalamannya dalam mengelola, mengambil manfaatnya, dan juga hambatan yang ditemuinya saat kerjasama dengan University of California Technology (Caltech) dan juga Earth Observatory of Singapore (EOS).

Sementara, Dr. Nugroho Hananto memaparkan pengalamannya terkini saat menjadi Chief Scientist di Kapal Riset Perancis Marion Dufresne pada kuartal pertama tahun 2017 ini dimana melakukan scanning bawah permukaan Samudera Hindia Sebelah barat Sumatera dalam rangka mengivestigasi dinamika sesar dan lempeng Samudera Hindia yang menunjam ke lempeng benua Asia. Pada cruise tersebut para peneliti Indonesia dan asing saling bekerjasama dalam menganalisis hasil "sediment coring". Turut pada cruise tersebut, peneliti geologi kelautan dari Pusat Riset Kelautan yakni Rainer arif Troa, M.Sc.

Dr. Jusuf Surachman, peneliti utama di BPPT, menekankan pentingnya kompilasi seluruh data-data hasil kerjasama riset dengan asing. "Perlu dibikin National data Center hasil riset kerjasama asing", tutur beliau. Hal ini sejalan dengan pemikiran Dr. Widodo Pranowo yang memaparkan upaya Pusat Riset Kelautan melalui laboratorium Data Laut dan Pesisir dalam mengkompilasi dan menyusun basis data seluruh data oseanografi hasil riset kerjasama asing, maupun data-data Indonesia yang tersebar dimiliki oleh instansi riset asing.

Dr. Agus Sediadi, dari Kemeristekdikti menekankan bahwa pemerintah perlu memberikan dana riset yang mencukupi apabila negara ini ingin maju di bidang industri. Para penelti harus dilengkapi dengan fasilitas langganan jurnal ilmiah berkualitas agar tulisan-tulisannya pun bisa berkualitas. "Jer Besuki Mawa Bea", tutur beliau. Menurut Pak Agus, saat ini Indonesia berada di urutan 55 menurut Country Rank SCIMAGO. "Jumlah dokumen Ilmiah Indonesia 1/5 dari Singapura, dan sitasi 1/10, sedangkan bila dibandingkan dengan Malaysia maka jumlah dokumen ilmiah Indonesia 1/4 dan sitasinya 1/3", demikian ditambahkan oleh beliau.

Adapun hal menarik dan menyegarkan adalah informasi yang dipaparkan oleh Koordinator Tim Koordinasi Pemberian Izin Peneliti Asing (TKPIPA), Bapak Sri Wahyono, bahwa Kemenristekdikti, menyiapkan anggaran pendamping dalam bentuk perjalanan dinas bagi peneliti Indonesia yang membutuhkan dana ketika mendampingi penelti asing saat survei atau kunjungan ke daerah. Setiap peneliti Indonesia dari berbagai kementerian dan lembaga riset, diperkenankan berkompetis mengajukan proposal untuk dana pendampingan tersebut.


Last Updated on Thursday, 28 December 2017 08:25