Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Webinar Series #8 LRSDKP Diseminasi Hasil Riset Identifikasi Situs Kapal Tenggelam di Perairan Pulau Abang, Batam, Kepulauan Riau

E-mail Print PDF


Webinar Series #8 LRSDKP

Diseminasi Hasil Riset Identifikasi Situs Kapal Tenggelam  di Perairan Pulau Abang, Batam, Kepulauan Riau dan Potensi Pelestarian serta  Pengembangannya untuk Wisata Bahari Bagi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Jumat, 18 Desember 08:00 WIB - 11:00 WIB*

Pengantar:
Dr. I Nyoman Radiarta, S.Pi, M.Sc | Kepala Pusat Riset Kelautan

Sambutan:
Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, Ph.D. | Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Pemaparan Hasil Riset:
1. Nia Naelul Hasanah Ridwan, S.S., M.Soc.Sc. | Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir
2. Agus Sudaryadi, S.S. | Pamong Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi
3. Stanov Purnawibowo, MA. | Peneliti Arkeologi Balai Arkeologi Sumatera Utara

Narasumber:
1. Drs. Teguh Hidayat, M.Hum | Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat
2.
Drs. Robi Ardiwidjaya, M.BIT | Direktorat Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Moderator:
Erish Widjanarko, ST | Koordinator Riset Sumber Daya Laut dan Kewilayahan  Pusat Riset Kelautan

Contact Person: Rabiatul Adawiyah  (082283374828) | Yani Purnama Sari (085274823508)

Pendaftaran : https://bit.ly/webinar8lrsdkp

FREE E-SERTIFIKAT.



Last Updated on Thursday, 17 December 2020 19:24
 

Peneliti Pusriskel dan BMKG jelaskan suhu permukaan laut pengaruhi siklon tropis

E-mail Print PDF


JAKARTA — Hampir sepekan lamanya, berbagai wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang cukup ekstrem dan kerap terjadi saat malam menjelang dini hari. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang berpotensi menghasilkan bibit siklon tropis.

Ahli Oseanografi Widodo Setiyo Pranowo menyebutkan suhu permukaan laut meningkat menjadi lebih hangat, akan memanaskan udara di atasnya, dan berpotensi menghasilkan bibit siklon tropis. “Suhu permukaan laut antara 29-30 derajat Celsius berpotensi membangkitkan energi panas sekitar 140 hingga 240 kJ/cm^2 (red: kilo Joule per sentimeter persegi) yang diperkirakan berpotensi untuk membangkitkan benih-benih siklon tropis,” kata Widodo saat dihubungi, Rabu (16/12/2020).

Ketika La Nina, lanjutnya, suhu permukaan laut cenderung meningkat panas atau hangat, sehingga meningkatkan probabilitas menumbuhkan benih-benih siklon tropis. “Air laut panas lalu mengimbas kepada udara di atas permukaan laut, sehingga terjadilah perbedaan tekanan udara di atas permukaan laut dengan lapisan udara yang lebih ke atasnya lagi,” ucapnya.

Berdasarkan basis data, biasanya yang menjadi lokasi penumbuh bibit siklon tropis itu adalah Samudera Pasifik Barat sebelah utara Papua dan Laut Banda. “Bibit yang tumbuh di Laut Banda kemudian membesarnya sudah keluar dari wilayah perairan Indonesia, lari ke arah selatan. Salah satunya, pernah terjadi menghantam pesisir barat Australia,” urainya.

Bibit yg tumbuh di Samudera Pasifik Barat di utaranya Papua, bisa jadi lari ke utara. “Atau lari ke barat melewati Laut Sulawesi terus ke Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara,” ucapnya.

Saat dihubungi terpisah, Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, M.Sc, memaparkan berdasarkan penelitian bahwa badai tropis dapat terbentuk bila dipenuhi beberapa syarat. “Yang utama adalah adanya suhu permukaan laut sekitar 27°C dan lebih hangat dari sekitarnya,” kata Siswanto.

Syarat lainnya adalah adanya beda arah dan kecepatan angin atau disebut ‘geser angin’ pada ketinggian yang berbeda di bagian atmosfer bawah (low level vertical wind shear) disertai dengan potensi kepusaran udara yang cukup besar dalam cakupan yang luas. Hasil penelitian beberapa dekade terakhir, ungkapnya, telah menunjukkan bahwa di beberapa wilayah samudera telah terjadi penghangatan permukaan laut sebesar 0.25° – 0.5°C. “Karena laut dapat menyimpan panas lebih lama daripada daratan dan atmosfer, maka akumulasi sumber energi dan penguapan oleh kolom air laut yang lebih hangat juga lebih besar,” ujarnya.

Ia menyatakan ada hubungan timbal balik antara laut dan atmosfer. Yaitu bila laut memanas maka akan memanaskan atmosfer diatasnya dan sebaliknya. “Tetapi umumnya yang paling dominan menjadi pemantik panas lautan adalah energi radiasi matahari tersimpan oleh permukaan dan bawah permukaan lautan dengan semua propertiesnya yang dinamis,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Thursday, 17 December 2020 07:41
 

Launching Penerapan Teknologi Adaptif Lokasi (PTAL) Hasil Riset Kelautan

E-mail Print PDF


Webinar Series #7 LRSDKP -- LAUNCHING PENERAPAN TEKNOLOGI ADAPTIF LOKASI (PTAL) HASIL RISET KELAUTAN --
“Inovasi Pematangan Teknologi Adaptif Lokasi Garam Sistem Rekristal untuk Menghasilkan Olahan Garam Berkualitas”*

Kamis 17 Desember 08:30 WIB - 12:00 WIB*

Pengantar:
Dr. I Nyoman Radiarta, S.Pi, M.Sc | Kepala Pusat Riset Kelautan

Sambutan:
Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, Ph.D., | Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Penutup:
Nia Naelul Hasanah Ridwan, S.S., M.Soc.Sc. | Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir

Narasumber:
1. Aris Wahyu Widodo, ST. | Penanggung Jawab Instalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut
2. Dr. Ifan Ridlo Suhelmi, M.Si | Kepala Bidang Riset Teknologi Kelautan Pusat Riset Kelautan
3. Lutfi Jauhari, S.St.Pi., M.Si | Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal

Moderator:
Dendy Mahabor, S.T., M.Pi | _Peneliti Instalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut _

Contact Person: Rabiatul Adawiyah  (082283374828)
Pendaftaran: https://bit.ly/webinar7lrsdkp

FREE E-SERTIFIKAT..


Last Updated on Wednesday, 16 December 2020 13:35
 

Seminar Online Pusat Riset Kelautan “Menguak Potensi Wisata Arkeo Bahari di Perairan Indonesia”

E-mail Print PDF


Salam Bahari,

Seminar Online Pusat Riset Kelautan “Menguak Potensi Wisata Arkeo Bahari di Perairan Indonesia”

Selasa, 15 Desember 2020
Pukul 09.00 – 13.00 WIB

Melalui aplikasi Zoom pada link pendaftaran : https://bit.ly/ArkeoBahariPRK2020

Pembukaan oleh Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, Ph.D. | Kepala BRSDM KP
Pengantar oleh Dr. I Nyoman Radiarta, M.Sc. | Kepala Pusat Riset Kelautan BRSDM
Pembicara Kunci Hilmar Farid, Ph.D. | Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Narasumber:
1. Dr. I Made Geria, M.Si. | Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2. Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA | Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
3. Prof. Dr.Susanto Zuhdi, M.Hum. | Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
4. Drs. Alexander Reyaan, M.M.  | Direktur Wisata Alam, Budaya Dan Buatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
5. Dr. Ira Dillenia, M.Hum.  | Peneliti Bidang Arkeologi Maritim, Pusat Riset Kelautan

Moderator:
Erish Widjanarko, S.T. | Koordinator Riset Sumber Daya Laut dan Kewilayahan, Pusat Riset Kelautan

Narahubung:
Nur A. R. Setyawidati (0812-9510-5208)
Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Website: pusriskel.litbang.kkp.go.id
Youtube: Pusat Riset Kelautan
Disediakan e - Sertifikat


Last Updated on Monday, 14 December 2020 06:52
 

Sosialisasi Hasil Kegiatan“Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Nasional/Daerah (KKPN/D) di Spermonde dan Selayar

E-mail Print PDF


Sejatinya KKPN/D dapat memberikan manfaat ekologi - ekonomi pada pembangunan daerah & masyarakat sekitar kawasan. Namun saat ini, khususnya manfaat ekonomi tersebut belum dirasakan oleh masyarakat / PEMDA. Pada tahun 2019 kawasan konservasi telah mencapai 22,68 juta hektar atau 3,54% dari luas perairan Indonesia sebesar 6,4 juta km2 atau setara dengan 640 juta hektar (BIG, 2015). Agar manfaat ekologi-ekonomi-sosial dapat dirasakan oleh stakeholder, maka target tersebut perlu diiringi dengan kualitas pengelolaan yang optimal, baik sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) maupun sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD).

Tim Pusat Riset Kelautan (Dr. Taslim Arifin, Erish Widjanarko, ST dan Dr. Muhammad Ramdhan) melalukan sosialisasi hasil di Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi Sulawesi Selatan. Adapun pokok-pokok yang dijelaskan adalah :

a)    Terjadi perubahan kondisi terumbu karang pada zona inti (tahun 2000 & 2019), dimana pada Pulau Kapoposang mengalami kenaikan berkisar antara 4,23 – 13,95%, dan sebaliknya terjadi penurunan di Pulau Suranti sekitar 19,05%. Hal tersebut mengindikasikan masih kurang efektifnya pengawasan di kawasan TWP Kapoposang khususnya di Pulau Suranti.

b)    Kawasan konservasi perairan yang telah dinilai memperlihatkan bahwa penangkapan sumberdaya ikan dengan cara merusak (bom dan bius) dan mass tourism merupakan ancaman paling tinggi.

c)    Terdapat perbedaan tingkat efektivitas pengelolaan antara kawasan yang dikelola pusat dan daerah. Dengan menggunakan metode METT, penilaian KKPN-TWP Kapoposang diperoleh dengan tingkat kategori efektif, sedangkan KKPD Pangkep dan Selayar dengan tingkat kategori cukup efektif.

d)    Mengoptimalkan zona pemanfaatan dan zona budidaya dengan sistem community based tourism (CBT) serta sistem bisnis based coral garden karang hias.

e) Evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan yang direkomendasikan adalah analisis integrasi pendekatan resiliensi ekologi - pendekatan administrasi manajemen (Makassar, 10 Desember 2020).



Last Updated on Thursday, 10 December 2020 07:29
 

Penjelasan Peneliti Pusriskel : La Nina Moderate Berdampak Positif Bagi Nelayan Indonesia

E-mail Print PDF


JAKARTA – La Nina moderate yang terjadi pada periode penghujung 2020 hingga Januari 2021 berdampak positif bagi para nelayan, karena akan memicu keberlimpahan ikan tuna dan ikan pelagis besar. Terutama, jika para nelayan melakukan adaptasi cara penangkapan ikan. “Ini bisa menjadi berkah bagi nelayan Indonesia. Akan ada migrasi ikan tuna maupun ikan pelagis besar lainnya seperti cakalang dan madidihang dari perairan Pasifik Barat memasuki lautan Indonesia, terutama perairan Makassar dan Banda,” kata Ahli Oseanografi Terapan, Widodo Setiyo Pranowo, saat dihubungi pada Senin (7/12/2020).

Ia menyatakan, El Nino menyebabkan warm pool region (red: semacam kolam air panas, kawasan laut yang airnya lebih panas dibanding sekitarnya) di Lautan Pasifik, dan kemudian bergerak menjauhi Pasifik Barat menuju ke tengah. Tapi pada saat La Nina, akan terjadi sebaliknya. Kolam air panas itu bergerak memasuki perairan Indonesia bagian timur. “Kita bakalan kelimpahan ikan pelagis besar, terutama tuna, cakalang, dan madidihang yang suka berkumpul di warm pool region,” ujarnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, bahwa September 2020 hingga Januari 2021 terjadi fenomena La Nina tingkat Moderat. “La Nina ini akan berkombinasi dengan angin peralihan dari monsun timur atau tenggara, menuju ke monsun barat atau barat laut sepanjang September hingga November 2020, dan juga berkombinasi dengan angin monsun barat atau barat laut pada Desember 2020 hingga Februari 2021,” urai Widodo lebih lanjut.

Secara teoritik, dampak umum maksimum dari La Nina tingkat Moderat bakal berlangsung pada September hingga November 2020, adalah peningkatan suhu permukaan air di wilayah perairan barat Samudra Pasifik. “Sehingga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Repubulik Indonesia (WPPNRI) yang paling meningkat suhu permukaan lautnya adalah WPPNRI 717, yang mencakup wilayah perairan laut Teluk Cenderawasih dan Samudra Pasifik Barat di utara Papua, dan WPPNRI 716 yang mencakup wilayah perairan Laut Sulawesi dan sebelah utara Pulau Halmahera,” ucapnya.

Wilayah perairan laut lainnya dimungkinkan pula akan terdampak telekoneksi dari La Nina selama September hingga November 2020 ini, mengingat adanya aliran massa air laut dari Samudra Pasifik yang mengalir menuju Samudra Hindia melalui perairan internal Indonesia. “Aliran massa air itu disebut sebagai Arus Lintas Indonesia (Arlindo), yang akan membawa massa air bersuhu hangat hingga panas, dan menyebarkannya ke wilayah laut internal seperti Selat Makassar hingga Laut Flores yang masuk dalam WPPNRI 713, kemudian ada yang memasuki Laut Jawa atau WPPNRI 712, wilayah Laut Banda atau WPPNRI 714, serta Laut Timor dan laut selatan Jawa Bali yang masuk ke WPPNRI 573,” ujarnya.

Pada kejadian La nina selama September hingga November 2020, angin dari timur/tenggara akan sangat kuat mendorong lapisan massa air permukaan yang hangat atau panas, dan lapisan termokin di perairan laut menjadi makin dalam dari biasanya. “Hal ini memungkinkan kondisi suhu air yang nyaman bagi ikan semakin turun ke lapisan yang lebih dalam. Manakala nelayan tidak beradaptasi dengan tidak memperpanjang tali pancing atau tali jaring, maka kecil kemungkinannya alat tangkap nelayan tersebut akan meraih ke habitat ikan,” urainya.

Ketika La Nina tingkat Moderate memasuki periode Desember 2020 hingga Januari atau Februari 2021, sebenarnya kekuatan angin dari timur/timur laut berangsur berkurang karena adanya angin musim barat yang bergerak dari barat/barat laut. “Namun bila suhu permukaan laut masih hangat/panas disertai musim hujan, akan menghalangi lapisan termoklin untuk kembali ke posisinya yang normal, sehingga habitat ikan masih berada di lapisan yang lebih dalam dari kondisi normalnya,” pungkasnya.

Berdasarkan riset dan fakta yang pernah terjadi, La Nina pada Juni 2016 hingga Maret 2017 menyebabkan tangkapan Lemuru di Selat Bali, menurun. “Berdasarkan kondisi tersebut, bahwa ketika La Nina September 2020 hingga Januari hingga Februari 2021, ketika habitat ikan berada di lapisan yang lebih dalam dari kondisi normalnya, maka direkomendasikan bagi nelayan untuk memperpanjang tali pancing atau tali jaring agar dapat mencapai kedalaman ikan berada,” kata Widodo lebih lanjut.

Namun untuk turun beroperasi menangkap ikan, sebelum berangkat melaut sebaiknya mengecek ramalan cuaca kondisi angin dan tinggi gelombang yang disediakan oleh BMKG, untuk menghindari terjebak oleh angin/badai ekstrem dan gelombang tinggi. “Selain itu, perlu dilakukan pengecekan ulang kelengkapan dan fungsionalitas dari alat-alat darurat dan evakuasi seperti life vest yang disertai dengan peluit, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan, dan peralatan telekomunikasi portabel yang telah dibungkus dengan kantung kedap air,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Thursday, 10 December 2020 07:00