Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Apa Saja Manfaat Pemodelan dalam Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup?

E-mail Print PDF

Sengketa lingkungan hidup membutuhkan data yang akurat. Data ini sebagai bukti yang ada di lokasi kejadian. Ahli Modeling Laboratorium Data Laut & Pesisir Pusat Riset Kelautan Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan & Perikanan Dr Ing Widodo S Pranowo mengatakan, ketika ada suatu pencemaran, maka dapat disimulasikan bagaimana penyebaran material pencemaran tersebut. “Berdasarkan propagasi pencemaran, dapat diestimasikan kawasan mana sajakah yang terdampak,” Kata Widodo kepada Darilaut.id.

Dengan adanya informasi ini, kata Widodo, dapat di-overlay dengan baseline information sumberdaya laut apa saja yang terdampak. Adakah kawasan perikanan yang terdampak, dan lain sebagainya. Selanjutnya, tim survei menindaklanjuti dengan turun ke lokasi kejadian. Tim ini mengumpulkan lagi bukti-bukti di lokasi yang diestimasi telah terdampak. Karena itu, menurut Widodo, dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup, hasil pemodelan dapat digunakan sebagai guide untuk mencari bukti di lokasi.

Keuntungan permodelan ini, lebih efektif dan efisien. Kemudian tidak berdampak kepada alam atau tidak membahayakan. “Ekonomis dan lebih lebih praktis,” kata Widodo, salah satu nara sumber kegiatan Forum Ahli yang difasilitasi Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Bali. KLHK telah mengumpulkan ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk penguatan kapasitas dalam penanganan perkara lingkungan hidup dan kehutanan.

Proses pemodelan suatu dinamika untuk kondisi alam nyata atau realita diperlukan untuk memperoleh pemahaman tentang fenomena atau sistem yang sedang dipelajari. Problematika ini dalam kehidupan nyata dicari solusinya dengan cara melakukan simulasi. “Di perairan, yang dapat dicari solusi melalui pemodelan hidrodinamika, seperti arus laut, dinamika muka laut, pasang surut, gelombang, suhu dan salinitas,” kata Widodo yang juga anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) ini.

Untuk pemodelan transport yang bisa diperoleh antara lain parameter ekologi laut, sebaran polutan atau material pencemar, migrasi biota atau larva, dan lain-lain. Pemodelan geospasial untuk penyelesaian sengketa lingkungan hidup, sebagaimana dalam UU nomor 1 tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Informasi geospasial ini berdasarkan asas kepastian hukum, keterpaduan, keterbukaan, mutakhir, dan keakuratan. Selain itu, manfaat dan demokratis. Data dan informasi geospasial, penting untuk estimasi kawasan terdampak pencemaran, identifikasi komponen-komponen lingkungan hidup terdampak, dan untuk estimasi valuasi ekonomi kerugian lingkungan.*

Sumber ; darilaut.id


Last Updated on Tuesday, 30 October 2018 10:34
 

Menyongsong Era Disrupsi Teknologi

E-mail Print PDF

Semua pihak sepakat disrupsi teknologi menjadi peluang besar bagi pertumbuhan negara. Khususnya teknologi digital. Kementrian Perindustrian (Kemenperin) mencatat lebih dari 60% kegiatan manufaktur dapat diotomatisasi dengan teknologi digital. Pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan inovasi menjadi ciri implementasi revolusi industri 4.0. Misalnya nanti perusahaan manufaktur, pemasok peranti, dan pelanggannya akan terhubung pada platform internet of things (IoT). “Teknologi bukan sebuah hambatan, tetapi potensi untuk meningkatkan produktivitas.
Kalau ada yang masih tertinggal, kami siap melakukan pendampingan teknologi karena tidak semua menggunakan ponsel pintar,” ujar Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin. Sebanyak 17 juta tenaga kerja yang dimiliki Indonesia harus dimaksimalkan kemampuan dan kapasitas digitalnya pada 2030. Total jumlah tenaga kerja tersebut meliputi satu juta profesional digital, termasuk insinyur perangkat lunak, ilmuwan komputer, dan analisis tingkat lanjut. Kemenperin sejak 2017 sudah menyiapkan industri untuk lebih digitalisasi. Ribuan IKM pun mengikuti e- Smart IKM. Kemenperin menargetkan jumlah IKM yang akan mengikuti workshop e-Smart IKM hingga tahun 2019 dapat mencapai lebih dari 10.000 IKM dan sebanyak 30.000 produk IKM yang dapat diakses konsumen melalui marketplace.
Kegiatan yang akan dilakukan adalah Making Indonesia 4.0 Conference di Kantor Kemenperin. “Kami memang tidak membuat marketplace sendiri, biarkan meng - gunakan marketplace yang sudah dikenal luas seperti Bukalapak, Blanja.com, dan Shopee. Dari pihak mereka juga ada yang ikut mengajarkan bagaimana memasarkan produk melalui marketplace,” papar Gati. Diharapkan program e-Smart IKM membantu penyerapan tenaga kerja dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Kemenperin juga mendorong para pelaku IKM di sentra-sentra masuk marketplace agar dapat memberikan akses pasar yang lebih luas sehingga akan memudahkan pelaku IKM untuk mengembangkan usahanya. Gati menambahkan, bukan hanya soal pemasaran yang didampingi Kemenperin, tetapi juga saat produksi. Namun dia menegaskan, peningkatan teknologi pada bagian produksi tidak mengurangi tenaga kerja, tetapi hanya shifting tenaga kerja.
Tenaga kerja yang biasa ada di bagian produksi bisa ditempatkan ke bagian distribusi karena alat baru membuat produk semakin banyak. “Restrukturisasi mesin dan peralatan IKM, pemerintah memberi potongan harga dengan cara reimburse atas pembelian mesin dan/atau peralatan yang dilakukan oleh IKM dalam periode 1 Agustus 2017 - 30 September 2018,” ungkapnya. Potongan harga diberikan sebesar 30% dari harga pembelian mesin atau peralatan buatan dalam negeri dan 25% buatan luar negeri. Nilai reimburse yang dapat diberikan mulai Rp10 juta hingga Rp500 juta per perusahaan per tahun anggaran.

Last Updated on Tuesday, 30 October 2018 10:35 Read more...
 

Survei Tsunami

E-mail Print PDF

Kemudian dari titik di tanah tersebut, dilakukan profiling ketinggian posisi terhadap duduk tengah muka laut atau mean sea level. Sehingga hasil total ketinggian tsunami adalah penjumlahan total dari ketinggian yang diukur terhadap muka tanah, ditambah ketinggian muka tanah terhadap duduk tengah muka laut. Alat untuk mengukur jarak atau ketinggian dapat menggunakan laser distometer. Akan lebih akurat lagi bila ditambahkan juga teodolit.

Menurut Widodo, alasan mengapa yang dijadikan acuan adalah duduk tengah muka laut, ini karena bisa jadi muka tanah yang dipijak oleh surveyor saat melakukan pengukuran ketinggian tsunami adalah material bawaan tsunami yang ketebalannya tidak bisa diketahui secara pasti. Untuk inundasi, sebagai pembanjiran daratan akibat gelombang tsunami atau jarak horisontal ketinggian tsunami terukur, pada garis pantai.

Widodo yang memperoleh gelar Doctor in engineering dari Universitas Bremen, Jerman mengatakan, hasil riset terhadap tsunami Aceh pada 2004 dan Java 2006, menunjukkan cepatnya propagagasi gelombang tsunami. Dari Aceh ke Selat Lombok, di sisi barat Bali hanya ditempuh dalam waktu empat jam 58 menit. Jarak sumber pembangkit dengan pantai yang diterjang sangat jauh atau far field. Amukan gelombang raksasa dari Aceh, dalam beberapa jam, juga merambat hingga mencapai pesisir dan daratan Afrika.

Contoh lain, kata Widodo, sumber tsunami berasal dari zona subduksi Makran di selatan Iran. Propagasi mencapai barat Sumatera. Gempa di Makran, tidak dirasakan penduduk di barat Sumatera. Potensi ini belum pernah terjadi. Namun patut dikaji lebih lanjut dan diwaspadai.

Sementara untuk tsunami di Palu, berlangsung cepat. Gempa sangat kuat berkekuatan magnitude 7,4 skala Richter mengguncang Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pusat gempabumi pada koordinat 119.85 BT; 0.18 LS pada kedalaman 10 kilometer. Mekanisme gempa, sesar geser Palu Koro. Setelah terjadi gempa M 7,4 SR SR skala Richter, orang masih merasakan dampak goyangan, dalam hitungan menit terjadi tsunami. “Ini yang diterminologikan sebagai near field tsunami,” ujar Widodo yang juga anggota Dewan Hidrografi Indonesia (DHI). Gelombang ini dengan jarak antara sumber dan pantai relatif dekat.*

Sumber : darilaut.id



Last Updated on Tuesday, 30 October 2018 08:53
 

Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

E-mail Print PDF

Sistem peringatan dini tsunami dibangun berbasis teknologi. Komponen sistem ini, terdiri dari perangkat keras dan lunak. Fungsinya, untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan evakuasi diri bila terjadi gempa yang (berpotensi) menyebabkan tsunami. Sistem peringatan dini tsunami regional yang sudah operasional, antara lain, untuk Samudera Pasifik dan Atlantik. Masing-masing dibawah kendali operasi Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) dan Atlantik Tsunami Warning Center (ATWC). Untuk wilayah Samudera Hindia, sejak 2009, dibahas dalam konsorsium Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) tentang siapakah yang akan bertindak sebagai Regional Tsunami Watch Provider (RTWP). Dalam hal ini, apakah Indonesia melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ataukah India melalui Indian National Centre for Ocean Information Services (INCOIS). Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dibangun sejak 2005. Setelah peristiwa mega-gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004. InaTEWS diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2008.

Teknologi

Komponen sistem peringatan dini, seperti pusat kendali operasi (Tsunami Warning Center atau TWC), alat pendeteksi gempa di darat (seismograf), alat pendeteksi gempa di dasar laut (Ocean Bottom Unit atau OBU). Selain itu, alat pengukur pasang surut digital (tide gauge), differential Global Positioning System (dGPS), pelampung di permukaan laut (mooring buoy) pentransmisi sinyal informasi dari OBU ke satelit. Alat ini dilengkapi dengan pengukur perubahan tinggi muka air laut, satelit yang berfungsi sebagai wahana transmisi sinyal antara berbagai alat pendeteksi gempa/tsunami dengan pusat kendali operasi. Perangkat lunak berupa Decision Support System (DSS) berkoordinasi dengan dua perangkat lunak lain, Seiscomp untuk pengolah data gempa dan System Information Management (SIM). Secara umum, ketika tremor gempa yang episenter di dasar laut terdeteksi oleh OBU. Sinyal tersebut akan ditransmisikan ke mooring buoy di permukaan laut. Mooring buoy akan mendeteksi perubahan muka air laut.

Kedua indikasi tersebut kemudian akan ditransmisikan ke TWC untuk konfirmasi dengan alat pendeteksi lainnya seperti seismograf, dGPS dan tide gauge di pantai/pelabuhan (Behrens et al., 2008; Behrens et al., 2009; Tessman et al., 2010). Selanjutnya, episenter dan kekuatan gempa akan mengonfirmasikan dengan basis data tsunami yang memiliki lebih dari 2250 skenario dengan beragam episenter dan berdasarkan variasi kekuatan gempa dari Mw 6,5 – 9,0 (Mentrup et al., 2007; Behrens et al., 2008; TRG-ITB, 2010). Perangkat lunak DSS akan menyajikan informasi apakah gempa tersebut akan menimbulkan tsunami ataukah tidak. Jika akan menimbulkan tsunami, petugas TWC segera menekan tombol diseminasi yang otomatis akan mengirimkan peringatan bahaya tsunami melalui sirine, Short Message Service (SMS), faksimili, radio, dan Televisi (Tessman et al., 2010). Perjalanan sinyal hingga diterbitkannya peringatan dini yang cukup panjang, berlangsung hanya dalam waktu 5 (lima) menit setelah gempa (Lauterjung et al., 2010).

Aplikasi

Sistem peringatan dini tsunami di BMKG pada 12 September 2007 untuk pertama kalinya menerbitkan peringatan tsunami terhadap gempa Mw 8.4 dengan episenter di baratdaya Bengkulu. Kemudian tercatat beberapa gempa lain yang berpotensi tsunami di Toli-toli 17 Nopember 2008, Manokwari Papua 4 Januari 2009, Padang 16 Agustus 2009 dan 30 September 2009 dan selatan Jawa 2 September 2009. Selain itu, di utara Sumatra 6 April 2010 dan 9 Mei 2010 dan juga yang menimbulkan tsunami di Mentawai 25 Oktober 2010. Sistem ini telah dikaji oleh komisi dari IOC-UNESCO pada September 2010, dengan harapan dapat meningkatkan kualitasnya sebagai penyedia peringatan dini tsunami nasional dan kapasitasnya sebagai RTWP untuk Samudera Hindia di masa mendatang (Fauzi et al., 2009; Rudloff et al., 2010).

Last Updated on Friday, 26 October 2018 13:08 Read more...
 

Ambruknya Jembatan Kuning

E-mail Print PDF

Dengan mengendarai sepeda motor, Hakum, 24 tahun, berusaha mencari terpal di Kota Palu. Hakum tinggal di Desa Toaya Vunta, Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala. Jarak dari Toaya Vunta ke Palu 40 kilometer. Sarjana pemerintahan Universitas Tadulako ini, ingin mengabarkan kondisi di Donggala yang jarang tersentuh bantuan. “Di desa saya ada 524 kepala keluarga yang mengungsi karena gempa,” ujar Hakum, Sabtu (6/10).

Namun, gempa awal pada Sabtu (28/9), pukul 15.00 Wita sudah cukup merusak. Paman Hakum yang tinggal di Desa Ombo, Kecamatan Sirenja, melalui telepon seluler minta untuk dijemput. “Rumah om (paman) saya sudah hancur (roboh) lebih dulu,” kata Hakum. Sirenja adalah lokasi pusat terjadinya gempa. Sabtu sore, jam 16.00 Wita, Hakum menuju Desa Ombo untuk menjemput pamannya. Setelah bertemu pamannya, dalam perjalanan menuju Desa Toaya Vunta, azan magrib berkumandang di Donggala, terjadi gempa dahsyat Sabtu (28/9).

Lima jurnalis TV di Palu, yang berada dalam mobil juga merasakan guncangan yang kuat ketika berada di Jalan Trans Sulawesi dekat Pelabuhan Pantoloan. Ody Rahman, jurnalis NET TV menghentikan mobil yang dikendarainya saat terjadi gempa. Di depan mobil mereka, terlihat sejumlah kendaraan sepeda motor berjatuhan. Ody bersama empat jurnalis Palu lainnya Abdy Mari (TV One), Rolis Muhlis (Kompas TV), Jemmy Hendrik (Radar TV) dan Ary Al-Abassy (TVRI) turun dari mobil. Setelah keluar dari mobil, terjadi lagi gempa. Tak lama, tampak gelombang tinggi bergerak cepat ke arah pantai dan daratan. Tsunami. Sedianya, kelima jurnalis TV ini akan melakukan liputan gempa yang terjadi pukul 15.00 Wita. Gempa itu berkekuatan magnitude 5,9 skala Richter (SR). Pusat gempa di Sirenja, Kabupaten Donggala.

Last Updated on Friday, 26 October 2018 12:07 Read more...
 

Hidup Ramah dengan Bencana Gempa dan Tsunami

E-mail Print PDF

Secara parsial, telah banyak upaya yang dilakukan berbagai kalangan (ilmuwan, praktisi, lembaga, mahasiswa, pelajar dan masyarakat) untuk menjawab tantangan ke depan untuk adaptasi dan mitigasi bencana gempa dan tsunami. Hal tersebut patut diteruskan, diwadahi, dikoordinasi dan didukung pemerintah agar lebih optimal hasil yang diharapkan. Upaya-upaya tersebut antara lain: Diseminasi Gempa dan Tsunami kepada Masyarakat. Pendidikan formal kurikulum dan non-formal, lewat berbagai media. Seperti pertunjukan wayang, musik dangdut dan tabligh akbar. Diseminasi ini murah, efisien dan efektif (Diposaptono, 2007). Selanjutnya, diseminasi TEWS dan pelatihan evakuasi tsunami (tsunami drill) tetap diperlukan dan pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Jaringan Peralatan Oseanografi Pembangunan sistem TEWS berbasis lokal, contohnya pemasangan tide gauge lokal, optimalisasi sistem siskamling, dan sebagainya. Membangun jaringan peralatan oseanografi nasional seperti INAGOOS (Indonesia Global Ocean Observing System) sebagai upaya memperoleh data untuk verfikasi dan validasi model tsunami. Seperti Shallow Pressure Gauge Array (SPGA) dari konsorsium International Nusantara Stratification and Transport (INSTANT) yang bertujuan untuk meneliti Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) secara tidak sengaja merekam sinyal tsunami Aceh 2004 dan Jawa 2006 (Drushka et al., 2008).

Jaringan Telekomunikasi dan Informasi. Penelitian dan pengembangan dibidang teknologi telekomunikasi dan informasi, misalnya, perluasan jaringan telekomunikasi ke daerah-daerah pesisir terisolir. Eksplorasi teknologi telekomunikasi untuk lebih mempercepat pengiriman sinyal peringatan dini tsunami. Pengembangan alat deteksi gempa/warning skala rumah tangga yang ringan, murah dan konsumsi daya listrik yang kecil atau bisa dengan memanfaatkan batere (KOMPAS.com, 2010a).

Jaringan Listrik. Perluasan jaringan listrik hingga menyentuh ke daerah-daerah terisolir rawan tsunami, disertai dengan meningkatkan ekplorasi energi terbaharukan (renewable energy), seperti tenaga angin (Hendry et al., 2009), surya, gelombang dan arus laut (ECOR, 2003), yang cukup berpotensi di Indonesia. Konsorsium Indonesia-Jerman energi terbaharukan sudah mengembangkan prototipe Mobile (Geothermal) Powerplant yang direncanakan untuk mensuplai energi listrik ke berbagai pelosok menggunakan pembangkit listrik yang bisa menampung dan mengangkut suku cadang listrik (geothermal) dari sumbernya dan bergerak ke lokasi lain yang membutuhkan. Daerah percontohan riset ekplorasi dan percontohan untuk sementara adalah Sumatra dan Jawa Timur (BPPT, 2010) .

Jaringan Struktur/Infrastruktur. Pembangunan jalan, jembatan dan jalur transportasi laut adalah langkah efektif untuk membuka wilayah terisolasi, desa akan bisa terhubung dengan pusat-pusat pemerintahan yang lebih tinggi. Jika jalur transportasi terbentuk, maka pertumbuhan sosial ekonomi akan terjadi, diikuti dengan difusi teknologi dan informasi. Melakukan kampanye tentang pentingnya perlindungan pantai alami seperti jalur hijau di pantai atau green belt (EJFct, 2006). Peran vegetasi pantai penting dalam melindungi bangunan dari kerusakan akibat tsunami.

Memperbanyak bangunan dan akses ke dataran tinggi untuk evakuasi vertikal di daerah berpantai landai permukiman padat dan wisata. Membangun tanggul perlindungan pantai (USACE, 1995). Membangun rumah panggung dan (relokasi) tata permukiman di pesisir yang menjauhi garis pantai (Diposaptono, 2007). Memperbaiki Building (structure) Code yang lebih tahan gempa (FEMA & NOAA, 2008; Irsyam et al., 2009), karena kualitas bangunan yang rendah berpotensi menyebabkan kematian/korban (Sumaryono, 2010).

Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kebumian. Penelitian dan pengembangan di bidang ilmu kebumian terkait, seperti gempa pelan dan berayun/slow earthquake (Kanamori, 1972) yang terjadi di selatan Jawa 2006 (Fritz et al., 2007) dan Mentawai 2010 (Kongko et al., 2010) saat ini masih menjadi kendala di dalam sistem peringatan dini tsunami di beberapa negara. Paleo-tsunami untuk mencari siklus perulangan gempa besar dan tsunami (Natawidjaja et al., 2006). Radon sebagai prekursor gempa di mana konsentrasi gas tersebut disinyalir meningkat dan dilepaskan di kolom air menjelang terjadinya gempa (Crockett et al., 2006a, 2006b). Pengamatan (seismo-)ionosfer yang juga dimungkinkan dapat berperilaku anomali sebelum gempa terjadi (KOMPAS.com, 2010b).

Melakukan (pembaharuan data) pemeruman kedalaman laut atau batimetri maupun topografi pantai untuk meningkatkan akurasi dari resolusi prediksi luasan daerah landaan tsunami. Indonesia saat ini mempunyai wahana dan lembaga/instansi riset dan survei yang sangat mendukung untuk upaya tersebut di atas, yang diperlukan sekarang ini hanyalah koordinasi. Kembali mengambil contoh Kota Padang sebagai obyek, terdapat empat hasil simulasi prediksi pengaruh gempa berkekuatan Mw 8,9. Dengan menggunakan input data topografi yang berbeda, yakni, SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) beresolusi kasar 1 kilometer, DSM (Digital Surface Model) beresolusi 2,5 meter, DTM (Digital Terrain Model) beresolusi 2,5 meter dan HRSC (High Resolve Stereographic Camera) beresolusi 50 meter. Ketiga data tersebut hasil akuisisi satelit, di mana ketinggian maksimum elevasi daratan pada DSM adalah hasil pantulan sinyal transmisi dari satelit terhadap atap bangunan/gedung dan puncak pepohonan. Pada DTM seluruh benda/bangunan/pepohonan di atas lapisan tanah telah dieliminasi.

Berbeda dengan data HRSC yang merupakan foto udara yang diakuisisi menggunakan pesawat udara sehingga berpresisi lebih tinggi. Tampak landaan tsunami secara signifikan tercipta dari input data HRSC dan DTM. Selain upaya pembaharuan data tersebut di atas, pengembangan berbagai metodologi untuk meningkatkan kinerja sistem peringatan dini juga penting. Salah satu contohnya dengan inovasi di bidang pemodelan (matematika) numerik untuk meningkatkan efisiensi komputasi dan akurasi simulasi model tsunami dalam rangka memproduksi basis data tsunami yang dilakukan oleh Pranowo (2010), dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Diperlukan kesadaran dari komponen seluruh bangsa dari seluruh kalangan  utuk mewujudkan masyarakat yang hidup ramah dengan bencana  gempa dan tsunami. Bencana akan selalu ada, dan ini menuntut upaya tanggap waspada, guna memperkecil korban.

Sumber : darilaut.id



Last Updated on Friday, 26 October 2018 13:26