Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Peneliti Pusriskel Hadiri Rakornas Mitra Kerja Peneliti Asing

E-mail Print PDF

Jakarta, 09 Juli 2018.  Pusat Riset Kelautan (Pusris Kelautan), Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) sebagai center of excellent  telah menjalin beberapa kerjasama riset Internasional dengan negara sahabat, diantaranya China, Korea dan Jepang. Dalam rangka penguatan kerjasama riset tersebut, peneliti Pusriskel Dr. Annastasia R. Tisiana dan Yusmania, M.T pada hari Kamis 05 Juli 2018 menghadiri Rapat Koordinasi (Rakornas) Mitra Kerja Peneliti Asing yang digelar oleh Kemenristekdikti di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta. Dengan tema “Peluang dan Tantangan Kerjasama Iptek Internasional Isu-Isu Global, Kemitraan Strategis dan Pembagian Manfaat” acara Rakornas diawali  dengan sambutan dan arahan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Dr. Muhammad Dimyati, dilanjutkan dengan pembukaan Rakornas.  Kemudian acara dilanjutkan dengan paparan mengenai Best Practice Dalam Manajemen Kerjasama Riset yang dibawakan oleh Direktur Program Internasional IPB, Prof. Iskandar Zulkarnaen dan Dr. Aiyen Tjoa dari Fakultas Pertanian Universtas Taduloka. Acara berikutnya adalah Sidang Komisi,  yang dilakukan secara pararel terdiri dari  Sidang 6 Komisi yakni, Komisi Sistem Perijinan dan One Stop Service, Komisi Manajemen Riset, Komisi Benefit Sharing, Komisi Manajemen Data, Komisi Publikasi Ilmiah, dan Komisi Peningkatan Kapasitas Mitra Kerja. Turut hadir Dr. Widodo Pranowo menjadi Ketua Komisi Sidang Pembahasan Manajemen Data, bersama dengan Dr. Ruliyana Susanti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.


Last Updated on Friday, 13 July 2018 08:02
 

Riset Bersama Peneliti Pusriskel dan Jepang Segera Dimulai

E-mail Print PDF


Jakarta, 05 Juli 2018. Tim SATREPS Jepang yang dikawal oleh Prof. Kazuo Nadaoka kembali datang berkunjung ke  Pusat Riset Kelautan (Pusriskel). Agenda kunjungan ke Indonesia kali ini adalah untuk koordinasi persiapan survei bersama ke Karimun Jawa dan Berau, Kalimantan Timur,  yang akan dilakukan bulan Agustus 2018 mendatang. Rapat dipimpin oleh Plh. Kepala Pusriskel hari itu yaitu Kepala Bidang Riset Mitigasi, Adaptasi dan Konservasi Triyono, MT yang dihadiri oleh Kasubbid Konservasi Joko Hardono, M.E., peneliti-peneliti dari Pusriskel, peneliti Pusat Riset Sosial dan Ekonomi (Pusris Sosek) dan tim Riset Sosial dan Ekonomi Jepang.

Selain untuk memantapkan target SATREPS, agenda rapat yang dilakukan hari Kamis lalu ini juga membahas kemungkinan penjajakan kerjasama dengan universitas-universitas terkait, dan persiapan pemberkasan untuk memperoleh dokumen perijinan riset bagi tim Jepang. Beberapa komponen penting yang dibahas untuk mencapai target SATREPS adalah menentukan konektivitas untuk mengintegrasikan penelitian sosial-ekonomi dengan ekologi, menentukan gol yang ingin dicapai pertahunnya, menyamakan konsep, dan mengangkat isu-isu penting terkait. Tim sosek (baik tim dari Jepang maupun Indonesia) mempresentasikan beberapa rencana penelitian yang sudah disusun, mencangkup pendekatan-pendekatan untuk mendapatkan data seperti metode questioner. Sementara tim ekologi dan geomatik memaparkan tema-tema penelitian yang potensial.

Setelah rapat hari kamis tersebut, tim Jepang dan beberapa peneliti Pusriskel, yakni Dr. Novi S. Adi dan August Daulat, M.T akan melanjutkan kunjungan ke beberapa tempat untuk site visit dan koordinasi, diantaranya hutan mangrove di Muara Gembong, Universitas Mulawarman dan Universitas Borneo di Berau, Kalimantan Timur.


Last Updated on Thursday, 12 July 2018 11:06
 

Tekan Kerja Sama, BROL dan BPPT Sinergi Dukung Manajemen Kelautan dan Perikanan

E-mail Print PDF


Perancak (04/07). Kemajuan teknologi informasi menjadi hal penting bagi masyarakat luas, selain mempercepat penyampaian informasi, kemajuan teknologi dapat mempermudah masyarakat untuk mengikuti perkembangan zaman. Tak terkecuali dalam sektor kelautan dan perikanan. Teknologi dapat memetakan lautan dan membantu nelayan dalam menentukan zona penangkapan ikan.

Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dalam mengaplikasikan AIS Transceiver Class B milik BTTP dengan Peta PDPI milik BROL guna mendukung manajemen kelautan dan perikanan. Bentuk sinergi kerjasama yang dilakukan Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) dengan Kedeputian Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT sudah pernah dibicarakan pada bulan Maret lalu. Perjanjian tersebut terealisasi secara resmi pada Rabu (04/07) bertempat di ruang rapat lantai 2 Gedung utama BROL hingga 31 Desember mendatang.

“Kami sangat bersyukur bisa diterima dengan baik untuk bekerja sama dengan BROL, kami  juga berharap kerja sama ini dapat berjalan dengan lancar” pungkas Widrianto dari Kedeputian Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) BPPT.

Kerjasama tersebut merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan penggunaan teknologi di kehidupan masyarakat serta memberikan dampak yang positif  bagi penangkapan ikan di perairan Nusantara.

“Saya mengharapkan sebuah benefit bagi BROL dan BPPT serta bisa mendukung pengembangan PPDPI dan AIS Transceiver Class B” ungkap I Nyoman Radiarta, Kepala BROL.

Dengan hal ini, kedua instansi secara resmi telah melakukan kerjasama di tahun 2018 dan siap  untuk saling membantu satu sama lain.

Pewarta : Nicho Aliqfan & Shodik Widyatmoko



Last Updated on Monday, 13 August 2018 13:24
 

Waspadai Mikroplastik di Dalam Garam Laut

E-mail Print PDF


Lautan selama ini menampung sampah plastik. Akibatnya, ada mikroplastik di dalam garam laut.

“Pacaran tanpa bertengkar itu kayak makan sayur tanpa garam.” Perumpamaan tersebut menggambarkan pentingnya garam sebagai bahan yang hampir tak pernah ditinggalkan saat memasak. Tanpa garam, rasa masakan bisa menjadi hambar.

Namun, pernahkah Anda mendengar adanya campuran plastik pada beberapa produk garam laut? The Guardian pernah menulis bahwa dalam penelitian di Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, dan Amerika Serikat ditemukan adanya partikel mikroplastik yang terkandung dalam garam laut.

Mikroplastik adalah plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm, yang merupakan hasil penguraian alami plastik baik secara fisik, kimia, maupun biologi.

Artikel The Guardian tersebut juga mencatat bahwa di Amerika Serikat, penelitian dilakukan oleh Sherri Mason bersama dengan University of Minnesota. Dalam penelitian tersebut, diketahui 12 merek garam dapur yang berbeda, seluruhnya mengandung komponen mikroplastik. Pada penelitian tersebut, 10 merek garam diantaranya merupakan garam laut.

Pada 2014, Dongqi Yang, dkk. pernah melakukan penelitian berjudul “Microplastic Pollution in Table Salts from China”. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 15 merek garam dapur dari 3 jenis garam dapur (garam laut, garam danau, dan garam pegunungan) itu, ditemukan bahwa mikroplastik pada garam laut lebih besar jika dibandingkan dengan garam danau dan garam pegunungan. Di Cina, kandungan garam laut bahkan mengandung 550–660 partikel mikroplastik per kilogram sampel.

Selain di Amerika Serikat dan Cina, penelitian tentang kandungan mikroplastik juga pernah dilakukan oleh Maria E. Iniguez, dkk di Spanyol pada tahun 2017. Dalam penelitian berjudul “Micropastics in Spanish Table Salt” itu, mereka membandingkan kandungan mikroplastik pada garam di Spanyol dan Cina. Meski kadar mikroplastik di Spanyol tak sebesar di Cina, tapi mikroplastik telah mengkontaminasi garam laut di Spanyol dengan jumlah partikel berkisar antara 50 hingga 280 partikel/kilogram.

Penelitian tentang adanya kandungan mikroplastik pada garam laut tak hanya dilakukan di Amerika Serikat, Cina, dan Spanyol. Dalam penelitian itu, garam laut di beberapa negara seperti Australia, Perancis, Jepang, Malaysia, Portugal, dan Afrika Selatan ternyata diketahui telah tercemar oleh kandungan mikroplastik.

Apa saja mikroplastik yang mencemari?

Seperti dikutip The Guardian, terdapat lebih dari 12,7 juta ton plastik dari berbagai jenis mengalir ke lautan setiap tahunnya, diantaranya polietilena (PE), polietilena tereftalat (PET), poliuretana (PU), polipropilena (PP), polimetil-metakrilat (PMMA), poliamida-6 (PA-6), dan polivinilklorida (PVC).

Dari berbagai macam jenis plastik yang ada, jenis PET menduduki peringkat kontaminan tertinggi. Ia merupakan jenis polimer termoplastik yang biasa digunakan sebagai bahan untuk botol minuman.

Forbes menulis, lebih dari 1 juta botol plastik terbeli setiap menitnya. Bahkan hingga tahun 2050 mendatang, jumlah produksi plastik di dunia diperkirakan akan bertambah hingga empat kali lipat.

Indonesia Perangi Sampah Plastik

Di Indonesia, pada bulan Maret 2018 lalu, jagat dunia maya dihebohkan dengan unggahan video seorang turis asal Inggris, Rich Horne yang menyelam di perairan Nusa Penida bersama sampah plastik. Bahkan terdapat bagian, Rich menyelam di bawah sampah-sampah plastik yang terapung.

Meski Kementerian Pariwisata sempat membantah video itu melalui akun Twitter resminya, tapi seperti dikutip BBC, salah satu pengusaha penyelaman di Nusa Penida, Andri Yusuf, mengakui jika pada sebenarnya banyak sampah plastik tersebar di lautan. Andri bahkan menyampaikan jika kondisi itu tak hanya terjadi di Bali, tapi juga di Sulawesi.

Dalam halaman resmi milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Peneliti Oseanografi Pusat Riset Kelautan KKP, Dr. Widodo Pranowo menyampaikan bahwa mikroplastik telah mencemari laut Indonesia.

“Rata-rata dekat dengan sebaran konsentrasi pemukiman penduduk, terutama di Pulau Jawa. Seperti perairan Pulau Biawak di Indramayu, Kepulauan Seribu, dan Perairan Banten,” demikian Widodo.

Selain di daerah-daerah tersebut, kondisi yang sama juga terjadi di Selat Makassar, Selat Bali, Selat Rupat, Taman Nasional Laut (TNL) Taka Bonerate Flores, TNL Bunaken, TNL Bali Barat, dan Laut Banda. Luasan cemaran mikroplastik di lautan Indonesia pun beragam, tapi cemaran terluas ada di Taman Nasional Laut Bunaken yakni 50 hingga 60 ribu partikel per kilometer persegi.


Last Updated on Monday, 09 July 2018 08:09 Read more...
 

Rencana Riset Kelautan 2019 Dibahas

E-mail Print PDF

Jakarta, 9 Juli 2018.  Bertempat di ruang rapat Pusat Riset Kelautan Gedung BRSDMKP 2 Lantai 4 pada hari Jumat 6 Juli 2018 berlangsung pertemuan yang dipimpin  oleh Kepala Pusat Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki, M.SI. dan dihadiri oleh seluruh pejabat dan peneliti Lingkup Pusat Riset Kelautan. Agenda utama pertemuan tersebut adalah  Pembahasan usulan kegiatan TA 2019 sebagai bahan penyusunan RKA-K/L Pagu Indikatif. Acara tersebut merupakan tindak lanjut rapat yang telah diadakan sebelumnya pada tanggal 02 Juli 2018 yang membahas mengenai restrukturisasi BRSDMKP dan Program Kegiatan Anggaran 2019. Sehari sebelumnya, pada  Kamis 5 Juli 2018 Pusris Kelautan telah menerima hasil penelaahan pagu indikatif oleh Direktoran Jenderal Anggaran (DJA), Bappenas dan KKP.


Last Updated on Thursday, 12 July 2018 09:18
 

RadarSat Indeso Akan Diaktifkan Kembali

E-mail Print PDF


Jakarta, 6 Juli 2018. Pagi ini Kepala Pusat Riset Kelautan Drs. Riyanto Basuki, M.Si mengundang Kepala BROL Dr. I Nyoman Radiarta dan pejabat terkait pengelolaan  BMN Sekretariat  BRSDM  dalam acara Rapat Tindak Lanjut Operasional Stasiun Bumi Satelit Radar.  Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Pusriskel Gedung BRSDMKP  2 lantai 4 tersebut secara khusus membahas mengenai Rencana Kerja (Renja) sarana dan prasarana Satelit RadarSat  INDESO dan skema  pengaktifan kembali Radar Sat INDESO di Perancak Bali,  yang tahun lalu sempat ditutup pengoperasiannya.  Sesuai instruksi Kepala Badan Riset dan SDM KP Prof. Sjarief Widjaja, agar  pada bulan Agustus  mendatang RadarSat tersebut telah aktif kembali dan dapat segera dimanfaatkan. Hadir pada acara tersebut mendampingi Kepala Pusat Riset Kelautan yakni Kepala Subbag Keuangan B. Realino, M.Si. dan tim teknis  RadarSat Dr. Aulia Riza, Kepala Subbag Umum Sekretariat BRSDM Hendarsyah, S.Si dan Kepala Subbag Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat BRSDM Tri Yuwono, M.Si.

Berita Terkait :


Last Updated on Monday, 09 July 2018 06:52