Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Balikpapan Oil Spill Widening : Ministry

E-mail Print PDF

The area affected by an oil spill in Balikpapan Bay, East Kalimantan, has widened although it remains unclear what exactly is causing the spread, an official has said.

Widodo Pranowo, the head of the marine and coastal area data laboratory of the Fisheries and Maritime Affairs Ministry, said on Friday that the area polluted by the oil spill in had widened to 20,000 hectares from 12,987 hectares.

“There is a possibility that the source of the leak has not been perfectly sealed. But also there is a possibility that the spill has been thinning and drifting away with the currents,” he said as quoted by Kompas newspaper.

The oil spill reportedly came from a broken pipe belonging to state-owned oil and gas company Pertamina.

Widodo, who examined the oil spill area through satellite imaging, said more thorough research was needed to determine the cause of the spread.

Pertamina says it has deployed four cleaner teams and 15 cleaner ships to clean up the bay.

Yudi Nugraha, Kalimantan regional manager of social responsibility and communications at Pertamina said the company had utilized a variety of techniques and equipment for cleaning the oil spill, from vacuum trucks, to oil booms and oil spill dispersant (OSD).

“To clean the waters of the beach, we’re using oil skimmers and tug boats,” Yudi added.

“We’ve dispatched no fewer than 1,000 people to clean up the oil spill. We also have the support of volunteers from various civil society groups, students, community members and environmental activists,” he said.

MR Karliyansyah, director general of pollution control in the Environment and Forestry Ministry, said Pertamina promised to have the spill cleaned by April 9.

Sumber : The Jakartapost.com


Last Updated on Friday, 13 April 2018 08:26
 

Ternyata Teluk Balikpapan Sudah Sering Tercemar Minyak. Kok Bisa?

E-mail Print PDF


Insiden pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, akibat kebocoran pipa milik Pertamina Refinery Unit V Balikpapan di perairan Lawe-lawe Penajam Paser Utara (PPU) sudah memasuki hari ke-9 sejak awal terjadinya pada hari Sabtu (31/3/2018).

Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Widodo Pranowo menjelaskan sampai hari Kamis (5/4/2018) tumpahan minyak telah menyebar seluas 20.000 hektar atau 200 kilometer persegi.

Sebelumnya, dari Laporan Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Rabu (4/4/2018) menyebutkan dari hasil analisis citra satelit Landsat 8 dan Radar Sentinel 1A tanggal 1 April 2018 oleh LAPAN, diestimasi total luasan tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan seluas 12.987,2 ha.

Tumpahan minyak seluas 20.000 hektare tersebut, kata Widodo yang dihubungi Mongabay Indonesia pada Sabtu (7/4/2018), dihasilkan dari analisa data satelit radar Cosmo Sky Med dan Sentinel 1a pada tanggal 1, 2 dan 5 April 2018.

“Tumpahan minyak itu menyebar karena gelombang arus laut, pasang surut dan pengenceran minyak. Meluasnya tumpahan minyak itu terjadi karena dua hal yaitu apakah sumber kebocoran minyak sudah ditutup atau belum, dan minyak yang tumpah ke perairan akan terencerkan karena tercampur air laut. Karena minyak semakin encer maka mudah tertransportasikan oleh arus,” jelasnya.

Widodo menjelaskan bila minyak masuk perairan akan terencerkan karena sifatnya hidrofilik atau mudah tercampur dengan air dan berubah menjadi PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons). PAH merupakan kelompok pencemar organik persisten (POP) khas yang senyawa bersifat toksik dan karsinogenik (menyebabkan kanker).

Dengan sifatnya yang toksik dan karsinogenik, PAH minyak ini berbahaya bagi makhluk hidup biota laut. “PAH ini akan berbahaya bagi organisme karena faktor akumulasi. Walaupun sedikit, mungkin tidak menyebabkan kematian langsung pada ikan, akan tetapi efek akumulatifnya akan berbahaya,” jelas Peneliti Madya Bidang Osenaografi Terapan itu.

Widodo menambahkan pihaknya saat ini sedang melakukan permodelan lebih lanjut dengan menambahkan informasi yang sedang dikumpulkan tentang biota laut, terumbu karang, mangrove dan status konservasi kawasan Teluk Balikpapan. “Tentang aktivitas perikanan, pihak Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, sedang turun ke lapangan untuk menghitung economic lost dari tumpahan minyak itu,” jelasnya.

Sering Terjadi

Sebenarnya, pencemaran tumpahan minyak sudah sering terjadi di Teluk Balikpapan dan KKP telah memantau sejak tahun 2014 melalui analisa data satelit. “Hasil pengamatan kami di daerah Teluk Balikpapan, dari 2014-2017 sudah sering kali terjadi pencemaran minyak,” kata Widodo.

Sebaran dan frekuensi tumpahan minyak yang terjadi di WPPNRI 713 cenderung di sekitar perairan pesisir timur Kalimantan, terutama di sekitar Balikpapan dan Delta Mahakam.

Dari data analisa yang dilakukan KKP tersebut, pada November 2014 terdapat lima area tumpahan minyak dengan luas 0,4 km2; 0,3 km2; 0,09 km2; 0,22 km2dan 0,27 km2.

Sedangkan pada Januari 2015 terdapat 11 area tumpahan minyak seluas 5,7 km2; 1,1 km2; 1 km2; 0,2 km2 ; 0,9 km2 ; 0,2 km2 ; 0,1 km2; 0,8 km2 ; 0,27 km2 ; 0,19 km2 dan 0,3 km2. Pada Maret 2015, terdapat 2 area tumpahan minyak seluas 0,8 km2 dan 0,3 km2. Pada April 2015, terdapat tiga area tumpahan minyak seluas 0,6 km2 dan 0,3 km2, dan 0,15 km2

Meskipun terdeteksi adanya area tumpahan minyak, Widodo mengakui pihaknya tidak bisa memverifikasi apakah tumpahan minyak tersebut merupakan oil spill atau oil slick, karena tidak turun melakukan pengecekan ke lapangan disebabkan keterbatasan anggaran.

Last Updated on Friday, 13 April 2018 08:20 Read more...
 

Sinergitas Pebisnis Muda Dengan Pemerintah Untuk Peningkatan Ekonomi Maritim

E-mail Print PDF


Jakarta, 11 April 2018.  Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. Widodo Pranowo berkesempatan menjadi salah satu panelis pembicara pada acara Young Enterpreneurs Maritime  Symposium  (YEMS) 2018, yang digelar oleh Kemenkomar bekerjasama dengan Awesome Consulting, pada selasa 10 April 2018 kemarin di Java Ballroom, Hotel Milenium Sirih, Jakarta. YEMS merupakan simposium yang diadakan sebagai sarana untuk menciptakan sinergitas antara generasi muda profesional maupun pebisnis muda yang kreatif dengan pemerintah secara langsung. Dalam paparannya yang bertema “Signifikansi Aktivitas Riset Dalam Mendukung Peningkatan Potensi Ekonomi Maritim” Dr. Widodo mengingatkan kepada generasi muda dengan adanya permasalahan-permasalahan terkini yang terjadi di bidang kelautan dapat menjadikan sebuah peluang yang besar bagi generasi muda untuk menciptakan solusi dan inovasi yang kedepannya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Hadir pula dari Pusat Riset Kelautan mendampingi Dr. Widodo yakni Perencana Muda Indra Hermawan, M.Si, Peneliti Pusriskel Dr. Budi Gunadarma dan Agus Daulat, S.St.Pi., serta staf  Sari Novita, ST. dan Armyanda Tussadiah, S.Kel.

Acara secara resmi dibuka oleh Sekretaris Menko Maritim Laksda TNI (Purn) Agus Purwoto, dengan sebelumnya didahului dengan sambutan oleh Direktur Utama Awesome Consulting Lim Kurniawan Setyadarma, dilanjutkan dengan sambutan oleh Dubes Arif Havas Oegroseno (Deputi 1 Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim).

Acara berlangsung dalam 4 (empat) sesi, dengan menghadirkan pembicara yang berasal dari berbagai Kementerian/Lembaga, TNI-AL, Universitas serta mitra yang berkecimpung dalam bidang kelautan, diantaranya KKP, Kemenkomar, BMKG, Kantor Utusan Khusus Presiden, Bank BRI dan pengusaha muda sukses di bidang kelautan.

Di akhir acara, panitia YEMS mempresentasikan rekomendasi generasi muda kepada pemerintah dalam bidang enterpeneur maritime yakni, dimudahkannya perijinan, diharapkan agar tidak tidak terlalu memberatkan sehingga generasi muda dapat lebih berpeluang untuk berinovasi dalam persaingannnya dengan dunia internasional. Kemudian di bidang pembiayaan, perlunya perhatian lebih untuk kebijakan dalam akses perbankan, supaya upaya peluang bisnis sekaligus upaya pelestarian laut dapat lebih terkoordinir. Yang terakhir, diharapkan agar peraturan pemerintah tidak terlalu kaku, sehingga  lebih dapat memfasilitasi pengusaha muda  Indonesia untuk mencapai benefit di bidang kelautan yang belum terjamah, salah satunya deep sea bed mining.


Last Updated on Wednesday, 11 April 2018 10:11
 

Upaya Pemutakhiran Indeks Kerentanan Pesisir Digiatkan Kembali

E-mail Print PDF


Bandung (05/04/18) Pada Kamis 5 April 2018, bertempat di Jurusan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Tim Peneliti Pusat Riset Kelautan yang terdiri dari Dr. Tubagus Solihuddin (Geologi Lingkungan), Dr. Semeidi Husrin (Teknik Pantai), Eva Mustikasari MT (Oseanografi Fisik) dan Aida Heriati, M.Sc (Pengelolaan Pesisir) berdiskusi dengan salah satu anggota Kelompok Keahlian Geodesi, Dr. Heri Andreas terkait dengan rencana penelitian di tahun 2018 yang berjudul “Strategi Rehabilitasi Pantura Jawa Berdasarkan Dinamika Wilayah Pesisir”. Selain dengan KK Geodesi, tim juga berdiskusi dengan peneliti senior Pusat Riset Geologi Laut, Kementerian ESDM, Dr. Yudi Darlan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk pemutakhiran data dan informasi kerentanan pesisir di Pantura Jawa sebagai dasar penyusunan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap bencana pesisir termasuk di dalamnya akibat perubahan iklim.

Sebagaimana diketahui, kawasan Pantura Jawa merupakan kawasan yang berkembang pesat ditandai dengan tingginya konsentrasi penduduk, infrastruktur dan industri – industry strategis nasional. Tekanan pada lingkungan pun tak terelakan lagi yang menyebabkan tingginya permasalahan di kawasan pesisir seperti pencemaran, banjir, penurunan muka tanah dan ketersediaan air bersih. Dalam kerangka pengelolaan kawasan pesisir, upaya perencanaan pemanfaatan ruang di kawasan pesisir telah diupayakan sejak lama. Salah satu upaya tersebut berupa penyusunan Indeks Kerentanan Pesisir (Coastal Vulnerability Index, CVI) yang pernah digarap Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui (saat itu) Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP, sekarang Pusat Riset Kelautan) tahun 2009.


Dari hasil diskusi dengan KK Geodesi ITB dan P3GL – ESDM, beberapa aspek penting terkait dengan rencana pemutakhiran indeks kerentanan pesisir Pantura Jawa berhasil dirumuskan. Walaupun masih terlalu awal, aspek-aspek ini perlu mendapatkan perhatian khusus terkait dengan rencana penelitian hingga akhir 2018 sebagai berikut: 1) Kuantitas dan kualitas data primer di Pantura Jawa merupakan aspek yang paling penting dalam proses identifikasi permasalahan utama di kawasan pesisir. Fenomena penurunan muka tanah yang terjadi di hampir seluruh kawasan Pantura Jawa masih perlu dikonfirmasi dengan kualitas data yang baik dan berkelanjutan; 2) Fenomena pengambilan air tanah untuk berbagai keperluan aktivitas manusia masih membutuhkan dukungan data yang valid terkait kuantitas yang digunakan baik secara spasial maupun temporal. Hal ini menjadi sangat penting mengingat ada kecenderungan, daerah yang memiliki tingkat pengambilan air tanah tinggi akan mengalami penurunan muka tanah tinggi pula; 3) Aspek tektonik juga perlu mendapat perhatian khusus karena fenomena geologi walaupun berlangsung lamban namun cukup signifikan berpengaruh dalam skala regional yang mendapat memperkuat kesimpulan / strategi yang akan diambil; 4) Monitoring dan penegakan hukum terkait pemanfaatan sumber daya alam (seperti air tanah) perlu ditegaskan kembali dalam upaya mempermudah upaya-upaya dan strategi mitigasi dan adaptasi potensi bencana di kawasan pesisir termasuk akibat perubahan iklim.

Ke depan, hasil-hasil dari penelitian ini juga akan diselaraskan dengan penelitian lain di Pantura Jawa seperti Building with Nature (BwN) di Pesisir Demak yang bekerjasama dengan Deltares, PRL-KKP dan Kementerian PUPR serta Penelitian Efektivitas Hybridengineering juga di Pesisir Demak yang dikerjakan oleh Loka Riset Kerentanan Pesisir – Padang.



Last Updated on Wednesday, 11 April 2018 11:16
 

Area yang Tercemar Minyak Meluas

E-mail Print PDF


Sumber Berita : Harian Kompas 7 April 2018 Hal.1


Last Updated on Wednesday, 11 April 2018 07:41
 

Inisiasi Kerjasama Riset Pusriskel Dengan LRSDKP Bungus dan Deltares

E-mail Print PDF

Jakarta, 09 April 2018. Riset Strategi Rehabilitasi Pantura Jawa Berdasarkan Dinamika Wilayah yang dilakukan oleh Pusriskel, rencananya akan menggandeng Loka Riset Sumber Daya Pesisir Kelautan dan Perikanan (LRSDKP) Bungus dan Deltares, dimana keduanya saat ini juga sedang melaksanakan kegiatan riset di wilayah Pantura Jawa. Untuk mensinkronisasi kegiatan tersebut, hari ini Senin 09 April 2018, Pusriskel mengundang Kepala LRSDKP Bungus, Nia Naeluh Hasanah, M.Sc. yang datang beserta tim peneliti LRSDKP yakni Wisnu Arya dan Koko, dan juga perwakilan Deltares Amritt Cado untuk melaksanakan perdana rapat pertemuan teknis terkait kerjasama riset tersebut. Rapat dipimpin oleh Kepala Subbid Konservasi Joko Hardono, ME dan dihadiri oleh beberapa peneliti yang terlibat dalam kegiatan riset, diantaranya Dr. Semeidi Husrin, Dr. Tubagus Solihuddin, Dr. Dini Purbani, Dr. Devi Dwiyanti, Restu Nur Afi Ati, M.Si, Yusmiana Puspaningsih, M.IL, La Ode Nurman Mbay, M.Si., Eva Mustikasari, MT., Dr. Marza Ihsan Marzuki,  August Daulat,S.St.Pi., Herlina Ika Ratnawati, S.Si., dan Mariska Kusumaningtyas, S.Si. Pada rapat tersebut, koordinator kegiatan Dr. Tubagus memaparkan rencana Strategi Rehabilitasi Pantura Jawa Berdasarkan Dinamika Wilayah yang bertujuan untuk melakukan review dan formasi ulang terhadap strategi rehabilitasi di Pantura Jawa dan menghasilkan policy brief perencanaan wilayah pesisir Pantura Jawa dengan case Study di Demak. Selain itu juga untuk menyediakan data terkait karakteristik masing masing wilayah untuk mencari solusi rehabilitasi masing-masing wilayah, dimana saat ini telah dijumpai beberapa model rehabilitasi, yakni dengan penamaman mangrove, karung geotekstil dan juga hybrid edngineering. Dalam kegiatan ini Pusriskel menerima masukan dari beberapa ahli dibidangnya diantaranya, Prof. Dietrich Bengen (IPB), Ir. Yudi Darlan, M.Sc. (PPGL), Dr. Heri Andreas (ITB).  Ibu Nia (Kepala LRSDKP) mengutarakan bahwa, dalam hal ini LRSDKP akan menyediakan data yang diperlukan untuk membuat policy brief, karena saat ini tim dari LRSDKP telah melakukan survei di Desa Bedono hingga hari jumat 13 April 2018 mendatang. Dalam kesempatan tersebut Amrit Cado juga memaparkan data hasil pengamatan sedimen bed level di beberapa wilayah yang telah dibangun Hybrid engineering.

Berita terkait :



Last Updated on Monday, 09 April 2018 13:21