Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

2 orang peneliti P3SDLP kembali aktif dari tugas belajar

E-mail Print PDF

Di penghujung akhir tahun 2012, 2 orang peneliti P3SDLP telah kembali aktif dari tugas belajarnya. Eva Mustikasari, MT telah lulus dari Program Magister Chief Information Officer (CIO) Institut Teknologi Bandung pada 2 oktober 2012 dengan judul thesis “Perancangan organisasi Teknologi Informasi dan Arsitektur Informasi Dalam Kerangka Enterprise di Lingkup Balitbang KP”, lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Pada tanggal kelulusan yang sama, Aida Heriati, MT, M.Sc telah lulus program double degree magister, yakni dari Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung, dan dari Course Master Program in Disaster Mitigation For Urban Cultural Heritage,  Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang. Aida lulus dengan predikat sangat memuaskan dengan thesisnya yang berjudul “Impact Analysis on Land-use Changes at Watershed Upstream Ara to Land Coastal Area in Karawang Regency Using Geographic Information System”. Kedua peneliti tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan Laboratorim Data Laut dan Pesisir di P3SDLP.

Last Updated on Wednesday, 19 December 2012 09:42
 

Kapus P3SDLP Bertemu Ahok

E-mail Print PDF

27 November 2012 Wagub Provinsi DKI Jakarta Bpk. Basuki T. Purnama Menerima, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP), Badan Litbang Kelautan Perikanan (Balitbang KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Perihal Menyampaikan rencana pengembangan Sekertariat Pusat Kelautan dan Iklim Indonesia-Tiongkok `KPIIT` di Ruang Tamu Wagub

Last Updated on Thursday, 06 December 2012 09:01
 

Visitor Map


 

Dua Penelitian P3SDLP terseleksi sebagai penelitian terbaik Balitbang-KP

E-mail Print PDF

Dua orang Peneliti P3SDLP mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan makalah pada seminar hasil penelitian terbaik yang dilaksanakan oleh sekretariat Balitbang-KP. Dalam acara seminar yang diselenggarakan di Bandung pada 25-27 November 2012 itu, sdri. Ira Deliana tampil dengan makalah yang berjudul: "Kajian Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi Laut Berbasis Ekosistem Pesisir Laut Natuna", Sedangkan sdr. Muhammad Ramdhan menyajikan makalah yang berjudul "Studi Kerentanan Pesisir Terhadap Perubahan Iklim di Sumatera Barat dan Sekitarnya".


Menurut Laporan Ketua Panitia: dari 33 makalah yang mendaftarkan, ada 11 makalah yang terpilih untuk mengikuti seminar hasil penelitian terbaik Balitbang-KP. Acara ini diharapkan dapat lebih memotivasi para peneliti untuk melakukan kegiatan riset yang inovatif dan bermanfaat bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Last Updated on Thursday, 29 November 2012 12:51
 

Peneliti P3SDLP memberikan presentasi pada acara International Symposium on The 1st Asia-Pacific CECAM Regional Symposium in Philippines

E-mail Print PDF

Peneliti P3SDLP – Restu Nur Afi Ati, M.Si memberikan presentasi pada acara International Symposium on The 1st Asia-Pacific CECAM Regional Symposium in Philippines pada tanggal  7 – 8 November 2012. Kegiatan ini merupakan Program kerjasama riset antara Philippines dan Jepang mengenai Coastal Ecosystem Conservation and Adaptive Management. Peserta yang hadir berasal dari 5 negara yaitu Philippines, Jepang, Indonesia, United Kingdom dan China.

Pada kesempatan tersebut, peneliti mempresentasikan hasil penelitian terkait dengan kegiatan Blue Carbon dengan judul Integrated Blue Carbon Study in Derawan Islands East Kalimantan, Indonesia. Dalam presentasi tersebut, peneliti memperoleh beberapa tanggapan dan respon positif serta ajakan kerjasama riset atau penelitian dari beberapa pihak diantaranya adalah Japan Science and Technology Agency (JST) dan The Reef World Foundation.

Manfaat yang didapatkan dari kegiatan ini adalah:

  1. Memberikan kontribusi terhadap kegiatan Blue Carbon yaitu berupa diseminasi kegiatan Blue Carbon Research Project Indonesia
  2. Terlibat dalam pertukaran informasi ilmiah mengenai kawasan ekosistem pesisir dan pengelolaannya
  3. Meningkatkan peran aktif Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir – Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan dalam kegiatan ilmiah internasional.
Last Updated on Thursday, 22 November 2012 12:17
 

Indonesia Gaungkan Karbon Biru (Blue Carbon)

E-mail Print PDF


Jakarta (ANTARA News) - Para peneliti di Indonesia terus menggaungkan konsep karbon biru (blue carbon) sebagai salah satu kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon di dunia. "Konsep karbon biru pertama kali diluncurkan sekitar Febuari 2010 pada saat pertemuan the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum di Bali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Fadel Muhammad) dan Direktur UNEP Achim Steiner," kata Andreas A. Hutahaean, PhD, salah seorang peneliti dari Badan Litbang Kelautan dan Perikanan yang terlibat dalam tim Blue Carbon Indonesia, di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, konsep karbon biru adalah salah satu solusi yang menjanjikan bagi upaya menekan laju perubahan iklim dan mengurangi timbunan CO2 di atmosfer. Karbon biru, secara prinsip, merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida di Bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput laut, dan ekosistem pesisir. Vegetasi pesisir diyakini oleh kalangan peneliti dapat menyimpan karbon 100 kali lebih cepat dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan. "Selain itu, peran vegetasi pesisir memiliki keuntungan yang berganda. Bisa untuk tempat pengembangbiakan ikan, untuk menjaga erosi air laut, dan pariwisata bahari," ujar Andreas. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk penelitian karbon biru, "Kami sudah mencoba menerapkannya sejak 2010 melalui pilot project Blue Carbon di Teluk Banten dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur." Dari penelitian Blue Carbon yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), padang lamun memiliki potensi menyerap dan menyimpan karbon sekitar 4,88 ton/Ha/tahun. Total ekosistem padang lamun di Indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon /tahun.Untuk ekosistem mangrove, rata-rata penyerapan dan penyimpanan karbon sebesar 38,80 ton/Ha/tahun. Jika di hitung secara total maka potensi penyerapan karbon ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton/tahun.

Di samping kedua ekosistem tersebut, rumput laut merupakan komoditas ekonomi penting Indonesia yang berperan penting menyerap emisi karbon. Melalui proses fotosintesis, rumput laut menyerap antropogenik karbon yang berada di daerahnya.Menurut data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, luas lahan budidaya rumput laut sekitar 1,11 juta Ha dengan jumlah produksi tahun 2011 sebesar 4,31 juta ton. Maka dengan rasio perbandingan rata-rata biomassa:karbon = 3:1, potensi penyerapan karbon oleh rumput laut adalah sebesar 1,44 juta ton karbon pada 2011.(ANTARA)

Last Updated on Thursday, 22 November 2012 10:51