Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

MOMSEI Workshop 2013 di Teluk Bungus

E-mail Print PDF

Pada 19 - 20 April 2013, bertempat di Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LPSDKP), di Teluk Bungus, dilaksanakan Workshop of MOMSEI (Monsoon Onset Monitoring & Its Social & Ecosystem Impacts) dengan tema “Informasi Iklim laut & Perikanan Samudera Hindia Sebelah Barat Sumatera”. Workshop yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian & Pengembangan Sumberdaya Laut & Pesisir (P3SDLP) Dr. Budi Sulistiyo, dihadiri oleh banyak peserta seperti dari: Dinas Kelautan & Perikanan Kota Padang Pariaman, BMKG (Stasiun BMKG Teluk Bayur & Minangkabau), Dir. Polisi Air, Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Penyuluh Kelautan & Perikanan, dan lain masih banyak lagi.

Pemaparan hasil MOMSEI Cruise 2011 & 2012, dan juga konsep naskah akademik MOMSEI yang saat ini sedang dilakukan oleh Prof. Dr. Weidong Yu dari First Institute of Oceanography (FIO) China dan P3SDLP. Penjelasan tentang proses fisis fenomena “Hypoxia” secara tidak langsung ternyata berhubungan dengan kedalaman renang, pola makan, dan kondisi suhu lingkungan air dari ikan Tuna yang disampaikan oleh Kepala Loka Penelitian Perikanan Tuna (Dr. Budi Nugraha). Upwelling sebagai salah satu parameter fisis oseanografi yang dapat dikaitkan dengan lokasi penangkapan Tuna disampaikan oleh Dr. Anastasia Kuswardani dari P3SDLP. Sementara itu kegiatan penelitian tagging Tuna yang telah lama dijalankan oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan & Konservasi Sumberdaya Ikan (P4KSDI) dipresentasikan oleh Dr. Wijopriono, yang selanjutnya oleh Sdr. Andika Pratama, S.Pi ditambahkan tentang bagaimanakah pola laju penangkapan ikan dapat terdampak oleh  perubahan iklim. Penelitian tentang perikanan yang rencananya akan dilakukan di 2004 nanti dipaparkan oleh Dr. Reny Puspasari.

Dari sisi aplikasi teknologi, kisah pengalaman pembuatan oceanography mooring buoy oleh FIO yang diberi-nama “Bailong” disampaikan oleh Dr. Chunlin Ning. Dan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem buoy  yang tidak kalah suksesnya dipresentasikan oleh Dr. Wahyu Pandoe dari Badan Pengkajian & Perekayasaan Teknologi. Salah satu sistem buoy pantai untuk mengukur parameter iklim laut yang dipasang di Teluk Bungus berikut metodologinya disampaikan oleh Sdr. Gunardi Kusumah, MT dilanjutkan oleh Sdr. Hadi Sofyan.

Hal lain yang menarik dari workshop ini adalah pemaparan dari Peneliti Senior di P3SDLP, Dr. Sugiarta Wirasantosa, tentang latar belakang geodinamika Samudera Hindia sebelah barat Sumatera. Dan juga pemaparan dari Ir. Dony, M.Si tentang berbagai program teknis dan kebijakan Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi Sumatera Barat dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sebelum acara workshop secara resmi ditutup oleh Kepala LPSDKP (Sdr. Gunardi Kusumah, MT.), dilakukan kunjungan ke fasilitas penelitian yang ada di LPSDKP.

Last Updated on Saturday, 20 April 2013 00:46
 

Survei Blue Carbon 2013 di Tanjung Lesung

E-mail Print PDF

Pada tanggal 8 – 12 April 2013, tim Blue Carbon P3SDLP yang diketuai oleh Dr. Andreas Hutahaean melaksanakan penelitian di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten.  Kegiatan penelitian ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang dilaksanakan pada tahun 2012 di Teluk Banten, dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dasar mengenai Blue Carbon pada ekosistem pesisir di Provinsi Banten. Dua ekosistem yang diobservasi pada saat penelitian yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem lamun (seagrass).  Mangrove, memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir. Disamping perannya sebagai pelindung dari badai dan tsunami serta tempat memijah bagi biota, hutan mangrove juga diketahui berperan dalam menyimpan karbon. Namun di sisi lain, hutan mangrove rentan akan kerusakan terutama akibat konversi hutan.  Melihat potensi sekaligus ancaman yang dihadapi ekosistem pesisir ini, maka sangatlah penting untuk melakukan penelitian blue carbon ini.

Dalam pelaksanaan survei di Tanjung Lesung tersebut, tim Blue Carbon P3SDLP didampingi oleh narasumber dari Provinsi Banten yaitu Dr. Endan Suwandana dan dibantu oleh salah seorang mahasiswi bernama Mega.  Tim dibagi menjadi dua kelompok yaitu tim mangrove dan tim lamun. Tim mangrove terdiri atas Dr. Andreas Hutahaean, Restu Nur Afi Ati, M.Si., August Daulat, S.St.Pi, dan Peter Mangindaan M,Si. Sementara tim lamun terdiri atas Terry L. Kepel, M.Sc., Agustin Rustam, M.Si., Hadiwijaya L. Salim, M.Si., dan Astrid Kusumaningtyas, S.Si. Kegiatan survei blue carbon di Tanjung Lesung ini juga telah dipublikasikan dalam koran Radar Banten yang terbit tanggal 10 April 2013 lalu, yang dapat diakses pada laman: http://www.radarbanten.com/read/berita/10/10092/Badan-Litbang-KKP-Riset-Blue-Carbon-di-Tanjung-Lesung.html

Last Updated on Thursday, 18 April 2013 12:11
 

Pra Rakernis P3SDLP 2013

E-mail Print PDF

Pada 17 April 2013, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) melaksanakan Pra Rakenis 2013. Dalam Pra Rakernis tersebut hadir para pejabat struktural dan staf, juga para peneliti perwakilan dari Kelompok Penelitian dan Pengembangan di PSDLP dan Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LPSDKP). Pra rekernis ini bertemakan "Percepatan Pemanfaatan Hasil Litbang untuk Mewujudkan Industrialisasi Kelautan dan Perikanan dengan pendekatan Blue Economy" yang kemudian dibahas dalam 3 kelompok kerja.

Kelompok 1 yang dimoderatori oleh Kepala Bidang Tata operasional (Bapak Ir. Kemal Sinatra, DEA), membahas: strategi dan kegiatan litbang 2013-2014 yang akan menjawab tema Raker P3SDLP yang akan dilaksanakan 30 April hingga 1 Mei 2013; dukungan litbang untuk Program Iptek Nasional, MP3EI, Indikator Kinerja Utama KKP, Industrialisasi, Minapolitan dan 7 fokus Badan Litbang KP; Sinergitas Hulu-Hilir Satker dengan stake holders; serta kegiatan litbang 2014.

Sementara Kelompok 2 yang dimoderatori oleh Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi (Bapak Edy Pramono Sucipto, SE) membahas: strategi dari kacamata kelembagaan dan administrasi untuk menjawab tema Raker dan strategi umum untuk menjawab berbagai persoalan dan target2 satker pada 2012, 2013 maupun 2014; penguatan kelembagaan (LPSDKP, dan rencana UPT Penelitian Garam dan Mineral Laut di Pamekasan, dan lain lain); era remunerasi, reformasi birokrasi, analisis beban kerja, balance score card; strategi pemenuhan kebutuhan SDM dan Sarpras/BMN; dan lain-lain.

Dan di Kelompok 3 yang dimoderatori oleh Dr. Sugiarta Wirasantosa membahas strategi dari sisi kerjasama dan diseminasi untuk menjawab tema Raker dan target-target 2013 dan 2014; implementasi ISO 9000 2008; perpustakaan digital; website; pengembangan informasi geospasial.

Diharapkan dari pra rakernis ini menghasilkan draft dokumen yang dapat disempurnakan pada Rakernis P3SDLP nantinya, dimana semakin banyak tantangan untuk P3SDLP dalam mempercepat pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan untuk mensukseskan program nasional industrialisasi kelautan dan perikanan dengan konsep pendekatan Blue Economy.

Last Updated on Wednesday, 17 April 2013 12:19
 

Survei Penataan Klaster Kawasan Industri Garam Rakyat di Kab. Indramayu

E-mail Print PDF

Survei dilaksanakan pada tanggal 8-9 April 2013 oleh Rikha Bramawanto, S.Pi dan Dani Saepuloh A.Md, diawali dengan melakukan kunjungan ke Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Indramayu, Bapeda Kab. Indramayu.

Tim berdiskusi dengan Bapak Edi Umaiedi selaku Kabid SPT Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Indramayu (DISKANLA), beliau menyatakan bahwa Lahan garam yang saat ini dikerjakan oleh para petambak adalah kondisi eksisting bukan ekstensifikasi lahan, namun telah mampu menghasilkan garam melebihi rata-rata yaitu 106 ton per hektar per musim pada tahun 2012 dengan kualitas kandungan NaCl barvariasi antara 84,6 sampai 99 persen. Beliau juga menyampaikan bahwa dalam rangka revitalisai tambak garam Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah mensupporpembangunan infrastruktru perbaikan irigasi dan jalan yang menghabiskan dana sekitar 200 M. Beliau mengusulkan aspek klasterisasi mengakomodirklasifikasi kebutuhan garam terutama untuk keperluan industri karena tidak semua industri membutuhkan garam berkadar NaCl lebih dari 97 persen.Sehingga garam rakyat berkadar NaCl kurang dari 97 masih dapat diserap oleh kalangan industri tertentu.

Hasil diskusi dengan Bapak Didi dari bidang fisik Bapeda Kab. Indramayu bahwa tataguna guna lahan pertambakan sudah diakomodir dalam rencana tataruang wilayah (RTRW) namun masih bersifat umum dengan kriteria tambak prikanan walaupun sesungguhnya dilapangan tambak tersebut juga dipergunakan untukmemproduksi garam.

Servei kelokasi sentra garam di Kecamatan Losarang, Kecamatan Kerangkeng dan Kecamatan Cantigi diperoleh fakta bahwa stok garam dibeberapa gudang masih terlihat menumpuk, hal ini dikhawatirkan akan mengganggu produksi garam di tahun 2013 yang diperkirakan mulai pada bulan mei - juni.

Dari hasil wawancara dengan para petambak garam mereka menyampaikan keluhan rendahnya harga garam yang berkisar antara Rp. 200 sampai Rp. 320 per kg, sehingga membuat mereka tidak bersemangat lagi untuk memproduksi garam. Dengan harga seperti ini prospek untuk usaha budidaya udang dan bandengdirasa lebih menjanjikan ketimbang tambak garam.

Kesimpulannya para petambak garam dari sisi teknis sesungguhnya mampu memproduksi garam diatas rata-rata standard produksi nasional namun masih terbentur dengan rendahnya harga garam.


Last Updated on Tuesday, 09 April 2013 23:14
 

Blue Carbon Initiative di Teluk Tomini

E-mail Print PDF

Secara alami ekosistem laut dan pesisir ini menyerap gas karbon dari atmosfir serta memanfaatkan karbon inorganik lainnya  melalui proses fotosintesis. Di laut, fitoplankton dan alga sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara budget karbon di atmosfir dan laut. Sedangkan di pesisir, ekosistem mangrove dan padang lamun menyumbang kontribusi yang nyata secara alami dalam penyerapan dan penyimpanan karbon dalam bentuk material organik. Karbon organik dan inorganik ini juga ternyata tersimpan di dalam sistem sedimen/subsrat yang ada dan biasanya diperhitungkan sebagai total karbon.

Untuk mengeksplorasi kemampuan eksoistem pesisir, mulai tahun 2013 ini P3SDLP melakuan kegiatan penelitian karbon biru di Teluk Tomini. Pada tanggal 18 – 22 Maret 2013 lalu, tim Blue Carbon Indonesia melakukan pra survey ke pesisir selatan Teluk Tomini, Provinsi Sulawesi Utara. Secara garis besar, ada 2 kegiatan utama yang dilakukan yaitu pertemuan dengan para stakeholder dan peninjauan lokasi penelitian. Secara garis besar kegiatan ini bertujuan adalah untuk 1) sosialisasi kegiatan penelitian Analisa Potensi Ekosistem “Karbon Biru” sebagai mitigasi Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir Selatan Provinsi Sulawesi Utara, 2) mengidentifikasi dan menghimpun informasi tentang Blue Carbon di wilayah pesisir selatan Sulawesi Utara, 3) Penjajakan kerjasama penelitian Blue Carbon antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) dengan para stakeholders Blue Carbon yang ada di wilayah pesisir selatan Sulawesi Utara serta 4) melakukan peninjauan lapangan. Para stakeholder yang terlibat dalam memberikan masukan antara lain adalah dari Universitas Sam Ratulangi, PT. Newmont Minahasa Raya, Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara, Tokoh masyarakat dari Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.



Last Updated on Thursday, 04 April 2013 12:26
 

MOMSEI Mini-Workshop on Monsoon Onset Outlook di Phuket

E-mail Print PDF

Pada tanggal 1-2 April 2013 di Phuket Thailand, tepatnya di Phuket Marine Biodiversity Research Center (PMBC), dilaksanakan MOMSEI Mini-Workshop on Monsoon Onset Outlook. MOMSEI, Monsoon Onset Monitoring and its Social & Ecosystem Impacts, adalah kerjasama regional antara China dengan negara-negara di Asia tenggara. Salah satunya yang sudah establish sejak 2009 adalah melalui ICCOC (Indonesia China Center for Ocean Climate) yang bertempat di Badan Litbang Kelautan & Perikanan. Kepentingan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait monsun karena dapat berdampak terhadap industrialisasi perikanan, dan industrialisasi garam. Tercatat di tahun 2010 terjadi gagal panen garam nasional akibat curah hujan yang tinggi dan periodenya berkepanjangan dari kondisi normal.

Pada mini workshop ini, hadir perwakilan dari Myanmar Meteorogical Department (DMH) Ms. Sein Sein Yi dan Ms. Zin Mie Mie Sein, dari Universiti Kebangsaan Malaysia Prof. Dr. Fredolin Tangang yang juga sebagai focal point IPCC Malaysia dan dari First Institute of Oceanographhy - State of Oceanic Administration (FIO-SOA) China sebagai project leader (Prof. Dr. Weidong Yu). Dari Thailand selain PMBC sendiri (Prof. Dr. Somkiat Khokiattiwong, merangkap Direktur IOC-WESTPAC) sebagai tuan rumah, hadir pula dari Thailand Meteorological Department (TMD) Dr. Kornrawee Sitthichivapak, University of Chulalongkorn (Dr. Pattama Singhruck), dari King Mongkut’s University of Tech. Thonburi Dr. Amnat Chidthaisong, dari Department of Environmental Quality Promotion Dr. Atsamon Limsakul, dan dari Thailand Research Fund Mrs. Supranee Jongdeepaisari. Dari delegasi Indonesia hadir Direktur Iklim Agro-Klimat & Iklim Maritim BMKG (Ibu. Nurhayati, M.Sc) didampingi stafnya Sdr. Andhika Hermawanto, M.Si, juga dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Dr. Agus Supangat, dan Ketua Keltibang Kebijakan Perubahan Iklim P3SDLP Dr. Widodo Pranowo selaku penanggung jawab kegiatan MOMSEI di P3SDLP TA 2013.

Masing-masing perwakilan mempresentasikan perkembangan dan rencana kedepan kegiatan litbang dan services terkait monsun dan variabilitas iklim pada hari pertama. Di hari kedua dilakukan diskusi dalam rangka penyusunan roadmap kegitan MOMSEI regional untuk rencana 5 tahun kedepan (2013/2014 – 2018/2019) yakni tentang peralatan observasi dan monitoring apa saja yang dapat dilakukan dan dipasang di Selatan Jawa, Barat Sumatera, Teluk Benggala dan Laut Andaman. Selain itu di diskusikan juga bagaimana langkah kedepan dalam upaya meramalkan perubahan monsun baik Summer Monsoon (East Asian Monsoon) yang lebih berdampak kepada Thailand, Myanmar, China, dan Winter Monsoon yang cenderung berdampak kepada Indonesia dan Malaysia. Sempat dibahas juga ide mengoptimalkan forum regional di Asia Tenggara yang secara berkala, dan mengisinya dengan pembahasan Seasonal Monsoon Onset Outlook untuk meningkatkan akurasi peramalan untuk publik termasuk isu-isu hasil penelitian terkini berdasarkan data observasi dan pemodelan iklim laut.

Last Updated on Wednesday, 03 April 2013 02:24