Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Bagaimana Nasib WN Rusia yang Hilang di Nusa Penida?

E-mail Print PDF

Nusa Penida -Seorang warga negara Rusia dinyatakan hilang di Nusa Penida saat melakukan spearfishing atau menombak ikan. Setelah hilang tanpa jejak, tim SAR pun menyetop pencarian. Warga Negara asal Rusia, Wita Alexandr Che (39), hilang di Batu Abah, Nusa Penida, Klungkung. Turis ini dinyatakan hilang saat sedang melakukan spearfishing pada Senin, (24/2/2020) lalu.

Tim SAR telah melakukan pencarian selama 7 hari dan tak kunjung menemukan turis tersebut. Karena belum juga ditemukan, Kepala Basarnas pun menyetop sementara pencarian Wita Alexandr Che.

Melalui wawancara detikTravel dengan Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan, Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan & Perikanan (KKP) Widodo Pranowo, dia menganalisis penyebab tidak ditemukannya jasad wisatawan Rusia tersebut.

"Tubuh wisatawan diasumsikan mempunyai tinggi badan 160 cm dan memiliki berat badan 60 kg. Diasumsikan tubuh wisatawan tidak tenggelam ke dasar perairan, melainkan mengapung hingga melayang akibat massa jenisnya yang jauh lebih kecil dari massa jenis air laut yang berkadar garam cukup tinggi," ujarnya.

Analisa dilakukan dengan pendekatan pemodelan hidrodinamika dan transport dengan menerapkan skema Lagrangian. Skema ini biasa dilakukan untuk mensimulasikan pentransportasian material di laut oleh arus.

"Dari hasil simulasi diketahui wisatawan yang hanyut dari Batu Abah terbawa arus menuju ke selatan terlebih dahulu, sebelum kemudian terbawa oleh arus menuju ke timur," jelas Widodo.

Selain arah hanyut, diketahui bahwa wisatawan sudah berada di selatan Pulau Lombok setelah 1 hari 45 jam, sejak pertama kali hanyut. Terlihat pula tren pola kisaran kecepatan arus 0,25 m-0,5 m per detik ke arah timur Nusa Penida hingga tanggal 3 Maret 2020.
"Hal ini yang mungkin menjelaskan, mengapa hingga hari ke-7 pencarian, di perairan timur Nusa Penida atau di sekitaran mulut selatan dari Selat Lombok, belum dapat menemukan jasad wisatawan tersebut," paparnya.

Melalui pendekatan pemodelan hidrodinamika dan transport dengan menerapkan skema Lagrangian, kira-kira si wisatawan Rusia sudah terbawa arus ke Pulau Lombok setelah 1 hari 45 jam. Ini mengapa jasad sudah tak ditemukan hingga hari ke 7 di sekitaran timur Nusa Penida.

Asumsi lainnya adalah jasad Wita Alexandr Che yang hanyut dan tersangkut karang di dasar perairan. Dugaan ini didasarkan dari laporan Nyoman Diasa, keponakan dari pemilik boat yang membawa Che tersebut.

Alexandr Che melakukan spearfishing dengan menggunakan tali dari boat milik Nyoman. Penyebab putusnya tali diduga akibat adanya gesekan yang kuat antara tali dengan karang.

"Setelah tersangkut di karang, jasad kemungkinan dimangsa oleh udang, kepiting, hiu, dan hewan laut lainnya sehingga menyebabkan semakin tidak bisa ditemukan lagi setelah 7 hari pencarian," tambah Widodo.

Diketahui bahwa perairan di sekitar Nusa Dua menjadi pertemuan air bersuhu dingin dan panas. Sehingga menjadi rute hiu-hiu blacktip di sekitar Bali, Nusa Penida dan Lombok.

Sumber Berita : Detik




Last Updated on Monday, 09 March 2020 07:10
 

Jumat Ceria di Pusriskel: Dua Peneliti Senior Tanggap Warsa

E-mail Print PDF

Jakarta, 06 Maret 2020. Jumat ceria adalah salah satu tradisi di Pusat Riset Kelautan dalam rangka menjalin silaturahmi antar anggota keluarga besar Pusat Riset Kelautan.Pagi ini, jumat ceria memperingati ulang tahun dua peneliti senior di Pusat Riset Kelautan, yakni Dr. Taslim Arifin dan Dr.-cand. Terry L. Kepel. Acara dibuka dengan hangat namun santai oleh Kepala Pusat, Bapak Riyanto Basuki. Dilanjutkan doa bersama dengan khidmat dipimpin oleh Dr. Rudy Akhwady selaku sesepuh sprituil dari para peneliti di Pusat Riset Kelautan. Dalam doa bersama, yang diamini oleh para hadirin, semoga Pak Taslim dan Tante Terry tetap menjadi tauladan yang baik bagi selurug peneliti di lingkup Pusat Riset Kelautan, dan selalu memberikan kobtribusi bagi negara dan bangsa, dengan tak lupa mendapatkan berkah bagi keluarga masing-masing.


Last Updated on Friday, 06 March 2020 09:25
 

Pusat Riset Kelautan Turut Berikan Kuliah Umum Wawasan Kemaritiman dan Kelautan Bawean

E-mail Print PDF

Jakarta, 05 Maret 2020. Kepala Bidang Sumber Daya Laut dan Kewilayahan, Erish Widjanarko, S.T., mewakili Pusat Riset Kelautan menghadiri Kuliah Umum Wawasan Kemaritiman dan Kelautan Bawean, pada 4 Maret 2020.
Kuliah umum tersebut diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Penabulu Samudera Wiyata Gresik yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Najid yang pernah menjabat struktural di Kemenko Maritim dan Investasi, bahkan sebelumnya menjadi pejabat  di Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-Hayati, KKP. Turut mendampingi Pak Erish, satu-satunya peneliti bidang Teknologi Maritim di Pusat Riset Kelautan, Hariyanto Triwibowo, S.T.Dalam paparannya, Pak Erish dan Mas Hariyanto menyajikan potensi sumberdaya laut perairan Bawean yang dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk kepentingan pembangunan nasional di sektor ekonomi maritim. Pada acara tersebut, kedua pejabat Pusat Riset Kelautan tersebut berkesempatan bertemu dan berdiskusi tentang nasib bangsa kedepan bersama Dr. Rizal Ramli yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumberdaya di periode pertama Pemerintahan Jokowi, menggantikan Menko Maritim pertama yakni Prof. Dr. Indroyono Soesilo.


Last Updated on Thursday, 05 March 2020 10:48
 

Sharing Session BRSDMKP Maret 2020

E-mail Print PDF


Last Updated on Wednesday, 04 March 2020 06:54
 

Skema Lagrangian Masih Menjadi Favorit Untuk Memodelkan Polutan Di Laut

E-mail Print PDF

Jakarta, 03 Maret 2020. Implementasi bidang ilmu oseanografi terapan sangatlah masif dilakukan oleh Pusat Riset Kelautan sejak zaman masih bernomenklatur lama yakni Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-Hayati (Pusris Wilnon) sekitar 2003 - 2009. Implementasi tersebut pun masih terus berlangsung tatkala Pusris Wilnon berubah nomenklatur menjadi Pusat Litbang Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP). Bahkan menjadi semakin kuat ketika rekan-rekan peneliti dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (P3TKP) bergabung merger kedalam wahana riset besar yang bernama P3SDLP.
Sejumlah riset tumpahan minyak, sebaran polutan pencemarah, sebaran sampah mikro dan makro oleh arus, hingga lebih spesifik kepada pola angkutan mikro/makro plastuk di laut pun menjadi produk unggulan Pusat Riset Kelautan, dikontribusikan kepada pembangunan nasional sektor maritim. Bertempat di Laboratorium Data Laut dn Pesisir, pada Jumat 28 Februari 2020, berlangsung diskusi ilmiah terkait penerapan skema Lagrangian. Secara kolaboratif dilakukan diskusi antara Dr. Budhi Gunadharma dan Dr. Widodo Pranowo, dengan Saudara Amarif Abimanyu, mahasiswa Universitas Padjadjaran yang akan bergabung di kegiatan riset Pusat Riset Kelautan. Pada diskusi tersebut, dilakukan diskusi jarak jauh (teleconference) dengan dosen pembimbing Amarif yakni Dr.-cand. Noir Promadona Purba dan Dr. Mega Laksmi Syamsuddin. Disepakati akan dilakukan beberapa skenario pemodelan dalam uji coba penerapan skema lagrangian dalam simulasi hidrodinamika dan transpor tumpahan dan ceceran minyak di laut.


Last Updated on Tuesday, 03 March 2020 08:24
 

Ini Hasil Penelitian BKIPM Ternate Soal Fenomena Kematian Ikan Masal di Maluku Utara

E-mail Print PDF

Warga di Halmahera dan Ternate, Maluku Utara, heboh karena banyak biota laut dari ikan, sampai gurita mati, beserta air laut berwarna coklat kemerahan yang terjadi pada awal minggu ini. Warga merasa was-was dan khawatir. Ada yang menduga gunung api bawah laut atau cemaran tambang sampai air banjir dari daratan. Berbagai dugaan itu membuat warga takut makan ikan dan sebagian nelayan enggan melaut.Melihat kejadian itu, Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Ternate dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bergerak melakukan pengujian sampel ikan dan air laut. BKIPM Ternate meneliti sampel delapan ekor jenis ikan dasar (ikan yang hidup di dasar laut) dan satu gurita yang diserahkan oleh petugas PSDKP-KKP dan Dinas Kelautan Perikanan Kota Ternate. Hasil pembedahan, ditemukan pendarahan di sepanjang tulang ikan, sedangkan tentakel gurita dalam kondisi tidak utuh.

Pengujian menggunakan rapid testkit plumbum dan rapit testkit merkuri, menunjukkan hasil negatif. Namun pengujian untuk mendeteksi adanya hama, parasit, maupun bakteri tidak bisa dilakukan karena ikan sudah membusuk saat diantar ke BKIPM Ternate. “Ikan dalam kondisi membusuk, parasit juga sudah mati, hanya bakteri pembusukan yang lebih dominan,” ungkap Kepala BKIPM Ternate Abdul Kadir dalam rilis dari KKP, Kamis 27/02/2020. BKIPM Ternate sedang melakukan identifikasi plankton/algae terkait kondisi air laut yang berubah kecokelatan untuk mengetahui benar tidaknya terjadi blooming algae yang diduga menyebabkan kematian ikan. Namun dia memastikan, sampel air laut yang diperoleh BKIPM dalam kondisi jernih tidak berwarna kecokelatan. Untuk mengetahui kondisi terkini di perairan Kota Ternate, pihaknya kembali mengirim tim ke sekitar lokasi penemuan ikan mati. “Kondisi lapangan terbaru, tidak ditemukan adanya kematian ikan baru dan kondisi perairan normal,” pungkas Abdul.

Sedangkan, Peneliti Bidang Oseanografi Loka Riset Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Ulung Jantama Wisha, menyampaikan bahwa informasi terkait kematian masal ikan di Pantai Falajawa Ternate butuh penelitian mendalam. “Beberapa sumber berita menyebutkan bahwa ada potensi blooming algae dan peningkatan suhu, namun tidak ada data hasil pengukurannya, sehingga semua info tersebut masih berupa dugaan. Informasi dari penyelam lokal di mana beberapa jenis hewan laut mati hingga kedalaman 12 meter juga masih bersifat kualitatif,” tuturnya. Namun jika benar adanya, lanjut Ulung, dapat diindikasikan bahwa terdapat pengaruh dari interaksi laut atmosfer yang mengontrol sebaran parameter fisis perairan sehingga berdampak terhadap perubahan kondisi lingkungan drastis dan memicu degradasi lingkungan dan potensi kematian biota.

“Jika dilihat melalui pemantauan satelit Aqua MODIS sekitar tanggal 25-26 Februari 2020, suhu di perairan Maluku Utara (sekitar pulau Halmahera dan Ternate) berkisar antara 22-30 derajat celcius, kisaran suhu tersebut termasuk normal untuk biota perairan berdasarkan baku mutu perairan KepMenLH No.51/2004. Pada Pantai Falajawa, suhu perairan cukup rendah yakni berkisar antara 19-22 derajat celcius yang menandakan potensi upwelling, di mana suhu rendah mendominasi permukaan karena adanya kekosongan massa air di permukaan. Dalam prosesnya mekanisme ini membawa zat hara dari dasar ke permukaan. Pernyataan tersebut juga didukung dengan data klorofil-a yang cukup tinggi di bagian utara hingga tengah Pulau Halmahera berkisar antara 0-2.58 mg/m3 menandakan potensi upwelling dan ledakan algae mungkin saja terjadi,” terangnya.

Last Updated on Tuesday, 03 March 2020 08:05 Read more...