Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Monitoring Hibah Luar Negeri lingkup Pusat Riset Kelautan dengan BPK

E-mail Print PDF

Dalam Rangka pemantauan pelaksanaan kegiatan hibah luar negeri TA 2020, Pada Rabu tanggal 27 Januari 2021, dilakukan pertemuan daring dalam rangka pemantauan pelaksanaan kegiatan hibah luar negeri. Pertemuan ini membahas tentang updating terbaru terkait kerjasama di lingkup  BRSDM dengan BPK. Kegiatan kerjasama Luar Negeri di Pusat Riset Kelautan yang dipaparkan ada 3 kegiatan yg dipaparkan, yaitu : 1. Joint survey and study on the development of tsunami early warning systems based on sea level, dipaparkan oleh Dr.-ing Semeidi Husrin, M.Sc 2. The establishment of marine and fisheries and technical cooperation on oil and gas platform, dipaparkan oleh Dr. Niken Gusmawati dan 3. The project for comprehensive assessment and conservation of blue carbon ecosystems and their services in the coral triangle (blue cares), dipaparkan oleh Dr. Novi Susetyo Adi. Turut Hadir mengawal dari Bagian Tata Usaha Ir. Theresia Lolita N , Msi, Lydia Desmaniar, A.Md dan Sari Novita, S.T.


Last Updated on Wednesday, 27 January 2021 11:01
 

Analisis Bambang Sukresno (BROL) dan Widodo Pranowo (Pusriskel) : Pengamatan Aspek Kelautan Mempermudah Proses Penangkapan Ikan

E-mail Print PDF

JAKARTA — Perubahan suhu dan curah hujan dinyatakan memiliki keterkaitan erat dengan upaya nelayan untuk dapat menangkap ikan dalam jumlah maksimal. Sehingga dibutuhkan suatu pengamatan pada setiap aspek lingkungan kelautan untuk mempermudah nelayan menentukan lokasi penangkapan dan mendapatkan hasil optimal.

Ahli Oseanografi Terapan, Widodo Setiyo Pranowo menyatakan, kondisi suhu permukaan laut dan curah hujan akan mempengaruhi kondisi air laut sebagai tempat hidup ikan. “Setiap jenis ikan memiliki kesukaan suhu laut dan salinitas (kadar garam) tertentu. Kesukaan kondisi lingkungan air ikan-ikan kelompok pelagis kecil belum tentu sama dengan kondisi yang disukai oleh kelompok ikan jenis pelagis besar,” kata Widodo saat dihubungi, Senin (25/1/2021).

Seperti halnya manusia, Widodo menyatakan, ikan pun lebih suka di lingkungan bersuhu nyaman atau sejuk, ketimbang di lingkungan yang bersuhu panas menyebabkan gerah. “Maka kurang lebih demikian pula dengan ikan. Ketika suhu permukaan laut panas dan kondisi angin kencang pada musim angin Barat, maka ikan-ikan kelompok pelagis kecil, akan memilih lingkungan yang nyaman dan tidak berarus kencang. Umumnya kondisi tersebut berada di sekitar perairan pesisir atau perairan yang terlindung dari arus kencang,” ucapnya.

Widodo menyampaikan mulai November, terjadi peningkatan suhu permukaan laut dan intensitas kecepatan angin di Laut Cina Selatan (LCS). Dimana angin bergerak dari Timur-Laut menuju Barat-Daya, kemudian berbelok ke Selatan atau Tenggara menyusuri atmosfer Selat Karimata karena mengikuti kontur daratan diantara Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. “Angin tersebut kemudian berbelok ke Timur di atas Laut Jawa. Kondisi pergerakan angin di atas Laut Jawa pada Desember hingga Februari ini kemudian sering disebut sebagai Angin Musim Barat, karena arah datangnya dari Barat,” urainya.

Sedangkan peningkatan suhu permukaan laut yang terjadi, akan menyebabkan evaporasi atau penguapan air laut di LCS yang kemudian dibawa oleh angin, dan berpotensi menjadi hujan di Sumatera, Kalimantan dan Jawa pada Desember-Februari. “Hal ini seperti yang terjadi di beberapa lokasi perairan, pada periode akhir November hingga Februari, ikan-ikan kelompok pelagis kecil di Selat Karimata kemungkinan akan minggir di sekitaran perairan pesisir dekat Pontianak dan sekitarnya, dan di sekitaran perairan pulau-pulau kecil,” ucapnya.

Demikian juga di Laut Jawa, ikan-ikan pelagis kecil tersebut diprediksi akan minggir pesisir utara Jawa. Sedangkan di Selat Makassar, ikan-ikan pelagis kecil akan minggir di perairan sekitaran Tanah Bumbu yang berlokasi di tikungan antara Laut Jawa dan Selat Makassar. Ikan-ikan pelagis kecil tersebut juga diprediksi ada yang minggir di perairan sekitar Nunukan, Berau dan Bunyu yang berlokasi di sekitar pertemuan antara Laut Sulawesi dan Selat Makassar. “Lokasi-lokasi lain yang diprediksi sebagai tempat persembunyian ikan-ikan pelagis kecil ketika musim angin barat, antara lain Perairan Laut Sawu, Teluk Tolo dan sekitaran Teluk Bintuni. Lokasi-lokasi tersebut disukai diduga karena mengandung banyak klorofil akibat meningkatnya zat hara (nutrien) yang terbawa oleh aliran sungai ketika hujan terjadi di atas daratan di sekitar lokasi-lokasi perairan tersebut di atas,” urainya.

Sedangkan ikan pelagis besar, umumnya masih bisa bertoleransi terhadap suhu permukaan laut yang lebih hangat dan memiliki kapabilitas berenang yang lebih baik ketimbang ikan pelagis kecil. “Ikan pelagis besar tentunya lebih lincah dalam bermanuver mencari celah di parcel-parcel massa air yang berkecepatan arus rendah di antara parcel-parcel massa air yang berkecepatan arus tinggi. Sehingga ikan pelagis besar masih bisa beraktivitas di laut yang lebih terbuka,” urainya lebih lanjut.

Contohnya, ikan Cakalang atau Skipjack Tuna, saat November hingga Februari, diprediksi akan banyak berkumpul di sekitaran Samudera Pasifik Barat di utara Papua. “Keberadaannya di sekitar kedalaman 100-150 meter, dimana terjadi pertemuan massa air hangat dari lapisan permukaan air dengan massa air bersalinitas tinggi. Kawasan tersebut apabila dilihat secara spasial, penampakannya seperti sebuah kolam air hangat di laut,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahli Oseanografi Perikanan Bambang Sukresno yang menyatakan bahwa ikan pelagis, khususnya pelagis kecil 70 persen dipengaruhi oleh kesuburan perairan. “Kesuburan perairan ini dpat diidentifikasi dengan menggunakan data satelit yang menganalisa konsentrasi koorofil-a,” ucapnya.

Daerah yang subur, lanjutnya, biasanya pada daerah yang terdapat fenomena upwelling. Yaitu naiknya masa air dari kedalaman laut ke permukaan. “Naiknya masa air ini membawa nutrien yang pada saat mendapatkan sinar matahari akan mendukung terjadinya fotosintesis. Kesuburan perarairan di Indonesia mengalami perubahan musiman sebagai akibat berubahnya arah dan kecepatan angin,” paparnya.

Bambang menyatakan ikan pelagis kecil memiliki kesesuaian terhadap kesuburan perairan pada rentang konsentrasi klorofila- a yang khusus. Yaitu tidak terlalu tinggi maupun tidak terlalu rendah. Kurang lebih sekitar 0,2 hingga 0,3 mg/m3. “Disisi lain keberadaan ikan pelagis kecil juga dipengaruhi oleh suhu permukaan laut. Sedangkan untuk ikan pelagis besar ditentukan dengan suhu laut pada kedalaman antara 150m hingga 200 meter,” paparnya lebih lanjut.

Secara umum, Bambang menyatakan, pada bulan-bulan ini, jumlah ikan lebih sedikit dibandingkan pada musim timur. “Musim barat itu puncaknya Desember Januari Februari. Musim timur itu Juni Juli Agustus. Pada bulan Januari sampai Maret, daerah penangkapan relatif lebih jauh dari pantai. Sedangkan Juni sampai Agustus relatif dekat dengan pantai,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Tuesday, 26 January 2021 07:40
 

Penjelasan Daryono BMKG dan Widodo Pranowo KKP : Limpahan Air Laut ke Daratan Manado Bukan Tsunami

E-mail Print PDF

JAKARTA – Melimpahnya air laut ke daratan Manado yang menghebohkan masyarakat dunia maya, dinyatakan pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai hal yang alami dan tidak perlu ditakutkan sebagai tsunami.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, meminta agar masyarakat tidak perlu panik dengan kejadian di Manado tersebut. “Masyarakat tidak perlu mengungsi. Karena itu bukan tsunami. Kejadian naiknya air laut di Manado itu karena dampak fase pasang air laut harian, yang terjadi bersamaan dengan fenomena gelombang tinggi yang disertai angin kencang. Sehingga air laut naik ke darat,” kata Daryono, saat dihubungi, Senin (18/1/2021).

Berdasarkan data BMKG, kecepatan angin tercatat maksimum 25 Knot berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di Laut Sulawesi, Perairan utara Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Sangihe – Kepulauan Talaud dan Laut Maluku bagian utara dengan ketinggian gelombang mencapai 2,5 – 4,0 meter. Pasang air laut di wilayah Manado juga menunjukan peningkatan pasang maksimum harian setinggi 170 – 190 cm, dari rata-rata tinggi muka air laut (Mean Sea Level/MSL) pada pukul 20.00 – 21.00 WITA. Berdasarkan analisis gelombang, diketahui arah gelombang tegak lurus dengan garis pantai, sehingga dapat memicu naiknya air ke wilayah pesisir. “Diprakirakan potensi air masuk ke daratan ini masih bisa terjadi hingga dua hari ke depan. Masyarakat waspada dan tetap ikuti pemberitahuan dari pihak berwenang,” tuturnya.

Ahli Oseanografi Terapan, Widodo Setiyo Pranowo, dihubungi terpisah, menyebutkan kejadian di Manado itu termasuk Storm Surge. Yaitu suatu kondisi pembanjiran darat oleh air laut karena adanya siklon tropis di laut. “Januari adalah puncak dari angin musim utara, kelihatan angin di atas Laut Cina Selatan kecepatannya sangat tinggi, sekitar 62 km/jam menuju ke selatan atau ke barat daya. Sebagian kecil ada yang berbelok ke timur di atas Laut Sulawesi, terus menuju ke timur,” kata Widodo.

Ketika posisinya berada di atas perairan utaranya Kepulauan Halmahera dan bertemu dengan angin dari arah timur, yakni Samudra Pasifik, membangkitkan siklon kecil. “Siklon kecil kecepatannya sekitar 52 km/jam. Jauh lebih kencang ketimbang kecepatan angin siklon Joshua dan Kimi yang sekitar 48 km/jam,” urainya.

Terkait adanya pengaruh siklon Joshua yang berlokasi di Samudera Hindia sebelah barat daya Selat Sunda dengan kecepatan 48 km per jam, dan siklon Kimi yang berlokasi di timur laut Australia dengan kecepatan sama, menyatakan masih dibutuhkan kajian lebih lanjut. “Bagaimana hubungan telekoneksinya siklon kecil di utara Kep Halmahera dan Siklon Joshua dan Kimi, mungkin perlu dikaji lebih lanjut. Sejauh dan sekuat apakah kekuatan angin siklon yang melintasi kawasan ekuator (khatulistiwa) dalam menarik atau mendorong aliran massa air laut,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews


Last Updated on Tuesday, 19 January 2021 08:59
 

IDSL/PUMMA 307 Memberikan Peringatan Sekaligus Pemandangan

E-mail Print PDF

IDSL/PUMMA 307 yang berlokasi di Batukaras Pangandaran memberikan peringatan berupa Alert berkali-kali (Gb.1). Setelah dikonfirmasi melalui foto yang ditunjukan pada JRC TAD System diketahui bahwa di wilayah Batukaras terjadi hujan badai (Gb.2). Peringatan berupa sms dikirim pada pukul 10.19 UTC dan pukul 10.24 UTC pada tanggal 18 Januari 2021.

Setelahnya, pada pukul 14.30 UTC diperoleh tangkapan foto pemandangan kegiatan nelayan dari CCTV IDSL/PUMMA 307 (Gb.3). Diperkirakan kegiatan tersebut adalah nelayan pencari ikan di perairan pesisir pangandaran (Gb.4. Kegiatan berlangsung hingga pagi hari dengan tampak sekumpulan kapal nelayan dilatari pemandangan matahari terbit yang indah (Gb.5).


Last Updated on Tuesday, 19 January 2021 07:59
 

Pusriskel turut mendukung sinergitas riset arkeomaritim Beltim

E-mail Print PDF

Sumber Berita : Harian os Belitung 17 Januari 2021 Hal 3


Last Updated on Tuesday, 19 January 2021 08:35
 

Universitas Bengkulu siap Bergabung Kembangkan PUMMA di Sumatera Bagian Barat

E-mail Print PDF


Pada 13 Januari 2021 mealui media daring Zoom Koordinator Kegiatan PUMMA/IDSL Dian Novianto, M.Si bersama dengan Dr Semeidi Husrin Mengadakan Pertemuan dengan Universitas Bengkulu, Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (Dr. Gegar Prasetya) dan Kemenko bidang Kemaritiman dan Investasi  yang diwakili oleh Dr. Rahman Hidayat Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan dan SDA, Deputi Bidang Infrastruktur dan Transportasi Bersama Indra Hermawan M.Si selaku Kabid Infrastruktur Perkotaan  dalam rangka Rencana pemasangan alat hasil penelitian PUSRISKEL yaitu PUMMA untuk penguatan sistem deteksi dini tsunami. Kemenkomarvers melalui perwakilannya mendukung penuh kegiatan Penelitian PUMMA/IDSL dari Pusat Riset Kelautan BRSDM KKP untuk Pemasangan Alat Peringatan Dini Kebencanaan Laut (PUMMA/IDSL) hasil riset PUSAT Riset Kelautan BRSDM KP tahun 2020 di Bengkulu dan pulau Enggano dengan bekerjasama transfer knowledge dengan Universitas Bengkulu (www.unib.ac.id) , perlu diketahui kegiatan ini mendukung bagian dari Program Prioritas Nasional (PSN) Nomer 6.4 Ketahanan infrastruktur Mitigasi Bencana.

Rencana aksi pemasangan PUMMA direncanakan pada akhir bulan Januari tahun 2021 dengan melibatkan Universitas Bengkulu yang akan bersama-sama mengembangkan, menjaga serta merawat PUMMA. Pada pertemuan ini juga dibahas terkait rencana perjanjian Kerjasama Riset antara Prodi Ilmu Kelautan, Universitas Bengkulu dan Pusriskel dalam rangka pengembangan alat PUMMA, Program dosen tamu untuk meberikan materi terkait mitigasi bencana (Tsunami) di Universitas Bengkulu, dan Pengembangan Pusat Studi Kelautan di Pulau Enggano sebagai Laboratorium Alam. Dr. Gegar Prasetya dalam sambutannya menyebutkan bahwa Pulau Enggano mirip seperti Bouy Raksasa di barat sumatera yang dapat dimanfaatkan untuk monitoring dan deteksi awal tsunami bagi daerah lainnya di Sumatera Bagian Barat.


Last Updated on Wednesday, 13 January 2021 15:12