Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Pusriskel Aktif Dalam Kegiatan Workshop Tanggap Bencana Tsunami

E-mail Print PDF

Jakarta, 29 Juli 2019. Peneliti Pusriskel Dr. Semeidi Husrin kembali diundang sebagai Pembicara terkait tanggap bencana Tsunami pada acara Workshop ‘’Membangun Masyarakat Tanggap Bencana Tsunami Selat Sunda (Gunung Anak Krakatau)’’. Workshop yang  disponsori oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Pemda Lampung, UNILA dan Ikatan Alumni – ITB ini berlangsung di Hotel Horison Bandar Lampung, Sabtu 27 Juli 2019.  Acara dihadiri oleh WAGUB Lampung, SEKDA Provinsi Lampung, Dr. Ridwan Djamaluddin (Deputi Infrastruktur  Kemenkomaritim), Rektor Universitas  Lampung,dan Ketua IA ITB Lampung. Para Pembicara lainnya yang turut hadir diantaranya adalah Dr. Muhammad Sadli (Deputi Geofosika, BMKG), Ir. Wisnu Wijaya, M.Sc (Deputi Mitigasi Bencana – BNPB), Dr. Ir. Wahyu Pandoe, M.Sc. (Deputi Bidang Teknologi  Industri Rancang), Kasbani, M.Sc (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,  ESDM), DR. Parluhutan Manurung ( BIG ), Mulyanto, Y.S., S.E. (Kemenpar), Mona Arif Muda Batubara, S.T., M.T. (UNILA), Kelik Hendro Basuki, S.T., M.T. dan Dr. Citra Persada (IA-ITB  Lampung).

Dr. Semeidi Husrin mempresentasikan performa alat IDSL dan status terkini serta beberapa kelebihan dan kekurangannya. Salah satu kelebihan alat IDSL ini adalah sudah diadopsi IOC sea level monitoring station, BMKG INA-TNT Program, BOM Australia dan kerjasama dengan BIG. UNILA saat ini juga sedang mengembangkan alat serupa dengan IDSL. Kegiatan Riset Pusriskel di Pangandaran (PIAMARI) yang direncanakan untuk  mereproduksi IDSL ini dapat dikerjasamakan dengan UNILA, karena mereka sudah ke tahap ujicoba langsung. BMKG dalam presentasinya juga telah memasukan IDSL Pusriskel dalam sistem terbaru peringatan tsunami bernama INA-TNT atau Peringatan dini Tsunami Non Tektonic.


Last Updated on Monday, 29 July 2019 13:18
 

Kunjungan Delegasi Rusia ke Pusriskel untuk Penjajakan Kerjasama Riset Laut Dalam

E-mail Print PDF


Jakarta, 23 Juli 2019. Pada hari Senin, tanggal 22 Juli 2019 kemarin Delegasi Rusia yakni Dr. Vasily Bublik dan Dr. Sergey Sokolov dari Geological Institute of The Russian Academy of Science of the Russian Federation berkunjung ke Kantor Pusat Riset Kelautan dengan tujuan penjajakan kerjasama riset  geodinamika laut dalam yang berlokasi di Laut Andaman. Diterima oleh Kepala Pusat Riset Kelautan, Drs. Riyanto Basuki, M.Si. mereka menyampaikan paparan rencana risetnya sekaligus berdiskusi tentang skema kerja sama riset dengan Pusriskel. Dalam sesi  kunjungan tersebut juga  dijadwalkan untuk  courtesy call dengan Kepala BRSDMKP Prof. Sjarief Widjaja, PhD FRINA.
Rencananya lingkup kerjasama yang akan dilakukan adalah Studi terintegrasi tentang karakteristik geodinamika dan dasar laut Laut Andaman, Eksplorasi dan penelitian Deepsea pada akuisisi, prosesing data seismik, interpretasi, dan analisis geologi-geofisika kelautan, serta program peningkatan kapasitas (capacity building), kegiatan ilmiah dan simposium kerja sama penelitian
Peneliti Madya Pusriskel  Dr. Widodo Pranowo pada sesi rapat dan diskusi dengan Delegasi Rusia menyampaikan prosedur pelaksanaan riset dengan negara lain di Indonesia, meliputi persyaratan,  perijinan dan kompetensi peneliti asing (FRP).
Kerjasama dengan Rusia ini sedang intensif dijajaki Tim Peneliti pada Bidang Sumberdaya Laut dan Kewilayahan yang dikomandani Kabid SDLK Erish Wijanarko, S.T, Kasubbid Kewilayahan Eko Triarso, M.Si., Korgiat  Rainer Arief Troa, M.Si., Dr. Ira Dillenia, dan Aida Heriati, MT. Direncanakan agenda hari Selasa 23 Juli 2019 Delegasi Rusia didampingi Rener dan Eko Triarso melawat ke Pusat Survey Geologi (PSG) Badan Geologi KESDM, P3GL dan Pusat Penelitian Geoteknologi  (P2G) LIPI di Bandung, dalam rangka penjajagan kolaborasi yang lebih luas. Pada  hari rabu tanggal 24 Juli 2019 direncanakan  Delegasi Rusia akan melakukan diskusi dengan Kepala BRSDM dan Kapusriskel di Gedung Mina Bahari III lantai 7.


Last Updated on Wednesday, 24 July 2019 09:48
 

BROL Raih Juara 1 Makalah Terbaik Sinas Inderaja 2019

E-mail Print PDF


Jakarta, 18 Juli 2019. Peneliti  Balai Riset dan Obsevasi Laut (BROL) Komang Iwan Suniada meraih Juara 1 makalah terbaik pada acara  Seminar Nasional Penginderaan Jauh (Sinas Inderaja) 2019 yang dilaksanakan di Depok pada tanggal 17 Juli 2019. Dengan judul Penggunaan Metode Rolling Mosaic Untuk Mendukung Pengembangan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan Wilayah Pesisir, Komang memaparkan pengkajian metode rolling mosaic untuk mengurangi tutupan awan dalam pembuatan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) yang dipublikasikan oleh BROL.

Seminar Nasional dengan tema Peningkatan Pemanfaatan IPTEK Penginderaan Jauh Untuk Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tersebut diikuti oleh kurang  lebih 80 pemakalah dari berbagai Kementerian/Lembaga dan Universitas.



Last Updated on Tuesday, 23 July 2019 15:19
 

Kontribusi Peneliti Pusriskel pada Workshop PAUD Berkearifan Lokal dan Tangguh Bencana

E-mail Print PDF


Jakarta, 11 Juli 2019. Beberapa peneliti ahli Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) yakni  Dr.-Ing. Semeidi , Husrin (salah satu anggota Ikatan Ahli Tsunami Indonesia), Dr. Tubagus Solihuddin dan  Dr. Rudy Akhwadi  diundang  sebagai salah satu narasumber oleh Yayasan Permata Ilmu Bunda Angsa dan Sekolah Permata Nusantara dalam acara Workshop Implementasi Kurikulum K13: PAUD Berkearifan Lokal Tangguh Bencana.  Dr.-Ing. Semeidi Husrin membagikan pengalamannya  selama melakukan penelitian di bidang kebencanaan pesisir terutama terkait pentingnya kearifan lokal dalam proses mitigasi bencana alam seperti gempa dan tsunami. Workshop tersebut digelar mengingat banyaknya kejadian bencana terkait gempa bumi dan tsunami di tahun 2018 yaitu Gempa Lombok, Gempa dan Tsunami Palu, Gempa Situbondo dan terakhir adalah Tsunami Selat Sunda yang memakan ribuan korban jiwa. Workshop dilaksanakan di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang Banten pada Senin - Selasa, 8-9 Juli 2019 dan dihadiri oleh beberapa aktivis PAUD yang dipimpin oleh Endang Mulyani Putro.

Pendidikan usia dini dinilai berperan penting dalam pengurangan resiko bencana terutama dalam pengurangan korban jiwa jika dikaitkan dengan tingkat kesiapsiagaan masyarakat. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam mengahadapi bencana alam di daerah masing-masing dapat dipupuk dan ditingkatkan sejak dini. Workshop kali ini merupakan yang kedua bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Avicenna  setelah sebelumnya juga turut aktif saat digelar di Kecamata Sumur Pandeglang Banten. Hadir  pula beberapa narasumber nasional dari Kementerian dan Lembaga terkait,  diantaranya Director for Infrastructures of Shipping, Fishery, and Tourism at Coordinating Ministry for Maritime Affairs (Kemeko Kemaritiman), Dr. Eng. Rahman Hidayat, Chairman Indonesia Tsunami Foundation Gegar S. Prasetya, Ph.D., Peneliti Senior BPPT Bidang Mitigasi Tsunami Dr.-Ing. Widjo Kongko, Kepala Bidang infrastruktur wisata bahari, Kemenko Kemaritiman Velly Asvaliantina, M.Sc.


Last Updated on Monday, 29 July 2019 08:16
 

Memprediksi Banjir Pesisir

E-mail Print PDF

Sumber Berita : Harian Kompas 4 Juli 2019, Hal. 10.


Last Updated on Tuesday, 09 July 2019 10:31
 

Basarnas RI Dukung Riset AIS Nasional

E-mail Print PDF

Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi pada Rabu (3/7/2019) kemarin mendapatkan kesempatan membawakan paparan terkait riset dan rencana pemanfaatan teknologi WakatobiAIS di hadapan jajaran Basarnas RI di Jakarta. Teknologi hasil riset terbaru ini diharapkan akan dapat bersinergi dengan sistem pendeteksian dini marabahaya yang sudah digunakan Basarnas. Di sela-sela sesi Rakornas Kedeputian Bidang Sarana dan Prasarana, dan Sistem Komunikasi Pencarian dan Pertolongan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas RI), Kepala LPTK Akhmatul Ferlin didampingi Pejabat Fungsional Perekayasa Pertama, Arief Rahman, diterima di Ruang Rapat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan lantai IV oleh Brigadir Jenderal (Mar) Bambang Suryo Aji, selaku Direktur Sistem Komunikasi dan jajarannya.

Dalam sesi pemaparan, Kepala LPTK, menyampaikan sejumlah informasi yang melatarbelakangi adanya riset alat pengawasan kapal portabel yang dinamakan Wahana Keselamatan dan Pemantauan objek Berbasis AIS (WakatobiAIS). Tingginya angka kecelakaan nelayan khususnya nelayan kecil dan tradisional di Indonesia juga diperparah dengan tidak adanya alat pendeteksi dini kecelakaan pelayaran untuk memungkinkan pihak yang melakukan pencarian serta pertolongan menyelamatkan korban dengan cepat.

Peningkatan keselamatan nelayan juga menjadi amanat UU No 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Peningkatan standar keselamatan tersebut diwujudkan dengan memastikan perlengkapan keselamatan bagi Nelayan dalam melakukan Penangkapan Ikan dan memberikan bantuan pencarian dan pertolongan bagi nelayan yang mengalami kecelakaan dalam melakukan Penangkapan Ikan secara cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi.

KKP melakukan riset terhadap pembangunan alat Automatic Information System (AIS) yang ringkas, praktis, portabel dan tidak bergantung pada teknologi asing. Teknologi ini memungkinkan tracking kapal secara otomatis dan pengiriman pesan marabahaya kepada seluruh penerima AIS baik yang berbasis di kapal, darat, maupun satelit.

Dengan demikian, WakatobiAIS dikatakannya akan dapat menunjang kerja pencarian dan pertolongan yang menjadi tugas dan fungsi Basarnas RI. “Kami harapkan WakatobiAIS ini akan dapat berkontribusi dalam menyediakan informasi awal kepada Basarnas mengenai terjadinya kondisi mengancam jiwa yang dialami oleh nelayan-nelayan kita di seluruh perairan Indonesia. Pada akhirnya, harapan kami akan bisa merubah paradigma lama dari mencari korban menjadi menjemput korban,” harap Ferlin.

Direktur Sistem Komunikasi, Bambang Suryo Aji, dalam paparannya mengungkapkan pada saat ini Basarnas juga memanfaatkan data dan informasi AIS untuk deteksi kapal.  Saat ini, BASARNAS juga sudah dilengkapi dengan berbagai sistem komunikasi SAR yang berstandar nasional dan internasional. Khusus untuk early warning marabahaya di laut, Basarnas mengikuti rezim Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) yang salah satunya mewajibkan sistem Emergency Position Indicator Radio Beacon (EPIRB) terpasang pada kapal.

EPIRB yang berfungsi mirip dengan ELT yang dipasang pada pesawat terbang. Pada saat pengguna mengalami marabahaya mengaktifkan distress beacon, EPIRB akan mengirimkan sinyal distress melalui satelit SARSAT ke stasiun bumi yang akan diteruskan ke institusi SAR berdasarkan negara lokasi terjadinya kecelakaan.

Disebutkannya juga, berdasarkan data pantauan kapal di wilayah perairan Indonesia terdapat sekurangnya 70 ribu unit kapal yang berlayar. Dari jumlah tersebut, baru 440 kapal yang teregistrasi EPIRB pada Basarnas.

Mengingat pentingnya EPIRB untuk deteksi dini kecelakaan kapal, pihaknya gencar melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan EPIRB dalam evakuasi keselamatan dan keamanan musibah di laut. “Sosialisasi itu juga bertujuan agar pemangku kepentingan di bidang transportasi laut yang melakukan registerasi EPIRB 406 MHz ke Basarnas sebagai salah satu syarat kelaikan operasi,” ungkapnya.

Terkait dengan WakatobiAIS, Direktur Sistem Komunikasi mengatakan berdasarkan data operasi tentang kecelakaan kapal, 80% kejadian merupakan kecelakan kapal dengan tonase dibawah 60 GT dan berdasarkan jumlah mayoritas adalah merupakan kapal nelayan.

Nelayan juga menjadi segmentasi yang paling rentan terhadap marabahaya di laut mengingat mayoritas nelayan di Indonesia merupakan nelayan dengan kapal berbobot dibawah rentang bobot kapal yang wajib memasang alat komunikasi SAR.

WakatobiAIS diharapkan dapat berperan seperti EPIRB, PLB yang sudah terintegrasi dalam sistem Basarnas. Dengan demikian, beberapa alat deteksi dini tersebut akan saling melengkapi memberikan informasi yang cepat dan akurat untuk memungkinkan pertolongan tenaga SAR.

WakatobiAIS melalui kemampuan beacon dari kapal-ke-kapal juga diharapkan dapat menunjang terselanggaranya first response terhadap kondisi marabahaya dari kapal-kapal yang berlayar paling dekat dengan kapal yang membutuhkan pertolongan. “Nanti bisa juga memungkinkan kapal nelayan yang menggunakan WakatobiAIS dengan receiver akan berperan sebagai penolong yang efektif terhadap berbagai kecelakaan di laut di sekitarnya,” harapnya.

KKP sebagai leading sector untuk nelayan diharapkannya pula dapat memanfaatan berbagai alat penunjang keselamatan. Untuk itu diperlukan adanya penguatan pada sisi regulasi. “Kami akan mendukung kegiatan riset WakatobiAIS sehingga dapat digunakan secara nasional,” kata Brigadir Jenderal Marinir ini.


Last Updated on Thursday, 04 July 2019 14:16