User Rating: / 0
PoorBest 

Latar Belakang

Diawali Presiden Abdurahman Wahid dengan Keputusan Presiden No 355/M Tahun 1999 tanggal 26 Oktober 1999 dalam kabinet periode 1999-2004 mengangkat Menteri Eksplorasi Laut Ir. Sarwono Kusumaatmaja. Pada masa ini mengeluarkan Keppres Nomor 136 tahun 1999. Sebagai tindak lanjut atas Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 Tanggal 10 Nopember 1999, Tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Eksplorasi Laut, Keputusan Presiden RI Nomor 147 Tahun 1999 Tentang Perubahan atas keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 Tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 177 Tahun 2000 Tanggal 15 Desember 2000 Tentang Susunan Organisasi dan Tugas Departemen Kelautan dan Perikanan, diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : 01 Tahun 2001 serta perubahan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor KEP.19/SJ-DKP/KP.430/2005 Tanggal 21 September 2005 tentang pembentukan Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati ( Pusriswilnon), sebagai salah satu Unit kerja pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan yang merupakan penggabungan terhadap Direktorat Wilayah Laut dan Direktorat Riset dan Eksplorasi Sumberdaya Nonhayati Laut-Ditjen PREL. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 Tanggal 14 April 2010 Tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Diterbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 15 /MEN / 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan Tanggal 06 Agustus 2010. Dibentuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) sebagai salah satu Unit kerja pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan yang merupakan perubahan Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati (Pusriswilnon), Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 6 Tahun 2017 mengenai penggabungan antara Badan Litbang KP dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia KP menjadi Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, perubahan tersebut diikuti perubahan nomenklatur unit eselon 2 dibawah BRSDMKP, salah satunya Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir menjadi Pusat Riset Kelautan.

Pusat Riset Kelautan adalah salah satu unit kerja Eselon II yang ada di lingkungan  Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang ditetapkan perubahannya berdasarkan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6 tahun 2017. Sebelumnya Pusat Riset Kelautan bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir berdasarkan PER.15/MEN/2010 yang semula bernama “Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati—Badan Riset Kelautan dan Perikanan”. Hal ini dikarenakn adanya beberapa perubahan arah kebijakan dan struktur organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Unit Organisasi Eselon I lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pusat Riset Kelautan, membawahi :

  1. Bidang Riset Sumber Daya Laut dan Kewilayahan
  2. Bidang Riset Mitigasi Adaptasi dan Konservasi
  3. Bidang Riset Teknologi Kelautan
  4. Tata Usaha
  5. Kelompok Jabatan Fungsional

Sumberdaya Manusia

Gabungan dari berbagai ahli di bidang Geologi, Geofisika, Oseanografi, Biologi Laut, Teknik Sipil, Teknik Kelautan, Perikanan Oseanografi, dan Arkeologi Kelautan.

Pusat Riset Kelautan mempunyai 4 (empat) Satuan Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu

  1. Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) yang berkedudukan di Jembrana, Bali.
  2. Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LPSDKP) yang berkedudukan di Bungus, Padang.
  3. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) ayng berkedudukan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara
  4. Instalasi Penelitian dan Pengembangan Sumbrdaya Air Laut yang berkedudukan di Pamekasan, Madura.
  5. Instalasi Riset Geodinamika Kawasan Natuna dan Laut Tiongkok Selatan (South China Sea) yang berkedudukan di Natuna.

Kegiatan Penelitian

  • Interaksi Samudera dan Atmosfer
  • Ekspedisi Antartika
  • Dinamika Perairan Indonesia
  • Sumber daya mineral bawah laut dan hidrotermal
  • Sumber daya mineral laut dan garam
  • Arkeologi Bawah Laut
  • Penelitian Batas Wilayah Maritim
  • Blue Carbon

Kerjasama Internasional

  • Indonesia China Center for Ocean & Climate (SOA China)
  • Natuna Marine Station (SIO China)
  • Bungus Marine Station FIO China)
  • INDEX - Indonesia Exploration (NOAA USA)
  • INSTANT (LDEO, SCRIPPS, NIOZ, CSIRO, LODYC)
  • IASSHA (CSIRO)
  • Bandamin (Free University Berlin)
  • Argo Float (CSIRO)
  • TROMEC (Tokyo Institut of Technology)
  • JUV (FIO China)
  • SITE (FIO China)
  • MOMSEI (UNESCO, IOC, FIO China)