SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2013

Penyusunan Model Kebijakan Ekonomi Biru Berbasis Perikanan Pelagis Besar di Perairan Barat Sumatera(Studi Kasus:Pps Bungus)

 

 

Aktivitas kegiatan Ekonomi Biru melakukan wawancara dengan stkaeholder, nelayan dan meninjau lokasi TPI Muaro Kota Padang

Grafik Indeks Location Quotient Produksi Ikan TCT di Kota Padang 2007-2011 (Sumber: Pengolahan Data, 2013)

 

 

 

Hasil analisis pengaruh langsung antar variabel

 

 

Latar Belakang :

Pelagis Besar (Tuna, Tongkol dan Cakalang) merupakan komoditas utama Propinsi Sumatera Barat ditangkap dalam skala industri dan rakyat menggunakan armada kapal antara 35 GT. Hasil tangkapan pelagis besar skala industri berukuran antara > 35 G Kg dan < 30 Kg, hasil tangkapan umumnya jenis tuna mata besar dan madidihang sedangkan skala rakyat hasil tangkapan < 10 kg hasil tangkapan tuna kategori baby tuna terdiri dari 2 jenis tuna yaitu tuna sirip kuning/madidihang (Thunnus albacares) dan tuna matabesar (Thunnus obesus).

Kondisi yang terjadi antara PPS Bungus dan TPI Muara Anai Kota Padang berbeda. PPS Bungus ikan tuna diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, kelompok A langsung dieksport ke Jepang, Kelompok B diolah menjadi loin dan stik sedangkan Kelompok C dipasarkan  di pasar lokal. Hasil tangkapan ikan tuna tidak semua dapat diolah, bagian yang tidak diolah yaitu: sirip punggung dan sirip ekor, yang selalu terbuang dan menimbulkan  polusi.   Sesuai dengan konsep Ekonomi Biru tidak menimbulkan limbah (less wasting) sehingga perlu adanya peningkatan industri dalam pengelolaan limbah sirip ikan yang tentunya berkaitan dengan peningkatan

sumberdaya manusia. Sedangkan kondisi di TPI Muaro Kota Padang hasil tangkapan ikan tuna sebagian besar baby tuna, hal ini terjadi karena para nelayan menggunakan kapal tangkapan berukuran 10 kg perlu adanya   inovasi umpan agar target tangkapan tuna dapat tercapai. Dalam upaya peningkatan inovasi umpan disertai dengan peningkatan sumber daya manusia

Tujuan :

Menyusun model kebijakan penerapan ekonomi biru sumberdaya perikanan tuna

Metode :

-    Analisis suhu permukaan laut dan khlorofil-a sebagai parameter distribusi ikan pelagis besar di Perairan Barat Sumatera untuk membuat peta sebaran tuna berbasis

Sistem Informasi Geografis

-   Analisis Ekonomi Wilayah menggunakan Analisis LQ untuk mengetahui kemampuan suatu sub-wilayah dalam sektor/kegiatan tertentu

-  Analisis Prospektif Partisipatif untuk pengambilan keputusan bagi kelanjutan pembangunan dengan cara mengidentifikasi variebel kunci dan analisis antar-variabel

-     Analisis skenario terhadap variabel kunci untuk menentukan kondisi ideal penerapan ekonomi biru berbasis perikanan pelagis

Hasil : .

Suhu rata-rata perairan 25o-31oC dan klorofil-a 0,025-0,25 mg/m3 . Kondisi demikian sesuai untuk jenis Tuna:

1).  Madidihang/Yellowfin tuna (Thunnus albacares),

2).  Tuna mata besar (Thunnus obesus), 3). Albakora (Thunnus alalunga) dan 4).  Cakalang/skipjack (Katsuwonus pelamis) (Uktolseja et el. 1998 dalam Widjopriono dan

Abdul Samad Genisa 1999)

Ke empat jenis Tuna yang terdapat di perairan Barat Sumatera atau yang berada di WPP 572 mempunyai nilai ekonomis untuk itu dilakukan analisis location quotient (LQ), menggunakan data Jumlah Produksi dan Nilai Ikan menurut Jenis Ikan dari  tahun 2007 sampai 2011.  Hasil analisis data selama 5 tahun dari tahun 2007

hingga 2011, potensi terbesar terjadi pada tahun 2010 dengan besar indeks LQ 3.9 dan terendah di tahun 2009 dengan nilai indeks LQ sebesar 3.7. Nilai indeks LQ lebih dari 3 untuk setiap tahun pengamatan dari tahun 2007 sampai 2011. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sektor perikanan pelagis besar berjenis TTC (Tuna Tongkol dan Cakalang) memiliki potensi yang sangat baik di kota Padang.

Analisis Prospektif Patisipatif untuk menyusun kebijakan ekonomi biru berbasis perikanan pelagis besar di perairan Barat Sumatera melibatkan 15 personil yang terdiri dari instansi: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang, Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Badan Koordinasi Penanaman Modal Sumatera Barat, PT Dempo dan Nelayan PPS Bungus dan TPI Muaro Kota Padang. Hasil dari analisis diperoleh 4 (empat) variabel penyusun kebijakan yaitu: 1. Ramah Lingkungan, 2. Kebersamaan Gotong Royong, 3. Peningkatan Industri dan 4. Tidak Menyisakan Limbah/Zero Waste.

Unit Kerja

Alamat

:

:

:

:

:

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

Pelabuhan perikanan di Sumatera Barat

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

Dr. Dini Purbani