SUMBERDAYA LAUT DAN PESISIR – TAHUN 2013

Analisis Kebijakan Penelolaan Kawasn Budidaya Laut di Provinsi Sulawesi Selatan (Studi Kasus Kabupaten Takalar dan Bantaeng)

 

 

Dendrogram physico-chemical water parameters

 

 

 

 

 

 

s

Latar Belakang :

Kabupaten Takalar dan Bantaeng merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Luas wilayah Kabupaten Takalar sekitar 566,51 km2, dimana 240,88 km2 diantaranya merupakan wilayah pesisir dengan panjang garis pantai sekitar 74 km, luas pantai sekitar 246,99 km2  atau 46,6% luas wilayahnya. Kabupaten Bantaeng mempunyai potensi lahan sekitar 6.000 Ha dan sudah dikelola seluas 1.965 Ha. Adapun produksi rumput laut yang dihasilkan antara 1.000-1.500 kg/ha/siklus berat kering pada musim baik (Maret-Juli) dan dari segi kualitas, rendemen yang dihasilkan berkisar 25-30%. Salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan adalah Eucheuma cottonii. Jenis ini mempunyai nilai ekonomis penting karena sebagai penghasil karaginan. Dalam dunia industri dan perdagangan karaginan mempunyai manfaat yang sama dengan agar-agar dan alginat, karaginan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri farmasi, kosmetik, makanan dan lain-lain.

Tujuan :

1. Mengidentifikasi potensi dan kebutuhan ruang perairan kawasan budidaya rumput laut,

2. Mengestimasi daya dukung yang dapat dimanfaatkan bagi kegiatan budidaya rumput laut secara berkelanjutan,

3. Merumuskan kebijakan pengelolaan budidaya rumput laut.

Metode :

Penelitian dilaksanakan di  bagian selatan Propinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Kabupaten Takalar dan Bantaeng.

1. Parameter fisika-kimia perairan dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis/PCA), Hubungan antara parameter

fisika-kimia perairan dengan produksi rumput laut dianalisis menggunakan regresi linear berganda

2. Potensi kawasan budidaya rumput laut, menggunakan SIG berbasis matriks kesesuaian yang disusun berdasarkan parameter fisika-kimiawi perairan, disusun dengan pembobotan (weighting) dan pengharkatan (scoring), sedangkan kebutuhan ruang perairan menggunakan ecological footprint (EF).

3. Implikasi kebijakan., diperoleh dari atribut sensitif dengan pendekatan Rapfish, berbasis Multi Dimensional Scaling.

Hasil : .

1.     Analisis ragam (Anova) terhadap parameter  fisika-kimia perairan dengan produksi rumput laut, menunjukkan  bahwa produksi di Kecamatan  Sanrobone

dipengaruhi oleh parameter suhu, BOT dan kedalaman, sedangkan di Kecamatan Mangarabombang, yaitu suhu, DO dan kecepatan arus.

2.      Estimasi daya dukung ruang perairan untuk pengembangan kawasan budidaya rumput laut menunjukkan ruang perairan Kabupaten Takalar dan Bantaeng mengalami surplus dan memiliki tingkat keberlanjutan dimana tingkat kebutuhan ruang lebih kecil dibandingkan ketersediaan ruang perairan untuk budidaya rumput laut.

3.    Dimensi hukum-kelembagaan dan ekonomi merupakan dimensi yang paling rendah indeks keberlanjutannya. Intervensi kebijakan yang dapat dilakukan adalah mendorong pergeseran status nelayan kecil menjadi nelayan mandiri dan memfasilitasi mereka agar lebih berdaya dan memiliki kemampuan penyangga ekonomi keluarga yang kuat melalui diversifikasi produk hasil olahan rumput laut.

Unit Kerja

Alamat

:

:

:

:

:

 

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Jl. Pasir Putih I Lantai 3, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 – DKI Jakarta / Telp. : (021) 64711583 pes 4304 / Fax. : (021) 64711654

Lokasi Kegiatan

Kab. Takalar dan Kab Bantaeng Prov. Sulawesi Selatan

Peneliti Utama Keg

Peneliti Anggota

Dr. Taslim Arifin

Hadiwijaya Lesmana Salim, M.Si Muhammad Ramdhan, MT Herawati Haruna, S.Pi