Sistem Informasi Nelayan Pintar (SINP) adalah suatu sistem yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai salah satu program QUICK WINS yang merupakan perwujudan dari salah 1 (satu)  dari 9 (sembilan) agenda prioritas pembangunan nasional kabinet kerja 2014 - 2015 (NAWACITA). Prioritas pembangunan nsional tersebut adalah agenda ke-3 yakni pemerintah akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Dalam hal ini KKP memfokuskan kepada penguatan daerah-daerah dan desa sebagai sentra masyarakat perikanan (Nelayan) dengan memberikan peran pelabuhan perikanan sebagai sentra dari kawasan aktivitas masyarakat perikanan tersebut.

Pekerjaan besar SINP ini, dimulai pada tahun 2015, melibatkan BADAN LITBANG KELAUTAN DAN PERIKANAN, DITJEN PERIKANAN TANGKAP, DITJEN PENGGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN. Dalam hal ini KKP juga menggandeng Kementerian dan Lembaga Seperti KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA dan BMKG. Sedangkan di  lingkup BADAN LITBANG KELAUTAN DAN PERIKANAN SINP ini melibatkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP), Pusat Pengkajian dan  Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP), Balai Penelitian Observasi dan Laut (BPOL). Adapun konsep besar dari SINP secara umum dapat dibaca pada link ini: Konsep Sistem Informasi Nelayan Pintar (SINP).

Seiring dengan perjalanan waktu, terjadi restrukturisasi organisasi di tubuh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada kurun waktu 2016-2017. Pada tahun 2016, P3TKP melebur kedalam P3SDLP. Disusul kemudian, pada tahun 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan kemudian berubah nomenklatur menjadi Badan Riset dan Sumber Daya (BRSDM) KKP. Pada tahun 2017, P3SDLP berubah nomenklatur menjadi Pusat Riset Kelautan (Pusriskel). Kegiatan SINP yang semula dilaksanakan oleh P3TKP berubah penyebutannya menjadi NELAYAN PINTAR (NELPIN), dengan fokus output lebih kepada prakiraan daerah penangkapan ikan di laut lepas, berikut estimasi bahan bakar kapal nelayan yang dibutuhkan untuk menuju ke daerah penangkapan ikan tersebut, dengan menyediakan perangkat lunak aplikasi berbasis Android yang tersedia di toko aplikasi Google. Sedangkan SINP yang semula bersifat eksperimental yang dilakukan oleh P3SDLP, kemudian berubah nomenklatur menjadi SISTEM INFORMASI CUACA PELABUHAN (SICP), dimana yang dimaksud sebagai Pelabuhan disini adalah PELABUHAN PERIKANAN. Pada tahun 2017, SICP telah disusun untuk pertama kalinya dalam bentuk Album yang dicetak oleh AMAFRAD Press.   

Adapun informasi cuaca yang disediakan, Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, untuk SISTEM INFORMASI CUACA PELABUHAN (SICP) PERIKANAN ini adalah :
1. Prakiraan Pasang Surut di Pelabuhan Perikanan (per 14 hari kedepan, dengan resolusi temporal 1 jam)
2. Prakiraan Curah Hujan di Pelabuhan Perikanan (per 7 hari kedepan, dengan resolusi temporal 3 jam) - Eksperimental
3. Prakiraan Suhu Udara 2 meter di atas muka laut di Pelabuhan Perikanan (per 7 hari kedepan, dengan resolusi temporal 3 jam) - Eksperimental
4. Prakiraan Angin 10 meter di atas muka laut di Pelabuhan Perikanan (per 7 hari kedepan, dengan resolusi temporal 3 jam) - Eksperimental

Sistem informasi tersebut, baik NELPIN maupun SICP, adalah dalam rangka untuk melengkapi sistem informasi prakiraan arus dan suhu permukaan laut yang dikontribusikan oleh INAOFS sejak tahun 2013. Adapun parameter INAOFS tersebut adalah sebagai berikut:  

1. Prakiraan Suhu Muka Laut Indonesia (per 5 hari kedepan dengan resolusi 1 hari) - Kontribusi dari INAOFS.
2. Prakiraan Arus Muka Laut Indonesia (per 5 hari kedepan dengan resolusi 1 hari) - Kontribusi dari INAOFS.