Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Pantai Utara Jawa merupakan kawasan penting bagi Indonesia sebagai salah satu pusat perekonomian di mana sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu yang sangat diandalkan. Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini sedang memprioritaskan optimalisasi dan peningkatan produksi kampung-kampung budidaya sebagai salah satu tulang punggung sektor perikanan. Namun, upaya optimalisasi ini banyak mendapatkan kendala di mana salah satunya adalah dari berbagai permasalahan lingkungan di kawasan pesisir. Sebagaimana diketahui, kawasan pesisir Pantura Jawa telah lama mengalami masalah lingkungan yang sangat pelik seperti kerusakan ekosistem, abrasi pantai, banjir rob dan pencemaran lingkungan.

Bencana abrasi dan banjir rob merupakan salah satu jenis permasalahan pesisir yang cukup umum dapat dijumpai di pesisir Pantura Jawa, khususnya di kawasan – kawasan di mana terdapat usaha usaha tambak / budidaya perikanan yang dikelola masyarakat. Kerugian yang diderita petambak sangat besar setiap kali bencana abrasi atau rob melanda tambak-tambak tersebut. Berbagai upaya baik itu yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang telah diupayakan baik itu oleh masyarakat maupun pemerintah. Efektivitas dari upaya-upaya ini lah yang saat ini sedang dikaji oleh tim peneliti dari Pusat Riset Kelautan – BRSDMKP – KKP dalam kegiatan penelitian “Kajian Terintegrasi Penanganan Rob dan Abrasi Pantura Jawa” DIPA 2021 guna mendapatkan rekomendasi upaya-upaya mitigasi bencana abrasi/rob yang terintegrasi dan optimal diterapkan secara umum di pesisir Pantura Jawa. Di tahun 2021, Cirebon Raya yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu menjadi lokus dari kegiatan penelitian ini. Kota dan Kabupatan Ciirebon secara alami mengalami proses sedimentasi (Akresi). Namun demikian, proses abrasi juga terjadi di beberapa spot yang diakibatkan oleh tingginya konsentrasi struktur bangunan pantai yang dibangun untuk tujuan-tujuan khusus. Berbeda dengan Kota/kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu mengalami erosi pantai yang sangat parah.

Survey lapangan perdana “Kajian Terintegrasi Penanganan Rob dan Abrasi Pantura Jawa” dilakukan di Kota dan Kabupaten Cirebon pada tanggal 28 Maret – 1 April 2021 oleh Tim Peneliti Pusriskel terdiri dari Dr.-Ing. Semeidi Husrin, Vivi Yovita Indriasari MT, Dian Novianto, M.Sc dan Wahyu Hidayat (litkayasa) ke Rawaurip dan Desa Grogol (Gunung Jati). Di Rawa Urip, kawasan tambak telah dilindungi oleh struktur breakwater terbuat dari kubus beton yang dibangun oleh Kementerian PUPR. Sementara itu, di Desa Grogol, sistem proteksi pelindung pantai memanfaatkan bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu memerangkap sedimen di belakangnya. Berdasarkan informasi yang didapat, keberadaan struktur bangunan pantai belum mampu mencegah bencana rob. Namun demikian, keberadaan struktur tersebut telah banyak membantu dalam meningkatkan kualitas hasil produksi tambak-tambak yang ada di belakangnya.

Selain kunjungan lapangan, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Cirebon, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon, PPN Kejawanan, dan Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Cirebon (Oleh : Dr. –Ing. Semeidi Husrin, ST. M.Sc).