Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

29 Januari 2021, Inexpensive Devic for Sea Level measurment (IDSL) telah berusia 2 tahun terpasang di perairan Selat Sunda tepatnya di Marina Jambu, Banten dan Pulau Sebesi Lampung. Pemasangan alat pengukur muka air yang juga dapat dimanfaatan untuk peringatan dini tsunami merupakan hasil kerjasama antara Pusat Riset Kelautan – BRSDMKP-KKP dengan Joint Research Centre – the European Comission (JRC-EC), Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) dan BIG yang bertujuan untuk menjawab tanda tanya besar kejadian Tsunami Selat Sunda 2018 yang diakibatkan oleh longsoran badan Gunung api Anak Krakatau (GAK). IDSL yang masih berfungsi dengan baik dalam dua tahun terakhir merupakan sebuah pencapaian luar biasa mengingat alat ini begitu murah dari sisi harga/operasional dan begitu mudah dalam pemasangan dan perawatan.

IDSL bekerja dengan prinsip mengukur langsung perubahan muka air secara near- realtime dengan kerapatan data yang sangat tinggi, dilengkapi dengan CCTV camera dan mampu mengeluarkan peringatan atau “alert” jika terjadi anomali muka air yang tidak biasa seperti gelombang tinggi tsunami. Berdasarkan kemampuan inilah, maka  IDSL dapat dimanfaatkan untuk peringatan dini tsunami di Indonesia guna memperkuat sistem yang sudah ada saat ini di BMKG. IDSL sendiri sudah diterapkan sebagai penguat sistem peringatan dini tsunami di Laut Mediterania dan dioperasikan oleh JRC-EC dan beberapa negara Eropa, Afrika dan Asia yang berbatasan.

Kehandalan IDSL dari sisi fungsi dan daya tahan (masa layan) menjadikan alat ini diminati banyak pihak. Oleh karena itu, kerjasama penelitian dan pengembangan dari alat ini terus diperluas diantaranya dengan Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) di mana pada hari Kamis, 28 Januari 2021 diadakan pertemuan intensif antara Pusriskel  yang diwakili oleh DR. Semeidi Husrin dan Dr. Tubagus Solihuddin dengan pihak UNTIRTA (dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Sistem informasi, Penguatan Kemitraan dan Layanan Industri, Dr. H. Aceng Hasani, M.Pd) dan difasilitasi oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Asdep infrastruktur dasar perkotaan dan sumber daya air. Hal terpenting dari hasil diskusi ini adalah kesefahaman dan komitmen bersama akan pentingnya IDSL bagi kawasan Selat Sunda sehingga keberadaan alat ini perlu terus dijaga dan dikembangkan dengan cara melibatkan pihak-pihak lain yang potensial untuk berkontribusi seperti Kawasan Industri Cilegon.  Salah satu aksi nyata dalam implementasinya adalah dengan memasang IDSL di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) dengan memanfaatkan sistem komunikasi eksisting PVMBG-ESDM sehingga deteksi awal kejadian tsunami menjadi semakin akurat.  Selain tentang IDSL, pertemuan yang juga dihadiri oleh Dekan FT, Dekan Fakultas Pertanian dan Dekan FPIK juga membahas percepatan PUI Selat Sunda dan pembentukan Fakultas Kelautan dan Perikanan.