Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

JAKARTA — Fenomena naiknya ikan ke pesisir yang terjadi di Pantai Sine Tulungagung Jawa Timur, menyebabkan masyarakat mengungsi. Mereka menakutkan adanya tsunami yang ditandai dengan surutnya air laut.

Ahli Oseanografi Terapan Widodo Setiyo Pranowo menyatakan setelah melakukan pengecekan pada beberapa parameter, kemungkinan penyebab ikan itu naik bukanlah karena adanya gejala tsunami. “Cek seismograf, tidak ada gempa di selatan Jawa. Pengecekan angin dari satelit menunjukkan di sekitar lokasi antara 20-26 km per jam arah dari tenggara menuju timur laut. Jadi kemungkinan karena angin kencang tersebut, ketika dibelokkan oleh daratan Pulau Jawa kemudian membangkitkan upwelling,” kata Widodo saat dihubungi Cendana News, Kamis (8/10/2020).

Upwelling itulah, yang menurutnya, menyebabkan ikan-ikan terdorong ke arah pantai. “Angin kencang yang menyebabkan upwelling itu kemungkinan secara regional. Tapi bisa juga dipicu oleh gaya tarikan badai siklon tropis bernama Chan-Hom di selatan Jepang,” urainya.

Selain itu, lanjutnya, kemungkinan dorongan massa air dari arah selatan Samudera Hindia juga dapat menyebabkan upwelling. “Di mana di sekitaran Samudera Selatan (Southern Ocean) sejak kemarin juga ada angin kencang, walaupun hanya di seputaran Kutub Selatan (Antartika). Namun secara sistem arus, ada probabilitas gaya dorongnya menambah arus dari selatan atau tenggara menuju ke arah utara atau ke selatan Jawa,” urainya lebih lanjut.

Untuk memberikan hasil analisa yang lebih akurat, Widodo menyebutkan masih dibutuhkan penelitian lanjutan bekerjasama antara Badan Riset KKP, BMKG dan LAPAN.

“Kita tunggu hasil pengecekan BMKG pada kondisi tinggi gelombang signifikan di laut dan memberikan status atau peringatan terhadap cuaca ini,” tandasnya.

Peneliti Meteorologi Maritim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani yang dihubungi secara terpisah, menyatakan belum bisa menyatakan secara pasti penyebab fenomena naiknya ikan ini. “Belum bisa dipastikan, karena bisa banyak faktor penyebabnya. Dan harus ada kajian yang membutuhkan data lengkap,” kata Andri.

Hanya, berdasarkan apa yang terjadi di lapangan, ia mengasumsikan bahwa penyebabnya adalah bisa dimungkinkan adanya coastal upwelling yang kuat yang disertai  gelombang tinggi. “Kalau melihat catatan gelombang tinggi, saat kejadian dipantai tinggi gelombang signifikannya mencapai 3,5 – 4 meter, tapi hal ini memang perlu dipastikan kembali kemungkinan ada faktor lain. Dan sejauh ini, jarang terjadi adanya ikan naik karena adanya gelombang tinggi 3,5 – 4 meter, jadi sepertinya kejadian ini ada penyebab faktor lain yang perlu dikaji lebih mendalam dengan data yang lebih lengkap, ” ujarnya.

Sumber Berita : Cendananews