Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

JAKARTA – Surutnya air laut di Pantai Jepara yang sempat dihebohkan oleh para netizen yang menganggapnya sebagai sebagai pertanda tsunami, ditepis oleh para ahli.

Ahli Oseanografi Terapan, Widodo S Pranowo, menyatakan berdasarkan analisa terhadap the best available data, kondisi tersebut bukanlah indikasi bakal terjadinya tsunami di Jepara.

“Pertama, kita lihat dulu secara umum syarat terjadinya pembangkitan tsunami yang berasal dari gempa tektonik adalah terdapat zona subduksi, atau penunjaman lempeng atau patahan aktif, dan pada zona tersebut terdapat gempa berkekuatan antara Mw (Moment Magnitude) 6,9 hingga 9,0 dengan posisi pusat gempa berada di wilayah laut yang terletak di kedalaman kurang dari 33 km di bawah permukaan dasar laut, menuju ke perut bumi,” kata Widodo, saat dihubungi Cendana News, Kamis (2/10/2020).

Jadi, lanjutnya, dengan menggabungkan persyaratan di atas dengan kondisi geografis wilayah Jepara di sekeliling Pulau Mandalika, maka tidak akan mungkin ada penyebab tsunami. “Gempa-gempa yang berpotensi menyebabkan tsunami berada di selatan Jawa, yang ditunjukkan dengan Bulatan Jingga Mw 7,6, Mw 7,7 dan Mw 7,8 di zona subduksi di selatan Jawa, dan Mw 7,0 di zona Patahan Palu-Koro di Sulawesi, dan lokasi-lokasi pusat gempa tersebut terlalu jauh dari Jepara,” kata Widodo, seraya menunjukkan gambar zona subduksi Selatan Jawa.

Widodo menyatakan, penjelasan yang lebih logis terkait fenomena di Pantai Jepara adalah gaya tarik bulan dan sedimentasi di sepanjang pesisir utara Jawa, yang tidak disadari oleh masyarakat. “Sedimentasi di wilayah Pantai jepara dan sekitarnya sejak abad ke-15 adalah sangat tinggi,” ucapnya.

Data terkait hal tersebut bisa dilihat pada catatan sejarah oleh Dra. Nj. S. Notosoegondo pada 1971, hasil penelitian dari H.J. de Graaf dan Pigeaud 1985, tulisan buku dari Denis Lombard 1996, dan disambung oleh Prof. Dr. Slamet Muljana pada 2005. “Bahwa, pada abad ke-15, Demak, Kudus, Juwana dan Rembang merupakan satu garis pantai yang lurus memanjang ke timur, tidak seperti sekarang ini yang dipisahkan oleh semenanjung Muria yang dahulu kala disebutkan oleh para ilmuwan adalah sebagai suatu pulau gunung Muria tersendiri, yang dipisahkan dengan Pulau Jawa oleh Selat Muria,” urainya.

Dari beberapa uraian penelitian tersebut terlihat, telah terjadi sedimentasi yang sangat tinggi dan berlangsung selama sekitar 200 hingga 300 tahun, yang kemudian menutup Selat Muria yang kemudian menyatukan Pulau Gunung Muria dengan Pulau Jawa. “Ini menjelaskan, saat saya masih kecil, saya sering diajak pulang kampung ayah saya ke Gunung Muria, sekitaran tahun 1980-1990an. Ketika melalui jalan utama dari Kota Demak menuju Kudus, bila pada saat musim hujan, air sungai dengan mudah meluap dan membanjiri jalan tersebut. Di kanan kiri jalan utama Demak ke Kudus tersebut selain sungai, datarannya “flat” berisi sawah-sawah. Kemungkinan besar jalan utama dan sawah-sawah tersebut berada di atas akumulasi sedimen masa lalu,” papar Widodo.

Sedimentasi ini juga terlihat dalam citra satelit yang dikompilasi oleh Google Earth. “Terlihat tingkat sedimentasi di pesisir tersebut sangat tinggi, terutama terjadi mulai dari pertengahan Mei hingga Agustus. Arah datang sedimentasi adalah dari arah timur, terlihat dari pola turbulensi yang tercipta ketika aliran air yang mengandung sedimen melewati Pulau Mandalika,” urainya, sambil menunjukkan citra tanggal 21 Juli 2020, tanggal 21 Mei 2019, tanggal 16 Juni 2018, tanggal 27 Juli 2017. Sumber sedimen, menurut Widodo, diduga berasal dari sungai-sungai yang berada di pesisir utara Jawa bagian timur. “Fakta-fakta ini menjelaskan, bahwa probabilitas terjadinya penumpukan sedimen di pesisir utara Jepara pada periode Musim Angin dari Timur, mulai pertengahan Mei hingga September atau pertengahan Oktober adalah cukup tinggi,” imbuhnya.

Berdasarkan rentetan citra satelit tersebut, lanjutnya, maka penumpukan sedimen tersebut menyebabkan pendangkalan perairan pantai bisa mencakup wilayah pantai yang luas. “Sehingga ketika adanya fenomena alam air surut biasa, maka terlihat kondisi muka air sangat surut tersurut, dan cakupannya sangat luas melebihi kondisi sebelum atau biasanya,” katanya, lagi.

Jika dikaitkan dengan fenomena pasang surut, pada tanggal 28 September 2020 dari pagi hingga sore, permukaan air laut dalam kondisi menuju surut, karena mendekati fase Bulan Purnama. “Dari pagi, elevasi permukaan laut dalam proses menuju surut hingga kemudian makin mendekati sore hari elevasinya makin surut tersurut. Kondisi elevasi permukaan laut yang makin surut ini, ditambah dengan pendangkalan pesisir pantai utara Jepara dekat Pulau Mandalika akibat sedimen, kemudian menjadikan penampakan air surut ekstrem dilihat dengan mata manusia awam, pada lokasi tersebut,” tandasnya.

Periode Bulan Purnama di awal Oktober tidak terlalu mempengaruhi kondisi surut di Pantai Timur, juga disampaikan oleh Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ), Mohammad Rayhan. “Bulan Purnama semalam adalah Bulan Purnama Pertama dari Dua Bulan Purnama yang akan terjadi Oktober ini, yang posisinya relatif jauh dibandingkan bulan lainnya,” kata Rayhan, saat dihubungi terpisah.

Bulan purnama pertama ini, disebut Blue Moon, dan Bulan Purnama ke dua nanti akan disebut Micromoon, karena bertepatan dengan titik terjauhnya Bulan terhadap Bumi. “Bulan purnama semalam pun sebenarnya sudah termasuk sebagai Micromoon, namun kurang jauh dibandingkan nanti yang akhir Oktober. Karena bulannya lebih jauh dari biasanya, pasang surut yang terjadi justru adalah yang paling minim. Apalagi, terjadinya kemarin bukan saat purnama,” ujarnya.

Ia menyatakan, memang purnama pasti menjadi faktor utama pasang surut, tapi dalam kasus Pantai Jepara yang menjadikannya sangat surut adalah karena faktor musim yang membuat endapan lumpur di bibir pantai. “Efek gravitasi Bulan ini bisa dibandingkan dengan pantai lainnya. Tapi, kan terjadinya hanya di Pantai Jepara. Sehingga, pendangkalan adalah penyebab penampakan surutnya jadi ekstrem,” pungkasnya.

Sumber berita : cendananews