Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) pada Selasa 29 September 2020 menggelar Sarasehan Kelautan dengan tema “Titah Ratu Samudera Dalam Kebijakan Kelautan dan Perikanan” melalui ruang Zoom Meeting. Sarasehan Kelautan ini merupakan seri lanjutan dari “Seminar Online: Kebijakan Pemanfaatan Data Gelombang Seri #2”.

Sarasehan berlangsung hangat dan dinamis dipandu oleh Erish Widjanarko, S.T., selaku Kepala Bidang Sumber Daya Laut dan Kewilayahan Pusriskel. Disambut dan dibuka oleh Dr. Nyoman Radiarta selaku Kepala Pusriskel. Pak Kapus Radiarta, didalam pembukaannya  menjelaskan kiprah Pusat Riset Kelautan dalam menguak fenomena “RATU”  dari tahun 2002 hingga sekarang, yang dilakukan bersama-sama dengan seluruh Unit Pelaksana Teknis dalam rangka menyiapkan bahan kebijakan untuk KKP dan juga untuk mendukung sinergitas kebijakan nasional lainnya.

Sambutan dan pembuka berikutnya adalah dari Ibu Imas Masriah, S.Pi  sebagai Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), Cilacap) yang membawakan memaparkan dengan gamblang bagaimanakah dinamika produksi perikanan tangkap di WPPNRI 573. WPPNRI tersebut cakupan wilayahnya cukup luas yakni Samudera Hindia Selatan Jawa Nusa Tenggara, dengan batas terluar adalah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Cakalang adalah produksi tangkapan terbesar saat ini yang didaratkan di PPS Cilacap, kemudian Ibu Imas juga menceritakan keheranannya pada tahun 2019 terjadi anomali limpahan ekstrim atau ledakan dari populasi ubur-ubur. Namun, untungnya ubur-ubur tersebut termasuk yang bisa dikonsumsi manusia, sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir/nelayan.

Narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum, dengan pendalaman sepenuh jiwa menyampaikan materi “Membaca Samudera Memandang Gelombang”. Berbagai atau multi tafsir tentang Ratu Penguasa Samudera Selatan atau Samudra Hindia Selatan, yang dikenal sebagai “Kanjeng Ratu Kidul” dijelaskan menggunakan logika. Logika ini diambil dari pemikiran asli yang berkembang di kalangan masyarakat Indonesia, di kalangan ilmuwan, budayawan, dan filsuf. Pak Nur juga menggarisbawahi bahwa ada 2 (dua) periodisitas kebangkitan Bangsa Samudera di Indonesia ditandai dengan dibentuknya untuk pertama kalinya Kementerian Kelautan dan Perikanan pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur, dan satu lagi pada masa pemerintahan Presiden Jokowi yang membentuk Kemenko Maritim.

Materi dari Pak Nur, kemudian disambung dengan cerita kesehari-harian dari masyarakat pesisir selatan Jawa termasuk nelayan di Cilacap, dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Cerita tersebut disampaikan oleh Pak Sarjono selaku Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap). Kegiatan rutin acara ‘Sedekah laut’ yang dilaksakan setahun sekali di bulan Muharam/Syura pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, tidak luput diceritakan oleh Pak Sarjono.

Sarasehan Kelautan ini menjadi lebih hidup tatkala, Prof. Dr. Andin H. Taryoto, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal KKP pada masa pemerintahan Menteri Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, turut aktif membacakan sebuah sajak dari pujangga  bernama Joko Sigit Bausosro (2013) berjudul “Cepuri Dua” yang bercerita akan kewibawaan dan kesaksian dari Samudera Hindia atas pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul untuk mendapatkan restu dalam memanfaatkan sumber daya bumi dan laut. Tak lupa Pak Andin, mengingatkan pekerjaan rumah yang besar tentang ratifikasi perbatasan laut dengan beberapa negara yang belum selesai juga sejak zaman KKP berdiri hingga sekarang. Beliau memberikan “insight” bahwa tantangan tersebut belum bisa diselesaikan mungkin karena belum mendapatkan restu dari Kanjeng Ratu Kidul.

Peneliti Senior Bidang Oseanografi Fisika, Dr. Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani, menceritakan pengalamannya mengarungi Samudera Selatan (Southern Ocean) ketika melakukan ekspedisi ke Antartika atau Kutub Selatan. Suatu perasaan “unik” muncul ketika kapal ekspedisi memasuki Samudera Selatan, perasaan seperti memasuki suatu dunia lain, yang menurut Mbak Anna (panggilan akrab beliau) mungkin saat itu sedang memasuki wilayah Kerajaan Kanjeng Ratu Laut Kidul. Mbak Anna, juga bercerita tentang kedekatannya dengan pantai selatan Jawa karena tugas akhir S1 dan tesis magisternya adalah berlokasi di selatan Jawa dan Cilacap. Kedepan, Mbak Anna berencana melakukan riset khusus tentang interaksi laut-atmosfer dalam pengaruhnya terhadap kemelimpahan ubur-ubur di Selatan Jawa. Terkait dengan pengalamannya aktif di IOC-UNESCO dan IPCC UNFCCC maka Mbak Anna memberikan dukungan penuh kepada pengembangan riset ke depan terhadap kearifan lokal masyarakat pesisir dalam mengenali fenomena-fenomena seperti El Nino dan La Nina dan bagaimanakah adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat selama ini.

Materi terkait perkembangan IPTEK Kelautan dalam rangka memantau, meneliti dan mengkaji Samudera Hindia Selatan Jawa dibawakan oleh Aida Heriati, M.T.  Selaku Peneliti Bidang Oseanografi Fisika di Pusriskel, Mbak Aida membahas secara ilmiah tentang Tradisi atau Prosesi Larung Sesaji Laut yang sering dilakukan oleh masyarakat pesisir di Selatan Jawa. Kisaran waktu pelaksanaan Sedekah Laut kemudian disandingkan dengan kisaran waktu terjadinya fenomena Upwelling di Selatan Jawa yang sering kali membangkitkan keberlimpahan kesuburan primer di laut yang kemudian menjadi daya tarik bagi ikan pelagis kecil dan besar untuk berkumpul, sehingga dengan mudah bisa ditangkap oleh nelayan.

Bagaimanakah metodologi eksplorasi sumberdaya energi dan mineral yang ada di dasar Laut Selatan Jawa disampaikan secara detil dan gamblang oleh Ir. Subaktian Lubis, M.Sc dari Prodi Oseanografi Institut Teknologi Bandung (ITB). Pak Subaktian, juga menceritakan bagaimana suatu kearifan lokal di masyarakat pesisir Cilacap yang bergotong-royong membersihkan tumpahan minyak menggunakan perahu fiber, ember, dan tong-tong plastik, sehingga dalam waktu 6 bulan pantai yang tadinya kotor oleh tumpahan minyak menjadi bersih. Apabila meninjau kembali kepada kejadian tumpahan di Teluk Mexico maka proses pembersihannya dari tumpahan minyak tidaklah secepat di Cilacap.

Peneliti Bidang Oseanografi Terapan Pusriskel Dr.-Ing. Widodo S. Pranowo membedah tradisi “Sedekah Laut” secara lebih teoritis dari sisi ranting ilmu Etno-Oseanografi. Widodo kemudian menjelaskan bahwa bagaimana konsep Etno-Oseanografi sebenarnya telah diaplikasikan secara budaya atau telah menjadi kearifan lokal sejak dulu yang tanpa disadari oleh masyarakat nusantara termasuk nelayan.

Penanggung Jawab kegiatan Kajian Data Gelombang, Dr. Niken Financia Gusmawati, memberikan pandangan secara kebijakan praktis, bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki kewenangan dalam mengatur Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yang diatur dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan 18/2014. Selain fokus kepada perikanan budidaya, maka KKP pun fokus kepada sektor perikanan tangkap. Berbicara tentang WPPNRI dan perikanan tangkap, maka tidak akan lepas dari tematik tentang hidrodinamika arus, gelombang, pasang surut, interaksi laut-atmosfer, dan kesuburan primer. Salah satu WPPNRI yang memiliki karakteristik unik adalah WPPNRI 573 yang meliputi Laut Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara yang ekstensi luasan zona ekonomi ekslusifnya hingga ke Samudera Hindia Tenggara. Pada WPPNRI 573 ini terdapat suatu fenomena yang disebut sebagai “semi-peRmanent javA coasTal Upwelling” disingkat “RATU”, yakni suatu fenomena naiknya lapisan massa air dari lapisan yang dalam menuju ke lapisan yang lebih dangkal atau bahkan hingga ke permukaan yang membawa zat hara yang melimpah yang berdampak meningkatnya produktivitas primer dan kemudian menarik bagi ikan-ikan untuk berkumpul sehingga nelayan mendapatkan jumlah tangkapan yang melimpah. RATU ini disebut sebagai ‘semi-permanent’ karena waktu berlangsungnya tidak selalu rutin mengikuti waktu angin monsun tenggara saja (Juni-Agustus) setiap tahunnya, melainkan waktu dan intensitasnya bisa mengalami penambahan waktu menjadi lebih lama akibat pengaruh dari El Nino, sehingga RATU bisa berlangsung hingga Oktober. Konsekuensi dari angin tenggara yang membangkitkan RATU, juga membangkitkan tinggi gelombang signifikan. Pusat Riset Kelautan pada Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, sejak tahun 2002 hingga sekarang, telah memantau dan melakukan riset terkait RATU ini.