Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi pada Rabu (3/7/2019) kemarin mendapatkan kesempatan membawakan paparan terkait riset dan rencana pemanfaatan teknologi WakatobiAIS di hadapan jajaran Basarnas RI di Jakarta. Teknologi hasil riset terbaru ini diharapkan akan dapat bersinergi dengan sistem pendeteksian dini marabahaya yang sudah digunakan Basarnas. Di sela-sela sesi Rakornas Kedeputian Bidang Sarana dan Prasarana, dan Sistem Komunikasi Pencarian dan Pertolongan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas RI), Kepala LPTK Akhmatul Ferlin didampingi Pejabat Fungsional Perekayasa Pertama, Arief Rahman, diterima di Ruang Rapat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan lantai IV oleh Brigadir Jenderal (Mar) Bambang Suryo Aji, selaku Direktur Sistem Komunikasi dan jajarannya.

Dalam sesi pemaparan, Kepala LPTK, menyampaikan sejumlah informasi yang melatarbelakangi adanya riset alat pengawasan kapal portabel yang dinamakan Wahana Keselamatan dan Pemantauan objek Berbasis AIS (WakatobiAIS). Tingginya angka kecelakaan nelayan khususnya nelayan kecil dan tradisional di Indonesia juga diperparah dengan tidak adanya alat pendeteksi dini kecelakaan pelayaran untuk memungkinkan pihak yang melakukan pencarian serta pertolongan menyelamatkan korban dengan cepat.

Peningkatan keselamatan nelayan juga menjadi amanat UU No 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Peningkatan standar keselamatan tersebut diwujudkan dengan memastikan perlengkapan keselamatan bagi Nelayan dalam melakukan Penangkapan Ikan dan memberikan bantuan pencarian dan pertolongan bagi nelayan yang mengalami kecelakaan dalam melakukan Penangkapan Ikan secara cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi.

KKP melakukan riset terhadap pembangunan alat Automatic Information System (AIS) yang ringkas, praktis, portabel dan tidak bergantung pada teknologi asing. Teknologi ini memungkinkan tracking kapal secara otomatis dan pengiriman pesan marabahaya kepada seluruh penerima AIS baik yang berbasis di kapal, darat, maupun satelit.

Dengan demikian, WakatobiAIS dikatakannya akan dapat menunjang kerja pencarian dan pertolongan yang menjadi tugas dan fungsi Basarnas RI. “Kami harapkan WakatobiAIS ini akan dapat berkontribusi dalam menyediakan informasi awal kepada Basarnas mengenai terjadinya kondisi mengancam jiwa yang dialami oleh nelayan-nelayan kita di seluruh perairan Indonesia. Pada akhirnya, harapan kami akan bisa merubah paradigma lama dari mencari korban menjadi menjemput korban,” harap Ferlin.

Direktur Sistem Komunikasi, Bambang Suryo Aji, dalam paparannya mengungkapkan pada saat ini Basarnas juga memanfaatkan data dan informasi AIS untuk deteksi kapal.  Saat ini, BASARNAS juga sudah dilengkapi dengan berbagai sistem komunikasi SAR yang berstandar nasional dan internasional. Khusus untuk early warning marabahaya di laut, Basarnas mengikuti rezim Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) yang salah satunya mewajibkan sistem Emergency Position Indicator Radio Beacon (EPIRB) terpasang pada kapal.

EPIRB yang berfungsi mirip dengan ELT yang dipasang pada pesawat terbang. Pada saat pengguna mengalami marabahaya mengaktifkan distress beacon, EPIRB akan mengirimkan sinyal distress melalui satelit SARSAT ke stasiun bumi yang akan diteruskan ke institusi SAR berdasarkan negara lokasi terjadinya kecelakaan.

Disebutkannya juga, berdasarkan data pantauan kapal di wilayah perairan Indonesia terdapat sekurangnya 70 ribu unit kapal yang berlayar. Dari jumlah tersebut, baru 440 kapal yang teregistrasi EPIRB pada Basarnas.

Mengingat pentingnya EPIRB untuk deteksi dini kecelakaan kapal, pihaknya gencar melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan EPIRB dalam evakuasi keselamatan dan keamanan musibah di laut. “Sosialisasi itu juga bertujuan agar pemangku kepentingan di bidang transportasi laut yang melakukan registerasi EPIRB 406 MHz ke Basarnas sebagai salah satu syarat kelaikan operasi,” ungkapnya.

Terkait dengan WakatobiAIS, Direktur Sistem Komunikasi mengatakan berdasarkan data operasi tentang kecelakaan kapal, 80% kejadian merupakan kecelakan kapal dengan tonase dibawah 60 GT dan berdasarkan jumlah mayoritas adalah merupakan kapal nelayan.

Nelayan juga menjadi segmentasi yang paling rentan terhadap marabahaya di laut mengingat mayoritas nelayan di Indonesia merupakan nelayan dengan kapal berbobot dibawah rentang bobot kapal yang wajib memasang alat komunikasi SAR.

WakatobiAIS diharapkan dapat berperan seperti EPIRB, PLB yang sudah terintegrasi dalam sistem Basarnas. Dengan demikian, beberapa alat deteksi dini tersebut akan saling melengkapi memberikan informasi yang cepat dan akurat untuk memungkinkan pertolongan tenaga SAR.

WakatobiAIS melalui kemampuan beacon dari kapal-ke-kapal juga diharapkan dapat menunjang terselanggaranya first response terhadap kondisi marabahaya dari kapal-kapal yang berlayar paling dekat dengan kapal yang membutuhkan pertolongan. “Nanti bisa juga memungkinkan kapal nelayan yang menggunakan WakatobiAIS dengan receiver akan berperan sebagai penolong yang efektif terhadap berbagai kecelakaan di laut di sekitarnya,” harapnya.

KKP sebagai leading sector untuk nelayan diharapkannya pula dapat memanfaatan berbagai alat penunjang keselamatan. Untuk itu diperlukan adanya penguatan pada sisi regulasi. “Kami akan mendukung kegiatan riset WakatobiAIS sehingga dapat digunakan secara nasional,” kata Brigadir Jenderal Marinir ini.