Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

LPTK kembali mendapatkan kunjungan dari tamu penting dengan nama jabatan yang unik. Jika tiga bulan yang lalu Presiden University of Rhode Island berkunjung ke Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan, Pada hari Jum’at (3/05/2019) LPTK kembali menyambut kedatangan Presiden Bajo Indonesia, Dr. Ir. Abdul Manan, M.Sc.

Hadir bersama tim peneliti dari Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Manan diterima  dengan hangat oleh Akhmatul Ferlin, Kepala LPTK yang memimpin sesi tour teknologi dan diskusi tentang sejumlah fasilitas kelitbangan serta capaian yang telah dihasilkan oleh LPTK.

Dr. Manan sebenarnya bukan orang yang asing dengan LPTK. Pada era kepemimpinan beliau lah, Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) dibangun, bahkan beliau terbilang sosok penting di balik terbantuknya LPTK, sehingga beliau memahami benar tugas dan fungsi termasuk sejumlah teknologi yang dimiliki oleh LPTK.

Dengan demikian, pada kesempatan tersebut, kunjungan ke LPTK bagi beliau seakan-akan menjadi momen nostalgia, setelah sekitar 3 tahun beliau meninggalkan Wakatobi dari Jabatan sebagai Kepala Bappeda untuk kembali mengabdi sebagai dosen di UHO.

Kalau sebelumnya, Presiden University of Rhode Island (URI) US, Dr David Dooley menyampaikan apresiasi pada inovasi teknologi LPTK khususnya Teknologi Radar Pantai dan Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Informasi AIS (Wakatobi AIS), hal senada, juga diungkapkan oleh Presiden Bajo Indonesia. Apresiasi beliau khususnya tentang terbangunnya sistem pemantauan radar pantai LPTK yang kontinyu selama 24 jam secara otomatis, setelah sebelumnya tidak bisa operasikan secara full time karena berbagai gangguan teknis.

Apresiasi beliau juga terhadap inovasi Wakatobi AIS, yang diharapkan akan membantu keterpantauan dan keselamatan kegiatan pelayaran dan aktivitas nelayan kecil di perairan Wakatobi.

Selain itu beliau berharap secara kelembagaan dapat bersinergi dalam memanfaatkan data radar pantai LPTK dalam mengungkap potensi ancaman terhadap ekosistem perairan laut Wakatobi, khususnya pada area zona inti Taman Nasional Wakatobi, yang disebabkan oleh adanya indikasi aktivitas pelayaran yang menyimpang (illegal shipping) di lokasi ALKI IIIA.

Teknologi Radar Pantai LPTK memiliki banyak data terkait aktivitas kapal di zona inti Taman Nasional Wakatobi, saya berharap, secara Tim bisa bekerjasaman dengan LPTK untuk melakukan interprestasi terhadap potensi ancaman yang mungkin terjadi termasuk langkah mitigasinya,” tutur beliau.

Kunjungan Presiden Bajo ke LPTK kali ini melengkapi sejumlah kegiatan beliau di Kabupaten Wakatobi, setelah sebelumnya mengisi Seminar Proposal Kegiatan riset di Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Wakatobi dan menjadi dosen tamu pada Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) BRSDM KP, di Desa Matahora Kabupaten Wakatobi.

Pada kesempatan Seminar di Bappeda Kabupaten Wakatobi, beliau (Dr. Abdul Manan, M.Sc.) dan Tim memaparkan tentang agenda riset di Kabupaten Wakatobi dengan judul ‘Prototype Pengembangan Kabupaten Wakatobi Berbasis Kemaritiman Secara Holistik dan Terintegrasi’, dan di AKKP beliau memberikan Kuliah Umum, dengan topik ‘Konservasi Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Pesisir dan Laut Untuk Riset, Pariwisata Bahari dan Pengembangan IPTEK di Kabupaten Wakatobi Prov. Sulawesi Tenggara.”

Kedua kegiatan tersebut, mengafirmasi kepada kita bahwa sosok Presiden Bajo Indonesia memiliki latar pengetahuan yang mumpuni pada topik-topik kemaritiman dan konservasi keanekaragaman hayati, khususnya pesisir dan laut. Tidak mengherankan jika kompetensi tersebut melekat pada sosok yang murah senyum dan low profile ini, mengingat beliau adalah salah seorang dosen pada Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO), sebuah kampus negeri terkemuka di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tidak hanya itu, Pria kelahiran 19 Mei 1961 di Desa Mola Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara ini, juga pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi selama kurang lebih delapan tahun (2007–2015), yang mengantarkan beliau memiliki pengalaman panjang dalam mengelola dan mengendalikan kegiatan perencanan multi-sektor dan multi-stakeholder di Kabupaten Wakatobi.